Hidup Kinan berubah ketika pergantian CEO terjadi di kantor ia bekerja. Walaupun ia hanya seorang office girl, namun CEO yang baru tampak tak menyukainya. Berbagai alasan dibuat sang CEO untuk membuat kerja Kinan menjadi sulit. Hingga pada saat ia melakukan kesalahan sepele namun berdampak hingga ia dipecat. Kebenciannya kepada sang CEO pun semakin menjadi.
Raditya Abhimanyu, CEO tampan dan (tentunya) kaya raya kembali pulang dari Amerika dan menjadi pimpinan perusahaan konstruksi besar milik ayahnya. Raditya adalah pria dingin yang "mati rasa". Segala hal bisa ia dapatkan membuatnya ingin mencari hal baru untuk hidupnya. Untuk itu ia memulai sebuah petualangan. Petualangan yang membuat ia mengetahui sebuah rahasia yang sangat penting untuk hidupnya.
Bagaimana pertemuan Raditya dan Kinan terjadi?
Apakah mereka berakhir saling jatuh cinta?
Ini novel romantis komedi pertama saya. Semoga banyak yang suka dan menikmatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armasita Wardhojo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RASA SUKA
Motor butut kak Bima membelah jalanan sore ini. Radit dan Kinan sedang menuju sebuah tempat dimana Radit bisa bertemu dengan kakaknya. Perasaan Kinan sedang tak menentu, ada kesedihan dan kebingungan yang ia rasakan. Melihat Radit yang begitu antusias membuatnya semakin bimbang.
"Berhentilah disana!" Kinan menunjuk toko bunga. Radit berhenti tepat didepannya. Kinan turun dari motor dan memasuki toko Bunga.
"Mbak Kinan, ada yang bisa saya bantu?" sambut penjaga toko ketika tahu Kinan yang datang.
"Seperti biasanya, mbak" jawab Kinan sambil tersenyum. Seolah telah hafal apa yang biasa Kinan pesan, sang florist mengambilkan sebuket bunga mawar putih. Kinan membayar buket bunga itu lalu keluar menemui Radit yang masih menunggunya di atas motor.
"Kau sering kemari? penjualnya sudah hafal denganmu"
Kinan hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Radit. Ia lantas menyuruh Radit menyalakan motor kembali. Mereka melaju dengan pelan. Tak ada satupun kata yang terlontar. Kinan hanya memberikan petunjuk arah, selebihnya ia tak mau banyak bicara.
Akhirnya mereka sampai di tempat yang di tuju. Radit menyerngitkan dahi kebingungan. Kinan turun dari motor dan mengajak Radit untuk mengikutinya.
"Tunggu!" sergah Radit sembari menarik tangan Kinan. Kinan menatapnya lantas berganti menarik tangan Radit. Laki laki tampan itu akhirnya hanya menurut mengikuti langkah Kinan.
Angin berhembus dengan sangat sejuk sore ini. Pemakaman umum ini selalu bersih karena dibersihkan secara teratur. Nampak beberapa penjaga makam sedang menyapu bunga Kamboja yang berguguran. Beberapa peziarah juga nampak khusyuk berdoa.
Radit masih mencoba menguatkan langkah walaupun pikirannya mulai kalut. Ia hanya berharap pikiran buruk ini hanya sekedar pikiran. Namun ketika ia melihat bagaimana sikap Kinan sedari tadi, ia sadar ia mungkin akan patah hati.
Kinan berhenti pada salah satu nisan. Ia lalu berjongkok dan meletakkan mawar putih diatas makam itu. Diatas batu nisan tertulis nama Juliana. Radit seketika lemas dan berjongkok disamping Kinan. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku sangat menyesal karena baru mengetahuinya sekarang bahwa Kak Juli adalah kakakmu. Kami tidak tahu bahwa ia adalah putri dari Pak Bastian Abhimanyu. Kalau dulu kami tahu, kami pasti akan memberi kabar kepada kalian. Namun, Kak Juli benar-benar menyembunyikan identitasnya"
"Bagaimana kau mengenalnya?"
"Kak Juli dan Shandy sering sekali datang ke kedai Kakek. Karena terlalu sering, mereka pun sangat akrab dengan Kakek dan Nenek. Mereka bahkan sering datang ke rumah. Suatu ketika Kak Juli datang dengan wajah berantakan dan baju apa adanya. Ia datang dengan perut yang sudah membesar. Ia meminta tolong untuk bisa tinggal bersama kami selama kehamilannya. Kakek dan Nenek tidak tega, akhirnya Kak Juli dan Shandy tinggal dirumah kami"
Kinan menghentikan ceritanya. Ia mencoba melihat wajah Radit yang tengah berurai air mata. Ia ragu apakah ia akan melanjutkan ceritanya.
"Ceritakan semuanya. Aku akan mendengarkan" ujar Radit meyakinkan Kinan.
"Singkat cerita, Kak Juli mau melahirkan. Kami berusaha untuk mencari tahu keluarganya namun Kak Juli melarang. Ia bilang, ia telah diusir oleh keluarganya karena ia hamil di luar nikah. Dan oleh karena keluarganya tidak menyetujui hubungannya dengan Shandy, ia berkilah bahwa keluarga nya tidak akan mau menerimanya kembali. Namun persalinan Kak Juli membuat nyawanya tak tertolong. Ia meninggal beberapa jam setelah Shanju lahir."
"Shanju?" Raditya terkejut mendengar nama Shanju.
'"Jadi Shanju adalah anak kakakku?"
Kinan mengangguk.
"Lalu pernikahanmu?"
"Sebelum meninggal Kak Juli meminta ku untuk bersedia menikah dengan Shandy. Ia benar-benar khawatir anaknya terlantar. Aku pun akhirnya melakukan pernikahan itu. Dan Shanju akhirnya memiliki Ibu dan Ayah layaknya keluarga lainnya. Itu yang diinginkan Kak Juli. Tapi sepertinya keinginannya kini tak bisa lagi kulakukan. Aku berusaha menjadi istri yang baik untuk Shandy, hanya saja ia tak mau bersamaku lebih lama lagi"
Raditya tak bisa menahan lagi kesedihannya. Ia menangis sesenggukan sembari mengingat kenangan bersama Kakaknya. Ia merasa sangat bersalah karena tak peduli dengan kakaknya. Ia merasa tidak bisa menjadi adik yang berguna. Ia bahkan tak ada ketika Kakaknya sedang sekarat menahan kesakitan luar biasa. Andai saat itu ia benar-benar mencari kakaknya, mungkin ia tak akan dirundung penyesalan seperti saat ini.
Kinan menepuk lembut punggung Radit yang masih menunduk. Ia membiarkan laki laki itu meluapkan kesedihannya. Ia pun turut merasakan kesedihan yang dialami Radit. Membayangkan bertahun tahun mencari kakaknya dan akhirnya bertemu namun dalam keadaan seperti ini. Kinan pun pasti akan sangat terpukul jika hal itu menimpa dirinya dengan Kak Bima.
"Mawar putih adalah bunga favorit Kakakku. Dan kau tahu itu?" tanya Radit.
"Ya, selama tinggal dirumah, Kak Juli dan aku banyak menghabiskan waktu bersama. Kami seperti adik kakak. Ia adalah wanita yang sangat baik. Ia juga bercerita tentang adiknya. Aku tak menyangka bahwa kau adalah adiknya, karena apa yang ia ceritakan berbeda dari sikapmu yang sekarang"
"Aku sangat merindukannya." Radit kembali menunduk sambil terus meneteskan air mata. Kinan memeluk Radit yang tak lagi kuat menyangga tubuhnya sendiri.
...***...
Malam telah larut, Kinan baru saja keluar dari kamar Shanju untuk memastikan anaknya telah tidur. Kak Bima, Nenek dan Raditya masih ada diruang tengah. Mereka sedang asyik makan gorengan yang dibuat oleh Kinan.
Raditya nampak masih sedih namun ia mencoba untuk tegar. Semua orang di rumah sudah tahu bahwa Radit adalah adik Juliana. Hanya Shan yang belum mengerti. Nenek dan Bima bahkan berulang kali memeluk Radit. Kinan turut senang karena keluarganya memahami kondisi Radit.
"Anggaplah aku seperti kakakmu sendiri. Sejujurnya aku lebih memilih kau menjadi adikku daripada Kinan"
"Kakak.." sahut Kinan dengan sewot. Bima terkekeh. Radit pun akhirnya bisa tertawa.
"Aku pun akan lebih bahagia bila kau yang jadi cucuku" Nenek menanggapi. Kinan melirik tajam.
"Terima kasih. Aku sungguh merasa menemukan keluarga disini"
"Ya..tapi jangan lupa kau hanya menumpang, kalau kau sudah punya uang cepatlah pergi"
Nenek memukul punggung Kinan. Bima pun nampak melotot ke arah adiknya. Sedang Kinan hanya bisa menggosok punggungnya yang panas karena pukulan nenek.
"Iya tenang saja. Aku tak ingin merepotkan kalian terlalu lama. Kalian sudah sangat baik kepadaku" Raditya tersenyum dengan tulus. Ia nampak sungguh-sungguh mengucapkannya. Kinan melirik Raditya, teringat apa yang diucapkan Nuri tadi siang di kedainya. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ia kabur dari rumah? Apa yang ia cari?
Tak lama kemudian, Bima dan Nenek berpamitan tidur terlebih dahulu. Kinan sedang mencuci piring, sedangkan Radit sedang membuat kopi.
"Kau tak berniat untuk tidur?" tanya Kinan penasaran.
Radit menggeleng, "Aku masih ingin menikmati kopi di Balkon. Kau mau ikut?"
Kinan berpikir sejenak lalu mengangguk. Radit tersenyum sembari mengambil satu cangkir kopi lagi untuk Kinan. Mereka lantas pergi ke Balkon berdua. Radit mengambil satu kursi plastik lagi dari dalam gudang. Mereka lalu duduk berdampingan melihat langit yang penuh bintang malam ini.
Kinan memandang wajah Raditya dengan senang. Ia melihat Radit mulai tenang dan menerima kenyataan.
"Sebenarnya kenapa kau kabur dari rumah? cepatlah pulang, ayah dan ibumu menunggu"
"Bagaimana kau tahu?"
"Sejak awal aku sudah ragu, tidak mungkin kau diusir dari rumah. Kau kan penerus tunggal keluarga Abhimanyu. Jadi kenapa kau pergi dari rumah?"
"Aku merasa bahwa hidupku selama ini tidak berarti. Aku bertindak seenaknya sendiri, aku egois, dan tidak memperhatikan orang lain. Aku juga tertekan dengan orang tuaku. Oleh karenanya aku ingin pergi sejenak, mencari hidup dimana aku bisa menjadi diriku sendiri"
"Semua orang telah mengetahui keberadaanmu. Nuri tadi datang ke kedai dan ia menyuruhku untuk memberitahumu. Kau harus cepat pulang, jangan buat orang tua mu khawatir"
"Jadi mereka sudah tahu...." Radit meneguk kopi.
"Kalau begitu aku harus segera pulang agar mereka tidak mengusik keluarga ini"
"Jadi malam ini kita habiskan waktu kita di balkon ini, besok mungkin kau akan kembali ke balkon indahmu sendiri"
Raditya menangkap kesedihan dibalik ucapan Kinan. Andai Kinan tahu bahwa ia pun merasakan kesedihan di hatinya.
"Aku akan sering mengunjungi kedaimu"
"Jangan!" sergah Kinan.
"Kenapa?"
"Bu Nuri menganggapku menyukaimu dan berusaha untuk mendapatkanmu karena uangmu. Kalau kau mengunjungi kedaiku lagi ia akan semakin berpikir yang tidak-tidak. Lanjutkan saja hidupmu. Segeralah menikah dan..."
"Baiklah kalau kau tak mau melihatku lagi. Tak perlu membuat alasan."
"Aku tidak beralasan. Memang begitu adanya."
"Jangan-jangan kau memang menyukaiku" Raditya tersenyum dengan sedikit menggoda Kinan. Wanita itupun terpancing.
"Baiklah, ayo kita buktikan apakah aku benar menyukaimu atau tidak."
"Okay, Bagaimana caranya?"
Kinan berpikir sejenak lalu menemukan sebuah ide. Ia menyuruh Raditya untuk berdiri. Laki laki itu pun menurut saja. Kinan mendekati tubuh Radit dan mendongakkan kepalanya. Kinan memang harus mendongak ketika menatap wajah Radit, tinggi mereka selisihnya 20 cm.
"Aku akan memandangmu sedekat ini selama 30 detik. Kalau aku benar-benar menyukaimu aku tak akan kuat melakukannya. Aku type orang yang gugup menatap orang yang kusukai"
Raditya tertawa, namun Kinan seperti mencoba untuk serius. Dipandangnya wajah Radit lekat-lekat. Dimulai dari dahinya yang licin, alisnya yang tebal, lalu matanya yang biasa menatap dingin kini terlihat sayup. Mata yang baru saja kering dari derasnya air mata. Mata seseorang yang baru saja kehilangan orang yang sangat ia sayangi. Kinan menjadi melankolis hanya dengan melihat mata Raditya.
Tanpa ia sadari kedua tangannya dengan reflek meraih wajah Raditya. Telapak tangannya bisa merasakan dingin kedua pipi Radit. Raditya terdiam dengan kaku. Mencoba menahan gejolak yang membara dari dalam dirinya. Wajah Kinan begitu dekat saat ini.
Ia tak juga mengalihkan pandangannya, apa berarti dia tidak menyukaiku. Apakah ia tak gugup? Kenapa aku yang menjadi gugup? dan kenapa aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari bibirnya? Tahan Raditya..tahan, gumam Radit.
Perasaan apa ini? Apakah aku menyukainya? Kenapa hatiku begitu gugup. Namun aku tak mampu mengalihkan perhatianku pada matanya. Ia begitu menghipnotis ku. Sadarlah Kinan..sadar, gumam Kinan.
Kinan mendorong tubuh Radit dengan tiba-tiba. Radit yang belum siap menerima serangan itu jatuh ke lantai. Kinan menunduk dengan malu. Sesekali ia melirik Radit yang berdiri dengan menahan sakit.
"Wah kau ini.." Raditya menggerutu. Kinan tak menanggapi dan lantas pergi tanpa melihat Radit. Pipinya memerah seperti tomat. Ia malu sekali. Rasanya ia tak ingin melihat Radit esok hari.
...***...
Mau ngorbanin anakmu yg tinggal satu2nya ini ya Nyonya, demi status dan gengsimu?
Apa Shandy ingin memanfaatkan Shanju, utk mendapatkan uang dari orang tua Juliana?