Sebuah pernikahan yang berdiri di atas pilar rasa utang budi, bukan cinta. Nindya menerima lamaran Haris karena takdir mempertemukan mereka dalam tragedi berdarah yang hampir merenggut nyawa Haris—dimana Nindya bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu dan dikaruniai seorang putra yang menggemaskan, Nindya harus menelan kenyataan pahit: rasa terima kasih Haris tidak pernah berubah menjadi cinta. Di balik dinding rumah tangga mereka yang dingin, Haris masih menyimpan bayang-bayang masa lalunya bersama wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkas Merah Dimeja Pengacara
Pagi berganti dengan cepat. Nindya menjalani rutinitasnya seperti biasa, menyiapkan Arka untuk sekolah lalu berangkat ke toko emas eksklusif tempatnya bekerja. Setelah menyerahkan beberapa dokumen laporan penjualan kemarin kepada Pak Hendra, Nindya mengambil posisinya di balik etalase kaca yang berkilau.
Sekitar pukul sebelas siang, ketika toko mulai didatangi beberapa pengunjung, langkah kaki dengan tumit tinggi berdenting keras di atas lantai marmer. Nindya mendongak dan melihat Siska berjalan menghampirinya dengan dagu terangkat tinggi dan wajah dipenuhi senyum kepuasan yang jemawa.
Siska berhenti tepat di depan etalase tempat Nindya berdiri. Ia menatap Nindya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan.
"Selamat pagi, Mbak Nindya," sapa Siska dengan nada suara manis yang dibuat-buat, terkesan begitu mengejek.
Nindya merapikan posisi berdirinya, mempertahankan raut wajah yang tetap tenang, anggun, dan tak tersentuh. "Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?"
Siska terkekeh pelan, seolah candaan Nindya begitu lucu baginya. Tanpa mengulur waktu lagi, Siska merogoh tas tangannya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah marun. Dengan gerakan dramatis, ia meletakkan kotak itu tepat di atas meja kaca di hadapan Nindya.
"Aku punya hadiah kecil buat Mbak Nindya. Anggap saja ini ucapan terima kasih karena Mbak sudah merawat Mas Haris selama ini," ujar Siska sembari menggeser kotak tersebut mendekati Nindya.
Nindya menatap kotak itu sejenak, lalu perlahan membukanya. Di dalam kotak beludru merah tersebut, terbaring dua benda: sebuah testpack dengan dua garis merah yang sangat jelas, serta lembaran foto hasil USG kandungan yang menunjukkan usia kehamilan muda.
Siska menyilangkan dadanya, tersenyum lebar dengan mata berbinar puas, merasa telah berhasil menghancurkan mental dan harga diri Nindya. "Aku sedang mengandung anak Mas Haris, Mbak. Mas Haris sangat bahagia waktu tahu kabar ini tadi pagi. Jadi, kurasa Mbak Nindya tahu diri dan sadar posisi, kan? Mas Haris sebentar lagi akan meninggalkanku dan memilih keluargaku yang baru."
Siska menunggu reaksi emosional—tangisan, amukan, atau histeria dari seorang istri sah yang dikhianati. Namun, apa yang ia harapkan sama sekali tidak terjadi.
Nindya menatap testpack dan kertas USG tersebut, lalu menyunggingkan senyum tipis yang begitu dingin dan elegan. Di dalam hatinya, Nindya justru berseru lega: 'Tanpa perlu kucari, bukti pamungkas ini malah datang menyerahkan diri secara sukarela.'
Nindya mengambil foto USG tersebut dengan ujung jemarinya, memperhatikannya sebentar, lalu menutup kembali kotak merah itu dengan sangat rapi. Ia menatap lurus ke dalam mata Siska dengan aura dominansi yang membuat senyum kepuasan Siska perlahan menyusut bingung.
"Terima kasih banyak atas hadiahnya, Siska," ucap Nindya dengan nada suara yang sangat tenang dan ramah, seolah baru saja menerima bingkisan ucapan selamat. "Dokumen dan bukti ini akan sangat berguna untuk melengkapi berkas gugatan ceraiku di Pengadilan Agama sore nanti."
Wajah Siska seketika berubah pucat. "A-apa maksudmu?!"
Nindya mengantongi kotak merah itu ke dalam saku blazernya, lalu menatap Siska dengan senyum kemenangan yang tak tergoyahkan. "Maksudku, kamu baru saja menyerahkan bukti perzinahan dan pengakuan anak yang sempurna tanpa perlu merepotkan tim pengacaraku. Selamat atas kehamilanmu, dan bersiaplah menemani Haris menghadapi sidang perceraian serta kehancuran kariernya."
Mata Siska terbelalak lebar. Bibirnya yang beroleskan lipstik menyala mendadak kelu, tak mampu menyusun satu kata pun untuk membalas ucapan Nindya. Kepercayaan diri dan rasa puas yang tadinya meluap-luap seketika hancur berkeping-keping, berganti dengan kepanikan luar biasa.
Ia baru saja menyadari kebodohannya: bukannya membuat Nindya hancur dan memohon, ia justru menyerahkan bukti kunci perzinahan yang paling nyata secara cuma-cuma!
Tanpa mengucap sepatah kata pun, dengan wajah pucat pasi dan nafas memburu, Siska berbalik dan hampir tersandung jalannya sendiri. Ia bergegas berlari keluar dari toko emas tersebut, meninggalkan Nindya yang berdiri anggun dengan senyum dingin yang menawan.
Siang hari tiba, jam kerja Nindya berakhir tepat waktu. Ia menjemput Arka dari sekolah, memastikan putra kecilnya makan siang dan beristirahat dengan aman di rumah bersama pengasuhnya. Setelah memastikan semuanya terkendali, Nindya kembali memacu mobil putihnya menuju kantor hukum Pak Lukas.
Di dalam ruang kerja berpanel kayu yang hangat, Pak Lukas dan Noval sudah menunggu. Nindya melangkah masuk, duduk di kursi berhadapan dengan kedua pria tersebut, lalu dengan gerakan tenang mengeluarkan kotak merah marun dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja.
Pak Lukas membuka kotak tersebut. Matanya membelalak kagum saat melihat testpack dua garis dan kertas foto USG di dalamnya.
"Luar biasa..." gumam Pak Lukas sembari menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. "Siska sendiri yang menyerahkan ini kepadamu, Bu Nindya?"
"Iya, Pak Lukas. Dia datang ke toko emas tempat saya bekerja tadi siang untuk memamerkannya," jawab Nindya dengan nada tenang. "Dia pikir ini akan membuat saya hancur, padahal ini adalah paku terakhir untuk peti mati kasus Haris."
Noval terkekeh pelan, menatap Nindya dengan rasa bangga yang tak tertutup. "Senjata makan tuan. Kebodohan dan kesombongan mereka benar-benar mempercepat proses ini."
Pak Lukas segera mengambil beberapa lembar dokumen tebal berstempel dari dalam mapnya. Dokumen itu berisi draft final Gugatan Cerai, tuntutan Hak Asuh Anak penuh, pembekuan aset bersama, serta lampiran seluruh bukti pelanggaran hukum dan perselingkuhan Haris.
"Semua bukti sudah 100% sempurna dan tak terbantahkan, Bu Nindya," ujar Pak Lukas mantap. Ia menggeser lembaran surat gugatan tersebut ke hadapan Nindya bersama sebuah pulpen eksklusif. "Ini adalah Surat Gugatan Cerai dan draf kesepakatan. Haris harus menandatangani dokumen ini, atau seluruh bukti perzinahan dan kehamilannya akan langsung kami limpahkan ke jajaran direksi perusahaannya serta ke kepolisian atas tuduhan perzinahan."
Nindya mengambil pulpen tersebut. Tangannya tidak bergetar sedikit pun saat membubuhkan tanda tangannya di atas materai. Ada rasa lega luar biasa yang mengalir di sekujur tubuhnya.
Nindya mengambil berkas gugatan yang dialamatkan untuk Haris dan memasukannya ke dalam map rapi.
"Malam ini, aku sendiri yang akan menyerahkan surat ini pada Haris," tegas Nindya dengan sorot mata sekeras baja. "Aku ingin melihat sendiri bagaimana wajahnya saat menyadari bahwa seluruh permainannya telah berakhir."