Alma Fatara memiliki kisah masa bayi nan kelam. Kelam karena ia dibuang ke laut luas dan kelam karena belum diketahui ia anak siapa. Anak manusia atau anak ikan.
Setelah menuntaskan masa bergurunya di bawah asuhan Pemancing Roh dan Pangeran Kumbang Genit, Alma Fatara memulai perjalanan keduanya, yaitu pergi mencari orangtua kandungnya dengan hanya bermodal sebuah gelang emas.
Pusaka legenda Bola Hitam yang menjadi miliknya, justru memancing kedatangan orang-orang sakti untuk merebutnya, menciptakan ancaman kematian berkali-kali di dalam perjalanannya.
Kali ini, Alma yang dijuluki Dewi Dua Gigi, didampingi oleh lima sahabatnya yang setia dan kocak. Meski perjalanan mereka penuh bahaya dan maut, tetapi tawa dan bahagia melimpah dalam hidup mereka.
Kejutan besar menanti Alma saat ia akan bertemu dengan kedua orangtuanya. Siapkan diri Anda untuk terkejut dan tertawa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pete Emas 5: Orang Asing
*Petaka Telaga Emas (Pete Emas)*
Kini sang surya berada di puncak tertingginya. Sedari meninggalkan Desa Iwaklelet hingga di jalan setapak itu, mereka belum pernah beristirahat. Tidak terasa mereka tiba tidak jauh dari sebuah telaga yang indah.
Telaga itu memiliki warna air yang kuning bening berkilauan diterpa cahaya matahari. Di salah satu pesisir telaga terbangun sebuah permukiman penduduk. Perahu-perahu mungil ramai tertambat, baik di air pantai maupun di atas pasir. Karena airnya yang berwarna kuning dan berkilau keemasan bila diterpa matahari, telaga itu dinamai Telaga Emas.
“Kita mampir di desa nelayan itu!” kata Alma tanpa menunjuk.
Keempat sahabat Alma hanya mengangguk. Mereka berjalan menuruni tanah miring yang menuju ke pantai telaga.
Setelah menang melawan Raja Emas, Alma Fatara harus tinggal selama dua hari. Keesokannya, kedua orangtuanya mengadakan pesta syukuran atas lulusnya Alma Fatara dari masa berguru. Itu artinya, Alma tidak wajib lagi untuk menuntut ilmu baru pada kedua gurunya. Jika ingin pun, hukumnya sunnah.
Mengadakan pesta adalah satu hal yang sangat disenangi oleh Muniwengi, sebab ia punya panggung untuk beriya ria, pamer perhiasan baru, terlebih kemarin baru dapat tiga perhiasan gratis dari Raja Emas.
Setelah pesta, keesokannya Alma Fatara berangkat bersama keempat sahabatnya. Debur Angkara yang ingin ikut, terpaksa harus mengutamakan untuk membantu istrinya merawat anak, apalagi dia masih seorang Pendekar Desa.
Meski sedih karena hanya dapat jatah dua hari berkumpul dengan Alma dan Anjengan, Slamet Lara dan Muniwengi tetap harus mengizinkan kedua putrinya pergi berpetualang. Alma wajib pergi demi menemukan orangtuanya. Alma sendiri sudah memiliki petunjuk awal. Tempat pertama yang akan mereka datangi adalah Kerajaan Jintamani.
Alma Fatara dan keempat sahabatnya berhenti di bawah sebuah pohon waru besar yang tumbuh di pantai telaga. Di tempat itu, mereka menikmati kedamaian siang hari yang berangin sejuk, hawa panas pada siang hari itu seolah hanya mitos belaka.
Dari bawah pohon itu, mereka bisa melihat sejumlah warga desa sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang sedang merajut jala, ada yang memperbaiki perahu, ada yang membuat perahu, dan lainnya.
“Ada orang asing!” teriak seorang warga ketika melihat keberadaan lima pemuda asing yang singgah di bawah pohon waru.
Teriakan itu ternyata membuat penduduk lain terkejut dan menjadi panik.
“Ada orang asing! Ada orang asing!” teriak para penduduk sahut-menyahut.
Teriakan-teriakan itu sampai pula ke telinga Alma dan keempat sahabatnya. Mereka terkejut dan jadi memandang jauh ke arah permukiman.
Teriakan pengabaran itu dalam waktu singkat membuat lelaki-lelaki desa itu berkumpul ramai, senjata berbagai macam terpegang di tangan, dari yang tumpul hingga yang tajam, dari yang kecil hingga yang besar.
Orang banyak itu kemudian pergi berombongan mendatangi posisi Alma Fatara dan rekan-rekan. Wajah mereka menunjukkan ekspresi permusuhan. Alma dan rekan-rekan sudah berdiri menunggu kedatangan warga desa itu. Seorang lelaki separuh baya berjalan paling depan. Senioritasnya menunjukkan bahwa dialah pemimpin desa itu, atau ketua desanya.
“Pergilah kalian! Kami tidak menerima orang asing!” usir lelaki separuh baya yang bernama Ki Jolos.
“Kami hanya ingin beristirahat sebentar, Paman. Kami tidak akan mengganggu kehidupan kalian,” kata Alma seraya tersenyum.
“Tetap tidak boleh. Kalian harus pergi sekarang juga!” tegas Ki Jolos.
“Tapi kami bukan orang jahat, Ki!” sahut Anjengan dengan nada agak tinggi, ia yang gampang tersulut emosinya, maklum badannya besar.
“Kami tidak akan terkecoh ketigakalinya. Pergilah dari desa kami atau kami bertindak keras!” ancam Ki Jolos.
“Benar! Pergi dari desa ini!” teriak seorang warga mendukung pimpinannya.
“Ayo pergi! Ayo pergi!” teriak warga lain ramai bersahut-sahutan.
“Jika kami diminta pergi, maka kami harus melalui desa. Jika kami diminta berbalik, maka itu tidak mungkin. Kami dalam perjalanan, kami tidak mau menghabiskan waktu hanya untuk menempuh jalan memutar yang semakin jauh!” tandas Alma.
“Kami hanya duduk sebentar di bawah pohon ini, tidak mengganggu kalian sedikit pun. Jika kalian memaksa kami, maka jangan salahkan jika kami berlaku keras kepada kalian!” seru Iwak Ngasin.
Terdiamlah para warga mendengar gertakan Iwak Ngasin.
“Tapi jangan coba-coba memasuki desa kami atau kami bunuh kalian!” ancam Ki Jolos.
“Tenang saja, Paman,” ucap Alma sambil tersenyum kecil.
Alma Fatara dan rekan-rekan lalu kembali duduk santai di bawah pohon, mereka mengabaikan Ki Jolos dan warganya yang masih berdiri memandangi mereka.
“Apa yang harus kita perbuat, Ki?” tanya lelaki berkumis, bertubuh agak tinggi dan berotot kekar. Ia menenteng sebilah golok panjang yang masih bersarung. Ia bernama Jalu Segoro, jagabaya desa yang bernama Rangitan itu.
“Ragas, dan kau Tergat, awasi kelima orang asing itu. Jika mereka melakukan hal yang mencurigakan, laporkan kepadaku,” perintah Ki Jolos.
“Baik, Ki,” jawab Ragas yang juga merupakan jawara desa itu.
“Dan kalian semua tetap bersiap, karena tidak lama lagi prajurit Siluman Ikan akan datang memperingatkan kita tentang gadis persembahan!” kata Ki Jolos.
“Baik, Ki!” ucap mereka berjemaah.
Maka para lelaki desa itu membubarkan diri. Mereka yang awalnya sedang bekerja, kembali pergi untuk melajutkan pekerjaannya. Adapun yang tidak sedang bekerja, sifatnya menunggu. Mereka memang sedang menunggu saat-saat yang mendebarkan di hari itu.
Sementara lelaki jagoan desa yang bernama Ragas dan Tergat duduk berjongkok di pasir telaga, seperti sedang buang air besar berjemaah. Mereka selalu memandang ke arah Alma dkk.
“Ada yang aneh dengan warga desa ini,” kata Juling Jitu kepada teman-temannya.
“Biarkan saja, peduli apa kita. Baru sekedar menumpang berteduh, galaknya sudah tidak ketulungan!” dumel Iwak Ngasin.
“Pa-pa-pa ….”
“Pantat?” terka Anjengan memotong perkataan Gagap Ayu.
“Bu-bu-bukaaan. Pa-pa-padahal, kita ha-ha-ha ….”
“Hamil?” tanya Juling Jitu dan Iwak Ngasin bersamaan menerka kata-kata Gagap Ayu.
“Hahaha …!” Alma hanya tertawa.
“Bu-bu-bukaaan!” teriak Gagap Ayu mulai kesal. “Padahal kita ha-ha-hanya menumpang sedot angin, bu-bu-buang angin.”
Tooot!
Tiba-tiba dari lubang bawah milik Gagap Ayu terdengar suara seperti klakson truk kontainer.
“Gagap Edan!” maki Iwak Ngasin sambil melompat menjauhi Gagap Ayu.
“Gagap Perkutut!” teriak Anjengan pula sambil berlari kecil menjauh. “Maksudku Gagap Terkutuk!”
“Gagap Bocor!” maki Juling Jitu pula.
“Hahahak …!” tawa Alma terbahak-bahak tanpa pindah posisi. Ia sampai memegangi perutnya.
Sementara Gagap Ayu kalem saja, hanya tersenyum tipis dihujani makian.
Ragas dan Tergat hanya memandang dengan kerutkan kening mendengar keriuhan kelima pemuda asing tersebut. Mereka tidak tahu apa yang para anak muda itu ributkan.
“Hoi, Alma! Memang kau tidak kebauan oleh kentut sebesar setan itu?” teriak Juling Jitu.
“Hahaha! Kalian harus tahu jenis-jenis kentut. Kalau kentut sebesar setan seperti itu, tidak bau. Lagipula dia langsung terbawa angin telaga,” kata Alma seolah dia pakar kentut.
“Memangnya kau pakar kentut?” ejek Anjengan.
“Hahaha!” tawa mereka bersama-sama.
Mereka kembali berkumpul.
Ki Jolos telah sampai di rumah panggungnya yang sederhana. Di balai-balai bawah rumah tampak ada seorang gadis cantik sedang menjahit kain dengan ditemani ibunya, yang usianya sudah lebih empat puluh tahun.
Gadis berpakaian model daster itu memiliki kulit yang putih bersih. Rambut panjangnya dikepang tunggal. Gadis bertubuh ramping indah itu bernama Seriwai. Ia putri Ki Jolos. Adapun ibunya bernama Yumini.
“Apa yang terjadi, Kakang?” tanya Yumini.
“Ada lima orang asing. Anak-anak muda. Kita sudah usir mereka, tetapi mereka tidak mau pergi. Mereka sepertinya orang-orang persilatan, jadi berani kepada kita, meski jumlah kita lebih banyak. Sunggu bodoh kita jika sampai tertipu tiga kali. Haaah!” Ki Jolos mengempaskan napas masygul. “Kalian harus naik ke rumah, sebab sebentar lagi prajurit Siluman Ikan akan datang memberi peringatan. Jangan sampai mereka melihat Seriwai dan membawanya secara paksa.”
“Ayo, Riwai!” ajak Yumini.
“Pasti akan ada korban, Ayah,” kata Seriwai.
“Apa boleh buat. Kita tidak bisa menghabiskan gadis desa ini hanya untuk persembahan,” kata Ki Jolos.
Yumini dan Seriwai naik ke rumah. Apa pun yang terjadi, mereka tidak boleh keluar rumah sampai besok pagi.
Begitupun dengan penduduk yang memiliki anggota keluarga perempuan, jauh-jauh waktu sudah dipesan agar tidak keluar rumah. (RH)