Menikah karena kemauan sendiri dan dengan pilihan sendiri tidak selamanya berbuah kebahagiaan.
Benazir adalah buktinya.
Menikah selama beberapa tahun dengan pria yang berusaha diperjuangkannya, malah menimbulkan luka dan kecewa berkepanjangan. Suaminya bahkan menganggapnya istri yang memalukan dan tak pantas dihargai.
Haruskah Benazir bertahan atau pergi.
Kisah ini akan sedikit menguras air mata.
Berminat ?
ikuti kisahnya yuk...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9 ( Tak Bersyukur )
Arjuna sedang duduk di tempat favoritnya. Di sana ia tak sendiri. Ada beberapa temannya juga yang memang selalu menghabiskan waktu nongkrong di kedai kopi itu.
Kedai kopi yang terletak di pinggir persimpangan jalan itu adalah milik salah seorang teman Arjuna yang bernama Galang. Semula Arjuna dan teman-temannya datang hanya untuk mensuport Galang yang baru saja membuka kedai kopi itu. Tapi ternyata mereka menemukan kenyamanan di sana hingga mereka menjadikan kedai kopi Galang sebagai base camp.
Arjuna dan teman-teman sangat nyaman berada di sana. Sepulang kerja mereka selalu singgah di sana untuk santai sejenak sebelum kembali ke rumah masing-masing. Sekedar berbagi cerita dan menghilangkan penat setelah seharian lelah bekerja.
Diantara teman-teman Arjuna ada dua orang yang berstatus duda, bernama Ayung dan Marzuki. Mereka berpisah dengan istri masing-masing karena alasan ekonomi. Dan hingga saat ini keduanya masih betah sendiri dan enggan berumah tangga lagi.
" Kopi Lang. Biasa ya...!" seru Arjuna sambil duduk di samping Ayung.
" Kok baru keliatan Lo...?" tanya Ayung.
" Biasa Yung, macet. Kan Jakarta...," sahut Arjuna.
" Lo ga langsung pulang ke rumah, emangnya bini Lo ga marah. Apalagi tiap hari Lo ke sini. Pulang kerja setor muka sama si Galang, bukan sama si Benaz...," kata Ayung sambil meneguk kopinya.
" Ah, gapapa. Dia mah udah biasa...," sahut Arjuna sambil meraih roti dan memakannya perlahan.
" Biasa gimana. Emang dia ga nyariin Lo...?" tanya Galang sambil meletakkan kopi pesanan Arjuna di atas meja.
" Dia udah tau kalo Gue di sini. Lagian dia mah ga ribet, ga kaya mantannya si Juki yang cerewet dan kepo sama urusan Suami. Sebentar-sebentar telephon, nanyain kapan pulang...," sahut Arjuna lagi.
" Iya sih. Tapi kan bukan berarti dia ga nyariin Lo juga. Pasti dia juga mau lah ditemenin ngobrol sambil rebahan plus nonton TV. Kan enak tuh...," sela Dorman sambil menepuk pundak Arjuna.
" Emang harus kaya gitu. Gue sama dia kan bukan penganten baru lagi yang harus berduaan melulu tiap saat. Gue punya privacy, dia juga. Dan Gue sama Benazir ga pernah usil sama urusan Kita masing-masing. Sekarang aja dia lagi kumpul sama temennya, Gue ga ngelarang. Bebas aja, asal bertanggung jawab. Ga usah dibikin ribet lah Bro. Biar ga stress...," sahut Arjuna panjang lebar.
Dorman, Galang dan Ayung hanya menatap datar kearah Arjuna. Mereka tahu persis Arjuna adalah orang yang egois dan tak mau kalah. Jadi mereka memilih tak melanjutkan obrolan tentang Arjuna dan istrinya.
Tak lama kemudian Marzuki datang dengan gayanya yang khas.
" Kenapa Lo Juk...?" tanya Ayung.
" Pusing Gue. Mantan bini minta uang lagi...," sahut Marzuki.
" Buat apaan...?" tanya Arjuna.
" Katanya si Bontot minta beliin sepeda. Padahal baru Senin kemaren Gue transfer buat Kakaknya, eh udah minta lagi. Dikiranya Gue pabrik duit kali ya...," keluh Marzuki.
" Suruh kerja lah mantan Lo. Jangan bisanya minta duit aja. Biar tau dia kalo kerja tuh capek, nyari duit juga suskerja. ," saran Dorman.
" Mana bisa dia kerja. Nikah sama Gue kan abis lulus sekolah, ga sempat kerja. Ga lama hamil. Ya udah, seumur hidup sampe dia cerai sama Gue ya ga pernah tau rasanya nyari duit sendiri. Bisanya cuma minta doang...," sahut Marzuki kesal.
" Makanya Lo suruh kerja. Dia udah bukan tanggung jawab Lo lagi kan sekarang. Kalo soal Anak-anak, sesuai kesepakatan waktu Kalian cerai tuh mau ngasih berapa per bulan. Kalo ada rejeki lebih Lo tambahain, kalo ga ada ya ga usah lah. Sekarang Lo sendiri aja susah. Kalo Lo turutin terus kemauannya ya repot. Bisa-bisa jadi gembel Lo di jalanan...," kata Dorman lagi.
Marzuki termenung mendengar ucapan Dorman. Iya nampak tersenyum setelah mendengar saran Dorman.
" Bener juga yang Lo bilang. Kalo terus nurutin dia, kapan Gue bisa ngurus hidup Gue sendiri. Sedangkan Gue juga masih pengen married lagi. Yang penting kan tanggung jawab utama Gue sama Anak-anak Gue penuhi. Ok, deh. Gue bakal mulai teliti lagi kalo soal duit. Jangan-jangan selama ini Gue dikadalin sama dia. Bilangnya buat Anak Gue, ga taunya dipake sendiri. Sia*an...," gerutu Marzuki.
Semua tertawa mendengar ucapan Marzuki.
" Nah gitu dong. Kaya si Arjuna tuh, punya bini kerja. Jadi santai, ga terlalu pusing sama pengeluaran bulanan...," kata Ayung sambil tertawa.
" Bulanan mah Gue tanggung lah Yung. Cuma buat keperluan pribadi kadang dia ngeluarin dari uang pribadinya...," sahut Arjuna bangga.
" Mantap deh. Bini model Benazir mah jangan dilepas Jun. Udah cantik, pinter nyari duit lagi. Wah, kalo Gue punya bini kaya dia ga bakal Gue lepasin...," kata Galang disambut tawa teman yang lain.
Tak lama kemudian Arjuna melirik kearah jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
" Jam sepuluh. Gue cabut dulu ya. Besok Gue ke sini lagi deh...," kata Arjuna sambil meletakkan uang lima puluh ribuan di samping gelas kopi.
" Kembalinya Jun...?" tanya Galang.
" Buat bayarin yang laen nih. Kalo ada sisa, sinpen buat bayar kopi Gue besok...," sahut Arjuna sambil menstarter motornya.
" Makasih Jun...!" seru keempat temannya bersamaan.
Arjuna hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh sambil melajukan motornya meninggalkan kedai kopi itu. Sedang keempat temannya masih melanjutkan perbincangan mereka dengan santai.
" Bod*h banget ya si Arjuna. Punya bini cantik kaya gitu dicuekin, eh malah milih ngobrol sama Kita di sini. Kalo Gue, mending kelonan sama bini daripada keseringan nongkrong ngabisin duit...," kata Ayung iri.
" Iya. Bolehlah ngobrol sekali waktu sama teman, tapi jangan lupa sama yang di rumah. Pantes aja Istrinya ga hamil-hamil. Jangan-jangan ga pernah dikasih jatah...," kata Galang.
" Masa sampe segitunya sih...?" tanya Dorman tak percaya.
" Iya, siapa tau. Kan dari sini aja udah jam sepuluh atau sebelas malam. Sampe rumah pasti Istrinya udah tidur. Kalo dia mau begituan pasti ga bisa, kan bininya udah kecapean masak dan beresin rumah. Kalo harus begituan dulu, besoknya bangun kesiangan, tambah repot. Makanya Gue yakin dia jarang begituan sama Istrinya...," sahut Galang sok tahu.
" Sok tau Lo...!" kata Marzuki sambil melempar bekas bungkus rokok kearah Galang.
Semua tertawa melihat Galang yang berusaha menghindar dari lemparan Marzuki.
" Tapi Istrinya tuh emang cewek hebat. Bisa ngertiin Suami model kaya Arjuna yang ga peka dan ga perhatian sama Istri. Salut Gue sama Benazir...," kata Galang sambil menggelengkan kepalanya.
" Itu Arjunanya aja yang ga bersyukur. Belom ngerasain jadi duda kaya Gue sih. Apa-apa sendiri, pusing, capek, kedinginan lagi...," kata Marzuki sambil menatap kearah jalan raya.
" Iya. Kadang ngeliat orang ga bersyukur macam si Arjuna tuh bikin keki. Kita aja setengah modar nyari bini, eh dia udah dapat bini kaya gitu malah dicuekin...," sahut Ayung sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.
Sementara Arjuna, orang yang menjadi objek pembicaraan keempat orang temannya itu, malah asyik dengan dunianya sendiri.
Saat tiba di rumah, ia disambut oleh istrinya yang kelelahan setelah lama menunggunya. Dengan menahan kantuk Benazir melayani suaminya dengan telaten, membuatkan kopi juga menyiapkan makan malam. Setelahnya Benazir menemani Arjuna makan malam.
" Apa Kamu lembur hari ini Mas...?" tanya Benazir hati-hati.
" Ga. Kenapa emangnya...?" tanya Arjuna balik.
" Kalo ga lembur, kenapa pulang sampe jam segini. Apa Kamu ga capek kalo tiap malam pulang jam segini, kurang istirahat juga kan jadinya...," sahut Benazir.
" Kamu ga lagi protes karena Aku pulang malam dan Kamu harus ngelayanin Aku kan Naz...?" tanya Arjuna tak suka.
" Bukan gitu Mas. Aku juga capek, perlu istirahat. Tapi gimana Aku bisa istirahat kalo jam segini aja Kamu baru pulang. Aku harus nyiapin semua keperluan Kamu di malam buta kaya gini. Apa Kamu ga kasian sama Aku Mas...?" tanya Benazir menahan tangis.
Arjuna terdiam. Kedua matanya menatap kearah Benazir yang juga tengah menatapnya sambil menanti jawaban darinya.
bersambung