Sanaya dan Jordy terjerat cinta jarak dekat karena bertetangga sebelah rumah. Namun, mereka sulit untuk bersatu karena warisan kebencian turun temurun dari para leluhur keduanya. Sampai suatu saat mereka digrebek warga karena tanpa sengaja berada di dalam toilet mushola, yang akhirnya menyeret mereka dalam nikah dadakan.
Jordy mencari cara agar pernikahan mereka selesai dan terjadilah hal yang ajaib. Tiba-tiba Carla jatuh dan kejang-kejang menuju sekarat. Permintaan terakhir Carla adalah perceraian Sanaya dan Jordy saat itu juga. Keputusan apa yang akan diambil Jordy sebagai suami? Mampukah Sanaya menghadapi ibu mertuanya yang super ajaib itu?
Kisah ini menceritakan tentang percintaan dengan kemasan komedi, semoga bisa membuat kita yang membacanya terhibur dan mendapatkan hikmah dari setiap perjalanan hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Belum Ada Keputusan
Pak RT melotot tak percaya kalau ternyata Emak Maya menganggap serius perkataan Ibu Carla barusan. Sementara semua warga yang ikut hadir dan duduk melingkar di dalam mushola, sama-sama memperlihatkan mulut yang terbuka sambil mengucap satu huruf vokal bernama ’o’, Sedangkan Jordy dan Sanaya malah merasa mendapatkan angin segar kalau kemungkinan besar mereka pasti akan gagal dinikahkan.
"Yess! Emak emang the best. Terusin mak, bikin dia nyerah! Masa iya anak cantik Mak yang baik hati ini harus memiliki mertua kayak gitu!" Pekik sanaya tertahan. Gadis itu mulai sumringah melihat peluang gagal yang cukup besar, perang ini harus dimenangkan oleh mak nya. Itulah yang ada dalam pikiran gadis cantik dengan nasib dan masa depannya sedang di ujung tanduk.
"Aya, kok kamu malah pengen gagal sih? Emang kamu serius gak mau nikah sama aku? Padahal dengan cara begini otomatis kita kan bisa menikah nggak perlu minta restu ini itu segala sama emakmu dan juga mamaku, jangan-jangan selama ini kamu cuma pura-pura cinta ya sama aku?" tanya Jordy memelas dengan tatapan kecewa. Pria itu sungguh tidak mengerti atau lebih tepatnya lambat mengerti, tentang penjelasan Sanaya tadi.
"Mas … kamu itu kok gak paham-paham sih? Lama-lama aku bisa tekanan batin kalo begini! Harusnya mendukung apa yang dibilang Emakku, bukannya malah senang kita menikah dengan suasana seperti ini! Dasar laki-laki nggak jelas," geram Sanaya yang bingung dengan Jordy.
Pria yang dia pikir smart, cerdas dan pintar seperti yang selalu di kampanyekan mama Carla itu ternyata sungguh membagongkan. Melihat bibir manyun sang kekasih, membuat Jordy terpaksa mengalah karena dia tak ingin berpisah. Kalau bisa seumur hidup pun dirinya selalu hidup bersama-sama, biarkan mama dan mertuanya saling baku hantam asalkan Sanaya selalu dalam dekapan.
"Ya udah deh terserah kamu aja," jawab Jordy sekenanya. Pria itu mulai kecewa dengan Sanaya yang ternyata tidak menginginkan pernikahan ini, sungguh dirinya tidak paham dengan keinginan Sanaya.
Sementara di kubu dua wanita ajaib itu masih belum selesai berunding ala mereka, Pak RT dan Pak Kyai sudah mau pingsan rasanya. Entah sampai kapan mereka bisa berdamai, itulah yang dipikirkan kedua pria panutan warga itu.
“Astaga naga nggak punya sayap bisa terbang. Emangnya situ mikir apaan sampai saya mau bela-belain ngasih mahar buat anak gadis jelek kaya begituan sampai satu ton mutiara? Ngasih satu gram emas saja saya nggak sudi! Nope!!” teriak Mama Carla kembali merevisi semua kalimat yang tadi sempat diucapkannya.
Mendengar kata terakhir yang diucapkan sama mama Carla, membuat kening Pak RT mengernyit, merasa tidak mengerti apa yang baru saja diucapkan calon mertua Sananya itu.
“Maaf ya, Ibu Carla. Tolong emosinya sedikit diturunkan dan gunakan kalimat yang baik dan benar sesuai dengan KBBI dan juga EYD yang berlaku di negara kita ini!”
Huuuu!
Terdengar suara riuh dari seluruh warga yang hadir di mushola.
"Ibu-ibu, sejak kapan saya jadi ibunya Pak RT?! Panggil saya Mama Carla. Itu kayak artis papan renang yang lagi viral. Saya gak terima dipanggil ibu sama Pak RT, secara saya ini tak pernah merasa melahirkan pak RT kok," ketus mama Carla sengit.
Pak RT dibuat jantungan sama si mama Carla ini, maksud hati ingin menghormati, laah kok sekarang malah kena santap. Nasiiib … nasiib.
"I-iya Mama Carla, terserah anda saja ya, maaf tadi keserimpet omong. Saya teh nggak tau kalo ternyata itu nama bekennya Mama Carla," ucap Pak RT tergagap.
Baru kali ini seorang ketua RT kehilangan pamor di hadapan warganya, sungguh terlaaaaluuh.
“Lagian ya, Pak RT ini aneh, memangnya ini lagi pertemuan para penulis novel kah, Pak RT? Kenapa pakai acara peke ucap macam perkataan sesuai dengan KBBI dan EYD yang benar segala? Macam mau kontes menulis saja nya awak liat!” celetuk salah seorang warga yang diiringi tawa renyah masyarakat lainnya.
Pak RT merasa kehilangan kepercayaan diri saat ini, ternyata warganya sangat kritis, demokratis dan sanggup membuatnya merasa miris. Tapi bukan Pak Burhan namanya kalau tidak pandai mengendalikan suasana dengan kharismanya yang membahana, senyum menawan dari RT yang berstatus duda itu pun membuat para jomblo merasa bahagia.
"Saya selaku RT di desa ini sangat bangga dengan warga saya yang ternyata pada suka membaca, bagus itu. Ini terbukti bahwa desa kita bebas buta huruf, melalui kehadiran novel online membuat minat baca kita meningkat. Baiklah kita lanjutkan lagi sidang ini, kalo kelamaan kasian mas Jordy yang sudah tidak sabar untuk unboxing mbak Sanaya malam ini," lanjut pak RT dalam pidato singkatnya.
Prok! Prok! Prok!
Semua warga bertepuk tangan karena senang dengan pujian pak RT barusan, mereka yang sungguh paham membuat warganya bahagia dan bangga.
Sebelum melanjutkan sidang, Pak RT akhirnya mengalihkan pandang pada warga yang barusan protes atas perkataannya dan ternyata yang bicara itu rupanya merupakan salah seorang ibu rumah tangga yang terkenal sebagai biang gosip.
"Tunggu dulu pak RT, pembahasannya belum selesai, tadi bu Butet kan sudah protes. Sekarang giliran pak RT dong yang nanya ke bu Butet, anggap aja ujian akreditasi kampung kita. Bener gak luuurr?" tanya seorang bapak-bapak yang biasanya memberikan semangat kepada kelompok karang taruna.
Pak RT tidak bisa menolak, seperti inilah kerukunan di desanya. Pak Burhan sangat bersyukur karena warganya tidak pernah bertindak semaunya sendiri, semua bisa terkendali. Kembali senyuman yang melelehkan hati disematkan pada bibir manis pak Burhan. Yang berhiaskan kumis tipis itu.
“Ya sudah kalau begitu saya mau bertanya sama Ibu Butet, kira-kira Ibu tahu tidak, apa artinya ‘nope’ yang tadi dikatakan sama ibu Carla, eh Mama Carla?” Pak RT menunggu dengan sabar karena sebenarnya di dalam hati lelaki paruh baya itu sungguh merasa penasaran.
Apakah kata terakhir yang keluar dari mulut Ibu Carla itu merupakan kata saduran, ataukah kata gaul pada zaman sekarang.
Sebagai pejabat yang mewakili warganya maka sang RT merasa perlu mengetahui semua kata-kata baru yang diucapkan oleh seluruh warganya termasuk kata ‘nope’ yang baru kali ini didengarnya.
“Eh kalau masalah kata macam itu, saya tidak tahu lah Pak RT! Saya ini kan perantau yang datang dari Medan sana. Jadi tak mungkinlah mengerti dengan kata-kata aneh yang keluar dari mulutnya Ibu eh maksud saya si mama Carilah Carilah tadi!” sahut Ibu Butet yang begitu entengnya mengganti nama mama Carla.
“Hahaha, carilah siapa, Ibu Butet?” ledek warga lainnya.
“Cari duda ganteng atau brondong tajir ya, Bubut?” sela seorang pemuda sengaja bercanda mencairkan suasana.
“Eh, enak saja kau panggil saya dengan nama bubut? Apa mau tak bubut habis semua bulu yang lekat di tubuh kau itu?” tanya ibu Butet dengan tatapan sinis. Sepertinya perang bakalan tambah seru.
lanjutkan
lanjut thor