Melody kabur dari rumah setelah hampir diperkosa oleh papa tirinya yang kasar dan pemabuk.
Karena panik, Melody naik sembarang bus hingga akhirnya gadis dua puluh empat tahun tersebut tersesat di sebuah kota metropolitan tanpa bekal maupun identitas apapun.
Di tengah kebingungannya, Melody tiba-tiba bertemu seorang pria berjas rapi yang membawa beberapa bodyguard dan memanggil Melody sebagai Nona Claudia.
Sekuat apapun Melody membantah, tidak ada seorang pun yang percaya kalau Melody adalah Melody dan bukan Nona Claudia.
Lalu siapa sebenarnya Nona Claudia yang dimaksud oleh semua orang?
Ada hubungan apa sebenarnya antara Melody dan Nona Claudia hingga membuat keduanya mempunyai wajah yang sama?
Dan dimana sebenarnya Nona Claudia yang asli bersembunyi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEDANG APA?
"Gus! Tungguin!" Seru Claudia pada Bagus yang sudah berjalan agak jauh di depan meninggalkan Claudia yang terlihat kesulitan menyusurj jalan setapak di tengah pematang sawah.
"Mbak Mel kok jalannya kayak keong begitu? Buruan, Mbak!" Bagus balik berseru dan pemuda dua puluh tahun tersebut sudah berhenti sejenak untuk menunggu Claudia.
"Ish! Ini kan jalannya licin! Kalau aku kepleset bagaimana?" Gerutu Claudia yang masih berjalan pelan dan hati-hati.
"Mbak Mel buruan! Itu sendal di lepas aja!" Seru Bagus lagi yang hanya membuat Claudia berdecak berulang-ulang. Ribet sekali jadi orang miskin.
"Eh, eh!" Claudia menjerit saat kakinya terpeleset tanah sawah yang basah dan tubuh gadis itu kehilangan keseimbangan.
"Bagus!" Teriak Claudia sebelum tubuhnya tercebur ke dalam sawah yang penuh lumpur. Terang saja,Bagus yang melihat hal itu langsung tertawa terpingkal-pingkal.
"Mbak lagi ngelawak?" Ledek Bagus dari kejauhan.
"Ish! Tolongin kenapa? Jangan cuma ketawa, Gus!" Gerutu Claudia sebal.
"Ogah!" Bagus memeletkan lidahnya ke arah Claudia.
"Bangun sendiri, Mbak!" Ujar Bagus lagi seraya melanjutkan langkahnya menuju ke saung di tengah sawah, dimana Ibu Aya dan Bulik Ani sedang beristirahat.
"Ish! Dasar Bagus resek!" Gerutu Claudia lagi seraya berusaha untuk bangun dan bangkit berdiri. Kalau Sam melihat Claudia seperti ini, pria itu juga pasti sudah tertawa terpingkal-pingkal seperti Bagus tadi.
Setelah berusaha sekuat tenaga, Claudia akhirnya berhasil bangun dan berdiri, meskipun kini tubuh gadis itu sudah dipenuhi oleh lumpur. Claudia segera menyusul Bagus menuju ke saung dan bergabung bersama Ibu Aya dan Bulik Ani.
"Mel, kamu habis darimana? Kok belepotan lumpur begitu?" Tanya Bu Aya heran.
"Kepleset, Bu!"
"Gara-gara Bagus itu! Nyuruh jalan cepat-cepat!" Claudia menoyor kepala Bagus yang malah mencibir ke arah Claudia.
"Mbak Mel yang nggak hati-hati, kok malah nyalahin Bagus!"
"Sudah!" Bu Aya melerai perdebatan Claudia dan Bagus.
"Bagus, nanti kamu antar Mbak Mel ke sungai untuk membersihkan diri," pesan Bulik Ani pada sang putra.
"Iya, Bu!" Jawab Bagus patuh.
****
"Sawah-sawah ini harus tetap dipertahankan agar nanti menjadi views yang menarik saat resort selesai dibangun, Pak!" Jelas Aaron pada kepala sektor pembangunan yang akan menangani pembangunan salah satu resort milik Alexander Group di daerah ini.
Aaron memang sedang menggantikan Dean Alexander untuk kunjungan proyek kali ini karena kondisi Dean yang masih ngidam dan mual-mual tak jelas akibat menghamili istri orang.
Hhh!
Konyol sekali!
"Baik, Pak Aaron."
Aaron mengangguk dan kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat ia berdiri saat kedua netra Aaron tak sengaja menangkap wajah yang tidak asing itu sedang bermain di air sungai yang jernih.
Aaron memfokuskan pandangannya untuk beberapa saat pada wanita yang mengenakan celana hitam selutut serta kaus warna abu-abu tersebut.
"Bukankah itu Claudia? Sedang apa dia disini?" Aaron bergumam sendiri dan masih belum mengalihkan pandangannya dari sungai kecil berair jernih tersebut. Claudia terlihat begitu menikmati mandi di air sungai itu bersama seorang pemuda yang Aaron taksir usianya masih remaja.
Siapa pemuda asing itu?
Aaron sangat yakin kalau itu bukan Matthew Orlando yang merupakan tunangan Claudia. Atau jangan-jangan Matthew juga berada di daerah ini dan sedang berlibur bersama Claudia?
"Pak Aaron, anda mau kembali ke hotel sekarang?" Tanya rekan kerja yang tadi datang bersama Aaron.
"Eeeem, sebentar!" Aaron mengangkat satu tangannya dan memberikan isyarat. Mata Aaron masih tak lepas menatap pada Claudia yang masih asyik mandi.
Rasanya Aaron ingin ikut mandi di sana dan menikmati tubuh molek itu lagi...
"Pak Aaron!" Tegur rekan kerja Aaron lagi.
"Iya!"
"Apa ada penginapan di sekitar sini?" Tanya Aaron tiba-tiba.
"Tidak ada, Pak! Hanya ada satu hotel di daerah sini yaitu tempat Pak Aaron menginap. Selebihnya hanya ada rumah dan pemukiman warga," jelas rekan kerja Aaron.
"Lalu apa ada pengembang selain Alexander Group yang membeli lahan disini?" Tanya Aaron lagi penasaran.
"Setahu saya tidak ada, Pak! Hampir semua lahan yang dijual di daerah ini sudah dibeli oleh Alexander Group dan tak ada perusahaan lagi."
Aaron hanya manggut-manggut mebdengar penjelasan rekan kerjanya, saat sebuah teriakan kembali mengalihkan perhatian Aaron.
"Mbak Mel! Sudah sore! Ayo pulang dan udahan mandinya!" Pemuda yang tadi di sungai bersama Claudia terdengar berseru pada Claudia.
Tapi kenapa pemuda asing itu memanggil Claudia dengan sebutan Mbak Mel?
"Iya! Aku datang!" Jawab Claudia ikut-ikutan berseru dan Aaron bisa dengan jelas mendengar suara merdu Claudia saat berteriak.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan disini, Cla?" Aaron kembali bergumam saat ekor matanya menangkap Claudia yang sudah meninggalkan sungai bersama pemuda asing tadi.
Aaron akan mencari tahu setelah ini!
.
.
.
Aku nggak ngerti sama hapeku. Tiap ngetik Claudia kenapa bisa berubah jadi Claubalik, ya?
Harus ngedit berulang-ulang jadinya 😪
Ini timingnya pas Felichia lagi hamil Richard trimester pertama, yang Dean hoek hoek terus tiap memaki Felichia itu 😁😁
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹