PERINGATAN!!!
Sebelum membaca, siapkanlah hati kalian seperti judul novel ini 'Seluas Samudera'. Karena kalian akan dibuat jengkel setengah mati. Jika kalian tidak siap, lebih baik mundur!
----------
Novel ini mengangkat kisah tentang seorang
Kapten pasukan khusus Angkatan Laut. Yang jatuh cinta dengan anak Komandan-nya. Mereka bertemu di rumah sakit tanpa tahu satu sama yang lain. Saat sang Kapten tertembak, dan sebagai perawat wanita itu merawatnya. Namun sayang, karena ada sesuatu hal. Sang Kapten secara sepihak memutuskan jalinan asmara diantara mereka.
Memang kalau telah dijelaskan, aku mau lepas darinya? Tentu, tidak! Aku tidak mau Dia sudah buat aku begini, malah meninggalkanku. Itu gak boleh! Oh! Aku tahu caranya biar dia bisa balik lagi bersamaku. Ya! Akan kucoba.
-Dewi Abarwati-
Dia berharap ada kata maaf dulu dari Dewi, sebelum dia merubah status hubungan mereka menjadi sepasang kekasih kembali.
-Krisanto-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonelondo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10 Kenapa Tidak Diberi tahu part. 2
Masuk kamar, wanita berperawan sedikit gemuk itu berjalan lunglai ke kasur lalu duduk di tepian. Tasnya digeletakkan begitu saja di sisi tubuhnya. Kamar Dewi berada di depan. Di depan kamar, garasi mobil. Jendela kamar menghadap garasi. Kasurnya di sisi seberang mepet ke tembok dan berada di depan pintu. Pintu kamar berada di pojok. Di samping ranjang, nakas. Di samping nakas, meja rias. Di depan meja rias, lemari dan bupet kecil. Layaknya isi kamar wanita, pajangan dan photo meramaikan dinding dan bupetnya. Boneka nggak luput meramaikan kasur dan bupetnya.
Pada dasarnya Dewi gak suka dandan, hanya memoleskan lipstick tipis di bibir, begitu pula bedak sama tipisnya. Alisnya dibiarkan apa adanya tanpa dia ingin repot-repot mengukir seperti wanita yang sering lakukan. Wajahnya dapat dibilang cantik natural. Rambutnya juga mudah diatur karena tidak panjang.
Perawat memang kalau bisa jangan panjang biar tidak mengganggu aktivitas. Sebenarnya bisa saja panjang, tinggal digulung dimasukkan ke dalam topi suster. Tapi itu ya, tergantung kebijakan rumah sakit tersebut. Kalau ditempatya nggak diperkenankan.
Dewi mendesah. Sabtu! 2 hari dari sekarang, itu tandanya hari libur dia sudah lewat. Itu tandanya dia nggak bisa ke kantor Kris. Itu tandanya dia hanya mengorek informasi hanya lewat menelpon Kris. Tapi apapun itu, bagaimana caranya dia mengajak ngobrol Kris?
Sejatinya Dewi nggak ada daya kuasa meminta Kris beri tahunya hal-hal pribadi. Dia hanya bisa menunggu seperti kemarin. Mengingat hubungan mereka kini. Palingan jika dia sudah sangat penasaran sekali, dia harus pintar mengolah kata memancing Kris memberi tahunya.
Tapi sebenarnya salahnya, harusnya tadi dia menyampaikan keberatan ke Rena. Biarlah mereka ketemu sendiri-sendiri di sana. Ah, tidak, tidak. Bisa juga Kris yang mengajak bareng. Mungkin seterusnya akan begitu. Siapa yang bisa jamin? Kris kan sekarang pria single bisa leluasa. Aduh... Gimana ini. Kalau terus begini. Bisa-bisa nanti ada yang melihat mereka.
Tok! Tok! Tok!
“Wi... Dewi...,” suara ibunya memanggil.
“Iya..."
“Cepat ganti baju Nak, bantu Ibu masak.”
“Iya...”
Sesaat, Dewi sudah berada di dapur. Untuk anak seorang Kolonel, Dewi wanita sederhana ringan tangan bantu orang tua. Memasak, membersihkan rumah, bahkan waktu liburnya kadang dipakainya untuk meringankan pekerjaan ayahnya. Membabat rumput-rumput dan daun-daun mati di perkarangan rumah. Disaat ayahnya masih berkutat di kantor belum mendapatkan waktu liburnya. Di rumah nggak ada pembantu semua dikerjakan sendiri. Orang tua Dewi mendidik anaknya mandiri. Dewi juga bukan wanita neko-neko yang suka jalan-jalan nggak jelas dan pulang larut malam. Dapat dibilang Dewi anak rumahan. Orang tuanya mendisplinkan batas waktu pergi jam 10 malam. Dewi harus bilang pergi kemana dan dengan siapa. Maklum dia anak satu-satunya. Dewi pun patuh mengikuti peraturan orang tuanya.
Bagaimana dengan Kris? Buat satu itu orang tuanya sedikit toleran. Hanya Kris yang bisa mengajak Dewi keluar melewati batas. Dulu sewaktu pacaran Kris beberapa kali mengantar Dewi pulang dibawah jam 12 malam. Kris juga tahu batasannya meski dikasih kepercayaan tidak seenaknya. Lagi pula, Kris sadar kepercayaan yang diberikannya itu pasti karena menimbang dia anak buah ayah Dewi. Artinya ada resiko yang harus ditanggungnya kalau dia semena-mena.
Rumah Dewi tak begitu besar juga tidak kecil. Ukurannya sedang untuk dihuni 3 orang. Jika diawali dari halaman rumah. Buka pagar, langsung berhadapan dengan garasi mobil. Sebelah garasi mobil, taman dan teras. Masuk rumah, dihadapkan ruang tamu. Sebelah ruang tamu yang bersebelahan dengan garasi mobil, kamar Dewi. Sisi lainnya, taman yang menyambung ke taman depan jadi berbentuk letter L. Ke dalam lagi, ditengah, meja makan. Di sebelah meja makan, kamar tamu yang bersebelah dengan kamar Dewi. Sedangkan sisi lainnya ruang keluarga. Di belakang, tepatnya di sebelah kamar tamu dan meja makan, dapur dan kamar mandi. Sisanya, jemuran. Di samping 3 hal itu di belakang, kamar orang tua Dewi yang di depannya ruang keluarga.
(Gambar hanya ilustrasi)
Dewi memotong-motong sayur lalu mencucinya di wastafel. Dinyalakannya keran untuk mengguyur sayur-sayur yang sudah di taruhnya di dalam wadah. Dewi bisa masak tentu karena dia sering membantu ibunya. Tapi tentu juga, masakan dia nggak seenak masakan orang tuanya.
“Wi. Nanti, habis itu kamu irisin bawang ya.”
“Iya.”
Selepas memasak, ayahnya pulang. Dewi membuatkan teh dan ibunya sibuk menyiapkan sajian makanan hasil masakan di meja. Ayahnya keluar kamar.
“Mau mandi dulu, apa mau duduk nge-teh dulu?” tanya ibunya ke suaminya.
“Tehnya, nanti saja Ayah minum bareng kalian sehabis makan. Ayah mau mandi dulu.”
Biasanya mereka minum teh duduk-duduk di ruang keluarga sehabis makan. Tapi kadang ayah Dewi suka minum dulu sebelum makan.
Selanjutnya, selesai ayahnya mandi mereka makan. Saat ini Dewi nggak bisa menghindari yang ada di depan matanya. Semur ayam, sop isian sayur dan baso, telor dadar, sambal dan kerupuk.
Setelah makan, mereka duduk-duduk santai di depan TV. Teh dan cemilan menemani mereka. Ayahnya membaca koran sedangkan Dewi dan Ibunya menonton sinetron.
“Duh... Jahat banget tuh cowok. Kalau sudah nggak cinta ya putusin aja.”
Dewi mendelik. Kenapa ceritanya mirip dia dan Kris ya? Ibunya memberi komentar ke pemain pemeran utama pria. Dia juga baru sadar setelah selama ini menonton. Hanya ceritanya beda versi.
“Kan kasihan ceweknya,” lanjut ibunya.
Apa sebaiknya begitu ya? Lebih baik diputusin dari pada si cewek menjalani tulus namun si pria kepura-puraan? Berarti apa yang dibuat Kris ke dirinya itu baik? Lebih baik Kris memutuskannya dari pada menyakitinya berkepanjangan? Tapi, apa secepat itu Kris rasanya hilang? Apa lagi Kris jahat memutuskannya tanpa alasan. Apa itu tak terlihat Kris seperti sedang mempermain-mainkannya? Apa lagi Kris pernah melamarnya.
Ayahnya menutup koran, membungkuk mengambil cangkir, menyeruput teh di mulut. Matanya mengamati istrinya yang terbawa perasaan alur cerita. Ibunya memang masih lanjut mengoceh. Bapak tua itu geleng-geleng kepala, menaruh cangkir, lanjut membaca lagi.
“Untung Mas Kris nggak begitu ya, Nak.”
Terkesima. "Hah?"
"Mas Kris."
“O, o, oh... I-yaa." Dewi terbata-bata.
“Kamu nonton apa melamun sih, Wi!”
“Kan Dewi lagi nonton Bu,” alibi anaknya.
“Isshh...”
“Makanya Bu, kalau nonton jangan banyak bicara,” komentar suaminya.
“Oala... Di bela. Hmm...,” bete ibunya lanjut menonton lagi.
**********
Ditempat kerja, disaat waktu senggang. Dewi bolak-balik melihat Hp-nya. Dia ragu mau menelpon karena masih ada hari esok. Namun rasa penasarannya lah yang membuatnya tersiksa. Akhirnya diputuskannya hanya mengirim sms saja.
"Lagi apa?"
10 menit berlalu, tidak ada tanda-tanda balasan. 30 menit, dan 1 jam berlalu hasilnya pun sama. Ya sudahlah... Mungkin Kris lagi sibuk. Lagi pula masih ada hari esok. Acara itu juga belum pasti.
Keesokkan harinya ditempat kerja, setelah lewat 1 harian, sms Dewi baru dibalas Kris.
“Maaf, kemarin aku sibuk. Ada apa?”
Selanjutnya yang terjadi, ketika Dewi membalas lewat menelpon, dan sudah membuat percakapan panjang tapi terkadang dipaksanya belok ke kiri dan ke kanan. Bagaikan mobil ngebut nggak ada tikungan pokoknya dipaksanya belok. Susah payah dia mencari celah buat meraih kepekaan lawan bicara. Tanggapan Kris?
“Oo... Begitu.”
“Iya.”
“Mm...”
“Nggak juga.”
Itu semua yang keluar dari mulut pria di sana tiap Dewi menyelesaikan sepatah katanya. Akhirnya cukup membuatnya sudah kehabisan bahan obrolan.
Dewi menggerutu dipikiran. Hei, apa Kris nggak tahu otaknya semrawut mengakali semua pembicaraan itu? Masa, Kris nggak peka-peka maksud tujuannya?
Hati Dewi mulai resah. Kris tidak menangkap signal darinya, tidak ada tanda-tanda memberi tahunya. Ditambah lagi saat bunyi beep tanda obrolan mereka sudah usai.
**********
Di dalam gerobak gorengan, Dewi mengamati seorang wanita yang berdiri di depan mini market seperti sedang menanti seseorang. Dilihatnya wanita itu bolak-balik bicara di telepon genggam dengan tangan seperti mengarahkan jalan meski lawan bicaranya nggak ada di depan. Seharusnya Dewi nggak perlu sejauh ini. Tapi itulah 'cinta' kadang nalar nggak jalan.
Sepulang kerja Dewi mengikuti Rena naik ojek setelah Rena naik angkutan umum. Cukup lama dia di situ, yang ditunggu mereka masih belum tiba.
Abang gorengan mulai protes, Dewi menghalangi pelanggannya.
“Maaf ya Neng, kalau mau di sini tolong beli ya. Kalau nggak, mendingan jangan di sini. Soalnya ganggu pembeli saya nih. Maaf loh ya...”
Dewi terkesiap matanya menoleh ke belakang mengindai sekeliling. Mau berdiri di mana lagi? Di sini pas!
Posisi gerobak gorengan berada di seberang mini market. Sebenarnya di mini market ada gerobak jus dan burger. Tapi nggak mungkinkan kan dia bersembunyi di situ. Terlalu dekat jaraknya dengan Rena. Di belakang tukang gorengan ada pohon-pohon dan di belakang pohon-pohon ada kali. Jadi gak mungkin juga Dewi ngumpet di belakang pohon. Nanti kejebur kali lagi dia.
“Ya udah, saya beli Bang."
Biar nggak di usir, Dewi mengikuti permintaan abang itu, sembari matanya memperhatikan depan lagi.
Dilihatnya Rena berjalan ke bibir jalan. Sepertinya yang ditunggu sahabatnya itu akhirnya mau tiba.
“Apa saja, Neng?” tanya tukang gorengan.
"........."
“Neng... Neng...”
“Hah?” kaget Dewi.
“Apa saja?” tanya tukang gorengan lagi.
“Apa saja deh, Bang.”
Dilihatnya Rena memiringkan kepala ke jalur jalanan. Dewi pun turut mengikuti ke arah yang Rena lihat. Dilihatnya mobil yang sangat dikenalinya melaju ke arah Rena dan sedikit lagi tiba.
“Neng, ini.”
".........."
“Neng... Neng...,” tegur Abang gorengan terus-menerus.
“Hah!” kaget Dewi lagi.
Ish, si Abang ganggu aja.
"Kenapa, Bang?" kesal Dewi.
Menyerahkan plastik gorengan. "Ini."
"Oh!"
Akibat abang itu, sesudah membayar, Dewi jadi tidak bisa melihat wajah pria dimobil itu, hanya tinggal laju mobil itu saja yang sudah pergi meninggalkan lokasi.
"Yahhh..."
Asli, dia ingin melihat ekspresi Kris waktu menjemput Rena.
penasaran alasan kris
aslinya laki apa banci sih 😑
seolah dia ga masalah orang yg dia cintai dibikin sakit ama temen2nya
ngapa ga putus hubungan aja ama temennya
temen kayak gt kok dipiara
si rena lah dianter ksana kmari, parah ini kriss
baik sih baik, tpi ya ga gt jg kalik...
babehku sibuk mo anter2 tmnnya, lgsg aku tikung buat ngantrerin aku