Dijodohkan dengan lelaki yang lebih muda 5 tahun darimu, apa kamu mau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon athania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkejut
Olivia memilih merebahkan dirinya di kasur, yang di butuhkannya saat ini adalah istirahat. Meski seharian tadi tidak melakukan aktifitas fisik apa pun bersama calon ibu mertuanya tapi tubuh Olivia merasa kelelahan dan baru saja ia akan memejamkan mata.
Ceklek
Nampak bayangan kedua orangtuanya menghampiri, dengan refleks Olivia membangunkan dirinya kembali, duduk bersandar di tepi ranjang.
"Rupanya kamu sudah pulang" ibu menarik selimut menutup kaki Olivia yang terbuka, cuaca malam itu cukup dingin.
"Terima kasih bu" senyumnya lesu dengan mata yang kehitaman.
"Ayah dan ibu menunggumu pulang sedari tadi, bagaimana pertemuanmu dengan keluarga Alex barusan?" tanya ayah langsung tanpa berbasa basi.
"Pertemuannya lancar, mereka ingin mengadakan pesta pertunangan sebelum aku kembali ke Singapura" jelas Olivia sambil menguap-nguap sebenarnya ia sudah sangat mengantuk.
"Wah bagus sekali, kalau begitu kita tinggal mengatur waktunya saja"
"Tunggu, ayah aku punya permintaan"
"Permintaan? permintaan apa?" tanya ayah penasaran.
"Ayah tidak bisakah kita mengadakan pesta pertunangan yang sederhana saja? cukup keluarga kita dan keluarga Rey" ibu dan ayah memandang satu sama lain.
"Katakan saja terus terang apa yang kamu khawatirkan sayang?" ibu mengelus rambut panjang Olivia, ibu tahu betul pasti ada yang mengganjal di lubuk hati anaknya.
"Ayah ibu aku malu jika harus berdiri dan merangkul Rey di depan banyak orang, dia lebih pendek dariku, apa yang nanti orang-orang pikirkan, tidak tidak aku tidak sanggup membayangkannya mereka pasti akan mentertawaiku" Olivia berbicara sambil mengerucutkan bibirnya dan bersikap manja.
Ibu dan ayah hanya tersenyum mendengar alasan dari permintaan anaknya.
"Apa kamu belum bisa menerima Rey sebagai calon suamimu?" tanya ayah serius.
"Aku tidak masalah harus menikah dengannya hanya saja aku belum siap jika orang-orang tahu sekarang"
"Begitu, bagaimana ya?" ayah nampak berpikir, "Begini sayang, yang ingin mengadakan pesta pertunangan ini adalah keluarga Rey terutama Alex, ayah tidak tega menolaknya lagi pula lambat laun semua orang akan tahu bahwa kamu calon istrinya".
"Tapi ayah" Olivia menggesekkan kedua kakinya meronta karena sepertinya ayah tidak bisa memenuhi keinginannya.
"Kalau hanya tinggi badan, kan Rey bisa naik kursi saat berfoto denganmu, jangankan tingginya sama bahkan dia akan lebih tinggi darimu, ayah akan mencarikan kursi yang bagus untuknya" ucap ayah menggoda putri semata wayangnya.
"Ayaaahhhh tolong jangan bercanda" rengeknya seperti anak kecil.
"Baiklah nanti biar ibu yang berbicara tapi ibu hanya bisa memberi usul, jika mereka tetap menginginkan pesta mewah dan mengundang banyak orang maka kamu harus menerimanya setidaknya ibu akan menyampaikan maksudmu"
"Benarkah? terima kasih ibu, aku sangat menyayangi ibu" peluknya pada wanita berusia lebih dari 40an tersebut. "Untuk ayah maaf saat ini kita sedang tidak berteman, ayah tidak berpihak kepadaku" ucapnya membuang muka pada sang ayah.
"Hahaha, anak ayah marah ya. Baiklah ayah akan ikut membantu ibumu berbicara tapi ayah hanya berbicara sekedarnya ya"
"Nah kalau begitu aku juga sayang ayah" peluknya kini berganti pada lelaki yang berdiri di sampingnya.
"Sudah sekarang kamu beristirahatlah" ibu membenarkan kembali selimut yang di tendang Olivia tadi dan berdiri. "Selamat malam sayang"
"Selamat malam ayah ibu" keduanya pun berjalan keluar dan tak lupa menutup pintu. Kini Olivia bisa tidur dengan tenang, perlahan ia menutup kedua matanya.
***
Pukul 01.30 malam.
Terlihat gelisah, Olivia membolak-balikan tubuhnya ke kiri dan ke kanan mencari posisi nyaman untuk tidur kembali, ia merasa lapar perutnya mengamuk minta di isi. Ia memang memiliki kebiasaan makan di tengah malam, dengan berjalan gontai ke arah dapur Olivia membuka lemari es dan laci-laci mencari sesuatu yang bisa di makannya. Matanya tertuju pada sebuah mangkok yang bertuliskan 'panaskan jika kamu lapar'.
Ibunya memang benar-benar bisa di andalkan, dia hapal betul dengan kebiasaan putrinya. Olivia mengambil mangkok itu dan memindahkan makanannya ke mangkok tahan panas dan memasukkannya ke dalam microwave. Menyetel 10 menit, sambil menunggu makanan itu panas Olivia memilih memainkan ponselnya, menggeserkannya ke atas dan ke bawah Olivia merasa bingung akan menghubungi siapa, malam ini terasa sangat sunyi, ia butuh seseorang untuk jadi teman bicara.
Sedikit iseng Olivia mencoba menghubungi Rey, mungkin mengganggu Rey yang sedang tidur akan lebih seru menurutnya. Dua kali bunyi dari ponsel tiba-tiba terdengar suara Rey mengangkat teleponnya dan Olivia berjengkit kaget lalu spontan mematikan panggilannya.
Sangat terkejut, Olivia tak menyangka akan secepat ini Rey menerima panggilannya. Dirinya menjadi lebih terkejut lagi saat benda pipih yang di pegangnya itu bergetar hingga ponsel itu terjatuh.
Braaakkk
Olivia segera mengambil ponsel miliknya, belum sempat di angkat panggilan telepon dari Rey sudah berhenti. Sepertinya Olivia di kerjai balik olehnya.
Olivia menatap kesal ke arah nomor panggilan tak terjawab tersebut, sudah membuatnya kaget sampai menjatuhkan ponsel, lelaki itu bahkan tidak menunggunya untuk mengangkat telepon.
Tiiinggg!!
Olivia kembali kaget, microwave berbunyi, tanda makanannya sudah panas. Olivia menyimpan ponselnya di atas meja, ia mengenakan sarung tangan untuk mengangkat makanannya dan memindahakannya ke piring.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, Olivia segera meletakkan piring makanannya dan melepaskan sarung tangannya dengan terburu-buru. Ponselnya segera di raihnya, detak jantungnya tak karuan membuat ia sulit bernapas. Entah mengapa ia begitu antusias menerima panggilan dari Rey. Olivia menarik napas dalam-dalam sebelum menggeser tombol hijau pada di layarnya.
"Ada apa?" tanya suara itu lantang membuat Olivia memejamkan sebelah matanya.
Olivia masih belum berbicara, suara Rey terdengar cukup berat jika berada di telepon nampak seperti suara lelaki yang telah dewasa. Apa ini efek jaringan? atau hanya ilusi pendengaran Olivia karena sudah tengah malam atau Rey sedang mengantuk dan itu suara bangun tidurnya?.
"Jika kau masih tidak menjawab, aku akan mematikan teleponnya!" ucap Rey malas karena Olivia terlihat tidak berniat berbicara dengannya.
"Tu-tunggu dulu jangan di matikan" cegahnya sebelum Rey memutus sambungan teleponnya.
"Jadi ada apa kau menggangguku malam-malam?"
"Kau belum tidur?"
"Aku tidak bisa tidur" jawab Rey singkat.
"Kenapa?" tanya Olivia ingin tahu.
"Ini semua karenamu, maksudku perbuatanmu. Kau tahu aku masih merasakan sakit karena tendangan tadi"
"Kau tidak berbohong kan? apa masih sakit sampai sekarang?" Olivia mulai merasa bersalah, mungkin sikapnya saat bertemu Rey tadi cukup keterlaluan.
"Iya dan kau harus bertanggung jawab!!" nada bicaranya seperti biasa, angkuh.
"Aku serius bertanya, jangan membuatku merasa bersalah sepertinya tendanganku tadi hanya pelan-pelan dan tidak sekuat tenaga" suara Olivia mengecil.
"Apa kau bilang pelan? jika pelan maka aku tidak akan kesakitan, terserah pokoknya kalau nanti terjadi apa-apa pada burung pipitku ma-maksudku anu ku aku akan menuntutmu dengan pasal penganiyayan!"
Olivia tertawa kecil mendengarnya, bagaimana pun lawan bicaranya ini memang belum dewasa.
"Baiklah aku minta maaf"
"Maaf? tumben kau mau mengatakannya"
"Ya sudah jika kau tidak mau menerima permintaan maafku. Bye!!"
"Ehhh oke aku akan memaafkanmu, tapi lain kali jangan lakukan hal itu lagi. Untung saja burungku selalu pakai helm"
"Helm? kau masih kecil kenapa bicaramu mesum sekali!!"
Tuut Tuuut Tuut
Panggilannya tiba-tiba terputus, Rey mematikan sambungan teleponnya.
"Helm pada burung? aakkkhhh apa yang aku pikirkan, tidak usah di bayangkan Olivia, kamu wanita dewasa jangan membayangkan hal yang tidak-tidak" Olivia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Si cebol beraninya berbicara tentang hal seperti itu denganku, tidak tahu malu! kenapa juga pipiku terasa panas sekali" Olivia menyentuh-nyentuh kedua pipinya.
Seseorang yang jauh di sana juga sedang mengutuk dirinya sendiri.
"Mulut ini kenapa bisa keceplosan!! maaf ya elangku aku jadi mengumbar aibmu"
kangen sma pasangan ini
keknya seru
seru soalnya
senangnya..
see u Rey dan Oliv...🥰🥰🙏💪
cukup. Rey dan Oliv aza
Daniel di novel lain aj kak