NovelToon NovelToon
Alesha, Gadis Absurd.

Alesha, Gadis Absurd.

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anshuu_

Arka tak pernah berniat ikut campur dengan kehidupan Alesha. Namun, karena gadis absurd itu adalah sepupu dari sahabatnya sendiri, mereka terus dipertemukan dalam berbagai keadaan. Tingkah Alesha yang tak pernah bisa ditebak sering kali membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepala. Mulai dari masalah sepele hingga kekacauan yang menghebohkan sekolah, Alesha selalu punya cara untuk membuatnya ikut terseret. Mau tak mau, sebagai ketua OSIS, Arka harus berkali-kali turun tangan menghadapi ulah gadis yang paling sulit dipahami itu.

Siapa sangka, dari semua kekacauan tersebut, perlahan tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31.

Keesokan harinya saat jam istirahat, Alesha dan Dinda berjalan menuju kantin.

Namun baru beberapa langkah keluar kelas, Alesha tiba-tiba berhenti di tengah koridor.

Dinda yang berada di belakangnya hampir saja menabrak.

"Kenapa lagi?"

Alesha mengangkat telunjuk ke bibir.

"Ssst..."

Dinda langsung ikut menoleh ke kanan dan kiri.

"Ada apa?"

Alesha berbisik pelan.

"Aku merasa..."

"Apa?"

"...ada yang ngikutin."

Dinda langsung ikut panik.

"Siapa?"

Alesha perlahan menoleh ke belakang.

Kosong.

Ia menoleh ke depan.

Kosong.

Kemudian ia menoleh ke bawah.

"NAH!"

Dinda ikut menunduk.

Seekor kucing sekolah sedang berjalan santai mengikuti mereka.

Alesha langsung jongkok.

"Astaga... ternyata kamu."

Kucing itu mengeong pelan.

"Meong."

Alesha mengangguk serius.

"Iya, iya... aku juga kangen."

Dinda menepuk dahinya.

"Les... kamu ngobrol sama kucing?"

"Dia duluan yang nyapa."

"Kapan?"

"Tadi bilang meong."

"..."

Alesha mulai mengelus kepala kucing itu.

"Kamu belum makan ya?"

Ia lalu membuka tasnya.

Dinda langsung curiga.

"Jangan bilang..."

Alesha mengeluarkan roti yang seharusnya menjadi camilan miliknya.

"Nih."

"LES!"

"Apa?"

"Itu makananmu."

"Nggak apa-apa."

Kucing itu langsung memakan roti tersebut dengan lahap.

Alesha tersenyum puas.

"Nah, anak baik."

Saat ia berdiri, baru sadar seluruh koridor mendadak hening.

Beberapa siswa memperhatikannya.

Bahkan Reza yang baru lewat sampai berhenti.

"Ngapain?"

Alesha menjawab santai.

"Lagi rapat."

"Rapat?"

"Iya."

"Rapat sama kucing."

Reza menoleh ke Dinda.

"Dia serius?"

Dinda mengangkat bahu.

"Aku juga bingung."

Alesha menunjuk kucing itu.

"Dia sekarang resmi jadi anggota tidak tetap geng kami."

"Geng apa?"

"Geng Pecinta Bakso."

Reza langsung tertawa.

"Kucing makan roti, bukan bakso."

"Itu latihan."

Tak lama kemudian, Arka datang untuk patroli.

Melihat kerumunan siswa di koridor, ia langsung mendekat.

"Ada apa di sini?"

Semua serempak menunjuk Alesha.

Arka menatap Alesha yang sedang berdiri tegak di samping seekor kucing.

"Kamu sedang apa?"

Alesha memberi hormat.

"Pak Ketua."

"..."

"Saya sedang merekrut anggota baru."

Arka melirik kucing itu.

"Anggota?"

Alesha mengangguk mantap.

"Namanya sementara... Mbul."

"Kenapa Mbul?"

"Soalnya dia belum kasih tahu nama aslinya."

Beberapa siswa langsung tertawa.

Bahkan ada yang sampai merekam tingkah Alesha.

Arka memijat pelipisnya pelan.

"Kucing tidak punya kartu pelajar."

Alesha langsung mengangguk.

"Iya juga..."

Ia menatap kucing itu dengan wajah prihatin.

"Maaf ya."

"Kayaknya kamu belum memenuhi syarat masuk sekolah."

Kucing itu mengeong lagi.

"Meong."

Alesha menghela napas.

"Sabar."

"Tahun depan coba lagi."

Kali ini tawa di koridor pecah lebih keras.

Reza sampai bersandar ke dinding karena terlalu banyak tertawa.

Dinda sudah menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Sementara Arka... kali ini benar-benar tidak bisa menahan senyumnya.

Ia menggeleng kecil sambil berkata,

"Alesha."

"Iya?"

"Kalau kamu terus begini..."

"Kenapa?"

"Suatu hari nanti seluruh sekolah pasti hafal sama tingkahmu."

Alesha malah tersenyum bangga.

"Berarti aku terkenal."

"Karena prestasi?"

"Bukan."

"Karena keanehan."

Mendengar jawaban itu, seluruh koridor kembali dipenuhi gelak tawa.

Gelak tawa di koridor belum juga reda.

Alesha masih menggendong si kucing yang kini tertidur santai di pelukannya.

"Nah, lihat."

"Apa lagi?" tanya Dinda pasrah.

"Dia nyaman sama aku."

"Iya."

"Berarti aku berbakat jadi pawang kucing."

Reza langsung menyela.

"Lima menit yang lalu katanya anggota geng."

"Iya."

"Sekarang jadi murid."

"Iya."

"Sekarang jadi anak angkat."

"Iya juga."

Reza sampai mengangkat kedua tangan.

"Terserah deh."

Saat itu terdengar suara Bu Sari dari ujung koridor.

"Anak-anak, jangan berkerumun."

Seluruh siswa langsung bubar.

Alesha buru-buru menurunkan si kucing ke lantai.

"Nah, Mbul."

"Kita ketemu lagi nanti."

Kucing itu malah mengikuti langkah Alesha.

Tap...

Tap...

Tap...

Dinda melirik ke belakang.

"Les."

"Hm?"

"Dia masih ngikut."

Alesha menoleh.

Benar saja.

Si kucing berjalan santai tepat di belakangnya.

Alesha langsung tersenyum lebar.

"Dia kangen."

"Baru juga tiga detik dipisah."

"Tiga detik itu lama."

Dinda hanya menggeleng.

Mereka pun masuk ke kelas.

Namun baru beberapa menit guru mulai menjelaskan pelajaran...

"Meong..."

Suara itu terdengar dari luar jendela.

Alesha langsung menoleh.

Matanya membulat.

"Mbul?"

Kucing tadi sedang duduk di luar kelas sambil menatap ke arahnya.

Alesha spontan melambaikan tangan kecil.

"Hai."

Dinda buru-buru menarik lengan Alesha.

"Ngapain?"

"Dia nyapa."

"Itu kucing!"

"Tapi sopan."

Dinda hampir tertawa.

Pak Budi yang sedang menjelaskan materi menghentikan ucapannya.

"Alesha."

Alesha refleks berdiri.

"Iya, Pak."

"Kamu melambaikan tangan ke siapa?"

Alesha menoleh ke arah jendela.

"Teman."

Pak Budi ikut melihat ke luar.

Yang terlihat hanya seekor kucing.

"..."

"Kucing, Pak."

Seluruh kelas langsung hening.

Dua detik kemudian...

"Hahahaha!"

Satu kelas pecah tertawa.

Pak Budi sampai menahan senyum.

"Jadi sekarang temanmu bertambah satu?"

Alesha mengangguk polos.

"Dia baik, Pak."

Pak Budi mengusap dahinya.

"Baiklah."

"Tapi temanmu itu tidak ikut pelajaran."

"Oh iya."

Alesha lalu menoleh ke arah jendela.

"Mbul."

Kucing itu mengeong.

"Meong."

"Belajar itu penting."

"Nanti kita main pas istirahat."

Seolah mengerti, kucing itu berdiri lalu berjalan pergi.

Alesha mengangguk puas.

"Nah."

"Anak baik."

Kali ini bahkan Pak Budi ikut tertawa kecil.

"Sekarang, setelah urusanmu dengan... Mbul selesai."

"Iya, Pak."

"Boleh kita lanjut belajar?"

Alesha langsung memberi hormat sambil nyengir.

"Siap, Pak."

Seluruh kelas kembali dipenuhi tawa.

Kevin yang kebetulan lewat di koridor bersama Arka dan Reza mendengar suara tawa dari kelas Alesha.

Kevin menghela napas.

"Jangan-jangan..."

Reza langsung menimpali.

"Adikmu lagi."

Arka melirik ke arah kelas Alesha melalui jendela.

Terlihat Alesha sedang berdiri sambil menggaruk belakang kepalanya dengan senyum canggung, sementara sekelas masih tertawa.

Arka menggeleng pelan.

"Satu hari tanpa tingkah aneh..."

"Sepertinya memang mustahil."

Kevin tersenyum pasrah.

"Kalau sehari dia normal..."

"Malah kami yang khawatir."

Mereka bertiga pun kembali berjalan, sementara dari dalam kelas masih terdengar suara tawa kecil akibat tingkah absurd Alesha yang selalu berhasil membuat suasana sekolah menjadi lebih hidup.

Bel istirahat kedua akhirnya berbunyi.

Pak Budi baru saja keluar kelas ketika Alesha langsung merebahkan kepalanya di atas meja.

"Capek..."

Dinda melirik.

"Kamu capek ngapain?"

"Aku capek mikir."

"Baru satu jam pelajaran."

"Iya."

"Otakku minta cuti."

Dinda terkekeh.

"Otak juga bisa cuti?"

"Bisa."

"Kalau dipaksa kerja terus nanti dia demo."

Saat Dinda masih tertawa, Alesha tiba-tiba membuka kotak pensilnya.

"Hah?"

"Kenapa lagi?" tanya Dinda.

"Penghapusku hilang!"

Ia langsung membongkar isi tas.

Buku dikeluarkan.

Tempat pensil dibalik.

Map pidato ikut dikeluarkan.

Meja Alesha berubah seperti baru kena razia.

Dinda ikut membantu mencari.

"Tadi masih ada."

"Iya."

"Jangan-jangan jatuh."

Alesha langsung jongkok melihat ke bawah meja.

"Nggak ada..."

Ia kemudian berdiri sambil memasang wajah serius.

"Dinda."

"Hm?"

"Aku punya teori."

"Apa?"

"Penghapusku kabur."

"..."

"Dia capek dihapus-hapus terus."

Dinda langsung memukul pelan bahu Alesha.

"Mana ada penghapus kabur."

"Bisa aja."

"Mungkin dia pengin hidup bebas."

Beberapa teman sekelas yang mendengar langsung tertawa.

Kevin yang kebetulan lewat di depan kelas karena diminta guru mengambil spidol, mendengar keributan itu.

Ia masuk sebentar.

"Ada apa?"

Alesha langsung menunjuk meja.

"Penghapusku kabur."

Kevin terdiam beberapa detik.

"Lagi?"

"Iya."

Kevin mengambil buku Matematika Alesha yang masih tergeletak.

Saat buku itu diangkat...

Sebuah penghapus jatuh ke meja.

Tok.

Semua mata langsung tertuju pada penghapus itu.

Hening.

Dinda perlahan menoleh ke arah Alesha.

"Itu..."

Alesha ikut menoleh.

"Oh."

"Itu dia."

Kevin melipat kedua tangannya.

"Jadi?"

Alesha mengambil penghapusnya lalu mengelusnya pelan.

"Ternyata kamu belum siap merantau."

Satu kelas langsung meledak tertawa.

Kevin sampai mengusap wajahnya sambil menggeleng.

"Penghapusnya dari tadi ada di bawah buku."

Alesha mengangguk serius.

"Iya."

"Dia sembunyi."

"Bukan sembunyi."

Kevin menunjuk buku.

"Kamu yang naruh."

Alesha berpikir beberapa detik.

"Loh..."

"Iya juga."

Ia langsung mengangkat penghapus itu tinggi-tinggi.

"Teman-teman!"

Seluruh kelas spontan menoleh.

"Penghapusku sudah ditemukan!"

Beberapa teman ikut bertepuk tangan sambil tertawa.

"Bisa-bisanya diumumin."

"Kirain dapat hadiah."

Alesha malah membungkuk seperti artis di atas panggung.

"Terima kasih atas bantuan pencariannya."

Dinda sampai memegangi perut karena tertawa.

"Alesha..."

"Hm?"

"Kalau suatu hari nanti kamu jadi orang terkenal..."

"Kenapa?"

"Alasannya pasti bukan karena pidato."

Alesha mengedipkan mata.

"Terus?"

"Karena tingkahmu."

Alesha justru mengangguk bangga.

"Yang penting terkenal."

Mendengar jawaban itu, seluruh kelas kembali dipenuhi gelak tawa, sementara Kevin keluar kelas sambil bergumam pelan,

"Untung cuma penghapus..."

"Kalau yang hilang Alesha sendiri, mungkin dia malah lupa kalau dirinya yang dicari."

1
Adinda
dibuat bebek bakar aja bebekmu, jadi gk tidur lagi kamu lesha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!