NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.

Tapi semua orang salah besar.

Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.

Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.

Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10: Andini Pradipta

"Saya Andini. Andini Pradipta."

Nama itu membuat Pak Satria yang berdiri beberapa langkah di belakang sedikit mengangkat mata.

Keluarga Pradipta.

Salah satu dari empat keluarga besar yang namanya tidak bisa disebut sembarangan di Kota Awan. Tetapi perempuan di depan Arya tidak memakai nama itu seperti mahkota. Blazer kremnya basah sedikit di bagian lengan, map desainnya terlipat di sudut, dan napasnya belum sepenuhnya stabil setelah diganggu tiga pria tadi.

Arya mengambil map yang hampir jatuh dari tangannya, lalu menyerahkannya kembali.

"Arya."

Andini menunggu nama belakang yang tidak ia ucapkan.

Arya tidak menambah apa pun.

Senyum kecil muncul di bibir Andini. "Hanya Arya?"

"Untuk malam ini, cukup."

Bukannya tersinggung, Andini justru tertawa pelan. Suaranya lembut, tetapi bukan jenis kelembutan yang mudah dipatahkan.

"Baik, Mas Arya. Untuk malam ini, terima kasih sudah menolong saya."

"Mereka mengganggu Anda?"

"Lebih tepatnya, mereka mengira perempuan yang pulang sendiri dari rapat malam mudah ditakut-takuti." Andini melirik ke arah tiga pria yang sudah kabur. "Saya bisa mengurus satu orang. Tiga orang sedikit merepotkan."

Arya menatapnya sebentar.

Jawaban itu membuatnya tertarik.

Kebanyakan orang setelah ditolong akan langsung menangis atau memaki. Andini justru menghitung situasi seperti seseorang yang terbiasa menghadapi tekanan, hanya kali ini jumlah lawannya tidak seimbang.

"Mobil Anda?"

Andini menunjuk mobil putih di dekat mereka. "Di sana. Tapi saya rasa tangan saya masih agak gemetar."

Pak Satria mendekat. "Tuan Muda, saya bisa meminta sopir mengantar Nona Andini."

Andini menoleh cepat.

Tuan Muda?

Arya melirik Pak Satria.

Pria tua itu segera menunduk sedikit, sadar telah mengucapkan terlalu banyak.

Andini tidak bertanya. Ia hanya menyimpan rasa ingin tahu itu di matanya.

"Ada kedai kopi di lantai dasar gedung sebelah," kata Arya. "Duduk sepuluh menit sampai tangan Anda tenang. Setelah itu sopir saya bisa mengikuti mobil Anda sampai keluar kawasan."

Andini melihat jam di ponselnya, lalu mengangguk. "Sepuluh menit."

Kedai kopi itu tidak besar, tetapi bersih. Aroma arabika lokal memenuhi ruangan. Beberapa pekerja kantor duduk dengan laptop, terlalu lelah untuk peduli pada drama parkiran. Arya memilih meja dekat jendela, cukup terbuka untuk aman, cukup jauh untuk bicara.

Andini memesan teh hangat.

Arya memesan kopi hitam.

"Anda selalu minum kopi semalam ini?" tanya Andini.

"Kebiasaan buruk."

"Saya desainer interior. Saya mengenali kebiasaan buruk orang dari meja kerja mereka. Kopi hitam biasanya berarti kurang tidur dan terlalu banyak beban."

Arya menatapnya. "Analisis gratis?"

"Bonus karena Anda menolong saya."

Mereka sama-sama tersenyum.

Untuk pertama kalinya sejak keluar dari Rumah Besar Permata, Arya merasakan percakapan yang tidak menuntut, tidak memeras, tidak menyelidiki dengan niat buruk. Andini tidak bertanya kenapa ia ada di klub privat. Tidak bertanya siapa Pak Satria. Tidak memaksa nama belakang.

Ia hanya membuka map desainnya dan merapikan kertas yang kusut.

"Rapat dengan siapa sampai semalam ini?" tanya Arya.

"Calon klien properti. Mereka ingin desain lobby apartemen yang kelihatan mahal tapi tidak mau membayar material bagus." Andini menghela napas. "Kota Awan penuh orang yang ingin terlihat kaya sebelum benar-benar punya uang."

"Itu bukan hanya Kota Awan."

"Benar juga."

Andini menatapnya lebih lama. "Mas Arya kerja di bidang apa?"

"Kadang bisnis. Kadang keamanan. Kadang menyelesaikan masalah yang orang lain buat."

"Jawaban yang sangat tidak menjawab."

"Pertanyaan Anda juga terlalu umum."

Andini tertawa lagi.

Di luar jendela, sebuah mobil mewah berhenti mendadak. Seorang pria paruh baya turun dengan terburu-buru, ditemani dua asisten. Ia sedang menelepon dengan wajah tegang, tetapi saat melewati kedai, langkahnya mendadak berhenti.

Matanya menatap Arya.

Wajahnya berubah.

Pak Satria yang duduk di meja lain langsung berdiri setengah, tetapi Arya mengangkat tangan kecil.

Pria paruh baya itu masuk ke kedai dengan cepat. Orang-orang di dalam langsung mengenalinya. Haryono, salah satu pengusaha properti terbesar di Kota Awan. Namanya sering muncul di berita pembangunan apartemen, kawasan bisnis, dan proyek tanah pinggiran kota.

Andini juga mengenalinya. "Pak Haryono?"

Haryono seperti tidak mendengar. Ia berhenti di depan meja Arya, wajahnya pucat karena gugup.

"Tuan Muda Arya."

Beberapa kepala di kedai menoleh.

Andini membeku.

Arya meletakkan cangkir kopinya. "Pak Haryono."

Haryono langsung menunduk dalam, terlalu dalam untuk sekadar sapaan bisnis. "Maafkan saya. Saya tidak tahu Anda berada di sini. Jika saya tahu, saya tidak akan berani lewat begitu saja."

Kedai kecil itu sunyi.

Seorang pengusaha properti yang biasa membuat pejabat daerah tersenyum kini menunduk di depan pria yang baru saja memperkenalkan diri hanya sebagai Arya.

Andini memegang cangkir tehnya lebih erat.

"Jangan berlebihan," kata Arya pelan.

"Baik, Tuan Muda." Haryono tetap tidak berani mengangkat kepala penuh. "Soal lahan Selatan, saya sudah mengikuti arahan Anda. Dokumen PPAT siap diperiksa besok. Tidak ada nama Anda yang muncul."

Arya menghela napas kecil.

Haryono sadar ia bicara terlalu banyak. Keringat muncul di pelipisnya.

"Maaf. Saya..."

"Pak Haryono," potong Arya, suaranya tetap tenang. "Saya sedang minum kopi."

"Tentu. Tentu." Haryono mundur setengah langkah. "Saya tidak akan mengganggu."

Ia menunduk sekali lagi, lalu keluar dari kedai hampir tanpa menoleh. Dua asistennya mengikutinya dengan wajah bingung.

Suasana kedai perlahan hidup lagi, tetapi bisik-bisik tidak bisa disembunyikan.

Andini menatap Arya.

"Tuan Muda?"

Arya mengangkat cangkir. "Orang tua kadang suka memakai panggilan berlebihan."

"Pak Haryono bukan orang yang menunduk pada sembarang orang."

"Mungkin malam ini dia sedang sopan."

Andini menyipitkan mata, tetapi senyumnya muncul. "Anda buruk sekali dalam berbohong, Mas Arya."

"Saya jarang perlu berbohong."

"Tapi sering menyembunyikan sesuatu."

Kali ini Arya tidak membantah.

Di meja lain, Pak Satria menahan senyum. Jarang ada orang yang berani menyudutkan Arya dengan nada selembut itu.

Setelah teh Andini habis, Arya mengantarnya sampai mobil. Kali ini tangannya sudah tidak gemetar.

"Terima kasih untuk malam ini," kata Andini. "Bukan hanya karena menolong saya. Karena tidak memperlakukan saya seperti perempuan rapuh."

"Anda memang tidak rapuh."

Andini terdiam sejenak. Pujian itu sederhana, tetapi terdengar lebih jujur daripada kalimat manis yang biasa ia dengar dari pria-pria di acara keluarga.

"Kalau begitu, sampai jumpa, Mas Arya."

"Hati-hati di jalan."

Mobil Andini keluar dari parkiran, diikuti satu mobil keamanan Takdir dari jarak aman.

Arya berdiri beberapa detik, lalu berbalik.

Pak Satria mendekat. "Nona Andini Pradipta. Keluarga Pradipta tidak mudah didekati."

"Aku tidak mendekati keluarganya."

"Tentu, Tuan Muda."

Nada Pak Satria terlalu tenang untuk tidak menggoda.

Arya meliriknya. "Pak Satria."

"Saya diam."

Di dalam mobilnya, Andini berhenti di lampu merah. Ia mengambil ponsel, mengetik nama yang baru saja ia dengar.

Arya.

Arya Suryanegara.

Hasil pencarian hampir kosong. Tidak ada profil publik. Tidak ada akun media sosial jelas. Tidak ada berita bisnis yang menampilkan wajahnya.

Seolah lelaki itu sengaja dihapus dari permukaan kota.

Namun wajah Haryono yang pucat tadi bukan akting.

Andini menatap pantulan dirinya di kaca mobil. Pipinya sedikit merah, entah karena teh hangat atau karena rasa ingin tahu yang tiba-tiba tumbuh terlalu cepat.

"Siapa sebenarnya kamu, Mas Arya?"

1
Riski Channel
mantap
Riski Channel
cerita bagus sayang orang pada tidak tahu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!