NovelToon NovelToon
Jangan Harap Cintaku Lagi

Jangan Harap Cintaku Lagi

Status: tamat
Genre:Slice of Life / Mengubah Takdir / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Tamat
Popularitas:99.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.

Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.

Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.

Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Cinta yang Membunuhku

"Jangan bergerak!"

Seorang pria bertubuh besar menarik rambut Mirna hingga wanita paruh baya itu menjerit. Sebilah pisau menempel di lehernya.

"Ahh... sakit! Lepaskan aku!" pekik Mirna.

"Diam!" bentak perampok itu.

Tubuh Vira membeku; tenggorokannya serasa tercekat. "Jangan sakiti ibu saya," katanya berusaha tetap tenang. "Apa yang kalian mau, saya akan berikan."

"Serahkan semua uang dan barang berharga kalian, atau leher wanita tua ini putus sekarang juga!"

Melihat tak ada satu orang pun bergerak, perampok itupun geram.

"Cepat!" bentaknya. "Atau kalian semua ingin mati hah?!"

Yanti, sepupu Vira yang berdiri di sudut ruangan gemetar hebat. "Vira, kasih saja! Kasih semuanya!" teriaknya panik. "Uang bisa dicari lagi. Aku gak mau mati!"

Perampok lain mulai mengobrak-abrik lemari dan laci.

"Cepat!" bentaknya. "Di mana uangnya?"

Vira baru saja hendak melangkah ketika suara mesin mobil terdengar dari luar rumah.

Brummm...

Lampu mobil menyorot melalui jendela depan.

Salah satu perampok menoleh. "Sial! Ada yang datang!"

Pintu rumah terbuka.

Daril memasuki ruang tengah, wajahnya langsung berubah tegang saat melihat ibunya ditodong dengan pisau.

"Daril!" seru Vira.

"Jangan bergerak!" ancam perampok sambil menekan pisaunya lebih kuat ke leher Mirna.

Daril mengangkat kedua tangannya. "Tenang. Saya tidak akan macam-macam."

"Serahkan semua uang kalian!"

Daril melirik Vira. Vira mengangguk kecil. Beberapa menit kemudian, uang tunai yang ada di rumah sudah berada di atas meja.

"Ini semua uang yang ada," kata Vira.

Perampok itu tampak ragu.

Saat perhatian mereka teralihkan pada tumpukan uang, Daril diam-diam bergeser mendekati Mirna.

"Daril, jangan!" bisik Vira tegang.

Namun Daril menemukan celah. Dan--

Brak!

Ia menendang lutut perampok yang menyandera ibunya hingga pria itu terjatuh.

"Bu, lari!" teriak Daril.

Mirna langsung merangkak menjauh.

"Kampret!" umpat perampok yang terjatuh. "Hajar dia!"

Perkelahian pecah. Daril dan salah satu perampok saling pukul. Yang lain mendekat hendak mengeroyok.

"Tolong! Tolong!" teriak Yanti.

"Diam!" bentak salah satu perampok berbalik menghampiri Yanti.

Vira mengambil guci keramik di samping buffett.

PRANG!

Guci menghantam punggung perampok itu, pecah berhamburan di lantai.

"Akh!" Perampok terhuyung.

"Jangan coba melawan atau kalian semua akan mati!" ancam salah satu dari mereka.

Yanti makin menjerit histeris. "Tolong! Tolong! Ada perampok!"

Bahkan Mirna dan Vira ikut berteriak.

Mendengar teriakan yang semakin keras, para perampok mulai panik.

"Sial! Kabur!"

Mereka berlari keluar rumah. Suara langkah kaki menjauh dengan cepat. Beberapa detik kemudian, rumah itu kembali sunyi.

"Kita selamat..." gumam Vira lega, meski napasnya masih memburu.

Daril berdiri beberapa langkah di belakangnya. Tatapannya jatuh pada sebilah pisau yang tergeletak di lantai. Pisau yang ditinggalkan perampok.

Perlahan, ia membungkuk dan mengambilnya dengan sapu tangan.

Vira yang melihatnya mengernyit. "Daril, kenapa kamu mengambilnya? Letakkan. Itu bisa jadi barang bukti untuk menangkap para perampok tadi."

Tapi Daril malah melangkah mendekat ke arahnya.

"Lihatlah pisau ini," kata Daril dengan suara rendah.

Ia membolak-balikkan pisau di tangannya itu dengan senyuman yang terasa ganjil.

"Daril, kamu mau apa?" tanya Vira yang tiba-tiba merasa tengkuknya terasa dingin.

Daril berhenti tepat di depan Vira, lalu menunduk dan berbisik dengan suara yang terdengar datar, nyaris dingin.

"Mengirimmu menyusul orang tuamu."

Jleb!

Tanpa peringatan, ia menusukkan pisau itu ke tubuh Vira.

Mata Vira membelalak. Ia menatap pisau yang menancap di perutnya, lalu mengangkat wajahnya ke arah Daril.

"D-Daril...?"

Pria itu menatapnya tanpa rasa bersalah.

"Kenapa?" tanya Vira dengan suara bergetar. "Kenapa kau membunuhku?"

"Kau tahu kenapa aku bertahan selama ini?" Daril tersenyum dingin. "Karena hartamu."

"Kau...?" Vira menatap suaminya tak percaya.

"Sekarang usaha ini sudah cukup besar," lanjut Daril. "Aku tak membutuhkanmu lagi. Kau terlalu banyak mengatur. Semua uang harus lewat persetujuanmu. Aku muak hidup di bawah kendali perempuan."

"Hugh..."

Vira memuntahkan darah saat Daril mendorong pisau itu lebih dalam.

"Lagipula..." Sorot mata Daril tajam menusuk. "Wanita mandul sepertimu memang tidak berguna. Kalau kau mati sekarang, semua orang akan mengira kau mati dibunuh perampok."

Tubuh Vira melemah. Darah terus mengalir dari lukanya. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, ia menoleh ke arah Yanti. "Tolong aku..."

Namun, Yanti hanya tersenyum. Ia mendekat, lalu memeluk lengan Daril. "Kau benar-benar bodoh, Vira. Selama ini kau pikir kenapa aku bertahan di rumah ini? Aku mencintai Daril."

Vira menatap Yanti dengan mata berkaca-kaca.

"Aku sudah lama menunggu hari ini," kata Yanti penuh senyuman. "Setelah kau mati, aku bisa menikah dengan Daril."

Dada Vira terasa bagai dihantam batu besar. Dengan putus asa, ia menatap Mirna, berharap wanita yang ia rawat dan sayangi seperti ibunya sendiri itu menolongnya.

Namun Mirna justru mendengus. "Lebih baik kau mati. Selama ini kau terlalu cerewet. Sedikit-sedikit melarangku makan ini dan itu. Aku lebih memilih Yanti jadi menantuku."

Air mata mengalir dari sudut mata Vira. Ia tidak pernah menyangka akan mati di tangan pria yang dicintainya. Lebih menyakitkan lagi, ia juga dikhianati oleh sepupunya sendiri dan dibenci oleh ibu mertuanya yang selama ini selalu ia jaga.

Saat kesadarannya mulai menghilang, hanya ada satu penyesalan dalam hidupnya.

"Jika diberi kesempatan kedua..."

Vira tersenyum pahit. Darah hangat masih mengalir dari luka di perutnya.

"...aku tidak akan pernah menikahi Daril."

Kelopak matanya perlahan tertutup. Dan--

Gelap.

Tok! Tok! Tok!

"Ra! Vira! Ra!"

Tok! Tok! Tok!

"Vira! Bangun!"

Vira tersentak. Aroma racun nyamuk bakar menusuk hidungnya.

"Ngh..."

Napasku...?

Refleks, kedua tangannya langsung meraba perutnya. Tidak ada pisau, tidak ada darah. Perutnya utuh.

Namun rasa nyeri itu masih terasa begitu nyata, seolah mata pisau Daril baru saja menembus tubuhnya beberapa detik yang lalu.

"Hah...!"

Ia terengah-engah. Napasnya memburu, seluruh tubuhnya dipenuhi keringat dingin.

Tok! Tok! Tok!

"Vira! Kamu sudah bangun belum?"

Suara itu... Itu suara Daril.

Tubuh Vira menegang. Wajah pria yang menusukkan pisau ke tubuhnya kembali terlintas jelas di benaknya.

 

"Karena aku sudah muak padamu."

"Wanita mandul dan pelit."

"Kalau kau mati sekarang, semua orang akan mengira kau mati dibunuh perampok."

 

"Jangan... jangan mendekat..." gumam Vira lirih sambil mundur hingga punggungnya membentur kepala ranjang. Matanya bergerak liar mengamati kamar.

Lemari kayu tua, meja belajar, rak buku. Boneka kain yang sudah bertahun-tahun tidak ia lihat.

"Ini... Bukankah ini kamar lamaku?"

Tangannya gemetar saat meraih kalender yang tergantung di dinding. Ia membeku. Tanggal itu...

Mustahil.

"Ini... lima tahun yang lalu?"

Dadanya naik turun. Dengan tergesa ia turun dari ranjang, lalu berlari menuju cermin.

Di sana, pantulan seorang perempuan berusia awal dua puluhan menatap balik ke arahnya. Belum ada gurat lelah di wajahnya. Belum ada bekas luka. Belum ada cincin pernikahan di jari manisnya.

"Apa ini mimpi?"

Air matanya tiba-tiba mengalir.

"Aku... hidup?"

Ia menatap kedua telapak tangannya berulang kali, seolah takut semua ini hanya mimpi.

Tok! Tok! Tok!

"Ra! Cepat buka pintunya!"

Suara Daril kembali terdengar. Kali ini lebih jelas, lebih dekat. Tubuh Vira langsung membeku. Bukan rindu yang memenuhi dadanya.

Melainkan ketakutan.

Ingatan tentang pisau yang menembus tubuhnya kembali berkelebat. Tanpa sadar, ia mundur beberapa langkah dari pintu.

"Vira?" panggil Daril lagi. "Aku tahu kamu di dalam. Tolong buka sebentar. Aku butuh bicara."

Vira mengepalkan tangannya. Air matanya berhenti mengalir. Sorot matanya perlahan berubah dingin.

Ia ingat. Hari ini... adalah hari ketika Daril datang meminjam uang dengan alasan Mirna sakit. Hari ketika ia mulai mengorbankan segalanya demi pria itu. Namun... Kali ini berbeda.

"Kau datang mencari pertolongan..." bisiknya pelan. "...dan aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama."

 

...✨"Pengkhianatan terbesar bukan datang dari musuh, melainkan dari orang yang paling kita percaya."✨...

.

To be continued

1
anonim
Arvin ini suami idaman. Bikin sarapan masak nasi goreng. Hari pertama setelah menikah coba.

Juga sudah terbiasa memasak dan meladeni Ibunya.

Vira melihat Arvin meladeni Ibunya, menuangkan air minum ke dalam gelas, mengambilkan sepiring nasi goreng untuk Ibunya. Berkata lembut pada Ibunya.

Lalu mengambilkan nasi goreng untuk Vira juga.

Apa yang dilakukan Arvin yang baru sehari menjadi suaminya, Vira jadi ingat Daril lagi dengan segala perlakuan buruknya.
anonim
Arvin anak yang berbakti kepada Ibunya. Ibunya sedang haid dia yang mengurusnya.

Jadi tak ada kata jijik terucap ketika tahu Vira haid, Arvin yang mau membereskan tempat tidur dengan mengganti sprei yang ada noda haid.

Vira keluar dari kamar mandi tersenyum melihat sprei sudah berganti baru.

Vira jadi ingat masa lalu ketika Daril yang menjadi suaminya. Mana mau mengganti sprei. Melihat noda jijik langsung pergi.
Kyky ANi
si Yanti,,, emang kucing garong,,kamu,,,
Kyky ANi
benar itu kata ibumu Daril,, kerja,, jangan jadi pemalas,,,
anonim
Daril kapan tertangkapnya. Masih berani berkeliaran di desanya.

Arvin dan Vira menikah kenapa Daril merasa mereka bahagia di atas penderitaannya

Daril sendiri yang berulah, malah menyalahkan Vira dan Arvin.
anonim
Arvin dan Vira melangsungkan akad nikah di rumahnya Vira.

Hartato datang bersama kedua orang tuanya.

Ijab kabul dimulai, penghulu sebagai wali nikah mengucapkan ikrar kabul sampai selesai.

Arvin mengucap kabul dengan mantap.

Kata "Sah" dari para saksi terdengar hampir bersamaan.

Ibunya Arvin kambuh trauma diusir dari rumahnya.
Kyky ANi
kamu memang baik Vira,mau bantuin Arvin,,
Kyky ANi
ada gosip lagi,,nih ibu ibu,,
Kyky ANi
beritahu aza Ra,, kamu bisa melihat masa depan,,
Kyky ANi
jangan harap Vira, mau membantu kamu Daril,,
Tijanud Darori Tiara
Masya Allah sehat selalu buat kk author nya,
cerita nya aku suka dan tidak berbelit belit,
sukses selalu ya ka,
aku mau baca cerita mu yg lain lagi
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Makasih, Kak🤗🙏🙏
total 1 replies
anonim
Hartato pemuda yang lumayan baik. Dia memang punya segalanya yang menurutnya bisa membuat Vira memilihnya.

Dia merasa tampan dan mempunyai pekerjaan tetap. Dari keluarga terpandang pula.

Vira punya alasan lain kenapa memilih Arvin.

Hartato mendengar kalimat-kalimat yang ducapkan Vira, jadi mengerti dan tidak akan memaksa lagi.

Bahkan mendoakan Vira benar-benar bahagia, sambil mengulurkan tangannya.

Vira menyambut uluran tangan Hartato, dengan tersenyum hangat mengucapkan - terima kasih, Har.

Indah sekali.
Kyky ANi
rasain kamu Yanti,malah dikerjain,,balik sama Vira dan Emak,,
anonim
Daril dari kecil yang terlalu dimanjakan Ibunya, dewasanya ya seperti itu jadinya.

Sekarang Mirna baru sadar, telah salah mendidik anaknya. Ia dulu terlalu menyepelekan nasehat suaminya.

Dua orang polisi mendatangi rumah Mirna.

Mirna terkejut mendengar Daril telah ditetapkan sebagai tersangka.

Kini Mirna semakin syok mendengar ucapan dari tamu yang baru datang setelah dua polisi meninggalkan rumahnya.

Sertifikat rumahnya digunakan Daril sebagai jaminan untuk meminjam uang sebesar tiga puluh juta.

Mirna sungguh malang nasibnya. Anak semata wayang yang dimanjakan, dan selalu dibela walaupun salah. Ternyata bikin susah hidupnya.
Kyky ANi
dasar Licik,ya kamu Yanti,,
Kyky ANi
pokoknya,,jangan tertipu 2× kamu Ra,,,
anonim
Pagi hari dua mobil polisi berhenti di depan rumah Vira.

Polisi memberitahu kepada Vira tentang perkembangan hasil penyelidikan.

Berkat ponsel yang ditemukan di kamar Vira yang tertinggal, polisi berhasil mengidentifikasi salah satu pelaku.
Ponsel diperiksa, ditemukan riwayat percakapan, panggilan telepon, serta identitas pemiliknya.

Dua pelaku pelecehan terhadap Vira berhasil diamankan.

Dua orang tersebut mengaku dibayar Daril.

Yanti juga disebut terlibat merencanakan tindak pidana percobaan pelecehan terhadap Vira.

Yanti digiring ke mobil oleh dua polisi perempuan.

Daril ditetapkan sebagai DPO.

Salah Daril sendiri kenapa kabur, jadi statusnya ya buronan.
Kyky ANi
Ceritanya mirip dengan Belvina,ya thor,,,
Kyky ANi
kirain beneran tertusuk pisau,, teryata cuma mimpi,,
anonim
Tinggal menunggu tertangkapnya Daril si pecundang yang tidak jentel. Tidak berani menghadapi resiko akibat perbuatannya, main kabur.

Memangnya bisa lolos dari kejaran polisi. Tunggu saja Daril, bakal sama seperti Yanti, menghuni hotel prodeo.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!