"Kau benar-benar sempit dan nikmat."
Akibat jebakan seseorang, Aksara tanpa sadar meniduri seorang gadis tidak bersalah. Gadis yang tidak dikenalnya, namun menjadi gadis pertama yang ia nikmati.
Bukan hanya gadis itu yang pertama, namun Aksa juga. Dia mengambil mahkota gadis itu secara paksa di bawah kendali obat.
Aksa menyelidiki gadis itu, yang ternyata hanya seorang pengantar makanan di restoran milik paman dan bibinya.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya, apakah Aksa akan bertanggung jawab atau justru lari??
Update setiap hari‼️
Follow Ig : Alfianaaa05_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku mau itu!
Ayesha menatap bangunan di hadapannya dengan mata berkaca-kaca. Setelah seharian berperang dengan pikirannya, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke apotek dan membeli alat tes kehamilan.
Ayesha menghela nafas, gadis itu lekas masuk ke dalam apotek sambil menutupi wajahnya dengan hoodie yang ia kenakan.
"Mbak, s-saya mau beli alat tes kehamilan." Ucap Ayesha pelan, karena keadaan apotek cukup ramai.
"Oh boleh, sebentar ya." Mbak apotek itu lalu pergi dan kembali membawa dua jenis test pack dengan beda merk.
"Mau yang mana, Mbak?" Tanya si apoteker itu.
"Dua-duanya saja." Jawab Ayesha, kemudian mengeluarkan uang 100 ribu, hanya itu uang yang Ayesha miliki.
Apoteker itu menerimanya dan lekas memberikan kembalian pada Ayesha.
Ayesha lekas keluar membawa kantong kresek berwarna hitam, namun saat ia baru keluar tiba-tiba saja seseorang menabraknya.
Kantong plastik yang Ayesha bahwa terjatuh dan membuat isinya keluar. Pria yang menabrak Ayesha lekas mengambil barang-barang itu dan memberikannya pada Ayesha.
"Maafkan saya, Nona." Ucap pria itu dengan sopan.
"Tidak, eumm … tidak masalah." Balas Ayesha kemudian segera pergi meninggalkan depan apotek.
Ayesha sedikit berlari agar bisa sampai di rumah sebelum paman atau bibinya pulang untuk mandi sore.
Ayesha tidak mau sampai berpapasan dengan orang rumah, karena itu akan menjadi masalah untuknya. Ayesha takut jika paman, bibi atau Aaron mempertanyakan tujuannya membeli barang ini.
Akhirnya Ayesha sampai di rumah sebelum orang-orang pulang. Ia lekas masuk ke dalam kamarnya dan menyembunyikan alat itu di bawah bantal.
"Ayesha!!!" Tepat sekali, tiba-tiba suara Nety berteriak memanggil dirinya.
Ayesha lekas keluar dari kamar, ia bersyukur karena sudah menyapu dan mengepel lantai rumah, sehingga bibinya tidak akan memarahinya.
"Iya, Bi?" Sahut Ayesha dengan tergesa-gesa.
Maklum, Ayesha baru saja berlari dari apotek dan langsung dikejutkan dengan bibinya yang pulang. Semenit saja Ayesha terlambat, maka sudah dipastikan ia akan berpapasan dengan bibinya.
"Habis ngapain kamu sampai ngos-ngosan begitu?" Tanya Nety, melemparkan tatapan penuh kecurigaan pada Ayesha.
"Aku baru saja membersihkan kamar, Bi." Jawab Ayesha berbohong.
Nety memijat tengkuknya, ia lalu melemparkan kantor plastik berwarna hitam kepada Ayesha.
Ayesha sigap menangkapnya, ia melihatnya isi dari plastik itu adalah sayuran dan ikan-ikanan.
"Masak itu, aku ingin makan sop dan ikan balado." Ucap Nety kemudian pergi begitu saja untuk mandi, sebelum kembali ke resto.
Ayesha menghela nafas, ia lekas membawa belanjaan itu ke dapur untuk ia masak segera.
Mula-mula Ayesha memotong sayuran dulu sebelum ia masak menjadi sop, lalu setelahnya ia mengeluarkan ikan yang dibeli bibinya.
"Uwekkk …" Ayesha langsung mual mencium bau amis dari ikan yang dia keluarkan.
Gadis itu meletakkan ikan nya di atas wastafel, kemudian mencuci tangannya. Ayesha tidak kuat mencium bau amis.
"Uhukk … uwekk …" masih terus mual, membuat suaranya terdengar oleh Nety.
"Ada apa denganmu, berisik sekali. Aku jijik mendengar suara muntah-muntahmu itu." Ketus Nety lalu melangkah ke kamar mandi.
Ayesha memejamkan matanya, berusaha menahan mual agar bibinya tidak curiga dan menanyakan hal yang tidak bisa Ayesha jawab nantinya.
"Aku mohon, jangan buat aku mual-mual." Gumam Ayesha pada dirinya sendiri.
Ayesha lalu mendekati ikan kembali, dan lagi-lagi baunya membuat mual, namun berhasil Ayesha tahan.
Gadis itu mencuci sampai bersih dan lekas memberinya bumbu untuk menghilangkan bau amisnya.
Ayesha masak sambil berusaha untuk tidak mual. Ia berusaha untuk memasak sebaik mungkin agar bibinya tidak marah nanti.
"Ayesha, nanti antar makanan itu ke resto. Aku buru-buru, awas saja jika kau tidak datang." Ucap Nety yang sudah rapi, kemudian pergi kembali meninggalkan rumah.
Padahal Ayesha sudah hampir menyelesaikan masakannya, namun bibinya tidak mau menunggu sebentar saja sehingga ia harus mengantarnya.
Meski punya restoran, paman dan bibinya memang tetap akan menyuruh Ayesha memasak. Alasannya karena mereka bosan jika harus makan ayam geprek, ayam chicken atau sejenisnya.
Ayesha hanya bisa menurut, ia bekerja siang dan makan, lalu sesekali akan memasak jika bibinya menyuruhnya.
Selesai memasak, Ayesha memasukkan semua makanan itu ke dalam tempat dan siap untuk ia antar. Namun sebelum itu ia akan mengganti pakaiannya dulu.
"Ini lebih baik, meski wajahku tetap terlihat pucat." Gumam Ayesha.
Ayesha lekas pergi meninggalkan rumah. Tubuhnya masih sedikit lemas, dan sesekali denyutan di kepalanya pun masih terasa, namun Ayesha tetap harus pergi daripada dimarahi bibinya.
Ayesha jalan kaki pastinya, menyusuri jalan dengan santai sambil menghirup udara sore itu yang sedikit gelap.
"Sepertinya akan turun hujan, aku harus cepat pulang rumah. Cucian ku banyak sekali." Gumam Ayesha kemudian mempercepat langkahnya.
Sampai di resto, Ayesha langsung berpapasan dengan Aaron yang kala itu baru saja mengantarkan pesanan ke meja seseorang.
"Ay, kau kesini? Kau kan sedang sakit." Ucap Aaron mengerutkan keningnya.
"Bibi memintaku membawakan ini, Kak. Kalian pasti belum makan, dan bosan ya jika makan ayam." Tutur Ayesha menunjukkan plastik yang ia bawa.
Ayesha lalu pergi ke dapur, menghampiri paman dan bibinya yang sedang menghitung uang.
"Bi, ini makanan nya." Ucap Ayesha.
"Ya, sana pulang." Usir Nety tanpa menatap Ayesha.
"Jangan, Ay. Hujan sudah turun," Aaron datang dan mencegah Ayesha yang langsung disuruh pulang.
"Hujan? Astaga, baju papa belum diangkat untuk besok ketemu teman." Ucap Wardi terlihat panik.
Wardi lalu menatap Ayesha. " Ay, pulang sana dan angkat pakaian." Ujar Wardi.
"Tapi hujan, Paman. Aku juga masih lemas." Sahut Ayesha.
"Halah! Jangan manja, seharian kamu sudah istirahat, sekarang pulang pakai payung ini." Kata Nety lalu memberikan payung berwarna biru pada Ayesha.
"Mama, papa. Kalian ini, selalu saja begitu. Ayesha akan tetap disini sampai hujannya reda." Sahut Aaron melarang Ayesha pulang.
Kali ini Wardi dan Nety tidak banyak bicara, sehingga Ayesha tetap akan di sana sampai hujannya reda.
Sementara itu di tempat lain. Di apartemen Aksara. Tampak pria itu sedang menyantap makanan yang dibuat koki baru sebagai testimoni sebelum menerima pekerjaan.
Aksa melempar garpu dan pisau di tangannya, ia bangkit dari duduknya lalu menatap koki baru itu.
"Makan jenis apa yang kau buat ini, rasanya membuat kepala saya pusing." Ucap Aksa, lalu memijat pelipisnya.
Xyan meminta koki itu untuk pergi dengan kode mata, sebelum Aksa melontarkan kata-kata kasarnya.
"Tuan, ada apa?" Tanya Xyan mendekati atasannya itu.
"Kepalaku sakit, makanan itu membuatku pusing. Rasanya benar-benar pahit!" Jawab Aksara dengan sewot.
Xyan segera mencicipi makanan yang dibuat koki tadi. Rasanya baik-baik saja, bahkan terasa enak.
"Tuan, ini enak. Tidak ada rasa pahit sama sekali," kata Xyan.
Aksara menoleh, menatap Xyan dengan tajam.
"Maksudmu aku berbohong?" Tanya Aksara mengangkat sebelah alisnya.
Xyan menggelengkan kepalanya. "Bukan begitu, Tuan. Mungkin anda kurang enak badan karena kelelahan setelah perjalanan panjang kita ke Amerika." Jawab Xyan.
Aksa tidak menjawab, pria itu meninggalkan dapur dan pergi ke ruang tamu untuk menenggak minuman.
Saat di ruang tamu, niatnya untuk minum terhenti karena iklan soto di televisi. Aksa menginginkan itu, ia tiba-tiba merasa sangat ingin.
"Xyan, aku mau itu." Ucap Aksara menunjuk ke arah televisi.
"Maksud anda kopi?" Tanya Xyan, karena iklan televisi sudah ganti.
"Bukan! Aku ingin makan makanan yang berkuah kuning, lalu ada sayuran di dalamnya. Aku tidak tahu namanya apa itu," jawab Aksara dengan kesal.
Xyan berusaha mencerna ucapan Aksara.
"Maksudnya soto?" Tanya Xyan, dan Aksara menjawabnya dengan gelengan kepala.
"Aku tidak tahu, cepat beli." Jawab Aksara dengan cepat.
Xyan menghela nafas, ia lekas pergi meninggalkan apartemen atasannya itu untuk membelikan makanan yang tiba-tiba diinginkan Aksa.
Soto, memang Aksa tidak tahu namanya karena selama ini pria itu lebih banyak makan makanan luar. Apalagi Aksa lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berkeliling dunia demi kepentingan bisnis.
Aksa itu tahu deskripsi, namun tidak tahu nama. Ibaratnya kenal muka, tak kenal nama.
Untung saja Aksa memiliki asisten pribadi seperti Xyan yang selalu bisa diandalkan.
WAHHH ADA APA DENGAN AKSA???
Bersambung................................