Demi menepati janji masa lalu, Mahira memilih hidup sederhana dan menjadi istri yang berbakti bagi Ziko, seorang pengusaha sukses di Bandung.
Namun, ketulusan Hira justru dibalas dengan dinginnya sikap Ziko dan hinaan bertubi-tubi dari ibu mertuanya.
Hira kerap dianggap wanita tak berpendidikan yang hanya menjadi beban keluarga. Padahal, di balik layar, koneksi rahasia Hiralah yang membuat bisnis Ziko terus meroket.
Penderitaan Hira mencapai puncaknya ketika sebuah kesalahpahaman sengaja diciptakan untuk menjebaknya. Saat Ziko terang-terangan melukai harga dirinya demi wanita lain, kesabaran Hira akhirnya habis. Ia memutuskan melangkah pergi dan menyetujui perceraian tanpa meminta harta sepeser pun.
Kepergian Hira menjadi awal kehancuran dunia Ziko. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi asing, dan rahasia besar di balik sukses bisnisnya perlahan terbongkar. Di sisi lain, Hira bangkit menunjukkan identitas aslinya sebagai wanita berkelas dan berpengaruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Lembaran Baru di Atas Meja Kerja
Sinar matahari pagi mulai menembus tirai jendela kamar belakang. Mahira terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan daripada hari-hari sebelumnya. Tidak ada lagi rasa sesak di dada atau kecemasan yang biasa menghantuinya setiap kali mendengar langkah kaki Ziko. Pagi ini, semua beban itu telah lenyap.
Mahira beranjak dari tempat tidur, membersihkan diri, lalu berganti pakaian dengan dress katun sederhana berwarna gelap yang ia bawa dari desanya tiga tahun lalu. Wajahnya tampak segar meski tanpa riasan apa pun.
Dari luar kamar, samar-samar terdengar suara Bu Rani yang sedang mengobrol dengan Ziko di ruang makan, membicarakan sisa acara semalam dengan nada bangga. Mahira tidak memedulikan mereka. Fokusnya hari ini adalah menyelesaikan seluruh urusan administrasi pernikahannya dengan Ziko secara resmi.
Mahira berjalan mendekati meja kecil di sudut kamar. Dari dalam tas jinjingnya, ia mengeluarkan beberapa lembar kertas bermaterai yang sudah ia siapkan melalui bantuan pengacara keluarganya beberapa hari lalu. Itu adalah berkas gugatan cerai resmi. Di bagian bawah kertas tersebut, tanda tangan Mahira sudah tertera dengan jelas, tegas, dan tanpa keraguan sedikit pun.
Ia mengambil dokumen tersebut, lalu melangkah keluar dari kamar belakang. Langkah kakinya terdengar konstan saat melewati koridor menuju ruang kerja pribadi Ziko yang terletak di dekat ruang tamu. Keadaan rumah masih agak sepi karena Ziko dan Bu Rani masih berada di area meja makan.
Mahira membuka pintu ruang kerja Ziko yang tidak terkunci. Ruangan itu tampak rapi dengan meja kayu besar di tengahnya. Di atas meja itulah Ziko biasa memeriksa berkas-berkas perusahaannya, **Adhi Jaya Perkasa**.
Dengan gerakan yang sangat tenang, Mahira meletakkan beberapa lembar berkas gugatan cerai tersebut tepat di tengah meja kerja Ziko, tepat di atas tumpukan dokumen proyek yang sedang Ziko perjuangkan. Mahira menaruh sebuah pena hitam di atasnya agar kertas itu tidak bergeser.
Setelah memastikan posisi berkas itu terlihat dengan jelas, Mahira mundur selangkah. Ia menatap ruangan itu untuk terakhir kalinya dengan wajah datar sempurna. Tidak ada air mata yang menetes, tidak ada rasa sesal, dan tidak ada lagi kepedihan. Baginya, lembaran kertas di atas meja itu adalah simbol kebebasan mutlak yang sudah lama ia nantikan.
Mahira berjalan kembali ke ruang tengah untuk mengambil tas jinjingnya yang diletakkan di dekat koridor belakang. Saat ia hendak melangkah menuju pintu depan, suara Ziko menghentikan gerakannya.
"Mau ke mana kamu pagi-pagi begini, Mahira?" tanya Ziko dingin. Pria itu baru saja keluar dari ruang makan bersama Bu Rani yang masih mengenakan daster rumahannya.
Ziko menatap Mahira yang sudah rapi mengenakan dress luar rumah dan menjinjing tas. Ada sedikit kerutan di dahi Ziko saat melihat ekspresi Mahira yang sama sekali tidak memperlihatkan wajah sedih atau penyesalan setelah pertengkaran hebat semalam.
Mahira menghentikan langkahnya, berbalik menghadap Ziko dan Bu Rani. Wajahnya tetap datar, suaranya terdengar sangat tenang saat menjawab. "Aku mau pergi dari rumah ini, sesuai dengan permintaanmu semalam, Mas Ziko."
Bu Rani mendengus sinis dari samping Ziko, melipat tangan di dada dengan angkuh. "Baguslah kalau kamu sadar diri dan langsung angkat kaki. Rumah ini jadi bersih dari pembawa sial. Ingat ya, jangan pernah berani datang lagi ke sini untuk mengemis harta atau meminta belas kasihan Ziko."
Mahira menatap Bu Rani dengan pandangan datar. "Saya tidak akan pernah kembali ke rumah ini, Bu Rani. Jangan khawatir."
Ziko merasa agak heran dengan ketenangan Mahira. Biasanya, jika diancam akan diusir, Mahira akan diam dan menuruti semua kata-katanya. Namun sekarang, Mahira justru tampak sangat santai, seolah-olah kepergian ini adalah hal yang paling ia inginkan. Ego Ziko kembali terusik.
"Ingat ya, Mahira. Sekali kamu melangkah keluar dari pintu itu, aku tidak akan pernah menjemputmu lagi ke desamu," ancam Ziko dengan nada meremehkan. "Jangan kira setelah ini aku akan luluh dan memaafkan kesalahanmu yang kemarin."
"Kamu tidak perlu menjemputku, Mas. Karena hubungan kita sudah selesai," jawab Mahira pendek. Suaranya begitu tenang, tanpa ada nada dendam atau marah.
"Apa maksudmu selesai?" tanya Ziko, mengernyitkan dahi mendengar pilihan kata istrinya.
"Semua jawabannya sudah aku letakkan di atas meja kerjamu. Silakan kamu baca sendiri nanti sebelum berangkat ke kantor," ucap Mahira datar.
Setelah mengatakan hal itu, Mahira membalikkan badannya. Ia melangkah lurus menuju pintu depan rumah mewah tersebut, membukanya, dan berjalan keluar melewati pekarangan tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Gerbang rumah ditutupnya dengan perlahan.
Ziko berdiri terpaku di ruang tamu, menatap pintu depan yang kini telah tertutup kembali. Ada perasaan tidak enak yang mendadak menyergap hatinya melihat cara Mahira pergi yang begitu tenang dan penuh percaya diri.
"Ziko, sudah... biarkan saja perempuan kampung itu pergi," kata Bu Rani menghibur putranya. "Lebih baik kamu fokus ke ruang kerjamu. Lihat apa yang dia tinggalkan di sana. Paling-paling cuma surat minta uang atau tulisan jelek untuk cari perhatian."
Ziko menarik napas panjang, mencoba menepis rasa tidak nyaman di dadanya. "Iya, Bu. Aku mau cek dulu ke ruang kerja."
Ziko melangkah cepat menuju ruang kerjanya di sebelah kanan ruang tamu. Ia membuka pintu, berjalan mendekati meja kayu besarnya, dan langsung menangkap pemandangan beberapa lembar kertas putih bermaterai yang diletakkan di tengah meja.
Ziko mengambil kertas tersebut. Begitu matanya membaca judul di bagian atas dokumen, jantungnya seolah berhenti berdetak untuk sepersekian detik.
**SURAT GUGATAN CERAI**
Ziko membelalakkan matanya, membaca setiap baris kalimat yang tertulis di sana dengan teliti. Di bagian paling bawah, tanda tangan Mahira tertera dengan sangat rapi dan jelas di atas materai. Tidak ada coretan, atau keraguan. Mahira benar-benar menggugat cerai dirinya secara resmi, lengkap dengan semua berkas administrasi yang sudah diurus melalui kuasa hukum.
"Cerai? Dia menggugat cerai aku?" bisik Ziko dengan nada tidak percaya.
Ego Ziko sebagai seorang pria dan suami sukses seketika merasa terhantam keras. Selama ini, ia selalu berpikir bahwa dialah yang memegang kendali penuh atas hidup Mahira. Ia berpikir Mahira tidak akan pernah berani meninggalkannya karena tidak punya apa-apa. Namun kenyataannya, Mahira justru melangkah pergi lebih dulu dan mencampakkan pernikahan mereka di atas meja kerjanya tanpa beban.
Sebelum Ziko sempat mencerna rasa terkejutnya lebih dalam, ponsel di saku celananya mendadak bergetar hebat. Ada panggilan masuk dari sekretaris pribadinya di kantor.
Ziko buru-buru mengangkat telepon tersebut dengan tangan yang sedikit gemetar. "Halo, ada apa?"
"Halo, Selamat pagi, Pak Ziko." Suara sekretarisnya terdengar sangat panik dari ujung telepon. "Pak, maaf mengganggu pagi-pagi. Ada kabar buruk dari kantor pusat **Grand Wijaya Group**."
Mendengar nama konsortium raksasa itu disebut, Ziko langsung menegakkan punggungnya, melupakan sejenak surat gugatan cerai di tangannya. "Kabar buruk apa? Apakah proposal investasi kita ditunda lagi?"
"Bukan ditunda, Pak...." sahut sekretarisnya dengan nada lemas. "Pihak Grand Wijaya Group baru saja mengirimkan surat keputusan resmi pukul delapan tepat tadi. Mereka menolak total proposal investasi perusahaan kita. Dan yang lebih buruk lagi, Pak... mereka mengeluarkan edaran internal untuk memutus seluruh bentuk kerja sama dan mem-blacklist perusahaan Adhi Jaya Perkasa dari semua anak perusahaan mereka mulai hari ini."
Deg.
Surat gugatan cerai di tangan Ziko terlepas dan jatuh ke atas meja. Wajah Ziko seketika berubah pucat pasi, seluruh tubuhnya mendadak terasa lemas menahan hantaman kenyataan yang datang bertubi-tubi di pagi hari yang cerah ini.
Mampus gak tuh Ziko? Dan sepertinya karya ini juga gagal lagi di NT ini. Pembacanya masih belum cukup. Ya Allah, sedih banget sih udah mencoba dan mencoba tapi gagal lagi gagal lagi. Wahai Noveltoon, tolong promosikan dengan intens dong karya penulismu ini. 😭😭😭