Melia terjebak dalam kungkungan sosok Anderson Louis yang terobsesi pada dirinya!
Sampai suatu ketika, Melia menyadari bahwa ada kisah di masa lalu mereka yang membuat Melia membenci Anderson.
Akankah Melia terbebas dari sisi Anderson? yang bahkan sekarang sudah dengan terang-terangan menginginkan tubuh Melia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alaleana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OBAT
Melia benar-benar kewalahan saat ia mulai merasa di teror seperti ini. Sepanjang perjalanan menuju ruangannya sendiri, semua mata menatap ke arahnya.
Tatapan-tatapan aneh penuh mengintimidasi itu benar-benar membuat Melia tidak nyaman hingga napasnya terasa sangat sesak. Apa lagi para gadis-gadis yang seperti patah hati itu tampaknya kurang suka menatap ke arah Melia.
Sial! Apa yang baru saja dilakukan oleh bosnya itu?!
Tapi, Melia segera menggelengkan kepala, ia harus fokus untuk menata kembali laporan kerja sama yang harus ia bawa nanti.
Beberapa saat kemudian terdengar pintu terbuka. Rosa, sahabat dekatnya, yang juga karyawan di perusahaan ini masuk ke dalam ruangan Melia.
"Oh, hai Ros," sapa Melia.
Tapi Rosa malah tampak kikuk. Tangannya terlihat gemetar saat berjalan menghampiri Melia.
"Ini nona, berkas yang kemarin anda minta. Dan juga, masalah tentang laporan keuangan yang kemarin anda revisi, saya sudah melalukan perbaikan."
Mendengar hal itu mata Melia membelalak sempurna.
Sejak kapan sahabatnya itu berbicara formal kepada dirinya?!
Melia memijat kepalanya sendiri. Melia sudah bisa menebak. Ini pasti karena gosip murahan mengenai dirinya dan Anderson yang sudah menyebar.
"Astaga, kenapa bicaramu seperti itu?!" Melia mengerutkan kening. Menatap ke arah Rosa dengan helaan napas panjang.
"Maaf, Mam. Tapi bagaimana pun anda pemimpin saya."
Melia menjitak kepalanya sendiri, kemudian berjalan menghampiri Rosa sambil memukul punggungnya.
"Kamu sedang gila ya ...?!"
"Eh, maaf Mam."
"Mam?"
"Maaf, Nyonya."
Dan lagi-lagi Melia memukul punggungnya. "Sadar lah! Aku bukan Nona, Nyonya atau Mam!"
"Tapi anda calon isteri dari pemimpin perusahaan ini. Maaf, tapi saya benar-benar tidak berani dengan anda sekarang. Jangan pecat saya kalau selama ini kadang saya berbicara kurang ajar kepada anda. Sungguh, saya benar-benar tidak tahu kalau anda adalah calon isteri dari presdir. Kalau saya tahu, pasti saya sudah menjaga jarak dengan anda."
Mata Melia melotot tajam mendengar semua perkataannya.
"Jadi, saya minta maaf dan saya janji akan menghormati anda mulai dari sekarang."
"Astaga!" Lagi-lagi Melia menjitak kepalanya sendiri. "Jangan salah sangka. Semua gosip yang terjadi hari ini adalah sebuah kesalah pahaman."
"Eh?"
"Sejak kapan aku menjadi calon isteri dari Anderson? Ya ampun, semua orang gila."
"Tapi tadi anda ..."
"Aku bukan calon isterinya dan aku mohon sebarkan ke segala penjuru kantor kalau gosip yang menyebar itu tidak benar adanya. Dan oh ya, satu hal lagi, tadi aku hanya menumpang di mobilnya. Itu tidak berarti apa-apa, kan?"
"Tapi tadi anda dirangkul ...?"
Melia tersentak kaget tapi buru-buru ia segera memutar otak. "Oh, tadi kakiku sempat terkilir jadi dia membantuku."
"Benar kah?"
"Ya. Tentu saja. Dan bisa kah kamu sekarang bersikap biasa saja kepadaku seperti selama ini aku berteman denganmu. Aku risih melihatmu menyapaku dengan sebutan Mam! Ouh." Bahkan bulu kuduk Melia mulai merinding dibuatnya.
"Em,"
"Sebut namaku."
"Eh, i-iya. Mel-Melia."
Ha ha ha. Melia tertawa. "Bagus. Jangan perlakuan aku seperti tadi karena aku benar-benar ngeri. Dan sekarang aku harus segera pergi dari sini karena ada meeting dengan klien di Bali. Dan ingat! Jangan buat gosip lagi!" Pekik Melia.
***
Sementara itu, Anderson sudah mengganti pakaian santainya dengan menggunakan pakaian formal.
Ia menggunakan jas hitam sebagai ciri khasnya dan menggunakan dasi. Tinggal sebentar lagi, dia akan berangkat ke Bali dan menjalankan seluruh rencananya.
Anderson menatap tajam ke arah luar jendela. Mengamati tata kota Jakarta dan ramainya jalan di atas lantai sepuluh tempatnya berdiri saat ini.
Satu menit berselang, Anderson mengambil sebuah obat dari dalam saku jasnya. Sebuah kapsul berwarna merah, yang harus Melia minum nanti setelah waktunya tiba.
"Sebentar lagi, kamu milikku Melia," ucapnya di tengah keheningan ruang.