NovelToon NovelToon
Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Nikahmuda / Keluarga & Kasih Sayang / Angst / Tamat
Popularitas:67.1k
Nilai: 5
Nama Author: Salsabila a.v

Pernikahan diusia muda memang tidaklah mudah. Ego dan emosi kerap mendominasi. Masalah dan masalah kerap muncul. Bila tidak dibarengi dengan kesiapan mental, maka perpisahan bisa saja terjadi.

Begitu pula dengan apa yang dialami oleh Larissa, seorang gadis dari keluarga tidak mampu. Ia terpaksa menikah di usianya yang baru 18 tahun karena mengikuti tradisi di desanya.

Masalah mulai muncul saat adanya pihak yang tidak menyukai kebersamaan mereka. Hingga mereka kerap bertengkar.

Suatu hari Larissa menemukan sebuah rahasia tentang ayah kandungnya yang selama ini disembunyikan ibunya. Sedari kecil ia memang tidak pernah mengenal sosok ayahnya.

Mampukah ia menerima kebenaran tersebut? dan apakah ia bisa mempertahankan keutuhan rumah tangganya?

Kisah ini diangkat dari sebuah kisah nyata. Semoga kita bisa memetik hikmah dan pelajaran dari kisah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabila a.v, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Pagi harinya saat Larissa bangun tidur, ia merasakan sakit yang begitu hebat di bagian perut bawahnya. Ia terus-menerus merasakan ingin buang air kecil. Tapi saat ia kencing, bukan urine yang ia keluarkan, melainkan darah.

Larissa pun membangunkan sang suami dan menceritakan kondisi yang dialaminya. Akan tetapi tanggapan yang Hamzah berikan membuat hati Larissa kecewa. "Alah, nggak usah terlalu dipikirkan. Mungkin itu hanya karena kamu nahan kencing terlalu lama" ucapnya sambil menguap lebar.

Entah karena memang tidak tahu atau karena masih marah karena semalam, yang pasti Larissa merasa diabaikan oleh sang suami. Meski begitu ia hanya diam. Ia tak ingin menambah masalah lagi.

Keinginan untuk buang air kecil itu datang kembali. Kali ini Larissa bahkan sangat kesakitan, benar-benar kesakitan. Pasalnya saat ia kencing, rasanya di bagian kewanitaannya seakan tertusuk besi panas. Begitu sakit yang teramat sangat sakit. Bahkan Larissa sampai mengeluarkan air mata saking sakitnya.

Tak tahan dengan apa yang ia rasakan, Larissa pun mengatakan hal ini pada ibunya. Sang ibu pun terlihat sangat cemas saat mengetahui keadaan Larissa. Ia memberikan sesuatu yang mungkin bisa meredakan rasa sakit itu.

Larissa kembali merasa ingin buang air besar. Kali ini rasa sakit yang ditimbulkan lebih parah lagi. Ia bahkan hampir pingsan saat kencing.

Mengetahui hal itu, Bu Ani meminta Hamzah untuk membawa Larissa periksa ke puskesmas. Akan tetapi Hamzah terlihat ogah-ogahan untuk mengantar. Ia berasalan bahwa letak puskesmas jauh, dan motornya tidak bisa dibawa kesana, terkendala oleh surat-surat motor yang hampir mati.

Setelah lama membujuk, akhirnya Hamzah mau juga untuk mengantar Larissa ke puskesmas. Terlebih ia juga tak tega melihat kondisi sang istri yang sangat kesakitan.

Setelah beberapa lama, akhirnya mereka pun sampai. Larissa segera mengambil nomor antrian didalam, sedang Hamzah hanya menunggu di parkiran.

Setelah lama menunggu, akhirnya nama Larissa dipanggil juga. Ia pun masuk ke dalam ruangan dokter untuk diperiksa.

Didalam ruangan, Larissa mengatakan semua yang ia keluhkan tadi pagi Tak lupa ia juga mengatakan jika saat ini sedang mengandung, dan usianya sekitar satu bulan.

Mendengar keterangan yang disampaikan Larissa, dokter terlihat kebingungan untuk menentukan. Ia meminta sampel urine untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Larissa pun menuruti permintaan sang dokter. Ia segera masuk ke kamar mandi, kebetulan saat itu dia juga ingin buang air kencing kembali.

Larissa pun kembali masuk ke ruangan dokter sambil membawa sampel urine yang diminta. Terlihat urine tersebut berwarna merah seperti darah, walau tak se pekat tadi pagi.

Dokter langsung membawa sampel urine tersebut ke dalam laboratorium untuk diperiksa. Dan setelah beberapa lama dokter tersebut kembali lagi.

Dokter meminta Larissa untuk duduk. Ada hal penting yang ingin ia sampaikan. Larissa pun menuruti permintaan sang dokter, ia duduk dihadapan dokter dengan harap-harap cemas. Wajah dokter terlihat sangat tegang.

Dokter menghela nafas berat sebelum mulai bicara. "Ibu Larissa, sampel urine yang ibu berikan tadi menunjukkan bahwa urine itu memang mengandung darah. Akan tetapi bukan darah biasa, melainkan indikasi bahwa anda mengalami pendarahan. Hal itu sering terjadi pada usia kandungan yang masih muda, mengingat usia kandungan ibu juga masih satu bulan."

Bagai tersambar petir saat mendengar berita tersebut. Tubuh Larissa lemas seketika. Akan tetapi ia berusaha untuk kuat. Ia bertanya untuk memastikan keadaan janin yang dikandungnya. "Apakah kehamilan saya masih bisa diselamatkan, dok?."

Dokter kembali menghela nafas. "Untuk saat ini janin ibu masih bisa diselamatkan. Tapi ibu harus istirahat total selama seminggu ini. Dan ibu juga harus mengkonsumsi obat penguat kandungan, agar kandungan ibu lebih kuat lagi!" terang sang dokter.

Larissa bernafas lega mendengar penjelasan dokter barusan. Setidaknya janin yang dikandung masih terselamatkan.

"Sebenarnya apa yang menyebabkan saya bisa mengalami pendarahan, dok?" tanya Larissa lagi.

"Hal ini bisa disebabkan oleh banyak hal. Bisa karena terlalu sering dan keras saat berhubungan suami istri, atau karena stres yang berlebih. Semua itu sangat berpengaruh pada trimester pertama kehamilan, yaitu usia satu sampai tiga bulan" terang dokter kembali.

Larissa menghela nafas berat. "Ini semua pasti karena semalam aku terlalu memikirkan kejadian kemarin. Secara aku sangat stres memikirkan kejadian itu" batin Larissa dalam hati.

"Ini resep obat yang harus ibu minum. Saya juga menambahkan beberapa vitamin sebagai tambahan. Tapi maaf, ibu harus membeli sendiri obat ini diluar. Karena puskesmas tidak menyediakan obat jenis ini" ucap dokter lagi sambil menyodorkan secarik kertas berisi resep obat.

Larissa pun mengambil resep obat tersebut dan mengucapkan terimakasih. Kemudian ia keluar dari ruangan itu, berjalan menghampiri sang suami yang sedari tadi menunggu di parkiran.

"Apa kata dokter?" tanya Hamzah saat Larissa telah sampai di dekatnya.

"Aku mengalami pendarahan, Yank. Untung janinnya masih bisa diselamatkan. Dokter tadi memintaku untuk istirahat total selama seminggu ini, juga meminum obat penguat kandungan yang ia resep kan. Tapi..." Larissa menggantung ucapannya.

"Tapi apa?" tanya Hamzah langsung.

"Tapi obatnya harus beli sendiri di apotik, karena di puskesmas tidak menyediakan obat jenis ini. Dan lagi obatnya agak mahal" jawab Larissa lirih. Ia sangat tahu bagaimana kondisi keuangannya saat ini. Karena itulah ia sedikit khawatir Hamzah tidak akan setuju saat mengatakannya.

"Ya sudah nggak pa pa. Kita beli saja obatnya. Tidak usah pikirkan soal harga, yang penting kamu dan calon anak kita baik-baik saja" jawab Hamzah.

Larissa tersenyum lega mendengar ucapan Hamzah. Ia segera naik ke boncengan motor untuk segera kembali pulang.

Di tengah jalan, Hamzah menepikan motornya. Ia melihat sebuah apotik disana. ia lantas menyuruh Larissa untuk membeli obat yang diresepkan tadi.

Larissa pun masuk kedalam apotik dan membeli obat sesuai dengan yang diresepkan tadi. Dan setelah ia mendapatkannya, ia pun naik ke motor kembali.

Sesampainya dirumah, Hamzah menyuruh Larissa untuk langsung istirahat di kamar. Ia begitu perhatian padanya. Bahkan ia tak mengizinkan Larissa beranjak dari tempat tidur.

Larissa begitu bahagia melihat sikap yang ditunjukkan sang suami. Semua kebutuhannya disiapkan olehnya. Bahkan ia dilayani bak seorang ratu.

Usai memberi Larissa obat, Hamzah duduk disamping sang istri. Ia memijat kaki Larissa. "Apa kata dokter tadi? kenapa kamu bisa mengalami pendarahan?" tanya Hamzah disela-sela memijat.

Sejenak Larissa diam, tapi kemudian ia menjawab, "Dokter bilang bisa karena banyak hal. Bisa karena berhubungan suami istri yang berlebihan, atau karena stres."

"Ini pasti karena semalam kita berhubungan suami istri. Ini semua salahku. Seharusnya aku tak melakukan hal itu" ucap Hamzah sendu. Ia seakan menyalahkan dirinya sendiri.

Semalam mereka memang sempat melakukan hubungan suami istri, tapi dalam benak Larissa bukan itu penyebab ia mengalami pendarahan.

Melihat sang suami menyalahkan diri sendiri, Larissa jadi tak tega. Ia memutuskan untuk menceritakan semuanya. "Sebenarnya ini bukan karena semalam kita berhubungan suami istri, melainkan karena....."

1
Anonim
n
Elok Pratiwi
buruk amat karakter pemeran utama wanita nya ... lemah mudah ditindas tidak punya pendirian ... sangat buruk
mamayot
aku like lagi ya kak, semangattttttt
🟢🌻⃝⃟𝓜֟፝•ᴿʸ MENTARY🐌
Hwaiting Kk
Perjuangan Ucup mampir
🟢🌻⃝⃟𝓜֟፝•ᴿʸ MENTARY🐌
Hwaiting Kk
Perjuangan Ucup mampir
tintakering
lebih baik larissa cerita sama hamzah biar g da salah paham
tintakering
ibunya biang kerok
tintakering
semoga rejekinya ikut bertambah😊
tintakering
yang penting bahagia walau dalam kesederhanaan.
tintakering
seng sabar nduk. hidup itu keras, jalani saja dengan ikhlas.
tintakering
keinginan adalah sumber penderitaan 😊
tintakering
kelak zulkarnaen akan menjadi penolong kedua orang tuanya di alam barzah.
Larina
jatuh cinta nunggu besar ya
bunda f2: ya gitu deh....
total 1 replies
Larina
waduh, jadi kayak ga enak gitu
Mukho Lisa
bagus, sangat menginspirasi
🦋⃟ℛ⭐ʀᴀᴅɪsʏᴀ⭐🦋ᴬ∙ᴴ࿐
hadir....semangat terus untuk berkarya🙋‍♀️🤩🤩🤩
bunda f2: makasih banyak dukungannya
total 1 replies
🦋⃟ℛ⚜️ʜᴇʟʟᴇɴ⭐️🌸💜ᴬ∙ᴴ࿐
Mampir bun 😇😇😇 Judulnya buat aku berfikir keras 😁
bunda f2: makasih kehadirannya
total 1 replies
YouTrie
Aku mampir kak mampir juga Takdir Cinta Rembulan mampir
teti kurniawati
saya mampir
teti kurniawati: Sama-sama hayu saling suport...
total 3 replies
🟢🌻⃝⃟𝓜֟፝•ᴿʸ MENTARY🐌
Hwaiting Kk
Perjuangan Ucup mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!