NovelToon NovelToon
Cooking With Love

Cooking With Love

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / CEO / Tamat
Popularitas:991.7k
Nilai: 4.8
Nama Author: Neen@

"Dasar maling rasakan ini..!" Bugs..Bugs..Brakkk.. Jenar memukul maling itu dengan membabi buta. Setelah dirasa tidak ada pergerakan dari maling itu Jenar membuka mata.
"Whaaattt..! kenapa malingnya pakai jas rapi begini, jangan.. jangan dia tamu di restoran lagi, aduh bagaimana ini, lebih baik aku kabur saja"

Mahesa Jenar seorang gadis yang enerjik, penuh semangat, kecil, mungil dan sederhana yang bekerja sebagai asisten chef di sebuah restoran milik keluarga Akihiko.

Adam Athan Akihiko seorang pengusaha muda sekaligus pewaris tunggal Akihiko corporation yang banyak disukai gadis - gadis muda. Patah hati karena ditinggal kekasihnya Jesica yang seorang designer muda.

Karena suatu insiden harus memaksa mereka untuk selalu bertemu dan membuat suatu perjanjian. Apakah Jenar sanggup menghadapi Adam yang pemilih dalam hal makanan...

Hai perkenalkan aku Neen@
Ini adalah novel pertamaku, mudah - mudahan kalian suka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neen@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sepatu dan Perjanjian

Setelah melalui hari yang berat menguras emosi Jenar langsung ke mandi untuk menyegarkan pikiran. Karena ada Renovasi di restoran maka jam kerja hanya setengah hari saja. Restoran hanya melayani makan malam saja. Tujuannya agar pelanggan tidak merasa terganggu dengan renovasi tersebut.

Rencananya siang ini Jenar akan ke mall sebentar membeli sepatu. Sepatu yang selama ini menemaninya harus rela ia pensiunkan karena sudah berlubang dan solnya menipis.

"Heh jadi inget kejadian itu lagi deh." sambil memandangi sepatunya. "Kalau nggak karena tabrakan dengan pria angkuh dan sombong itu kamu nggak akan jebol." ucap Jenar sambil mengelus - elus sepatunya. Kemudian dia memasukkan sepatu itu kedalam kardus dan menaruhnya di belakang.

Beruntung kemarin chef Efendi memberikan bonus, lumayan lah buat beli sepatu dan sebagian bisa aku kirim ke ibu pikir Jenar. Dengan mengenakan celana Jeans belel, kaos putih di padukan dengan kemeja kotak - kotak warna merah maroon bergegas ia mengambil sepeda listrik kesayangannya menuju salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta.

Siang ini tidak begitu panas dan jalanan tidak macet. Suatu awal yang bagus.

Setelah sampai Jenar segera menuju ke toko sepatu. Dia memilih sepatu sneakers jenis plimsoll karena ringan dan nyaman dipakai. "Aduh kenapa mahal - mahal." gumam Jenar. "Sepertinya aku salah masuk toko."

"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan toko.

Pertanyaan itu mengagetkannya. "Eee.. saya mencari sepatu sneakers tapi yang diskon ada mbak?" ucap Jenar dengan nada lirih, takut kedengaran orang sekitar.

"Kebetulan bulan diskon sudah habis, silahkan cari dipasar saja kalau mau harga yang murah." jawab penjaga toko itu.

Duh jahat banget penjaga toko ini batin Jenar. Pembeli adalah raja setidaknya dilayani dengan baik tanpa harus berkata - kata yang menyakitkan. Tapi mau bagaimana lagi, uangnya tidak terlalu banyak.

Sementara itu di Hotel Akihiko

"Shawn temani aku ke pusat perbelanjaan sebentar sekalian makan siang." perintah Adam

"Baik pak." jawab Shawn

Dengan cepat Shawn mempersiapkan segala sesuatunya. Dengan menaiki Rolls Royce mereka menembus kepadatan kota Jakarta.

"Kita sudah sampai pak." ucap Shawn sambil membuka pintu mobil. Adam keluar dari mobil tentu saja mengundang kericuhan disekitarnya. Siapa yang tidak mengenal pengusaha muda yang menyabet banyak penghargaan, berwajah tampan dengan status single. Banyak gosip yang beredar bahwa Adam banyak dekat dengan model - model terkenal.

"Kita ke Hermes dulu ada yang mau aku beli, kosongkan tempat itu. Kau tahu aku tidak begitu suka keramaian."

"Baik pak." jawab Shawn dan mengikuti Adam dari belakang sambil menelepon.

Tiba - tiba langkah Adam terhenti. Dia melihat seseorang yang sangat dia kenal. Sambil tersenyum penuh arti Adam melangkahkan kakinya mendekati orang itu. "Lagi - lagi tuhan berada dipihakku Jenar." gumamnya.

Adam terus memperhatikan tingkah Jenar dalam memilih sepatu. Sementara Shawn keheranan karena ini diluar kebiasaan Adam yang tidak pernah mengubah rencananya. Kira - kira siapa orang yang berhasil mengalihkan perhatiannya.

"Ternyata orang pendek ukuran sepatunya kecil ya." ejeknya dibelakang Jenar.

Sialan siapa sih orang yang berani mengatakan aku pendek. Dengan emosi yang sudah memuncak Jenar membalikkan badannya "Heh! jangan semb___!" kata - katanya tercekat ditenggorokan setelah tahu siapa orang itu.

Aduh kenapa sih harus bertemu orang ini lagi. Sabar..sabar.. batin Jenar sambil meredam emosinya.

"Selamat siang pak Athan yang terhormat." ucap Jenar memaksa untuk tersenyum.

Shawn kaget mendengar gadis itu memanggil atasannya dengan nama Athan. Sejak kapan tuan Adam berganti nama menjadi Athan. Melihat gelagat Shawn yang ingin menjelaskan ke Jenar Adam segera mengangkat tangannya sebagai tanda untuk diam dan tidak ikut campur urusannya.

"Oh.. size 37, kecil sekali." kata Adam sambil mengambil sepatu itu dari tangan Jenar.

"Mohon maaf ya pak, kalau bapak mau sepatu ini minta size yang lain ke mbak nya. Yang ini mau saya beli." ucap Jenar sambil berusaha merebut sepatu yang dipegang Adam.

"Memangnya kenapa kalau saya mau yang ini?" ucap Adam sambil mengangkat sepatu itu tinggi - tinggi.

"Tidak bisa! disini yang size 37 hanya tinggal ini." jawab Jenar sambil berusaha melompat - lompat meraih sepatu yang dipegang Adam.

Aku harus mendapatkan sepatu itu tekadnya, cuma sepatu ini saja yang harganya pas dikantongku batin Jenar.

"Kenapa? tidak bisa ambil ya pendek sih." Adam dengan nada mengejek sambil tersenyum senang seperti anak kecil yang habis mendapatkan mainan baru.

Shawn yang melihat itu terdiam saja. Sepertinya pak Adam bisa kembali lagi menjadi pribadi yang hangat.

Sialan tinggi sekali sih orang ini batin Jenar sambil berusaha mengatur napas. Niat hati setelah membeli sepatu Jenar akan bersantai sejenak sambil mencuci mata tidak tahunya malah dikerjai seperti ini. Bukan Jenar namanya jika kehabisan akal. Tak lama kemudian dia mendapat ide.

Tiba - tiba Jenar naik ke kursi yang digunakan pembeli untuk mencoba sepatu.

"Hei! Apa yang kamu lakukan? nanti jatuh!" teriak Adam

Jenar tidak menghiraukan peringatan Adam dan tetap melancarkan aksinya. Setelah naik kursi, tinggi mereka menjadi sejajar. Kemudian Jenar mengambil ancang - ancang untuk melompat ke arah Adam merebut sepatu yang berada ditangannya.

Dan yang terjadi diluar perhitungan, Jenar menubruk tubuh Adam. Beruntung dengan sigap Adam bisa menangkap tubuh Jenar yang mungil. Dengan posisi saling berpelukan berhadapan. Sepatu di tangan Adam terlempar entah kemana, karena spontan memegang pinggang Jenar. Demikian juga dengan Jenar yang hampir jatuh segera dia menyilangkan kakinya memeluk pinggang Adam. Kejadian itu membuat Adam kaget. Hidung mereka beradu saling menempel, Adam bisa mencium aroma stroberry dari tubuh Jenar dan wangi cendana dari rambutnya. Jenar dan Adam terdiam sejenak saling tertegun satu sama lain. Setelah beberapa lama baru mereka saling menyadari bahwa posisi mereka ini terlalu dekat.

"Turun!" perintah Adam canggung.

"Maaf." ucap Jenar sambil turun dari tubuh Adam. Tapi entah mengapa setelah ia melepas tangannya tubuhnya tetap tidak bergeming sama sekali. "Kenapa tidak bisa? Apa nyangkut ya?" gumamnya keheranan.

"Kakimu pendek."

Sadar bahwa kakinya masih menyilang dan memeluk tubuh Adam, Jenar segera melepas kaitan kakinya. "Maaf."

Adam segera merapikan jasnya. Sambil menghela napas panjang untuk menetralkan debaran jantungnya. Kemudian dia melangkah mendekat dan berbisik ditelinga Jenar "Sampai bertemu lagi pendek." dan berlalu meninggalkan Jenar yang diam terpaku.

"Awas kau nanti!" Jenar mengepalkan tangannya. Dia segera berlalu meninggalkan toko sepatu karena malu.

Heh ini sih namanya bukan untung malah buntung batin Jenar. Lain kali saja aku kembali kesini, ini sudah terlanjur malu. Terpaksa nanti malam aku kerja pakai sepatu butut itu lagi. Ayo semangat Jenar, dia memberikan motivasi ke dirinya sendiri.

Sementara itu Adam terus berjalan, Shawn yang mengikutinya dari belakang tidak berani bertanya - tanya mengenai kejadian itu.

"Shawn." panggil Adam

"Ya pak." jawab Shawn sambil mensejajarkan langkahnya

"Kamu belikan sepatu sneakers yang bagus size 37. Aku tidak jadi ke Hermes." lanjutnya

"Baik pak." jawab Shawn tanpa banyak bertanya dan langsung menelepon seseorang untuk menyiapkan pesanan tuan Adam.

"Sudah saya pesankan pak, pesanan akan segera dikirim ke hotel."

"Bagus." ucap Adam puas dengan kinerja Shawn yang cekatan.

"Kita makan siang."

"Baik segera saya reservasi, bapak mau makan apa?"

"Sushi saja."

"Baik pak."

Mereka segera berjalan menuju restoran sushi yang cukup terkenal. Adam memang menyukai suasana direstoran ini. Terutama menu Chirashi dan Nigiri nya. Sangat kental dengan gaya kota Jepang dilengkapi dengan sake memberikan kenikmatan tersendiri.

"Dia tadi sudah makan belum ya?" gumam Adam sambil meneguk sake sedikit demi sedikit.

"Ya pak." jawab Shawn.

"Tidak apa - apa, kamu teruskan makan saja."

Adam kembali mengingat kejadian tadi, Jenar bertingkah seperti anak kecil, menggemaskan dan dia terlalu polos, apalagi tubuhnya begitu ringan jangan - jangan dia kurang gizi.

Menggodanya membuatku ketagihan seperti rasa sake ini nikmat sekali, Adam tersenyum dan itu membuat Shawn keheranan.

Tiba - tiba handphone Shawn berbunyi.

"Ya.. baik." jawabnya kemudian menutup teleponnya. "Maaf pak Adam sepatu yang bapak pesan sudah diantar dan di taruh di meja bapak."

"Kita kembali ke hotel sekarang."

"Baik pak."

Mereka berdua bergegas menuju hotel. Adam tak sabar melihat ekspresi Jenar melihat sepatu itu. Dia pasti tidak menyangka akan mendapatkan sepatu mahal yang mungkin seumur hidupnya tidak akan pernah bisa dia beli. Tapi wait kenapa aku jadi peduli dengan reaksinya nanti.

"Shawn, telepon Denisha suruh dia membawa berkas yang di taruh pak Zaky di atas meja dan sepatunya ke bawah. Kita nanti langsung ke rumah mang Udin." lanjutnya.

Shawn segera menelepon Denisha. Semuanya bisa ia selesaikan dengan cepat.

Setelah sampai di depan pintu utama hotel, Shawn turun dari mobil untuk mengambil berkas dan sepatu kemudian menyerahkan ke Adam

"Ini pak."

"Kita lanjut ke rumah mang Udin." perintahnya

Shawn melajukan mobil Roll Royce menuju rumah mang Udin. Terbersit pertanyaan di pikiran Shawn apa sepatu itu buat bik Ijah. Tapi mana muat bik Ijah postur tubuhnya jumbo. Ah sudahlah aku tidak perlu ikut campur. Selama perjalanan hanya ada kebisuan. Adam tipe pria yang tidak suka banyak bicara, oleh sebab itu banyak yang beranggapan bahwa dia pria yang angkuh. Setelah tiga puluh menit mereka sampai ke rumah mang Udin

"Kita sudah sampai pak."

Adam mengalihkan pandangan disebelah kanan tampak dua buah rumah yang satu berwarna hijau dan coklat pastel. Tak lama kemudian Shawn membuka pintu mobil. Adam segera turun menuju rumah berwarna coklat pastel yang didepannya terdapat sepeda listrik. Dia sudah pulang batin Adam.

Rumah siapa itu, kenapa pak Adam tidak ke rumah mang Udin batin Shawn. Rasa penasaran itu harus dia pendam dalam - dalam ia hanya tinggal mengikuti kemauan Adam tanpa banyak bertanya urusan atasannya itu.

"Tok..tok..tok..tok.."

"Iya sebentar." jawab seorang wanita dari dalam rumah.

Tak lama kemudian pintu terbuka. Tampak seorang gadis pendek dengan rambut disanggul asal - asalan memakai apron motif panda, persis seperti anak kecil.

"Pak Athan?" sapa Jenar dengan raut wajah kebingungan. Tanpa disuruh masuk Adam langsung duduk disofa panjang warna coklat tua. Sofa itu satu - satunya yang ada diruang tamu itu. Sambil meletakkan tas berisi sepatu di atas meja dia memberi kode agar Jenar mengambil tas itu.

"Apa ini pak?"

"Sepatu."

"Sepatu..?" tanya Jenar sambil membuka isi tas itu. Sebuah sepatu sneakres warna krem merk Gucci dengan size 37. Dalam hati Jenar berteriak gembira, iiihh bagus banget. Tapi karena gengsi dia meletakkan kembali sepatu itu.

"Bapak merasa bersalah karena kejadian tadi?"

"Jangan salah paham, itu karena aku tidak ingin kamu terlambat mengantarkan makanan dengan alasan sepatumu rusak."

"Heh" cibir Jenar. Aku kira mau minta maaf ternyata buat kepentingan dia juga batin Jenar. Kemudian meletakkan kembali sepatu itu diatas meja. Adam yang melihat tidak suka dengan sikapnya itu.

"Maaf ya pak, saya masih mampu membeli sendiri." jawab Jenar ketus.

Sambil tersenyum miring Adam menjawab "Oke kalau kamu tidak mau, perjanjian kita batal dan aku minta ganti rugi dikembalikan sekarang juga."

"What!" teriak Jenar. "Tunggu! tunggu." Jenar mengangkat kedua tangannya. "Oke..oke sepatu ini saya terima." lanjut Jenar. Dari pada banyak berdebat toh nanti juga dia yang kalah, Jenar memilih untuk menyerah.

"Bagus, sekarang baca ini." ucap Adam sambil menyerahkan berkas dari pengacaranya.

"Hadeh apa lagi ini?" ucap Jenar sambil bergumam. Jenar mengambil berkas tersebut dan membaca satu persatu. Tak berapa lama dia mengernyitkan alisnya tanda tidak puas dengan isi perjanjian ini.

"Maaf pak kenapa saya banyak dirugikan disini, contohnya point yang ke tiga. Bahwa pihak kedua akan menuruti semua kemauan pihak pertama. Padahal disini saya cuma membuat masakan untuk bapak, kemauan yang bagaimana ini maksudnya?" tanya Jenar

"Yah.. aku berhak meminta menu sesuai dengan seleraku dan kamu harus mengantarkannya setiap saat aku mau makan." jelas Adam

"Wah..wah ini melanggar HAM pak, mengekang kebebasan saya apalagi saya punya pekerjaan tidak mungkin saya ijin keluar terus bisa - bisa saya dipecat." jawab Jenar dengan nada meninggi.

"Kamu tenang saja, aku tahu kamu bekerja. Aku jamin hal ini tidak menganggu kerja kamu." jawab Adam dengan nada penekanan.

"Baiklah.." ucap Jenar menyetujui. "Dimana saya harus tanda tangan?"

Adam menunjuk dan menyerahkan balpoint. "Cantumkan no HP mu." perintah Adam. Jenar menjawab dengan anggukan. Kontrak perjanjian pembayaran hutang telah selesai dilaksanakan.

"Nah sudah selesai kan, bapak bisa pulang." ucap Jenar sambil mengangkat tangannya menunjuk arah pintu keluar. "Saya mau melanjutkan kegiatan saya."

"Kamu memasak?" tanya Adam

"Ya." Jawab Jenar dengan malas.

"Kalau begitu sebagai tanda jadi kontrak kita, aku akan makan disini." tanpa menunggu persetujuan yang punya rumah Adam beranjak masuk menuju meja makan.

Ini orang kenapa percaya dirinya tinggi sekali ya, main nyelonong aja masuk batin Jenar sambil menepuk jidatnya.

"Masakan saya terlalu sederhana pak, cuman pokcoy siram jamur dan tahu goreng."

"Tidak masalah." jawab adam tanpa menghiraukan Jenar. Ia kemudian memberikan intruksi untuk melayaninya.

Jenar segera mengambil piring, nasi, sayur dan lauknya. Dia pikir aku ini pembantu apa, tenang Jenar ini cuma tiga bulan saja batin Jenar untuk meredam emosinya.

Adam memperhatikan Jenar dengan seksama. Gadis ini walaupun kecil tapi semangatnya tinggi. Apa karena tuntutan hidup dan dia hanya berdua saja dengan ibunya sehingga diusianya yang harusnya bersenang - senang dengan temannya dia malah sibuk bekerja. Kalau diperhatikan lagi walaupun dia tidak begitu cantik tapi imut dan menggemaskan apalagi ketika bibirnya manyun. Aroma stroberry di tubuhnya dan cendana dirambutnya kenapa sangat membuat aku penasaran untuk menciumnya.

"Silahkan dimakan pak." suara Jenar membuyarkan lamunannya. Tanpa berkata apa - apa Adam segera menyuapkan nasi kedalam mulutnya. Seperti yang dia duga rasanya sangat lezat seperti biasanya, pas dilidah Adam.

Setelah selesai Adam segera bergegas menuju pintu keluar, tapi tiba - tiba langkahnya terhenti karena suara Jenar.

"Bapak tidak ada yang lupa?"

"Maksudmu?"

"Yah bilang terima kasih gitu karena sudah makan ditempat saya."

"Jangan ngelunjak ya kamu!"

"Heheheheh.." Jenar tersenyum sambil menggaruk kepalanya "Hati - hati dijalan pak Athan yang terhormat." lanjutnya sambil membungkuk.

Melihat tingkahnya itu Adam kembali kearah Jenar sambil membisikkan sesuatu ditelinga ya "Jangan senang dulu, kita lihat besok pendek." Mendengar bisikan itu Jenar tergidik ngeri. Adam tersenyum miring sambil kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Jenar yang terdiam mematung. Tidak..tidak batin Jenar sambil menggeleng - gelengkan kepala, tuhan tolong aku....

🍁🍁🍁🍁

1
Mora
Maaf ga bagis
Mora
BAB AWAL ADAM DAN SHAWN FIBUAT SANGAT PINTAR TELITI HATI2 TAPI BAB TEBGAH KE BELAKANG MEREKA JADI IRANG BODOH !!
Mora
authornya ga fokus melihat bab2nya makin kesini Shawn dan Adam jadi bodoh
Mora
😄😄😄😄😄😄😄
Mora
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Trimulyati Trimountea
pria idaman bgt
Yenni Ajah Lah
Luar biasa
bunda DF 💞
luar biasaaa,, suka bgt sm ceritanyaa
nina widanarti: mksh dukungannya..🥰
total 1 replies
Ida Rodiah
karya yang sangat menarik
Esih Mulyasih
Luar biasa
Esih Mulyasih
Lumayan
yurrimm
sama aja pemerkosaan siiih ini jatoh nya walaupun di akhir si cewe kenikmatan juga, jangan di normalisasi kan yaaa semua.

kita berhak nolak, apalagi case yang kayak gini sangat berhak buat nolak
Aisyah Isyah66
Luar biasa
Nada Sunaryo
perasaan 20x15 mah termasuk gede lah Thor😁😆. perumahan type 36 aja kalah ituuu🤭
altanum
ceritanya menarik banget diawal2....
maaf mengkritik sedikit y thor, mendekati ending konflik nya terlalu dipaksakan jd feelnya mlah tidak mengena.
terus semangat berkarya thor...,❤️❤️❤️
nina widanarti: iya.. terima kasih dukungan dan masukannya.. bisa menjadikan motivasi utk trs berkarya..🥰
total 1 replies
Mei Wulandari
malahh turuu to dam dam,😪
Mei Wulandari
suami durhakim
Mei Wulandari
kekellll ak thor
Roslina. Rafidzi
Luar biasa
Mei Wulandari
busukkk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!