Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?
UP SETIAP HARI JAM 06.00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Pertanyaan tajam itu meluncur begitu saja dari bibir Resti, memecah keheningan malam yang tegang di dalam penthouse mewah tersebut. Nada suara Resti sarat akan ketidaksukaan, mencerminkan rasa tidak terima yang teramat sangat melihat kehadiran Rania—adik tirinya sekaligus wanita yang ia anggap tidak lebih dari bayangannya—berdiri di tempat yang seharusnya menjadi saksi bisu kebesaran namanya sendiri.
Di hadapan tatapan menyelidik Resti, suasana mendadak berubah menjadi medan magnet yang menarik paksa sisa-sisa kewarasan Rangga. Pria itu tersentak kecil. Suara merdu namun penuh duri dari wanita yang dulu sangat dicintainya itu berhasil meruntuhkan topeng dingin yang biasa ia kenakan di hadapan dunia korporat. Rangga merasakan keringat dingin merayapi tengkuknya. Ada kepanikan yang mendadak mencengkeram dadanya—bukan kepanikan biasa, melainkan rasa bersalah yang teramat lancang, berbenturan langsung dengan harga diri seorang CEO yang tidak pernah terbiasa disudutkan.
Rangga menelan ludah dengan susah payah. Matanya bergeser pelan, melirik ke arah Rania yang berdiri kaku di dekat sudut ruang keluarga. Wanita itu tidak bergerak sedikit pun. Wajah Rania begitu pucat, namun sorot matanya terlihat sangat tenang—ketenangan yang justru jauh lebih mengerikan daripada ledakan kemarahan atau tangisan histeris. Ketenangan itu adalah bentuk kepasrahan mutlak dari seseorang yang hatinya telah lama disayat berkali-kali.
Sadar bahwa dirinya harus segera mengambil kendali atas situasi yang mulai tidak terkendali ini, Rangga menegakkan postur tubuhnya. Ia memasang kembali ekspresi datarnya, mencoba menyembunyikan getaran kecil di sudut bibirnya, lalu melangkah pelan mendekati Resti yang masih menatap Rania dengan tatapan menghakimi.
"Resti, tenangkan dirimu," ucap Rangga dengan nada suara yang diatur sedemikian rupa agar terdengar tegas dan berwibawa, meskipun rongga dadanya terasa sesak. "Jangan bicara seperti itu."
Resti mendengus pelan, melipat kedua tangannya di depan dada dengan gaya angkuh yang khas. Ia mendongak, menuntut penjelasan lebih jauh dari pria yang sangat diyakininya masih bertekuk lutut di bawah pesonanya. "Kenapa aku harus tenang, Rangga? Kau tahu betul siapa wanita itu! Dia bukan siapa-siapa. Dia hanya anak tiri yang tidak berguna di keluarga kami, gadis manja yang tidak tahu malu! Bagaimana bisa kaubiarkan dia tinggal di tempat privat kita? Apa yang sebenarnya terjadi selama aku pergi ke Paris?"
Tekanan dari pertanyaan itu membuat Rangga semakin terjepit. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya di hadapan Resti—bahwa pernikahan mereka terjadi karena paksaan keluarga Pratama, bahwa Rania adalah pengantin pengganti yang menyelamatkan muka dan reputasi bisnis perusahaannya di altar, dan yang paling menakutkan bagi egonya: bahwa perlahan-lahan, bayangan Rania mulai menggeser posisinya di dalam relung hatinya yang paling dalam.
Maka, demi menyelamatkan muka, demi menjaga gengsi CEO-nya yang retak, dan demi meredam amarah wanita di hadapannya, Rangga memilih jalan pintas. Jalan yang paling menyakitkan bagi siapa pun yang mendengarnya, terutama bagi wanita yang berdiri di ujung ruangan sana.
Dalih klasik yang teramat kejam: Pengganti.
Rangga menghela napas berat, sengaja mengembuskan udara dengan kasar untuk menciptakan kesan seolah-olah ia sedang menanggung sebuah beban moral yang sangat berat. Ia memasang wajah masam, lalu menunjuk ke arah Rania dengan dagunya seraya menatap Resti lekat-lekat.
"Dia ada di sini bukan atas kemauanku sepenuhnya, Resti," kata Rangga memulai kebohongannya, suaranya ditekan agar terdengar dingin dan penuh keterpaksaan. "Kau ingat bagaimana keluargamu meninggalkan kekacauan besar di hari pernikahan kita? Pengganti dan ikatan moral antara keluargamu dan perusahaan keluargaku memaksa aku untuk mengambil tindakan pencegahan."
Rangga mengambil jeda sejenak, memastikan setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar masuk akal di telinga Resti. "Keluarga Pratama menitipkan Rania padaku sebagai bentuk tanggung jawab atas insiden memalukan yang kau perbuat. Aku menampungnya di sini murni karena urusan kemanusiaan dan ikatan kontrak sosial antarkeluarga besar. Tidak lebih dari itu. Dia... hanyalah seseorang yang tinggal sementara di bawah atap ini untuk melunasi apa yang keluargamu hutangkan pada reputasiku."
Sebuah kalimat yang diucapkan dengan sangat lancar, namun menghujam ulu hati bagaikan belati bermata dua.
Di sudut ruangan, dimana Rania duduk di sofa. Rania mendengar setiap suku kata yang meluncur dari bibir pria yang sah menjadi suaminya di mata hukum dan agama. Setiap kata itu jatuh mendarat di dadanya seperti tetesan timah panas. Pengganti. Tanggung jawab moral. Seseorang yang tinggal sementara.
Tidak ada satu pun kata yang menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang istri. Tidak ada pengakuan bahwa wanita itu telah merawat rumah ini, telah sabar menghadapi sifat arogan dan dinginnya, bahkan telah mencintainya dalam diam di balik tirai malam yang panjang. Di mata Rangga, di hadapan wanita masa lalunya, Rania dikerdilkan kembali menjadi sekadar objek pemenuhan janji, sebuah beban yang dititipkan, sebuah kesepakatan bisnis yang memalukan.
Rania tidak menangis. Air matanya seolah membeku di pelupuk mata, tertahan oleh dinding harga diri terakhir yang tersisa di dalam jiwa raganya. Namun, rasa perih itu menjalar begitu cepat, membakar tenggorokannya hingga terasa kelat. Rania tahu betul, jika ia terus duduk di sana sedetik saja lagi, pertahanan terakhirnya akan runtuh total dan ia akan terlihat begitu menyedihkan di hadapan kakak tirinya yang tersenyum penuh kemenangan.
Tanpa bersuara sedikit pun, tanpa melayangkan satu pun bantahan atau pembelaan diri, Rania bangkit kemudian membalikkan tubuhnya. Langkah kakinya yang pelan namun pasti membawanya meninggalkan ruang keluarga yang megah itu. Ia berjalan menyusuri koridor remang-remang menuju kamar mandi di dekat kamarnya, menutup pintu itu rapat-rapat, lalu menguncinya dari dalam.
Di dalam keheningan ruang kecil berlantai marmer dingin itu, benteng pertahanan Rania akhirnya jebol. Ia menyandarkan punggungnya perlahan pada daun pintu yang tertutup rapat, lalu merosot jatuh hingga duduk bersimpuh di atas lantai. Kedua tangannya menutup wajahnya yang basah oleh air mata yang tumpah tanpa suara. Tidak ada isak tangis yang memecah malam, hanya bahu yang bergetar hebat menahan beban kepedihan yang teramat sangat. Bodoh, batin Rania merutuki dirinya sendiri. Kau tahu sejak awal kau hanyalah pengganti, Rania. Kenapa kau masih berharap ada keajaiban di dalam hati pria itu?
Sementara itu, di ruang keluarga, drama yang lain baru saja mencapai puncaknya.
Mendengar penjelasan Rangga tentang status Rania yang "hanya sekadar titipan demi utang budi", ekspresi wajah Resti berubah drastis. Kerutan di dahinya melunak, digantikan oleh senyuman lebar yang memancarkan rasa puas yang luar biasa. Beban berat yang sempat menggelayuti pikirannya sejak ia menginjakkan kaki di kota ini mendadak lenyap tak bersisa.
Resti merasa dirinya kembali menjadi pemenang mutlak. Wanita itu menarik napas lega, meyakinkan dirinya bahwa Rangga tidak pernah benar-benar berpaling, dan bahwa kehadiran Rania di tempat ini hanyalah sebuah kecelakaan birokratis yang tidak bernilai penting.
Namun, di balik seringai kepuasannya, Resti dengan cepat mengubah taktik. Ia tahu betul bagaimana cara mempermainkan emosi seorang pria yang pernah tergila-gila kepadanya. Dalam hitungan detik, ekspresi sombong di wajah Resti melebur, digantikan oleh topeng kerapuhan yang sangat dramatis.
Resti menundukkan kepalanya, membiarkan beberapa helai rambut ikalnya jatuh membingkai wajah cantiknya yang tampak lesu. Air mata tiruan mulai menggenang di pelupuk matanya, berkilau di bawah pantulan lampu kristal mewah ruangan tersebut. Ia menggigit bibir bawahnya pelan, menciptakan gestur wanita tersiksa yang sangat ampuh meruntuhkan pertahanan laki-laki mana pun.
"Rangga..." panggil Resti dengan nada suara yang bergetar hebat, terdengar sangat menyedihkan dan penuh sesal.
Rangga, yang masih berdiri tegak dengan sisa-sisa ketegangannya, menoleh cepat ke arah wanita itu. Melihat perubahan ekspresi Resti yang mendadak rapuh, benteng pertahanan emosional Rangga kembali bergoyang hebat. Pria itu menatap Resti dengan sorot mata penuh tanya dan kebingungan.
Resti perlahan bangkit dari sofa, melangkah mendekati Rangga dengan langkah gontai seolah-olah beban hidupnya begitu berat untuk ditanggung sendiri. Ia mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam mata Rangga dengan tatapan yang dipenuhi oleh permohonan ampun yang memilukan.
"Kau... kau benar-benar membenciku, ya?" lirih Resti, suaranya nyaris berbisik namun sangat jelas menusuk relung hati Rangga. Sebutir air mata lolos dari sudut matanya, menetes perlahan membasahi pipi mulusnya. "Aku tahu aku salah, Rangga. Aku tahu aku wanita paling bodoh di dunia ini karena telah meninggalkanmu di hari pernikahan kita demi kebodohan semu di Paris."
Resti menggelengkan kepalanya pelan, jemarinya yang lentik terulur menyentuh ujung lengan jas Rangga dengan sangat hati-hati, seolah takut pria itu akan menepisnya. "Tapi... kumohon, percayalah padaku... selama aku di sana, tidak ada satu hari pun yang terlewat tanpa penyesalan. Aku tersiksa, Rangga. Setiap malam aku menutup mata, wajahmu lah yang selalu hadir dalam mimpiku. Aku melihatmu berdiri di altar sendirian, menungguku... dan rasa bersalah itu membunuhku perlahan-lahan dari dalam."
Resti menunduk semakin dalam, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Rangga, lalu mulai terisak pelan—sebuah isak tangis yang terdengar begitu pilu dan meruntuhkan jiwa. "Aku kembali ke sini karena aku sadar, tempat yang paling aman dan satu-satunya tempat di dunia ini di mana aku bisa bernapas adalah di sisimu, Rangga... Tolong, jangan tatap aku dengan mata dingin itu. Ampuni aku... kumohon..."
Pengakuan dramatis itu bekerja seperti racun yang mematikan sekaligus penawar rindu yang sangat kuat bagi Rangga. Pertahanan terakhir yang dibangun oleh pria itu runtuh seketika. Seluruh amarah, kekecewaan, dan rasa sakit hati atas pelarian Resti di masa lalu mendadak tercerabut dari akarnya, tersapu bersih oleh gelombang nostalgia dan sisa-sisa cinta lama yang kembali disulut secara sengaja.
Rangga tidak lagi mampu berpikir jernih. Logikanya dikalahkan oleh rasa tidak tega yang teramat dalam melihat wanita yang dulu sangat ia puja kini hancur berkeping-keping di dalam pelukannya.
Tanpa memikirkan lagi konsekuensinya, tanpa mengingat bayangan punggung Rania yang baru saja beranjak pergi menuju kamar mandi dengan hati yang hancur, Rangga perlahan mengangkat kedua tangannya. Jemari kokoh pria itu terulur, lalu melingkar erat di punggung Resti, mendekap tubuh wanita itu rapat-rapat ke dalam pelukannya.
Rangga memejamkan matanya erat-erat, membiarkan aroma parfum Prancis itu memenuhi indra penciumannya, sementara dagunya bersandar lembut di puncak kepala Resti. Tangannya bergerak pelan, memberikan tepukan-tepukan lembut dan penuh kepastian di punggung wanita tersebut, seolah ingin menyampaikan pesan tanpa kata: Aku di sini. Semuanya akan baik-baik saja.
"Sstt... sudahlah, Resti. Jangan menangis lagi," bisik Rangga parau, suaranya melembut luar biasa—nada suara yang sama persis seperti yang ia gunakan bertahun-tahun lalu saat menenangkan kekasih hatinya dari rasa takut. "Aku tidak membencimu... Kumohon, hentikan air matamu. Kau sudah kembali sekarang. Semuanya sudah berlalu."
Di dalam pelukan hangat itu, tersembunyi di balik bahu bidang Rangga, bibir Resti kembali melengkung membentuk sebuah senyuman penuh kemenangan yang sangat dingin. Misi pertamanya berhasil dengan sempurna. Ia tahu persis, di balik segala keangkuhan dan kesuksesan yang disandang oleh CEO Pratama Group itu, Rangga tetaplah pria yang sama—pria yang tidak pernah sanggup melihat air matanya dan pria yang masih sepenuhnya berada di dalam genggaman tangannya.
Dan di ujung koridor yang sunyi, di balik pintu kamar mandi yang terkunci rapat, Rania duduk bersimpuh dalam gelap, memeluk lututnya sendiri, membiarkan tetes air matanya mengalir tanpa henti, meresapi setiap detik kebohongan dan kenyataan pahit bahwa di ruangan sebelah, suaminya tengah mendekap erat wanita lain dengan penuh kelembutan yang tidak pernah seharipun diberikan untuknya.
•
•
•
•
Jangan lupa like ya😉tapi menurut kalian gimana sama bab ini?