Maryati meninggal di malam hujan, membeku di gang sempit, setelah ketiga anaknya menolak membuka pintu.
Seumur hidup dia mengabdi. Gaji suaminya — Hartono — dia yang kelola supaya cukup untuk makan sekeluarga. Menantu pertamanya, Watini, menampar dan memaki sesuka hati. Anak sulungnya, Darmanto, bungkam saja. Anak keduanya, Bagus, cuma datang kalau butuh uang. Satu-satunya yang sayang — Lestari, anak perempuannya — justru dibuang ke kampung terpencil dan mati muda.
Lalu Tuhan memberi kesempatan kedua.
Maryati membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke usia lima puluh tahun. Kali ini, dia bukan lagi ibu yang menunduk. Kali ini, dia melawan.
Hari pertama: dia menampar balik Watini dan merebut seluruh gaji keluarga. Hari kedua: dia mengusir siapa pun yang berani menginjak harga dirinya. Dan tujuan terbesarnya? Menyelamatkan Lestari sebelum terlambat — naik kereta sendirian ke kampung terpencil, menghadapi keluarga preman yang menyandera anaknya, dan membawa Lestari pulang dengan tangannya sendiri.
Tapi membebaskan anak perempuannya baru permulaan.
Maryati harus berhadapan dengan suami yang lebih memilih selingkuhan daripada istri, menantu yang licik di balik senyum manisnya, dan anak-anak yang menganggap pengorbanan ibu adalah hal yang wajar. Ketika cukup sudah — **dia menggugat cerai di usia lima puluh tahun, keluar dari rumah dengan satu tas kecil, dan membuktikan bahwa hidup seorang perempuan tidak berakhir setelah ditinggal suami.
Dari buruh pabrik tekstil biasa, Bu Yati naik menjadi ketua serikat pekerja wanita. Dia mendirikan asrama perlindungan untuk pekerja perempuan korban kekerasan. Dia menemukan kakak kandung yang terpisah sejak kecil. Dan satu per satu, perempuan-perempuan di sekitarnya — Wulandari si anak yang dikorbankan untuk adik laki-laki, Ayu yang dijual untuk dinikahkan, Ningsih yang tertipu laki-laki brengsek — bangun dari tidur panjang mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1: Mati di Malam Hujan
Dingin itu seperti masuk lewat tulang yang retak.
Bu Yati menggigil di bawah hujan, satu tangan memegang payung rusak yang rangkanya sudah bengkok, satu tangan lagi menekan pinggangnya yang nyeri. Air menetes dari ujung jilbab lusuhnya, turun ke leher, merembes ke daster tipis yang sejak sore belum sempat kering.
Di depan rumah Guntur, pintu sudah tertutup rapat.
"Tur..." Suara Bu Yati hampir hilang ditelan suara hujan. "Tur, bukakan pintu, Nak. Ibu cuma mau numpang sebentar sampai hujannya reda."
Dari dalam, tadi masih ada suara televisi. Masih ada bayangan orang bergerak di balik gorden. Tapi setelah ia mengetuk, semua mendadak senyap.
Bu Yati menempelkan telapak tangannya ke pintu besi. Dingin. Licin. Tidak ada jawaban.
Ia mencoba mengetuk lagi, lebih pelan, karena takut tetangga mendengar. Sampai detik terakhir hidupnya, rasa malu itu masih menempel seperti kulit kedua. Malu kalau orang tahu anak bungsunya mengusir ibunya sendiri. Malu kalau orang tahu perempuan tua yang dulu membesarkan empat anak itu kini tidak punya tempat pulang.
"Tur, ini Ibu..."
Di dalam, suara kunci diputar sekali.
Bukan untuk membuka. Untuk mengunci lebih rapat.
Jari Bu Yati berhenti di udara.
Hujan menghantam payung rusak itu makin keras. Kain payungnya sobek di satu sisi, membuat air jatuh tepat ke bahu kirinya. Ia ingin marah, ingin memaki, ingin bertanya apakah susu yang ia beli waktu Guntur kecil dulu juga terasa sedingin ini saat lewat tenggorokan anak itu.
Tapi mulutnya hanya bergetar.
"Ya sudah," bisiknya, entah untuk siapa. "Ra popo."
Kata itu dulu selalu menyelamatkannya dari pertengkaran. Tidak apa-apa. Tidak apa-apa kalau Pak Tono pulang membawa gaji kurang karena sebagian dititipkan untuk orang lain. Tidak apa-apa kalau Anto membawa istrinya pulang dan menguasai dapur. Tidak apa-apa kalau Bagus butuh uang lagi untuk urusan yang tidak pernah jelas. Tidak apa-apa kalau Tari harus mengalah karena ia anak perempuan.
Malam itu, kata ra popo terdengar seperti doa yang sudah busuk.
Bu Yati berjalan meninggalkan teras Guntur. Sandalnya menapak genangan. Setiap langkah membuat lututnya seperti digesek batu. Kampung Sumber tidak pernah benar-benar gelap, biasanya ada warung yang masih menyala, ada bapak-bapak di pos ronda, ada ibu-ibu yang pura-pura membeli garam sambil mencari kabar. Namun sepuluh hari sebelum Lebaran, hujan membuat semua orang mengunci rumah masing-masing.
Orang masih menyiapkan kue, baju baru, amplop untuk anak-anak.
Ia menyiapkan tubuhnya untuk bertahan satu malam lagi.
Rumah Darmanto tidak jauh. Dulu, rumah kecil itu dibeli dari uang muka yang sebagian besar berasal dari tabungan Bu Yati. Ia masih ingat hari ketika Anto datang dengan wajah kusut, berkata Watini malu kalau setelah menikah masih menumpang di rumah mertua. Bu Yati melepas gelang emas tipis satu-satunya, menambah sisa tabungan, lalu berkata pada dirinya sendiri bahwa anak pertama memang harus ditolong.
Sekarang lampu rumah itu menyala kuning dari balik jendela.
Bu Yati berdiri di depan pagar. Napasnya pendek-pendek.
"Anto," panggilnya. "Nak, ini Ibu."
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk pagar, bunyinya kecil, kalah oleh hujan. "Tin, Ibu tahu kamu ada di dalam. Ibu tidak minta makan. Cuma mau duduk di teras sampai subuh."
Lampu ruang tamu padam.
Bu Yati menatap gelap yang tiba-tiba itu.
Seketika dadanya kosong, seperti ada yang mencabut seluruh udara dari paru-parunya. Lebih sakit dari nyeri pinggang. Lebih tajam dari angin malam.
Mereka bukan tidak mendengar. Mereka memilih tidak mendengar.
Di balik pintu itu mungkin cucu lelakinya sedang tidur di kasur empuk. Anak kecil yang dulu ia gendong setiap kali Watini mengeluh lelah itu pernah pipis di pangkuannya, muntah di bajunya, menarik kerudungnya sambil tertawa. Bu Yati tidak pernah marah. Ia selalu berkata, "Namanya juga anak kecil."
Tapi ketika neneknya berdiri basah di luar pagar, tidak ada satu pun yang membuka pintu.
"Bu..."
Ia hampir mengira ada yang memanggil. Tapi itu hanya suara angin melewati celah seng.
Bu Yati memegang pagar sampai buku jarinya memutih. Ingin sekali ia menggedor keras, membuat seluruh kampung bangun, membuat semua orang tahu rumah yang dulu ia bantu bayar kini menolak tubuh tuanya. Tapi tubuhnya sudah terlalu lemah. Rasa malu yang tersisa juga terlalu tua untuk mati lebih dulu dari dirinya.
Ia mundur.
Payung rusak itu terbalik diterpa angin. Rangka besinya patah satu lagi, menusuk telapak tangan. Bu Yati mendesis. Darah kecil keluar, langsung dicuci hujan.
"Allah..." Ia menekan luka itu ke dada. "Aku salah apa sampai anak-anakku begini?"
Pertanyaan itu tidak mendapat jawaban.
Bagus tinggal di ujung gang yang lebih terang. Dari tiga anak lelakinya, Bagus paling pandai bicara. Kalau butuh sesuatu, suaranya manis. "Ibu, cuma kali ini." "Ibu, nanti aku ganti." "Ibu, kalau usahaku jalan, Ibu yang pertama aku bahagiakan."
Bu Yati pernah percaya semua itu.
Percaya sampai uang arisan habis.
Percaya sampai kain batik baru untuk Lebaran ia batalkan.
Percaya sampai makan tempe sisa pun ia anggap cukup, asalkan anak-anaknya tidak merasa kurang.
Di depan rumah Bagus, pagar tidak terkunci. Bu Yati merasa harapan kecil menyala di dadanya. Ia mendorong pagar pelan, lalu berjalan ke teras.
"Gus..." Kali ini suaranya lebih parau. "Gus, Ibu kehujanan. Bukakan dulu."
Ada cahaya biru ponsel di balik jendela. Seseorang sedang memegang HP.
Bu Yati cepat-cepat mengeluarkan ponsel murah dari saku plastik yang ia ikat di pinggang. Layarnya retak, basah di pinggir. Tangannya gemetar saat membuka WhatsApp.
Pesan terakhir untuk Bagus masih centang dua biru.
Bu: Gus, Ibu di depan rumahmu.
Centang dua biru.
Tidak ada balasan.
Lalu lampu dalam rumah padam.
Bu Yati menatap layar itu lama. Air hujan jatuh di atas kaca ponsel, membuat tulisan menjadi kabur. Ia mengusapnya dengan ujung daster, tapi tangannya terlalu basah. Semua tetap buram.
Begitu juga hidupnya.
Satu per satu pintu anak lelakinya menutup, seolah ia bukan ibu, melainkan utang lama yang datang menagih saat semua orang ingin tidur.
Ia ingin teriak. Ingin menyebut nama mereka satu per satu. Darmanto. Bagus. Guntur. Anak-anak yang pernah demam di pangkuannya, pernah ia suapi bubur, pernah ia bela mati-matian dari omongan tetangga. Anak-anak yang karena mereka ia menelan semua hinaan Pak Tono, semua sindiran menantu, semua lapar yang ia sembunyikan dengan alasan sudah kenyang.
Tapi yang keluar hanya batuk.
Batuknya panjang, mengguncang dada. Bu Yati membungkuk, satu tangan memegang tiang teras Bagus. Tenggorokannya terasa pahit. Hujan makin rapat. Angin membawa bau got yang meluap dan tanah basah.
Ia tidak boleh mati di depan rumah Bagus, pikirnya samar. Nanti anak itu malu. Nanti orang-orang menyalahkan Bagus. Nanti ribut sebelum Lebaran.
Lihatlah, bahkan pada malam ketika ketiga anak lelakinya menolak membuka pintu, ia masih memikirkan malu mereka.
Bu Yati tertawa pelan. Suaranya pecah, lebih mirip tangis.
"Bodoh," bisiknya pada diri sendiri. "Yati, kamu ini bodoh sekali."
Ia menyeret kaki keluar dari teras. Payungnya sudah tidak berguna, ia biarkan tergantung di tangan seperti bangkai burung patah. Gang kecil menuju rumah tua lamanya gelap dan licin. Rumah tua itu pun sebenarnya sudah bukan tempat pulang. Setelah Pak Tono meninggal, anak-anak berkata lebih baik rumah itu dijual saja untuk membantu biaya keluarga. Biaya keluarga siapa, Bu Yati tidak pernah berani bertanya.
Yang ia tahu, setelah semua dibagi, ia justru berpindah dari satu rumah anak ke rumah anak lain, seperti barang titipan yang membuat semua orang repot.
Sore tadi, Guntur akhirnya mengeluarkan kalimat itu.
"Ibu jangan di sini terus. Istri saya nggak nyaman. Ibu kan masih punya anak lain."
Masih punya anak lain.
Kalimat itu mendorongnya ke jalan seperti sapu mendorong debu.
Bu Yati berjalan tanpa arah. Di ujung gang, ada tembok tua di samping rumah kosong. Dulu di sana sering dipakai anak-anak bermain petasan menjelang Lebaran. Sekarang hanya ada lumut, sampah plastik, dan genangan air kecokelatan.
Kakinya terpeleset.
Tubuhnya jatuh ke samping. Kepala bagian kanannya menghantam sudut tembok.
Dunia meledak putih sesaat.
Lalu hitam.
Bu Yati tersungkur di genangan. Rasa sakit datang terlambat, seperti api kecil yang menyala di bawah kulit kepala. Ada sesuatu hangat mengalir dari pelipisnya, bercampur hujan, turun melewati pipi. Ia mencoba mengangkat tangan, tapi jari-jarinya kaku.
"Tolong..." Bibirnya bergerak. Suaranya tidak keluar.
Tidak ada yang datang.
Hujan terus turun. Dari kejauhan, terdengar adzan Isya yang terlambat dari musholla kecil, pecah oleh angin dan gemuruh air. Bu Yati ingin menjawab dalam hati, tapi pikirannya mulai berantakan.
Wajah Pak Tono muncul lebih dulu. Hartono muda, tersenyum di hari pernikahan, berkata ia akan menjaga Yati seumur hidup. Bu Yati dulu percaya. Ia percaya saat Pak Tono membawa pulang gaji pertama dan menyerahkannya separuh. Ia percaya saat ia melahirkan Anto, lalu Bagus, lalu Tari, lalu Tur. Ia percaya bahkan ketika separuh gaji itu makin lama makin sedikit dan alasan Pak Tono makin banyak.
"Jangan ribut, Bu'e. Aku cuma bantu orang."
Orang itu seorang janda yang selalu dibela Pak Tono. Perempuan lain bisa memakai batik baru, sementara Bu Yati menambal daster di bagian ketiak.
Wajah Anto muncul setelah itu. Anak pertama yang dulu menangis kalau ia tinggal sebentar ke pasar. Kini pintunya padam begitu mendengar suara ibunya.
Bagus, anak yang paling pintar memeluk kalau butuh uang. Guntur, si bungsu yang dulu ia manja karena lahir saat ia sudah lelah. Semua tumbuh dari tubuhnya, dari nasi yang ia kurangi untuk dirinya sendiri, dari tidur yang ia potong, dari doa yang ia panjatkan setelah sholat.
Lalu wajah Tari.
Begitu wajah itu muncul, air mata Bu Yati langsung mengalir tanpa suara.
Tari adalah anak yang paling jarang meminta. Waktu kecil, kalau kakak-kakaknya berebut lauk ayam, Tari mengambil tempe paling kecil lalu berkata, "Aku suka ini, Mak." Ketika sekolahnya harus berhenti karena uang tidak cukup, Tari menunduk dan berkata, "Nggak apa-apa, Mak. Tari bisa bantu."
Anak perempuan itu selalu bilang tidak apa-apa.
Sama seperti ibunya.
Dan karena Bu Yati terlalu lama percaya bahwa tidak apa-apa adalah bentuk sabar, Tari ikut dikorbankan. Dikirim ke Desa Karanganyar dengan alasan kerja, lalu terjebak pada laki-laki kasar yang mengikatnya dengan ancaman dan rasa malu. Bu Yati masih ingat kabar yang datang bertahun-tahun lalu. Tari meninggal saat melahirkan. Bayinya tidak selamat. Tidak ada suami yang benar-benar menangis. Tidak ada keluarga yang mengaku salah.
Hari itu Bu Yati tidak pingsan. Ia memasak nasi seperti biasa, menyajikan makan untuk anak-anak lelaki yang bahkan tidak bertanya apakah ia masih sanggup berdiri.
Sekarang, di bawah hujan, penyesalan itu datang menindih dadanya.
Tari, Nduk...
Kalau dulu Ibu berani sedikit saja.
Kalau dulu Ibu tidak takut pada Pak Tono.
Kalau dulu Ibu tidak menganggap anak perempuan harus selalu mengalah.
Jari Bu Yati bergerak sedikit di atas tanah basah. Ia seperti ingin meraih sesuatu. Mungkin tangan Tari. Mungkin masa lalu. Mungkin pintu yang tidak pernah terbuka.
Dingin makin dalam. Bukan lagi di kulit, tapi di dada. Napasnya tersangkut, pendek dan kasar. Ia mendengar suara langkah di kejauhan, tapi mungkin hanya hujan yang menipu telinga.
Di langit, petir menyambar, membuat gang sempit itu terang sesaat.
Dalam terang yang sangat pendek itu, Bu Yati melihat payung rusaknya tergeletak tidak jauh dari tangannya. Kainnya robek. Rangkanya patah. Mirip hidupnya, dipakai semua orang sampai rusak, lalu dibiarkan di tanah ketika tidak bisa lagi melindungi siapa pun.
Sesuatu yang panas tumbuh di balik dingin.
Bukan demam.
Bukan takut.
Marah.
Marah yang terlambat lima puluh tahun.
Bu Yati menggertakkan gigi, tapi rahangnya hampir tidak kuat bergerak. Air mata, darah, dan hujan bercampur di wajahnya. Ia tidak tahu apakah Allah masih memberi kesempatan pada perempuan setua dirinya untuk meminta sesuatu yang mustahil.
Tapi pada napas yang hampir putus itu, ia tetap memohon.
Kalau bisa ulang...
Aku nggak mau jadi orang baik lagi.
Aku nggak mau jadi ibu yang diam saja saat anak sendiri menginjak kepala.
Aku nggak mau membiarkan Tari mati.
Aku nggak mau takut pada pintu yang tertutup.
Bu Yati menarik napas sekali lagi. Udara masuk sedikit, tajam, lalu hilang. Suara hujan menjauh. Sakit di kepala pun pelan-pelan padam.
Kampung Sumber tenggelam dalam gelap.
Sepuluh hari sebelum Lebaran, Maryati mati sendirian di ujung gang, dengan tangan dingin terbuka ke arah payung rusak yang tak lagi bisa ia genggam.
Lalu semua menjadi hitam.
Dalam hitam itu, sesuatu tiba-tiba membakar pipinya.
Sebuah tamparan.