NovelToon NovelToon
Resep Cinta Dokter Narendra

Resep Cinta Dokter Narendra

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Sci-Fi / Dokter
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Naila fitri

Judul lama : Diagnosis: Falling For You

dr. Narendra Adiwijaya, Sp.B adalah putra tunggal dari keluarga konglomerat, Narendra dipersiapkan sejak kecil untuk menjadi penerus Adiwijaya Healthcare Group. Tuntutan tinggi tersebut membentuk Narendra menjadi pria kaku, dominan, dingin.

dr. Nayla Kartikasari, Sp.A adalah anak pertama dari pasangan Arga Dewantara dan Citra Kirana, memiliki seorang adik bernama Bintang. Nayla memiliki sifat yang hangat, ekspresif, namun bermental baja menjadikannya dokter yang disukai oleh anak anak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naila fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dalang Sebenarnya

Malam hari sebelum hari akad nikah (H-1).

Hujan mengguyur kawasan Jakarta Selatan dengan lebat. Di penthouse Narendra, suasana terasa sangat mencekam.

Gibran duduk di sofa ruang tengah bersama Tyo—kepala tim keamanan pribadi Narendra—serta Kompol Heru yang sengaja diundang secara tertutup. Di meja kopi, terpampang diagram alur transaksi keuangan gelap milik PT Wijaya Pharma dan dokumen kepemilikan saham rahasia.

Narendra berdiri di dekat jendela kaca besar, bersedekap dada. Kemeja hitamnya tergulung hingga siku, dan wajahnya begitu dingin, keras, bak algojo yang siap mencabut nyawa.

"Hasil penelusuran tim cyber Polda atas informasi dari telepon ibu Devan tadi sore sudah valid, Naren," ujar Kompol Heru, mengetuk satu nama di lembar dokumen transaksi. "Ada arus dana sebesar lima belas miliar rupiah yang mengalir dari akun offshore di Cayman Island menuju rekening penampung milik Julian Alistair sebelum dia terbang ke Indonesia."

"Siapa pemilik rekening offshore itu?" desis Narendra, suaranya sangat rendah dan sarat ancaman pembunuhan.

Gibran menarik napas panjang, menatap Narendra dengan raut wajah yang campur aduh—antara tidak percaya, sedih, dan amarah yang tertahan.

"Paman Hendra..." gumam Gibran pelan.

Narendra tidak terkejut, namun rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya terpampang jelas. Hendra Adiwijaya—adik kandung dari Papa Arsenio, sekaligus Pimpinan Dewan Pengawas Keuangan di Adiwijaya Healthcare Group. Pria paruh baya yang selama ini dikenal sangat tenang, penyayang, dan selalu mendukung Narendra di depan publik.

"Kenapa Paman Hendra melakukan ini?" tanya Gibran, suaranya bergetar. "Dia itu paman kita, Naren! Dia ikut hadir di acara pertunangan lo sama Nayla!"

"Uang dan tahta, Gibran," sahut Narendra dingin. "Papa memegang 60 persen saham mayoritas grup, sementara aku ditunjuk sebagai pimpinan operasional tunggal. Hendra tahu, kalau aku menikah sama Nayla dan memegang The Nayla Kartikasari Pediatric Center, posisinya di dewan komisaris akan tergeser sepenuhnya oleh aliansi keluarga Dewantara dan Adiwijaya. Dia memanfaatkan ambisi gila Julian dan kebodohan Dharma Wijaya buat menghancurkan kredibilitas aku sebelum pernikahan digelar."

Tyo melangkah maju. "Dokter Narendra, Paman Hendra saat ini terdeteksi sedang berada di Grand Ballroom Hotel. Dia masuk ke area steril menggunakan kartu akses internal dewan komisaris dengan alasan mengecek kesiapan dekorasi akad nikah besok pagi."

Mata elang Narendra berkilat berbahaya. "Siapkan mobil. Kita selesaikan ular ini malam ini juga. Jangan sampai ada satu pun noda yang menyentuh hari pernikahan aku dan Nayla besok."

 

Pukul sebelas malam.

Grand Ballroom Hotel yang megah tampak sepi dan temaram. Dekorasi mewah bernuansa putih, emas, dan ukiran Jawa modern telah berdiri anggun. Ratusan bunga melati segar dan mawar putih memenuhi area panggung akad nikah, menghembuskan aroma harum yang sakral.

Di tengah panggung utama, di depan meja akad nikah berbalut kain sutra putih, berdiri seorang pria paruh baya bersetelan jas mahal. Hendra Adiwijaya.

Hendra sedang memegang sebuah botol kecil berlabel cairan kimia korosif berwarna bening—cairan racun konsentrasi tinggi yang rencananya akan disemprotkan ke kain busana pengantin dan area dekorasi utama agar menimbulkan reaksi alergi parah dan kerusakan fisik pada saat prosesi akad nikah esok hari.

Langkah kaki berirama tegap memecah keheningan ballroom.

Hendra tersentak kaget, dengan cepat menyembunyikan botol tersebut di dalam saku jasnya lalu berbalik badan.

Di ujung karpet merah utama, Narendra melangkah maju. Pria itu berjalan sendirian di bawah pendar lampu ballroom yang remang. Di belakangnya, jauh di area pintu masuk, Gibran, Kompol Heru, dan belasan personel kepolisian berdiri bersiap memblokir seluruh akses keluar.

"Paman Hendra," panggil Narendra. Suara baritonnya bergema tenang, namun resonansinya begitu mengintimidasi. "Memeriksa dekorasi di tengah malam hujan begini... sungguh kepedulian seorang paman yang sangat luar biasa."

Wajah Hendra sempat panik, namun pria paruh baya itu dengan cepat menyunggingkan senyum hangat yang biasa digunakannya. "Narendra? Kamu kenapa malam-malam ke sini, Nak? Kamu harusnya istirahat di rumah. Besok hari besar kamu."

Narendra menghentikan langkahnya tepat lima langkah di depan Hendra. Pria bedah itu menatap pamannya dengan pandangan yang membuat darah Hendra mendadak membeku.

"Hari besar aku?" Narendra terkekeh tipis—sebuah tawa tanpa rasa humor sedikit pun. "Hari besar yang ingin Paman hancurkan menggunakan uang lima belas miliar milik Julian Alistair?"

Senyum fiktif di wajah Hendra seketika sirna. Wajahnya berubah pucat pasi, matanya membulat tidak percaya. "K-kamu... kamu bicara apa, Narendra?"

"Rekening offshore Cayman Island, transaksi pasokan iodin ke PT Wijaya Pharma, hingga akses pendaftaran mawar hitam ke WO..." cecar Narendra, setiap kata yang diucapkannya bagai palu godam yang menghantam pertahanan Hendra. "Semua jejak kaki busuk Paman sudah ada di tangan Polda Metro Jaya."

Hendra mundur satu langkah, kakinya menyenggol ujung meja akad nikah. Topeng kebaikannya runtuh sepenuhnya, berganti menjadi raut wajah penuh kepahitan, kebencian, dan rasa iri yang telah membusuk puluhan tahun.

"Kenapa, Narendra?!" pekik Hendra dengan suara melengking dan penuh amarah yang tertahan. "Kenapa selalu ayahmu dan kamu?! Aku yang berjuang membangun fondasi keuangan Adiwijaya dari nol! Tapi apa yang aku dapat?! Ayahmu menguasai seluruh saham, dan sekarang kamu... anak muda bertangan dingin yang baru kemarin sore jadi dokter... mau mengambil alih seluruh kejayaan Adiwijaya Group!"

Narendra menatap pamannya tanpa simpati sedikit pun. "Jabatan dan saham tidak pernah membuat Paman puas karena hati Paman sudah busuk. Paman tega mengorbankan nama baik keluarga, memanfaatkan pasien anak-anak, dan mencoba mencelakai Nayla... hanya demi ego keparat Paman."

Hendra tertawa histeris, merogoh saku jasnya dan mengeluarkan botol racun tersebut, mengarahkannya ke wajah Narendra dengan tangan gemetar. "Kalau aku tidak bisa memiliki Adiwijaya, maka tidak ada satu orang pun yang boleh bahagia di keluarga ini! Pernikahan kamu besok bakal jadi tragedi paling berdarah—"

TAK!

Sebelum Hendra sempat membuka tutup botol tersebut, cengkeraman tangan Narendra sudah melayang secepat kilat. Narendra mencengkeram pergelangan tangan Hendra dengan kekuatan luar biasa, memelintirnya ke belakang hingga botol kimia itu jatuh ke karpet dan ditendang jauh oleh Narendra.

"AAAKHHH!" jerit Hendra kesakitan saat tubuhnya didorong kasar oleh Narendra hingga bertekuk lutut di atas lantai karpet, persis di depan meja akad nikah.

Narendra berdiri tegap di atas pamannya, menatap pria tua itu dari atas dengan dominasi dingin yang tak tersentuh.

"Pernikahan aku dan Nayla besok akan jadi hari paling bahagia di dunia," bisik Narendra tepat di telinga Hendra yang meringis kesakitan. "Dan Paman... akan menyaksikannya dari balik jeruji besi sel penjara seumur hidup Paman."

Kompol Heru dan tim kepolisian langsung melangkah cepat ke panggung, memasangkan borgol besi di tangan Hendra Adiwijaya yang melengos lemas tanpa perlawanan lagi. Pria yang selama ini menjadi musuh dalam selimut di keluarga Adiwijaya itu akhirnya diseret keluar dari ballroom dalam kehancuran.

Narendra berdiri sendirian di tengah panggung akad yang kini kembali tenang dan harum. Ia merapikan kerah kemeja hitamnya, menghirup napas panjang. Badai terakhir telah disapu bersih. Tidak ada lagi ancaman, tidak ada lagi konspirasi, dan tidak ada lagi pengkhianatan yang tersisa.

 

Halooo friendsss

Jangan lupa like comment yaa, biar aku makin semangat upload ceritanya...😚

Happy Reading

1
tata
thor up nya jangan lama²+ banyakin ya 🤭
Macyooo: Wkwkwk, terima kasih sudah mampir friends😚
total 1 replies
Macyooo
Jangan lupa tinggalkan jejak friends
Macyooo
jangan lupa tinggalkan jejak yaaa
Macyooo
Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa
Macyooo
Jangan lupa tinggalkan jejak ya friends
Macyooo
Haloooo Friendsss!! welcome di cerita pertama akuu, semoga suka yaaa, happy reading 😍😍
Macyooo
Halooo friendsss!!! welcome di cerita pertama akuu, semoga suka yaaa, yang punya kritik dan saran boleh nihh disampaikan🤩🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!