Ken merasakan dunianya runtuh dan kebahagiaannya sirna ketika dengan mata kepalanya sendiri dia melihat seluruh keluarganya dibunuh dengan begitu sadisnya oleh sekelompok pria tak dikenal.
Ken adalah saksi bisu pembunuhan sadis yang menimpa seluruh keluarganya. Ayah, Ibu serta adiknya dibunuh tepat di depan matanya dengan sangat sadis. Tapi Ken tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis dan meratapi kematian mereka.
Ken ingin membalas dendam dan menghancurkan pria yang ia yakini sebagai dalang utama dibalik kematian keluarganya. Dan gadis bernama Shea Oliver-lah yang menjadi sasarannya.
Dan yang menjadi pertanyaannya, apakah benar-benar pria itu yang telah membunuh keluarganya?
Ken menculik dan menjadikan gadis tak berdosa itu sebagai sandera di mansion mewahnya. Memenjarakannya di sana dan mengikat paksa Shea dengan sebuah pernikahan.
Dan apakah Cintanya pada Shea mampu membuat Ken melupakan dendam kesumatnya pada keluarga Oliver? Apakah Ken mampu melepaskan dendamnya demi Shea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diikuti Pria Asing
Aletta menatap bingung pada Shea yang sedari tadi hanya diam melamun. Bahkan gadis itu tidak merespon panggilan gadis didepannya.
"Shea... Shea.. Shea...!"
Shea tersadar dari lamunannya lalu mendongak pada orang yang memanggilnya. "E..eh, maaf. Aletta, kenapa?"
"Dasar kau ini, melamun terus. Memangnya apa yang kau lamunkan? Sampai-sampai kau tidak mendengar aku yang terus memanggilmu, apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Aletta memastikan.
Shea menggeleng. "Tidak ada, lagi pula bukan masalah penting!" Shea berkata kemudian meminum orange jusnya. Aletta mengangguk paham.
"Ehh, kemana perginya Marry dan Shilla? Bukankah tadi mereka bersama kita?" Shea tampak celingukan mencari kakak dan sahabatnya itu.
Aletta mendengus geli. "Siapa suruh kau terus melamun, jadi kau tidak sadar jika mereka sudah pergi dari tadi.
Shea meletakkan kembali gelas ditangannya lalu menatap Aletta tak percaya. "Benarkah?" tanyanya memastikan.
"Umm," balas Aletta menyahut.
"Ngomong-ngomong kemana mereka pergi?" tanya Shea kembali.
"Mall, hari ini ada diskon besar-besaran!" ujar Aletta dan membuat mata Shea berbinar-binar mendengarnya.
"Benarkah?" Aletta mengangguk sekali lagi."Lalu apa yang kita tunggu? Kita harus bergegas sebelum kehabisan!" lanjutnya penuh atusias.
Setelah meminta bil dan membayar tagihan-nya kedua gadis itu pun bergegas meninggalkan cafe. Keduanya berjalan beriringan menuju tempat dimana mobil milik Shea diparkirkan.
Tappp .. !!
Shea menghentikan langkahnya ketika melihat sebuah van hitam terparkir diseberang jalan. Shea tidak tau mobil milik siapa itu, tapi dia merasa jika ada seseorang yang terus mengawasinya.
"Ada apa, Shea?" Aletta ikut berhenti dan menatap Shea penuh kebingungan.
Gadis itu menoleh lalu menggeleng."Tidak ada apa-apa, sepertinya aku melihat seseorang yang ku kenal. Tapi ternyata bukan," dustanya "Ayo masuk," sambungnya dan berjalan mendahului Aletta.
Shea berjalan dengan perasaan gelisah. Sesekali Ia menoleh dan mendapati van itu masih belum beranjak dari sana. Terlihat beberapa pria berpakaian serba hitam di dalam mobil itu, dan dalam hatinya Shea terus berdoa agar tidak ada hal buruk yang sampai menimpa dirinya.
Shea membuka pintu mobilnya lalu duduk dibalik kemudi, setelah memasang sabuk pengamannya. Mobil milik Shea melesat dengan cepat meninggalkan cafe, persis seperti dugaannya. Van hitam itu mengikutinya, sesekali Shea melirik kebelakang melalui kaca spion. Mobil-nya benar-benar diikuti, akhirnya gadis itu pun memutuskan untuk menambah kecepatan pada mobilnya dan van hitam itu pun melakukan hal yang sama.
Aletta yang merasa bingung pun menenggok kebelakang, gadis itu baru saja menyadari jika mereka diikuti."Jangan panik dan tetap tenang, aku akan membawa kita keluar dari masalah ini!" Shea menoleh menatap Aletta dan meyakinkan sahabatnya itu jika semua akan baik-baik saja.
"Tapi, Shea. Siapa mereka? Dan kenapa mereka mengikuti kita?" tanya Aletta yang mulai berkeringat dingin.
Shea menggeleng. "Aku sendiri tidak tau," jawabnya.
Shea menambah kembali kecepatan pada mobilnya, gadis itu menyeringai. "Baiklah, jadi kalian ingin bermain-main denganku!" ucap gadis itu tanpa menghilangkan seringainya.
Sementara itu, Aletta yang duduk disamping Shea merasa ngeri melihat seringai mengerikan gadis itu. Aletta berdoa dalam hati agar Shea tidak berbuat gila kali ini, Ia tidak siap mati karna serangan jantung dadakan.
Van hitam itu tampak kwalahan mengejar mobil Shea yang melesat seperti peluru, gadis itu menyeringai lalu pandangannya bergulir pada Aletta yang mulai berkeringat dingin. "Tenanglah, kau tidak akan mati disini!" katanya meyakinkan.
"Sialan kau, Shea Oliver. Aku benar-benar tidak ingin mati konyol!" Aletta menatap tajam Shea yang hanya disikapi kekehan oleh gadis itu.
Shea membuka sabuk pengamannya setelah memarkirkan mobilnya. "Kita sudah sampai, ayo turun!" membuka pintu disamping kirinya dan gadis itu langsung di sambut oleh seseorang yang menodongnya dari belakang.
Mulut pistol menempel pada kepala bagian belakang Shea, gadis itu menggeser sedikit kepalanya dan mulut pistol itu ikut bergeser. Melirik menggunakan ekor matanya, seorang pria berpakaian formal berdiri tepat di belakangnya.
"Mau apa kalian?" tanya Shea dengan nada sedikin es.
"Jangan banyak tanya, sebaiknya menurut saja jika kau masih menyayangi nyawamu. Diamlah dan jadi gadis baik, seseorang ingin bertemu denganmu!" tutur orang itu.
Tappp ...!
Shea menghentikan langkahnya kemudian melirik orang itu sekilas lalu pandangannya beralih pada Aletta yang masih bergeming dari tempatnya berdiri. Gadis itu gemetar dan tubuhnya berkeringat dingin melihat Shea ditodong seperti itu.
"Aku tidak akan ikut kalian sebelum kau memberi tauku siapa yang menyuruhmu!"
Pria itu mendengus. "Jangan banyak tanya, jalan saja!" pintanya menegaskan.
Shea memutar matanya bosan. "Aku benci basa-basi dan hal yang bertele-tele, kau sungguh menguji kesabaranku!" ujar gadis itu.
Sreggg ...!!
Shea menarik lengan pria yang menodongnya kemudian membantingnya ketanah, terdengar rintih kesakitan dari pria itu. Shea menghampiri pria itu lalu mengambil pistol yang tergeletak di samping orang yang menodongnya dan mengarahkan balik pada kepala pria itu
"Aku sudah bilang, aku tidak suka basa-basi. Jadi cepat katakan, atau nyawamu sendiri yang akan melayang?" ancam Shea dengan seringai misterius tercetak dibibir tipisnya.
Pria itu mengangkat tangannya. "Ba..baik akan kukatakan, yang menyuruhku adalah....
Dorrr....!!!
Belum sempat pria itu menyelesaikan kalimatnya, sebutir peluru lebih dulu menembus jantungnya. Sontak Shea menoleh dan mendapati sedikitnya 4 pria berpakaian formal berjalan menghampirinya. Gadis itu bangkit dari posisi dudiknya, dan berhadapam dengan pria-pria itu.
"Siapa dan mau apa kalian?" tanya Shea memastikan.
Bruggg ...!!
Tubuh gadis itu ambruk seketika ketika salah satu dari keempat pria itu menyemprotkan cairan bius pada wajahnya, namun belum sempat tubuhnya menyentuh tanah. Seseorang lebih dulu menangkapnya.
"Siapa kau? Berani-beraninya ikut campur urusan kami? Ingin jadi pahlawan kesiangan? Kembalikan gadis itu maka kami ampuni nyawamu!"
Pria itu menyeringai. "Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh cacing-cacing tanah seperti kalian?" kata pria itu meremehkan, keempat pria itu pun terbakar emosi karna ucapan pria asing didepannya.
"Sialan, maju dan habisi si brengsek ini!"
"Mereka serahkan pada kami, Boss!" seru seseorang dari arah belakang.
Sontak pria itu menoleh dan menyeringai tipis. "Bagus, kalian datang diwaktu yang tepat. Ringkus mereka berempat dan bawah kehadapanku hidup-hidup!" perintah orang itu tak ingin dibantah. Keduanya mengangguk paham
"Dimengerti,"
.
.
"Engghh,"
Shea melengkuh pelan, tangannya mencengkram kepalanya yang terasa ingin pecah. Mata hazel miliknya terbuka perlahan, mengerjap beberapa kali mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retina matanya. Mata itu pun akhirnya terbuka sepenuhnya.
Asing ...
Itulah kesan pertama yang tertangkap oleh mata Shea. Gadis itu mengedarkan pandangannya dan mendapati sosok pria yang wajahnya cukup familiar sedang duduk disofa dengan ditemani sebotol wine dan rokok yang tengah dihisapnya.
"Kau sudah sadar?" tanya orang itu memastikan.
Mematikan rokoknya kemudian bangkit dan menghampiri Shea. "Ini dimana? Dan bagaimana aku bisa ada disini?" tanya Shea meminta penjelasan.
Orang itu duduk di tepi ranjang yang Shea tempati, menatap langsung pada mata hazel gadis itu. "Kamar hotel, aku menyelamatkanmu dari tangan para penjahat yang ingin menculikmu!" ujar pria itu memaparkan, Shea mengerjap lagi.
"Benarkah? Ahh,, pasti yang kau maksud adalah empat pria asing tadi. Lagi-lagi aku berhutang budi padamu, sekali lagi kau menyelamatkan nyawaku!" ujar Shea panjang.
Shea mengerutkan dahinya, melihat ada benda hitam yang menutup mata kanan pria penolongnya. Shea menghampiri pria itu, ragu Ia mengangkat tangannya dan menyentuh benda itu. "Apa kau terluka?" tanyanya memastikan, pergelangan tangan Shea digenggam oleh pria itu.
Pria itu menggeleng. "Mataku baik-baik saja," katanya.
"Lantas, kenapa kau menutupinya?" tanyanya bingung.
Pria itu bangkit dan berjalan lurus pada jendela yang ada diruangan itu. Berdiri diambang jendela memandang langit yang telah berganti jingga. "Hanya ingin mengabulkan permintaan seseorang saja,"
Shea menyibakkan selimut yang masih membungkus kakinya kemudian menghampiri pria itu dan ikut berdiri disampingnya, Shea menatap wajah pria itu yang juga menatap padanya. Ada rasa familiar ketika mata mereka bertemu dan beradu pandang.
"Tuan, jika aku boleh tau. Siapa namamu?" tanya Shea tanpa melepaskan kontak mata diantara mereka.
Pria itu merubah posisinya, dan mereka saling berhadapan. Dia menatap mata hazel itu semakin dalam, menarik benda bertali itu dari mata kanannya tanpa melepaskan kontak matanya.
"Ken, namaku adalah Ai-Ken!"
Deggg ...!!
Seperti ada bongkahan batu besar yang menghantam dadanya dan menghimpit paru-parunya, hingga Shea merasakan sesak didadanya. Perih, hatinya bagaikan tercabik-cabik dan teriris belati tajam. Mengoyak hatinya hingga remuk tak tersisa.
Air mata perlahan mengalir dari pelupuk matanya, jatuh membasahi wajah cantiknya. Lelehan air bening itu jatuh tanpa bisa dicegah. Shea melangkah mundur, menjauhi Ken. Menyambar tasnya dan pergi begitu saja.
Shea berlari dengan bercucuran air mata, Ia tidak tau harus merasa sedih atau senang karna pada akhirnya dapat bertemu kembali dengan Ken setelah 16 tahun berlalu. Dan Ken hanya bisa menatap kepergian Shea dengan datar.
Sama halnya dengan Shea. Hati Ken pun terasa sesak, bahkan kemeja yang melekat ditubuhnya pun tidak lagi serapi sebelumnya. Kemeja itu kusut dibagian dadanya, yang diremas kuat oleh Ken. Entah keputusan yang tepat atau tidak, memberi tau Shea tentang siapa dirinya.
-
Bersambung.
n ini cuma bisa kirim sekuntum mawar untuk Thor seorang.
selalu ceria dalam berkarya,biar selalu indah n menyenangkan untuk d baca n d ikuti alurnya.
slalu bahagia....
moga hasilnya sama2 kembar jg
gak masalah n gak maku2in kok