NovelToon NovelToon
Jebakan Manis untuk Sang CEO

Jebakan Manis untuk Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Healing / Putri asli/palsu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

### Bab 4

Nomor pribadi Richard tersimpan di ponsel Keira selama empat hari tanpa ia sentuh.

Keira bukan tidak sabar. Justru karena terlalu ingin memakai nomor itu, ia menahan diri. Umpan yang dilempar terlalu cepat akan terlihat murah. Pria seperti Richard tidak bisa dipanggil hanya karena ia ingin diperhatikan. Ia harus dipanggil pada saat yang membuatnya merasa perlu turun tangan.

Kesempatan itu datang dari Kevin.

Pagi itu, pesan Kevin masuk saat Keira sedang menemani Engkong sarapan bubur ikan.

Datang ke kantor. Ada yang mau aku bicarakan.

Tidak ada salam. Tidak ada bertanya apakah ia punya waktu. Seolah Keira adalah dokumen yang bisa dipanggil kapan saja dari laci.

Engkong memperhatikan wajahnya. "Kevin?"

Keira menutup layar ponsel. "Iya, Kong. Katanya ada urusan kantor."

"Kalau dia suruh kamu capek-capek lagi, bilang Engkong."

Keira tersenyum sambil merapikan serbet di dekat mangkuk Engkong. "Cuma sebentar. Saya nanti mampir kampus juga."

Ia pergi dengan sopir keluarga, tetapi turun satu blok sebelum gedung Ong Corporation. Bukan karena perlu bersembunyi. Ia hanya ingin memberi dirinya waktu untuk mengatur wajah.

Gedung Ong Corporation tidak semegah Lim Group Tower, tetapi tetap cukup untuk membuat orang biasa menoleh. Lobby marmer, resepsionis berblazer rapi, logo perusahaan besar di dinding belakang. Keira masuk dengan langkah tenang. Staf yang mengenalinya langsung menunduk sopan.

"Nona Tan, Pak Kevin sudah menunggu di ruangannya."

"Terima kasih."

Di lift, Keira melihat pantulan dirinya pada dinding stainless. Blus biru muda. Rok putih. Wajah lembut yang disukai keluarga besar karena terlihat mudah diatur.

Kevin tidak pernah sadar, wajah seperti ini justru paling mudah membuat orang lengah.

Pintu ruang kerja Kevin tidak tertutup rapat.

Sebelum Keira mengetuk, ia mendengar suara tawa perempuan dari dalam. Lembut, sedikit malu-malu, lalu suara Kevin yang jarang ia pakai padanya.

"Kamu jangan terlalu memaksa diri. Kalau ada bagian yang susah, nanti aku bantu."

Keira berhenti.

Melalui celah pintu, ia melihat Kevin berdiri di belakang meja kerjanya. Seorang perempuan muda duduk di kursi tamu, rambutnya dikuncir rendah, kemeja putihnya sederhana. Kevin membungkuk di sampingnya, terlalu dekat untuk sekadar menjelaskan dokumen. Tangannya menyentuh punggung kursi perempuan itu, hampir seperti melingkupi.

Perempuan itu menoleh. Matanya bertemu dengan Keira.

Senyumnya masih ada, manis dan sopan, tetapi selama setengah detik, ada sesuatu yang dingin lewat di matanya.

Kevin mengikuti arah pandang perempuan itu. Ekspresinya tidak bersalah sedikit pun. "Keira. Masuk."

Keira mengetuk pelan, seolah ia baru tiba dan tidak melihat apa pun. "Maaf kalau mengganggu."

"Tidak mengganggu." Kevin kembali ke kursinya. "Ini Vanya. Asisten baru di kantor."

Vanya berdiri cepat. "Selamat pagi, Kak Keira."

Kak.

Keira hampir tertawa.

Panggilan itu sopan di permukaan, tetapi cukup untuk menaruh dirinya pada posisi perempuan lebih tua yang harus murah hati. Pintar.

"Pagi, Vanya."

Mata Vanya turun sebentar ke tas Keira, ke jam tangan di pergelangan Keira, lalu naik lagi dengan senyum rendah hati. "Saya sering dengar tentang Kak Keira dari Pak Kevin."

"Semoga yang baik-baik."

Kevin mendecak. "Jangan mulai sensitif."

Keira menoleh padanya. "Aku baru menjawab."

Rahang Kevin mengeras. Ia tidak suka Keira membalas di depan orang lain, bahkan dengan suara sehalus itu. Dulu, Keira akan menunduk dan membiarkan Kevin menentukan suasana. Dulu, ia belum tahu akhir dari cerita ini.

"Duduk," kata Kevin.

Keira duduk di sofa seberang Vanya.

Kevin mengambil satu map bening dari meja dan meletakkannya di depan Keira. "Vanya sedang menyelesaikan skripsi. Topiknya mirip dengan punyamu. Kamu kan sudah selesai dan dosenmu suka hasil kerjamu. Bantu dia rapikan."

Keira tidak menyentuh map itu. "Rapikan seperti apa?"

"Ya, struktur, teori, analisis. Kamu paham maksudku."

Vanya cepat menunduk. "Kalau merepotkan, tidak apa-apa, Kak. Saya sebenarnya sudah bilang ke Pak Kevin, saya bisa usaha sendiri."

Kalimatnya rendah hati. Tangannya meremas ujung map. Penampilan sempurna seorang gadis miskin yang tidak ingin menyusahkan siapa pun.

Kevin langsung menatap Keira, seolah Keira sudah bersalah sebelum bicara.

"Lihat? Dia saja tidak enak. Kamu yang harusnya peka."

Keira menatap Kevin lama. "Kamu memanggilku ke sini untuk menyuruhku menulis skripsi asistenmu?"

"Membantu," koreksi Kevin.

"Kalau hanya memberi masukan, kirim saja ke email. Aku bisa baca sekilas."

"Jangan pelit ilmu, Keira."

Keira tersenyum tipis. "Ilmu tidak pelit. Plagiat yang mahal."

Wajah Vanya memucat sedikit.

Kevin meletakkan telapak tangannya di meja. "Jaga bicaramu."

"Aku sedang menjaga. Makanya aku bilang dari awal, aku tidak akan menulis skripsi orang lain."

Suasana di ruangan itu mengeras.

Vanya berdiri pelan. "Pak Kevin, saya keluar dulu saja."

"Tidak perlu," kata Kevin.

Keira tahu Vanya ingin keluar agar terlihat tidak bersalah. Ia juga tahu Kevin ingin Vanya tetap di sana agar Keira merasa tertekan. Dua orang itu bekerja sama terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Kevin mencondongkan tubuh. "Dengar, Keira. Aku tidak minta hal sulit. Hubungan kita bukan cuma urusan dua orang. Keluarga Tan dan Keluarga Ong sudah lama saling bantu. Jangan karena urusan kecil begini kamu bikin aku malu."

"Yang akan malu siapa kalau dosen tahu skripsi itu bukan tulisan dia?"

"Tidak akan ada yang tahu kalau kamu tidak banyak bicara."

Keira menatapnya tanpa berkedip.

Di mimpinya, pria ini berdiri di sebelah Vanya saat semua orang menyebut Keira penipu. Rupanya bahkan sebelum kebenaran terbuka, Kevin sudah memilih sisi yang sama.

Kevin menurunkan suara. "Kalau kamu tidak mau, aku akan bicara ke Engkong. Aku akan bilang kamu sengaja mempermalukan aku, sengaja merusak hubungan kita, dan mulai berubah sejak dekat dengan Lim Richard."

Nama itu membuat udara ruangan berubah.

Vanya mengangkat wajah. Kali ini rasa ingin tahunya tidak sempat ia sembunyikan.

Keira berdiri. "Silakan."

Kevin ikut berdiri. "Keira."

"Tapi sebelum kamu bicara ke Engkong, pikirkan baik-baik." Keira mengambil tasnya. Suaranya tetap lembut. "Engkong sudah tua, tapi beliau belum bodoh. Kalau kamu membawa masalah skripsi asistenmu ke depan beliau, kamu yakin beliau akan marah padaku?"

Wajah Kevin menegang.

Keira menoleh pada Vanya. "Semoga skripsimu selesai dengan usahamu sendiri."

Ia keluar tanpa menunggu jawaban.

Begitu pintu lift tertutup, senyum di wajah Keira hilang. Ia membuka ponsel, menatap kontak Om Lim selama tiga detik, lalu mengetik.

Om, boleh minta tolong?

Pesan terkirim.

Tidak langsung dibalas.

Keira memasukkan ponsel ke tas dan pergi ke Depok.

Kafe kecil dekat UI itu ramai oleh mahasiswa. Bau kopi susu, kentang goreng, dan hujan yang baru turun bercampur dengan suara mesin espresso. Mira sudah duduk di pojok, jilbabnya sedikit miring, laptop terbuka, satu gelas es kopi hampir habis.

"Kei!" Mira melambaikan tangan. "Sini. Lo telat dua puluh menit. Gue hampir jadi fosil."

Keira duduk di depannya. "Maaf. Dari kantor Kevin."

Mira langsung menutup laptop setengah. "Mukamu kok kayak habis nahan muntah?"

Keira tertawa kecil. Dengan Mira, ia tidak perlu terlalu rapi. "Kevin menyuruhku bantu skripsi asistennya."

"Bantu gimana?"

"Menulis ulang. Mungkin sebagian besar."

Mira melotot. "Gila. Itu bukan bantu, itu jadi joki."

"Dia bilang aku jangan pelit ilmu."

"Pelit ilmu apanya? Itu pelit otak namanya. Dia punya asisten, asistennya punya kampus, dosennya digaji. Kenapa otak lo yang disuruh kerja?"

Keira mengaduk minumannya tanpa minum. "Karena menurut Kevin, aku harus menjaga hubungan keluarga."

Mira menyandarkan punggung ke kursi. "Fix, tunangan lo perlu ditampar pakai buku pedoman akademik."

Keira akhirnya tertawa. Pendek, tetapi sungguh-sungguh.

Mira menatapnya lebih serius. "Kei, lo harus lapor dosen kalau sampai nama lo diseret. Jangan main halus terus. Orang kayak gitu kalau dikasih ruang, makin nginjak."

"Aku tahu."

"Engkong tahu?"

"Belum. Jangan bilang siapa-siapa dulu."

Mira menghela napas, jelas tidak setuju, tetapi ia mengenal Keira cukup lama untuk tahu kapan sahabatnya sedang menyimpan rencana. "Oke. Tapi kalau lo butuh saksi, butuh file, butuh gue pura-pura jadi cewek galak dari Depok, bilang."

Ponsel Keira bergetar di atas meja.

Nama Om Lim muncul di layar.

Keira menahan napas.

Pesannya hanya satu baris.

Besok jam 10. Datang ke kantor saya.

1
aku
up
aku
🌹🌹 semangat up
aku
jangan smpe nikah key. pas acara tunangan aja ksih bom nya
aku
jelas bukan ko jason 🤣🤣
aku
staf yg bawa troli si jason 🤣🤣🤣
aku
cembokur pak lim 😃😃
aku
wow key, cerdas!!
aku
terharu aku key...😭😭😭 ayo key semangat 😁😁
aku
kei 😭😭 ayo andalkan dirimu sendiri kei. jgn lagi pke perasaan. biar gk sakit lg hatimu 😭😭
aku
pak hasan jawi pundhi?? kulo jawa timur 😁😁
aku
di sinopsis namanya LIM RENATA tor. disini LIM RICHARD 🤔 jd yg mana?? 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!