NovelToon NovelToon
The Extra Who Changed Fate

The Extra Who Changed Fate

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Anak Genius / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: areann._

Rean Vale menghabiskan seluruh kehidupan pertamanya di rumah sakit.

Terlahir dengan penyakit langka yang perlahan menghancurkan tubuhnya, ia tidak pernah merasakan kehidupan yang dianggap biasa oleh orang lain—bersekolah, bermain dengan teman, atau menikmati masa remaja. Meski demikian, ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang tulus, lembut, dan baik hati.

Setelah kematiannya, Rean membuka mata di dunia yang sangat dikenalnya.

Ia telah bereinkarnasi ke dalam novel modern yang pernah ia baca, menjadi seorang tokoh figuran bernama Rean Vale—karakter yang seharusnya meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.

Namun kali ini, takdir berubah.

Penyakit yang seharusnya merenggut nyawanya menghilang sepenuhnya, membuat tokoh yang seharusnya tidak pernah muncul di awal cerita kini tetap hidup.

Dengan kesempatan kedua yang akhirnya ia peroleh, Rean hanya memiliki satu keinginan sederhana: menjalani kehidupan sekolah yang tidak pernah sempat ia rasakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

-

Setelah perjalanan empat jam yang dipenuhi tawa dan obrolan riang, rombongan bus akhirnya tiba di area penginapan Pegunungan Aurelia menjelang siang. Udara sejuk pegunungan langsung menyambut begitu pintu bus terbuka, jauh berbeda dari udara kota yang biasa mereka hirup sehari-hari.

"Wah, sejuk banget," seru Rean, menghirup udara segar dalam-dalam sambil turun dari bus, matanya langsung tertuju pada pemandangan perbukitan hijau yang mengelilingi area penginapan.

Penginapan itu berupa deretan pondok kayu sederhana namun nyaman, tersusun rapi mengelilingi lapangan rumput luas yang akan digunakan untuk berbagai kegiatan kelompok selama tiga hari ke depan.

"Semua siswa harap berkumpul sesuai kelompok kamar masing-masing!" seru salah satu guru pendamping melalui pengeras suara, mengarahkan siswa-siswa yang mulai berhamburan turun dari bus.

Rean bergabung dengan Ethan dan Lucas menuju pondok kamar mereka, sementara di sisi lain, Elora bersama Lily dan Chloe menuju pondok yang telah ditentukan untuk kelompok mereka.

"Pondoknya lumayan bagus," komentar Lucas, memasuki kamar kayu sederhana dengan tiga ranjang susun di dalamnya.

"Aku ambil ranjang atas!" seru Ethan cepat, langsung memanjat ke ranjang bagian atas sebelum yang lain sempat protes.

Rean tersenyum melihat kekompakan sederhana itu, merapikan tasnya di ranjang yang tersisa. Ini adalah pengalaman pertamanya berbagi kamar dengan orang lain di luar keluarganya sendiri, sebuah hal sepele bagi kebanyakan orang namun terasa begitu berharga baginya.

---

Menjelang sore, seluruh siswa dikumpulkan kembali di lapangan utama untuk pembagian kelompok kegiatan sesuai minat yang telah didaftarkan sebelumnya. Rean bergabung dengan kelompok observatorium, di mana ia menemukan Elora sudah berdiri menunggu di antara kerumunan kelompok yang sama.

"Kita satu kelompok!" seru Elora senang, melambai begitu melihat kedatangan Rean.

"Kebetulan banget," jawab Rean, tersenyum lebar bergabung dengan kelompoknya.

Kelompok observatorium terdiri dari sekitar dua puluh siswa gabungan dari kelas 10-A dan 10-B, dipandu oleh seorang guru fisika yang akan menjelaskan berbagai fenomena astronomi selama kunjungan malam nanti ke observatorium yang terletak tidak jauh dari area penginapan.

"Malam ini kita akan mengamati langit dengan teleskop khusus," jelas guru pembimbing mereka. "Cuaca diperkirakan cerah, jadi kita bisa melihat beberapa rasi bintang dan mungkin planet-planet yang sedang terlihat jelas malam ini."

Penjelasan itu membuat mata Rean berbinar antusias. Sebagai seseorang yang menghabiskan sebagian besar hidup sebelumnya terbatas di dalam ruangan, kesempatan untuk mengamati langit malam secara langsung terasa seperti keajaiban tersendiri baginya.

"Kamu excited banget," goda Elora, memperhatikan ekspresi Rean yang sulit disembunyikan.

"Aku belum pernah lihat bintang lewat teleskop sungguhan," aku Rean jujur. "Cuma pernah baca soal itu di buku."

Elora tersenyum hangat mendengarnya, semakin menyadari betapa berartinya setiap pengalaman baru bagi Rean — sesuatu yang membuatnya semakin ingin memastikan dirinya bisa berbagi sebanyak mungkin momen berharga itu bersamanya.

---

Sementara itu, di kelompok kegiatan panjat tebing, Kieran bergabung sesuai minatnya sendiri, berusaha menjaga fokus pada kegiatan yang dipilihnya meski pikirannya sesekali melayang memikirkan kelompok lain yang sedang berkumpul di lapangan seberang.

"Kamu ikut kelompok apa?" tanya Adrian, yang kebetulan berada di kelompok yang sama.

"Panjat tebing," jawab Kieran singkat, memeriksa perlengkapan keselamatan yang telah disediakan instruktur.

"Kudengar kelompok observatorium juga seru," celetuk Adrian, tidak menyadari sepenuhnya alasan di balik pertanyaannya yang membuat ekspresi Kieran sedikit berubah.

"Mungkin lain kali aku coba," jawab Kieran singkat, memilih untuk fokus pada kegiatan yang ada di depannya saat itu, mencoba menjaga pikirannya tetap tenang di tengah berbagai kegiatan yang akan berlangsung selama tiga hari ke depan.

Sore itu, seluruh siswa tersebar di berbagai kegiatan kelompok masing-masing, menikmati suasana pegunungan yang segar sambil mempersiapkan diri untuk malam pertama yang penuh dengan pengalaman baru — sebuah awal dari petualangan tiga hari yang akan membawa perkembangan berarti bagi hubungan-hubungan yang selama ini tumbuh perlahan di antara mereka semua.

---

Malam pertama di Pegunungan Aurelia menyambut dengan langit yang benar-benar cerah, dipenuhi kerlip bintang yang jarang terlihat sejelas itu di tengah kota. Kelompok observatorium berjalan bersama menuju bangunan kubah putih yang terletak di puncak bukit kecil, tidak jauh dari area penginapan.

"Ini pertama kalinya aku lihat langit sebersih ini," gumam Rean, mendongak menatap hamparan bintang yang membentang luas di atas kepala mereka.

"Tunggu sampai lihat lewat teleskop," Elora menyahut, berjalan di sampingnya dengan langkah ringan. "Pasti bakal lebih menakjubkan lagi."

Observatorium itu dilengkapi teleskop besar yang dioperasikan oleh petugas khusus, membantu para siswa bergantian mengamati berbagai objek langit malam itu. Guru pembimbing mereka menjelaskan dengan antusias tentang rasi bintang yang terlihat, sesekali menunjuk ke arah tertentu di langit sambil menceritakan mitologi di balik nama-nama rasi tersebut.

"Giliranmu," kata petugas observatorium, mempersilakan Rean mendekat ke lensa teleskop yang sudah diarahkan ke salah satu planet yang sedang terlihat jelas malam itu.

Rean mendekatkan matanya ke lensa dengan hati-hati, dan seketika napasnya tertahan melihat pemandangan yang muncul di hadapannya — cincin Saturnus yang terlihat jelas, mengambang anggun di kegelapan luar angkasa.

"Ini... luar biasa," bisiknya, nyaris tidak percaya dengan apa yang ia saksikan.

"Boleh aku lihat juga?" tanya Elora, menunggu giliran di belakangnya.

Rean menggeser sedikit, memberi ruang bagi Elora untuk melihat melalui lensa yang sama. Mereka berdiri berdekatan dalam kegelapan malam, hanya diterangi cahaya bintang dan lampu kecil dari peralatan observatorium.

"Cantik banget," gumam Elora, matanya berbinar menatap pemandangan yang sama.

Setelah semua anggota kelompok mendapat giliran melihat melalui teleskop, mereka diberi waktu bebas untuk duduk di rerumputan sekitar observatorium, menikmati langit malam tanpa bantuan alat apa pun sambil mendengarkan penjelasan tambahan dari guru pembimbing tentang berbagai rasi bintang yang terlihat dengan mata telanjang.

Rean dan Elora memilih duduk agak menjauh dari kerumunan utama, mencari tempat yang lebih tenang untuk menikmati pemandangan langit tanpa gangguan.

"Kamu tahu nggak," Elora memulai, berbaring di atas rerumputan sambil menatap langit, "dulu waktu kecil, aku sering diajak ayahku lihat bintang dari balkon rumah. Tapi nggak pernah sejelas ini."

"Pasti momen yang berharga," jawab Rean, ikut berbaring di sampingnya, menjaga jarak sopan namun tetap dekat.

"Iya," Elora tersenyum mengenang. "Ayahku selalu bilang, setiap bintang punya ceritanya sendiri, meskipun kita cuma bisa lihat cahayanya dari jauh."

Rean terdiam sejenak, merenungkan kalimat itu. "Aku suka analoginya," katanya akhirnya. "Kayak orang-orang, ya. Kita cuma bisa lihat sebagian kecil dari cerita hidup mereka, tapi itu nggak berarti cerita di baliknya nggak berarti."

Elora menoleh, menatap profil wajah Rean yang masih fokus menatap langit, kagum dengan kedalaman pemikiran yang kadang muncul tiba-tiba dari sosok yang biasanya terlihat begitu polos.

"Kamu kadang bisa ngomong hal-hal yang dalam banget," katanya pelan.

"Masa?" Rean menoleh, sedikit bingung. "Aku cuma ngomong apa yang kepikiran aja."

Elora tertawa kecil, menggeleng pelan. "Itu yang bikin spesial."

Mereka melanjutkan mengobrol santai di bawah langit berbintang, sesekali diselingi keheningan nyaman yang tidak canggung sama sekali, hingga akhirnya waktu kunjungan observatorium berakhir dan seluruh kelompok dipanggil kembali menuju penginapan.

Sepanjang perjalanan kembali, Rean masih sesekali menoleh ke langit, membawa kekaguman malam itu bersamanya, sementara di sampingnya, Elora membawa kehangatan lain yang jauh lebih personal — kenangan tentang percakapan sederhana namun bermakna yang baru saja mereka bagikan berdua di bawah gemerlap bintang pegunungan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!