Usia 50 tahun. Menantu durhaka, anak tak tahu diuntung, dan suami yang membuang Suparti Wijaya di depan umum hanya delapan hari setelah ibu mertuanya meninggal.** Tapi Tuhan memberinya kesempatan kedua — Suparti terlahir kembali, kembali ke hari paling menghinakan dalam hidupnya. Kali ini, ia tidak menangis. Ia tidak memohon. Ia menandatangani surat cerai dengan tangan gemetar penuh dendam, lalu menampar Prof. Handoko Susanto dan simpanannya, Jenny Wongso, di depan seluruh kantor catatan sipil — membongkar rahasia kelam 34 tahun pernikahan yang selama ini ia telan sendirian: uang bulanan receh, penghinaan tanpa henti, dan pengorbanan yang dibalas pengkhianatan.
Diusir tanpa sepeser pun harta, Suparti justru bangkit dari titik paling rendah — memulung sampah, mencuci piring di warung orang, tidur beralaskan kardus. Tapi wanita yang dulu dianggap "sudah tidak berguna" ini justru membangun **Bank Sampah Hidup Baru**, dari gerobak rongsokan kecil menjadi kerajaan bisnis daur ulang yang disegani seantero kota. Setiap orang yang dulu meremehkannya kini harus menunduk memanggilnya Bos.
Dan di tengah kebangkitannya, muncul sosok yang tak pernah ia duga: **Jenderal Alexander Sena Wiranata**, pria berkuasa yang selama ini selalu "kebetulan" ada di dekatnya — melindunginya diam-diam selama tiga puluh empat tahun tanpa pernah mengaku. Semua orang mengira ini keberuntungan. Tapi benarkah semua "kebetulan" itu murni kebetulan? Ataukah ada rahasia yang jauh lebih besar, yang menyangkut nyawa Suparti di kehidupan sebelumnya — rahasia yang baru akan terungkap ketika cinta mereka sudah tak bisa lagi dipisahkan? Balas dendam sudah dimulai. Kerajaan sudah dibangun. Tapi cinta sang jenderal... baru saja akan berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Kantor polisi Surabaya malam itu berbau kopi pahit, kertas lembap, dan lantai yang baru dipel.
Suparti duduk di ruang tunggu dengan sandal baru di dalam kantong plastik. Rasanya aneh, memegang benda sekecil itu setelah seharian menghadapi fitnah dan ancaman pembunuhan. Aditya berdiri dekat pintu. Ratih bolak-balik membawa dokumen, wajahnya tetap tenang meski jam sudah lewat sembilan.
Dari ruang pemeriksaan, suara Handoko terdengar sesekali.
"Saya korban provokasi."
"Saya punya reputasi akademik."
"Kalian harus hubungi pengacara saya."
Setiap kalimat masih mencoba berdiri di atas gelar. Namun dinding kantor polisi tidak sama dengan aula kampus. Di sini, gelar tidak membuat kursi lebih empuk.
Seorang penyidik meminta Suparti masuk untuk konfrontasi singkat. Handoko duduk di balik meja, batiknya kusut, rambutnya tidak serapi sore tadi. Ketika melihat Suparti, matanya menyala.
"Puas?"
Suparti duduk tanpa menjawab.
"Kau membawa orang luar untuk menghancurkan ayah anak-anakmu."
"Kau menyuruh orang membuat video palsu dan melukaiku."
"Aku tidak pernah menyentuhmu."
"Kau tidak pernah perlu menyentuh sendiri. Selalu ada orang lain yang kau pakai."
Handoko mencondongkan tubuh. "Hati-hati. Kau tidak tahu berapa banyak orang yang ikut tenggelam kalau aku jatuh."
Penyidik mengetuk meja. "Pak Handoko, jawab sesuai pertanyaan."
Ratih masuk membawa berkas lain. Ia meletakkan salinan identitas Aditya dan ringkasan pemantauan. Handoko melihat nama instansi yang tertera, lalu wajahnya berubah.
"Kau..." Ia menatap Aditya yang berdiri di pintu. "Kau bukan cuma pengawal."
Aditya tidak menjawab.
Ketakutan yang selama ini Handoko sembunyikan akhirnya tampak. Bukan ketakutan orang miskin kehilangan makan, melainkan ketakutan orang berkuasa saat tahu jalur belakangnya tidak lagi aman.
Suparti melihatnya dengan tenang. "Aneh, ya? Selama ini kau suka membuat orang kecil takut. Sekarang giliranmu tahu rasanya."
Handoko menggertakkan gigi. "Kau akan menyesal. Kevin tidak akan diam melihat ibunya mempermalukan ayahnya."
Nama Kevin membuat Suparti menoleh.
Ponselnya bergetar seolah dipanggil oleh kalimat itu.
Sebelum membuka pesan, Suparti melihat layar sebentar. Ada tujuh panggilan tak terjawab dari Cindy, tiga dari nomor tak dikenal, dan satu pesan suara dari Vivian yang belum ia putar. Keluarga Susanto yang selama ini selalu menyuruhnya diam tiba-tiba seperti berebut menarik ujung bajunya.
Ia tidak membuka pesan Vivian. Malam itu, ia tidak punya ruang untuk kemarahan anak perempuan yang masih memilih ayahnya.
Pesan masuk.
Mama, kita bicara berdua. Jangan bawa siapa pun.
Tidak ada tanda marah. Tidak ada huruf kapital. Justru karena itu, kulit tengkuk Suparti meremang.
Pesan kedua menyusul.
Kalau Mama masih merasa pernah melahirkan aku, datang ke hotel. Aku tunggu di kamar Mama.
Aditya melihat wajahnya. "Dari Kevin?"
Suparti menyerahkan ponsel. Ratih membaca sekilas, lalu langsung berkata, "Jangan pergi."
"Barangku masih di sana."
"Bisa diambil besok dengan petugas."
Suparti tahu itu benar. Namun pikirannya bergerak ke amplop uang, rekaman, dan kotak merah berbalut kain yang masih terkunci di laci hotel. Ia tidak mau benda-benda itu disentuh Kevin. Terutama kotak merah. Ia sendiri belum sanggup membukanya, tetapi benda itu satu-satunya sisa masa lalu yang belum dirampas.
Handoko memperhatikan mereka. Senyum kecil muncul di mulutnya.
"Lihat? Anak tetap mencari ibunya."
Suparti berdiri. "Anak yang baik tidak memancing ibunya ke kamar hotel setelah ayahnya ditangkap."
Senyum Handoko hilang.
Ratih menutup map. "Saya ikut."
Aditya mengangguk. "Saya juga."
Suparti memandang mereka berdua. "Kalau kalian ikut sampai pintu, dia tidak akan bicara. Aku butuh tahu apa yang dia rencanakan."
"Bu Suparti," kata Ratih, kali ini nada lembutnya tegas, "orang panik bisa melakukan hal bodoh."
"Aku tahu. Aku membesarkannya."
Kalimat itu membuat ruangan diam.
Akhirnya disepakati: Suparti kembali ke hotel dengan Aditya dan Ratih menunggu di lorong dekat lift. Ponsel Suparti tetap menyala, panggilan dengan Cynthia terbuka tanpa suara. Jika ada tanda bahaya, mereka masuk.
Cynthia di ujung telepon tidak setuju, tetapi ia tahu Suparti sudah mengambil keputusan.
"Bu Suparti," katanya pelan lewat pengeras kecil, "ucapkan dengan jelas kalau ada ancaman. Sebut nama. Jangan tutup panggilan."
"Baik."
"Dan jangan berusaha menjadi pahlawan."
Suparti memandang bayangan dirinya di kaca mobil polisi yang basah. Wajahnya tampak lebih tua dari kemarin, tetapi matanya lebih hidup.
"Aku bukan pahlawan, Bu Cynthia. Aku hanya mau mengambil barangku dan keluar hidup-hidup."
Dalam perjalanan, Surabaya tampak basah dan pecah oleh lampu kendaraan. Suparti duduk di kursi belakang mobil, memegang tas di pangkuan. Ia tidak berdoa dengan cara yang rapi. Ia hanya mengulang dalam hati: kali ini tidak. Kali ini aku tidak akan mati di tangan keluarga yang kuberi makan.
Di lobi hotel, resepsionis mengenalinya dan tampak ingin bicara, tetapi Ratih menunjukkan kartu. Mereka naik tanpa banyak kata.
Lorong lantai kamar Suparti sepi. Lampu kuning membuat karpet tampak kusam. Pintu kamarnya tertutup, tetapi dari bawah celah pintu terlihat cahaya.
Kevin ada di dalam.
Suparti mengambil napas.
Ponselnya bergetar lagi.
Mama, masuk sendiri. Kalau ada orang lain, aku akan bilang semua ini karena Mama ingin membunuh Papa.
Suparti membaca pesan itu sampai selesai. Lalu ia memasukkan ponsel ke saku dengan layar tetap menyala.
Ia menoleh kepada Ratih dan Aditya. "Tiga menit. Kalau aku tidak membuka pintu, masuk."
Aditya ingin membantah, tetapi Ratih menahan lengannya.
Suparti mengetuk pintu.
Dari dalam, suara Kevin terdengar rendah, hampir asing.
Di belakangnya, Aditya mengangkat ponsel, memastikan sambungan dengan Cynthia masih hidup. Ratih berdiri sedikit menyamping, posisi tubuhnya siap bergerak. Suparti melihat keduanya sekilas dan merasa ada sesuatu yang hangat menekan matanya.
Ia tidak lagi sendirian di depan pintu berbahaya.
Namun yang harus masuk tetap dirinya. Kevin tidak akan membuka mulut jika melihat orang lain. Anak itu belajar dari Handoko: rahasia keluarga selalu dikeluarkan di ruang tertutup, dengan saksi seminimal mungkin.
Suparti menyentuh gagang pintu. Dingin. Ia mengingat lantai rumah kontrakan dalam kehidupan lalu, mengingat tubuhnya yang ditemukan terlambat, mengingat rasa lapar yang tidak ingin ia ulangi. Kali ini, jika pintu tertutup, ada orang di luar yang akan membukanya paksa.
Ia menggeser ibu jari di layar ponsel sekali lagi. Rekaman masih berjalan. Nama Cynthia masih menyala. Lokasi masih terkirim. Tiga tanda kecil itu menjadi jimat modern yang lebih nyata daripada semua dupa yang pernah dibakar keluarga Susanto demi citra suci.
Baru setelah itu ia memutar gagang pintu, pelan tetapi tanpa ragu lagi, meski dadanya terasa sangat sesak.
"Masuk, Ma. Kita bicara sebagai ibu dan anak."