Mami mami,dimana papi?
mami mami, bawa kami kepada papi..
..
..
Melelahkan menjadi orangtua tunggal.
apalagi harus mengasuh dan merawat dua anak kembar.
mereka sudah tumbuh besar,aku harus siapkan banyak jawaban untuk mereka.
mereka selalu bertanya dimana papi? siapa papi? dan kenapa papi pergi?
sungguh aku bingung,mau jawab apa..
..
..
aku terkejut saat aku mendengar,anak anakku berdoa dan meminta agar papinya kembali kerumah hidup bersama sama dengan bahagia..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dea Anggie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAD - CLYDK S2
♡♡♡♡
~Rumah Sakit
☆Alberto☆
Aku menggendong anakku karren dalam pelukanku.
Karren senang sekali,dia dengan manja besandar di bahuku.
Aku berjalan perlahan menuju ruang VIP.
Karren: papi, apakah papi tau, semua mama teman sekolahku menyukai papi.
Bibi bibi itu bilang papi sangat tampan.
(tertawa)
Alberto: hmm.. tentu saja sayangku, jika papi jelek, mami tidak akan mau dengan papi (tersenyum)
Karren: benar benar, mami pernah disukai guruku diselah lama, mami menolak.
mami bilang hanya papi yang terbaik.
Dan hanya papi yang ada dalam hati mami.
Tidak tergantikan. (memeluk erat)
Alberto: oh gadis kecilku, papi menyayangimu (mengusap lembut dan mencium pipi karren)
Dalam hati papi juga selalu ada mami.
Dan sekrang ada kalian, dua anak papi yang tampan dan cantik.
(memeluk erat)
Karren: papi Darren kapan bisa pulang??
Alberto: mami bilang pada papi,nanti sore setelah pemeriksaan terakhir.
Nanti papi antar kalian pulang ya.
Karren: papi akan tidur dirumah nanti malam??
Alberto: tentu saja, jika tidak dirumah bersama kalian maka papi tidak akan bisa tidur nyenyak.
Kareen: yee... aku senang sekali, aku menyayangimu papi(mencium pipi Alberto)
Alberto: papi juga sayang.
Aku dan Karren sudah di depan pintu,saat aku ingin buka pintu, aku dengar bibi Lin sedang bicara dengan seseorang.
Aku dekatkan telingaku ke pintu,mendengar dengan seksama.
Aku menempelkan jari telunjuk tanganku di mulutku untuk memberitahu Karren agar tidak bersuara.
Karren mengangguk tanda mengerti.
Mataku terbelalak, suara Alberto.
Ternayata benar apa kata Boby, dia benar benar disini.
Aku mendengar bibi lin ingin bersuara, dengan cepat aku membuka pintu.
Alberto: Akulah papanya
Aku menatap tajam Dominic, Dominic langsung kagey dan berdiri dari tempat duduknya.
Begitu pula bibi Lin.
Aku sangat kesal, beraninya dia bicara didepan anakku hal yang tidak pantas.
Aku menurunkan Karren dan menyuruh Bibi Lin membawa masuk.
Karren dan Bibi Lin sudah masuk.
Kini hanya tinggal aku dan Dia "Dominic"
Alberto: kau,kenapa datang ke sini??
kau tidak di ijinkan masuk ke kamar ini (kesal)
Dominic: oh ya, sayang sekali.
Hai kawan ku, kau tidak perlu kesal padaku.
Akulah yang seharusnya kesal padamu.
(menarik kerah baju Alberto dan mencengkram kuat)
kau berani melakukannya dengan Janice hah??
kau tidak tahu malu, kau merusak pernikahan sahabatmu sendiri.
Alberto: (melaepas cengkraman Dominic dan merapikan kemejanya) kau bilang sahabat??
jika kau sahabatku, kau tidak akan mengecewakannku.
Kau hanya berani mengancam Janice.
Dominic: ya, kau benar aku hanya bisa mengancam.
tapi aku bukan pengecut sepertimu yang bahkan tidak peduli jika wanitanya hamil.
Alberto: keluarlah,aku tidak mau berdebat denganmu.
Dominic: kau ingatlah baik baik.
selamanya aku tidak akan lepaskan Janice.
Janice adalah anggota keluarga Sanjaya,keluarga yang sudah membunuh orang tuaku.
Aku kaget,mataku menatap Dominic yang penuh dendam.
Aku hanya bisa diam, belum waktunya untuk memberitahukan bahwa bukan Peter sanjaya lah yang membunuh orangtuanya.
Tetapi saudara kembar peter,yaitu patrick.
yang entah dimana keberadaanya.
Aku hanya bisa menemukannya lewat Grace.
karena Grace pernah menyebut nama Patrick saat bertemu denganku pertama kali.
Alberto: kau sungguh mengira keluarga Janice pelakunya??
kau punya buktinya??
Dominic: bukti?? perlu bukti apa lagi?? jelas jelas ada saksi mata yang melihat Peter sanjaya keluar dari perusahaan papaku.
Alberto: haih.. aku tak bisa bicara lagi.
hanya bisa mendengarnya bercerita panjang×lebar.
(dalam hati)
Alberto: pergilah.. (bicara pelan)
Dominic: kau disini?? bukankah kau seharusnya dengan tunanganmu nona Grace??
bagaimana jika dia tahu kau sudah memiliki anak hah?? (tertawa jahat)
Alberto: (kaget dan kesal) tutup mulutmu Dom! jangan buat aku menjadi orang jahat.
Dominic: jika kau tidak ingin rahasiamu bocor.
baik baiklah padamu mulai saat ini.
(menepuk bahu Alberto, dan berjalan kemudian berhenti)
Dan ya.. anak anakmu sangat tampan dan cantik, semua mirip denganmu.
Aku akui pesonamu sungguh luar biasa.
Dan kau hebat (berjalan keluar kamar)
Aku kesal,aku memukul dinding di sampingku.
Bagaimana ini? Dominic tau, akankah dia bocorkan rahasiaku?
Anak anak akan terluka dan pasti dalam bahaya.
Grace mempunyai kekuatan besar dan pamannya adalah seorang mafia besar.
Rasanya kepalaku ingin meledak.
Apa yang harus aku lakukan??
Aku malingkan wajahku,melihat Karren yang mengintip di balik dinding.
Aku menatap Kareen dan tersenyum.
Alberto: kemarilah sayang,(merentangkan tangan)
Karren: papi (berlari memeluk) papi baik? paman tadi apakah orang jahat? benarkah paman tadi suami mami? bukan papi?
Alberto: (memeluk erat) sayang papi baik,oke.
(melepas pelukan) dengar baik baik, paman tadi bukan orang jahat, hanya paman tadi kesal karena sesuatu yang membuatnya membenci papi dan mami.
Karren sayang dengar,(menggenggam erat tangan Karren) apapun yang terjadi Karren harus percaya dengan papi,oke??
Apapun yang Karren lihat dan dengar tentang papi, ingatlah papi tidak akan pergi meninggalkan Kalian, Mami, Darren dan Karren.
Karren: aku mengerti papi, aku akan ingat itu.
papi aku selalu percaya padamu.
(memeluk erat)
Alberto: baik, duduk yang manis ya, paman Boby akan datang bawa makanan.
Tunggulah di dalam, dan panggilkan bibi Lin kelauar,papi ingin bicara, oke??
Karen: baik papi. (pergi berjalan masuk kamar)
Aku duduk disofa dan menyabdarkan badanku.
Kepalaku sakit sekali.
Bibi Lin keluar dan mendekatiku.
Alberto: duduklah bi, tidak perlu takut! Aku tidak akan marah. (bicara lembut)
Bibi Lin: maaf Tuan, saya tidak bermaksud membuat masalah (dudul dan menunduk)
Alberto: oke bi, tidak apa. cepat atau lambat memang harus kita buka rahasian ini.
Bibi Lin: ada yang perlu saya lakukan tuan??
Alberto: jagalah anak anak dengan baik bi, karena aku akan sibuk dalam beberapa bulan kedepan.
mungkin aku tidak bisa datang atau menghuabungi kalian.
Ingatlah bi, aku sangat mencintai mereka Janice Dan si kembar.
bibi jaga juga Janice.
Maaf bi, mungkin ini akan menyulitkanmu.
Bibi pasti sudah dengar apa yang kami bicarakan tadi.
Bibi Lin: saya tau tuan.
Alberto: aku harus bersihkan nama paman Peter.
Dia hanya korban, dan musuh yang sebenarnya masih berkeliaran.
Bibi Lin: baik tuan, tuan tanang saja.
Saya sangat percaya tuan melakukan yang terbaik untuk Nyonya dan anak anak.
Alberto: terimakadih bi, kau sungguh baik.
Aku hanya bisa berharap bibi Lin mengerti maksudku, aku tidak bisa sepenuhnya bercerita.
sebelum kebenaran terungkap,aku tidak akan menyerah begitu saja.
♡♡♡♡
☆Janice☆
aku lihat jam tanganku, hmm.. kemana narasumber yang ingin wawancara dengan kami.
lama sekali,sudah pukul 3 lewat 5 menit.
Jane: bersabarlah len, (tersenyum cantik)
Leny: iya nona, saya hanya gugup. ini pertama kalinya.
Aku dan Leny menunggun di ruang tunggu, perusahaan W.
Kami sudah datang dari setengah jam yang lalu.
Aku membantu Leny anak magang baru untuk sesi wawancara.
Karena seniornya sedang sedang ada diluar kota untuk meliput berita.
Dan juga untuk pengalamanku,aku belum banyak pengalamn tentang dunia hiburan.
Aku paham tentang seni,tetapi tidak terlalu mengenal dunia hiburan.
Pintu ruangan terbuka, aku tersenyum lebar dan berdiri.
Aku menundukan kepala dan mengankat kepalau lalu menatap oranga di hadapanku.
Mataku seakan mau keluar,aku terdiam seperti orang bisu.
Senyumku menghilang ditelan kepanikkanku.
Aku bertemu Dominic.
Dominic menatapku dan tersenyum tampan.
Dominic: silahkan duduk, kalian dari Nice Entertaiment??
Leny: iya benar, saya Leny wartawan magang, dan ini adalah sekertaris perusahaan Nice Entertaiment nona Zhao.
(Leny berdiri dan memperkwnalkan dirinya dan Jane)
Dominic: (menatap Jane) nona Zhao??
Jane: (menunduk) saya Zhao Yu Mei, senang berjumpa dengan anda.
Mohon kerjasamanya.
Dominic: baik baik, melihat anda saya menjadi teringat akan istri saya nona Zhao,(tersenyum)
Aku hanya mengangguk dan tersenyum canggung.
Bisa bisanya pria ini bicara seperti itu didepan anak magang.
Tidak tahu malu sekali.
Jane: ahh iya tuan,saya mengerti maksdud anda.
Anda pasti sangat mencintai istri anda nona Rossa dan mencintai putra anda Tuan muda Deric.(tersenyum canggung)
Leny akan melakukan sesi wawancaranya dan saya hanya menami.
Saya tidak akan menganggu, silahkan dimulai.
Aku berdiri dan sedikit menjauh,aku duduk disofa yang bekakang meja mereka.
Aku melihat Dominic sesekali melihatku.
Aku memalingkan wajahku seakan tidak mekihat.
Dia memang pernah jadi suamiku,tapi aku tidak mencintainya.
Aku mendengar Leny mulai memberikan bebeberapa pertanyaan.
Leny: pertanyaan berikutnya tuan, sebenarnya wanita seperti apa yang anda impikan??
Dominic: (menatap Jane yang ada dibelakang Leny)
Wanita baik dan lembut, cantik atau tidak bukan masalah.
Yang terpenting dia bukan seorang pembohong dan penipu.(menekan kata katanya)
Aku kaget,aku menelan air ludahku dan mengatur nafasku.
Dominic benar benar ingin membuat aku kesal.
Aku memang salah,tapi apa haknya bicara seperti itu.
Jika tau narasumber kami adalah Dominic aku akan cari orang lain untuk menggantikannku.
Aku terlalu banyak perkerjaan tadi sehingga tidak sempat bertanya pada Leny,bahkan tadi aku dan Leny berangkat terpisah dari kantor.
Mana aku tau jika akan bertemu.
Tuhan,apakah ini hukuman??
Aku benar benar ingin ini segera berakhir.
Aku kaget saat Leny tiba tiba berdiri dan menghampiriku,
Leny berbisik padaku,
Leny: Nona, gantikan aku, aku rasa aku tidak bisa lanjutkan.
Perutku kram, karena aku sedang datang bulan.
Aku terdiam,dan kaget. Aku ingin menolak tapi ini penting untuk laporan perusahaan.
Bagaimna ini??
Apa yang harus aku lakukan, Sungguh rasanya aku ingin menempeli wajahku dengan topeng.
Jane: kau baik baik saja??
bisa menungguku disini?? (berbisik)
Leny: aku rasa tidak, aku sepertinya harus ke dokter, ini sangat sakit. (memegang perut)
Aku wanita, aku juga pernah sakit saat awal datng bulan dulu waktu masih sekolah.
Jadi aku tau rasanya.
Aku terpaksa melepas kepergian Leny.
Aku harus berjuang menghadapi sianga didepanku.
Ayo Jane,semangat..
Jane: baik,kau pulanglah beristirahat sepulang dari dokter.
Leny: terimaksih nona Zhao maaf merepotkan.
Leny menundukan kepala kilas kepada Dominc.
Dan keluar dari ruangan.
Aku hanya terdiam seperti patung.
Bingung harus apa.
Dominic: Nona Janice(Jane menatap Dominic)
oh maaf maksduku nona Zhao, bisakah kita lanjutkan?? masih banyak pertanyaan yang perlu di jawab.(mengangkat selembar kertas)
Aku menghela nafasku panjang, berjalan mendekati kursi dihadapan Dominic dan duduk.
Dominic tersenyum padaku.
Aku merasa orang ini berniat buruk.
Jane: ehem.. baik tuan Willy,mari kita lanjutkan.
Dominic: baik,silahkan.
Aku melihat kertas, dan melihat tanda di setiap tulisan.
Ah aku mengeti, Leny sudah menandai dan menulis jawaban dari pertanyaan yang sudah dijawab oleh Dominic.
sekarang aku akan lanjutkan.
Aku membaca pertanyaan berikutnya.
Jane: kapan anda mulai jatuh cinta??
Dominic: hmm.. bagaimna ya,itu hanya cerita lama.
tapi aku dulu pernah bertaruh dengan sahabatku.
Aku dan sahabatku memang baru mengenal beberapa tahun saat kami ada di sekolah.
Kami bertaruh memperebutkan seorang wanita yang aku kenal saat usiaku 13 tahun.
Wanita cantik,pintar dan baik hati.
Aku sudah menyukai wanita itu dari dulu, dari kecil saat aku menyelamatkannya dari gangguan beberapa bocah.
Jane: baik, lalu pertanyaan selanjutnya.
Apakah anda masih menyimpan rasa pada cinta ada itu??
Dominic: ya yentu, awalnya aku sangat mengaguminya tapi sekarang tidak.
untuk apa mencintai wanita, yang ayahnya seorang pembunuh dan mencintai wanita pembohong.
Jane: bisakah anada tidak bersikap berlebihan tuan Willy??
Dominic: apa ada masalah?? itu memang kenyataan.
Apa aku perlu memberitahu identititas wanita itu??
bahkan cintaku sudah hamil dengan pria lain saat menikah denganku.
Aku sangat kesal,aku memukul meja di depanku.
Amarahku sudah diujung tanduk.
Jane: maaf tuan,kita tunda saja sesi wawancara kita.
Ini bukan tugas saya juga, saya akan kirim pengganti.
Dominic berdiri dan mendekatiku, Aku terdiam.
Aku takut dia melakukan hal aneh.
Perlahan aku memundurkan kursiku, Dominic menarik kursiku mendekat dan mendekatkan wajahnya padaku.
Aku menatap dalam matanya,matanya penuh kebencian.
Jane: maaf tuan,lebih baik saya pergi sekarang.
Aku mendorongnya jauh dan berdiri.
Aku merapikan berkas diatas meja.
Dominic menarikku dan menciumku paksa.
Jane: umh..
Aku memukul bahunya kuat,berharap dia melepaskanku.
Aku tidak bisa bernafas.
sesak sekali.
Dominic menatapku dingin dan terus ******* bibirku.
Air mataku mengalir,Tak lama Dominic melepas ciumannya dan memelukku.
Aku mendorongnya,aku mengusap bibirku dengan tanganku.
Jane: Aku membencimu Dom, selamanya aku akan membencimu.
Aku berjalan keluar ruangan, Aku tak bisa berkata kata.
Apa ini? Dominic berani sekali menciumku.
bibirku sedikit sakit,apa terluka?? ini semua karena Dominic gila itu.
Aku menutup mulutku dan berlari keluar kantor Dominic.
☆Dominic☆
Aku terus menatap Janice yang ada dibelakang wartawan magang didepanku.
Aku jawab beberapa pertanyaan darinya.
Dia sedikit aneh.
Tiba tiba berbicara pelan padaku,
Leny: maaf tuan, saya ada sedikit masalah.
saya minta waktu sebentar.
Aku hanya mengangguk,mengiyakan.
Melihat nya memegang perut,antara sakit perut atau keluhan tamunyang datang untuk para wanita.
Aku tak pedulikan mereka membahas apa.
Pikiranku hanya tetuju pada Janice.
Dia sangat cantik, jauh lebih cantik saat jadi istriku dulu.
Mungkin karena dia sudah dewasa sekarang, bahkan dia terlihat seperti seorang yang belum menikah dan meiliki anak.
Kulitnya tetap putih seperti dulu,lesung pipinya.
Aku melihat dia terkejut saat berbicara dengan anak baru itu.
Terlihat sedikit kesal juga, Anak baru tiba tiba menatapku dan pergi.
Ah benar pasti sedang sakit.
Melihat janice di seperti patung aku menjadi ada ide untuk menggodanya.
Aku senang bisa bertemu lagi dengannya.
Apalagi melihatnya baik baik saja.
Aku terus memancing amarahnya.
Semakin marah dia terlihat semakin menggoda.
Aku semakin tertarik.
Melihat pesona kecanyikannya.
Saat aku melihat Janice aku melihat bayangan Alberto.
Sungguh membuatku kesal.
Semua salahku,andai saja dulu tidak bertaruh dengan Alberto.
Janice pasti akan menjadi milikku.
Aku berbohong jika aku tak mencintai Janice dan menyayangi Janice.
Meski papinya membunuh orantuaku aku tidak akan pernah membencinya.
Aku jahat padanya hanya untuk menggertak orangtuanya saja.
Darahku mendidih saat aku mendekatkan wajahku padanya.
Aku melihat,dia ketakutan.
Lagi lagi bayangan Alberto muncul.
Aku benar benar benci.
pikiranku melayang kemana mana,membayangkan Bagaimana Alberto bermesraan dengannya di ranjang.
Aku menarik tanganya yang sedang merapikan kertas diatas meja.
Aku mencium bibirnya lembut,merakana manis bibirnya membutaku bergairah.
Desahannya.. sungguh membuatku mabuk.
Aku ******* bibirnya dia semakin berontak,semakin aku kuatkan lumatanku.
Dia pun menangis,air matanya keluar.
Aku hentikan lumatanku dan aku lepas ciumanku.
Aku memeluknya.
Ingin aku mengatakan kata maaf,namun bibirku hanya diam membisu.
Dia mendorongku,aku melihatnya mengusap bibirnya.
Aku melihat bibirnya merah,dia menatapku tajam seakan ingin membunuhku.
"Aku membencimu Dominic"
kata kata itu langsung menusuk jantungku.
Jatungku langsung berhenti berdetak.
Aku tidak bisa mdlihat wanita yang sangat aku cintai membenciku.
Aku memang bodoh, membiarkannya pergi saat itu.
Namun kali ini aku juga harus biarkan dia pergi dari hadapanku.
Sungguh hatiku sangat sakit.
Aku seperti orang yang ingin mati sekarang.
Aku ingin mengejarnya,tapi percuma saja.
Dia tidak akan percaya lagi padaku.
Banyak kesalahan yang aku lakukan paodanya.
Menyakiti hatinya, melukai tubuhnya.
Maaf Janice, aku mencintaimu.
Sangat mencintaimu, tapi sepertinya caraku salah.
Sehingga membuatmu semakin membenciku.
Aku duduk di sofa, menyandarkan badanku.
Aku melonggarkan dasiku,membuka kanving kemejaku paling atas.
Aku menutup mataku.
Bodonya aku kenapa tidak pernah bersikap baik padanya.
Kenapa aku membuatanya membenciku dipertmuan pertama kali setelah kejadian 7 tahun lalu.
Sungguh menyebalkan.
Dominic: ahhh..... bodoh bodoh bodoh!!
Aku mengacak acak rambutku.
sekarang aku sudah seperti orang gila.
berharap betemu setalah sekian lama.
Aku bahkan terus mencarinya tanpa ada yang tahu.
ternyata dia sudah mengubah identitasnya.
Setelah bertemu aku bahkan tidak bisa menahan diri.
(Selamat Membaca😉)
novelnya bagus tapi yang kurang lagi2 susah benar buat pemeran utama wanita yang berjuang untuk dapat maaf dan kesempatan pada pemeran utama dalam pria
kebanyak novel pemeran utama pria dibuat kayak karakter bodoh ditolak dan disakiti tapi terus saja kejar pemwran utama wanita kayak tidak ada wanita lain saja