Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, Wang Dahu hanyalah seorang pecundang—pemuda bertubuh gemuk yang tak mampu berkultivasi, dihina orang lain, bahkan dipermalukan oleh wanita yang dicintainya.
Ketika semua harapannya hancur, ia mendatangi Danau Pengabul Keinginan, tempat terlarang yang konon menyimpan rahasia mengerikan. Di sana, ia membuat perjanjian dengan iblis kuno demi memperoleh kekuatan.
Namun, sesuatu yang mustahil terjadi.
Alih-alih kehilangan tubuh dan jiwanya, Wang Dahu justru menyerap kekuatan sang iblis!
Kini, rahasia yang terkubur selama ribuan tahun mulai terbangun. Seorang lelaki yang dahulu diinjak-injak perlahan melangkah menuju puncak dunia kultivasi.
Tetapi, jika iblis kuno pun ketakutan terhadap tubuhnya, sebenarnya siapa Wang Dahu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 — Tangga Ujian Spiritual
“Wang Dahu, tetap di tempat!”
Suara penguji terdengar tegas sesaat setelah batu pengukur energi spiritual retak.
Ratusan calon murid yang berada di lapangan kontan menoleh. Beberapa menunjukkan rasa penasaran yang besar, sementara yang lain mulai berbisik-bisik menduga-duga.
Wang Dahu memandang batu tersebut sekilas, lalu berjalan tenang mengikuti seorang penjaga sekte menuju sebuah bangunan khusus di belakang lapangan.
Ia sama sekali tidak melawan.
Namun, di dalam lubuk hatinya, ia mulai menghitung risiko.
Sepertinya aku terlalu menarik perhatian.
Di dalam ruang kesadarannya, si iblis kuno tertawa kecil mengejek. “Sudah kubilang, jangan terlalu menonjol. Sekarang kau harus menghadapi manusia-manusia sok tahu yang gemar mencampuri urusan orang lain.”
Wang Dahu membalas dingin lewat batinnya, “Kalau kau tidak terus mengoceh di kepalaku, mungkin konsentrasiku bisa lebih tenang.”
“Bocah kurang ajar!”
Ruangan pemeriksaan itu berukuran sedang, namun dipenuhi oleh berbagai benda serta artefak spiritual yang memancarkan aura khas.
Di tengah ruangan, duduk seorang tetua berjubah abu-abu dengan mata tajam. Dua penguji yang tadi berada di lapangan berdiri siaga di belakangnya.
“Namamu Wang Dahu?”
“Benar, Tetua.”
“Asalmu?”
“Desa Cangmu.”
Tetua itu mengamati wajah Dahu beberapa saat lamanya. “Siapa gurumu?”
“Tidak ada.”
“Tidak ada?” Tetua itu mengerutkan kening dalam. “Lalu dari mana kau mempelajari teknik kultivasi dasar?”
“Saya belajar sendiri dari buku-buku usang yang bisa saya temukan di paviliun desa.”
Salah seorang penguji mendengus sinis. “Belajar dari buku saja bisa membuat batu pengukur spiritual retak? Kau menganggap kami sekumpulan orang bodoh yang bisa dibohongi?”
Wang Dahu tetap tenang, tidak menunjukkan rasa tersinggung. “Saya hanya mengatakan apa adanya. Saya sendiri tidak tahu mengapa batu itu bisa bereaksi seperti itu.”
Tetua berjubah abu-abu mengangkat tangan kanannya, menghentikan interogasi lebih lanjut. “Letakkan tanganmu di atas meja.”
Wang Dahu menurut.
Tetua tersebut mengulurkan dua jari dan menyalurkan secercah energi spiritual langsung ke pergelangan tangan pemuda itu.
Sesaat kemudian, tekanan halus menjalar ke seluruh tubuh Wang Dahu. Ia merasakan sensasi bagaikan aliran air es yang merayap menelusuri jalur meridiannya.
Di ruang batinnya, si iblis buru-buru memperingatkan, “Jangan dilawan! Biarkan aliran energinya lewat. Jangan coba-coba menyembunyikan apa pun secara berlebihan.”
Wang Dahu mematuhi saran itu dan mengosongkan pikirannya.
Tetua itu memeriksa cukup lama. Namun, semakin lama ia menyelidiki, semakin dalam kerutan di dahinya.
“Pengumpulan Qi tingkat pertama...” gumamnya.
Ia lalu mengalihkan sirkulasi energi spiritualnya ke bagian organ tubuh lain milik Dahu.
Tidak ada sisa aura iblis.
Tidak ada tanda-tanda teknik terlarang atau ilmu sesat.
Bahkan kondisi jaringan meridian Dahu tampak persis seperti layaknya seorang kultivator muda pemula pada umumnya.
Tetua itu akhirnya menarik jarinya perlahan. “Tidak ada yang aneh.”
“Lalu bagaimana menjelaskan batu pengukur yang retak tadi?” tanya penguji di belakangnya penasaran.
Tetua menggeleng pelan. “Itulah yang belum bisa kupahami.”
Ia kemudian mengambil sebuah piringan giok biru dan mengarahkannya ke arah Wang Dahu. Pendar cahaya biru lembut sempat menyelimuti tubuh Dahu, namun beberapa detik kemudian piringan itu kembali meredup.
Hasilnya tetap sama. Nihil. Tidak ada jawaban yang memuaskan.
Tetua berjubah abu-abu bersandar lelah di kursinya. “Wang Dahu, kau boleh melanjutkan proses seleksi. Namun, jika dalam ujian berikutnya ditemukan hal mencurigakan yang membahayakan sekte, kami tidak akan ragu mengambil tindakan tegas.”
Wang Dahu membungkuk hormat. “Saya mengerti, Tetua.”
“Pergilah. Petugas akan mengantarmu ke tempat istirahat calon murid.”
Wang Dahu berbalik dan melangkah keluar ruangan.
Begitu pintu tertutup rapat, salah seorang penguji berbisik ragu, “Apakah kita perlu menyelidiki latar belakang keluarganya secara diam-diam?”
Tetua berjubah abu-abu menatap lurus ke arah batu pengukur yang retak di luar sana. “Lakukan investigasi secara rahasia. Jangan buat keributan besar. Aku hanya ingin memastikan apakah pemuda itu benar-benar murni berasal dari desa kecil.”
Di halaman luar, seorang petugas mengantar Wang Dahu menuju kompleks asrama calon murid.
Bangunannya berupa deretan rumah kayu sederhana yang dibagi menjadi beberapa kamar kecil. Tempat itu tidak mewah, namun bersih dan cukup nyaman untuk memulihkan tenaga selama masa seleksi.
“Pilih kamar yang masih kosong. Jangan bikin keributan, dan dilarang keras memasuki area kediaman murid dalam tanpa izin,” pesan petugas itu singkat sebelum berlalu.
“Terima kasih.”
Wang Dahu memilih kamar paling ujung yang sepi.
Tidak banyak peserta lain yang memerhatikannya. Bagi kebanyakan calon murid, ia hanyalah pemuda desa biasa yang kebetulan lolos lewat jalur penyaringan, dan insiden batu retak tadi sudah mulai dilupakan lantaran sibuknya proses seleksi.
Justru suasana sepi inilah yang paling disukai Wang Dahu. Ia tidak butuh perhatian publik.
Setelah meletakkan barang-barangnya, ia duduk bersila di atas ranjang kayu. Setidaknya tempat ini cukup tenang.
Si iblis mencibir di dalam kepalanya. “Kau benar-benar tidak punya ambisi untuk bersosialisasi?”
“Untuk apa?”
“Mencari teman, membangun koneksi, mencari pelindung. Bukankah hal semacam itu penting bagi seorang kultivator di tempat asing?”
Wang Dahu tersenyum tipis. “Aku datang ke sekte ini untuk menjadi kuat, bukan untuk mencari teman bermain.”
Ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah jendela kecil di kamarnya. Lagi pula, ada hal yang jauh lebih penting dari sekadar basa-basi.
“Apa?”
“Perpustakaan sekte.”
Si iblis terdiam sejenak.
Wang Dahu melanjutkan, “Pengetahuanku tentang dunia kultivasi masih sangat dangkal. Aku belum paham banyak teknik bela diri, klasifikasi herbal, formasi spiritual, maupun sejarah sekte ini. Jika ingin bertahan hidup dan berkembang, aku butuh akses ke banyak buku.”
“Tidak buruk,” puji si iblis pelan. “Setidaknya otakmu sadar bahwa kekuatan sejati bukan cuma soal otot dan kepalan tangan.”
Wang Dahu mengangguk dalam hati. Ia sudah membulatkan tekad: begitu resmi diterima menjadi murid, tempat pertama yang akan ia datangi adalah perpustakaan besar sekte.
Menjelang sore, Dahu keluar dari kamar untuk mencari makanan.
Saat melintasi halaman tengah kompleks, matanya menangkap sekelompok murid berjubah dalam yang sedang berjalan beriringan.
Di tengah rombongan itu, ada sosok wanita yang sangat tidak asing baginya.
Liu Ruyan.
Rambut hitam panjangnya terikat rapi, jubah putih bergeser anggun menyelimuti tubuhnya, dan gagang pedang spiritual di pinggangnya memancarkan pendar energi yang elegan. Ia dikelilingi oleh beberapa murid wanita pengikutnya.
Wang Dahu berhenti sesaat.
Ia masih merekam dengan jelas hari ketika wanita itu menghancurkan jepit rambut pemberiannya tanpa ampun. Ia juga ingat setiap kata hinaan yang pernah dilontarkan kepadanya di masa lalu.
Namun, tidak ada bara kemarahan yang meluap di dadanya.
Ia hanya memandangnya sekilas, lalu berniat melanjutkan langkahnya.
Nahas, salah satu murid wanita pengikut Liu Ruyan telanjur melihatnya.
“Hei, berhenti! Kau calon murid baru, kan?” sergah wanita itu ketus.
Wang Dahu menoleh tenang. “Benar.”
“Kalau berjalan itu pakai mata! Jangan sembarangan melintas di dekat jalur murid dalam!”
Wang Dahu melirik ke arah jalan setapak yang lebarnya hampir tiga meter di hadapan mereka. Ini jalur umum.
“Aku hanya berjalan di jalur yang semestinya.”
Murid wanita itu mengerutkan kening tersinggung. “Berani sekali mulutmu membantah senior?!”
Liu Ruyan yang mendengar keributan itu lantas menoleh. Ia menatap wajah Wang Dahu lekat-lekat beberapa detik. Penampilan pemuda itu terasa asing, namun ada secercah siluet familiar yang entah mengapa menarik perhatiannya.
“Sudahlah,” ujar Liu Ruyan datar. “Tidak ada untungnya memperpanjang masalah sepele dengan calon peserta.”
Murid wanita itu langsung menunduk patuh. “Baik, Kakak Senior Liu.”
Wang Dahu tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi. Ia hanya membungkuk sekadarnya sebagai formalitas, lalu melangkah melewati mereka begitu saja.
Liu Ruyan sempat menoleh ke belakang, menatap punggung Dahu yang menjauh. Pernahkah aku melihat pemuda itu sebelumnya...?
Salah seorang temannya menggeleng. “Mungkin hanya calon murid biasa. Peserta seleksi tahun ini membludak dari berbagai penjuru.”
Liu Ruyan tidak ambil pusing lagi dan melanjutkan perjalanannya.
Sementara itu, Wang Dahu sudah tiba di sebuah kedai kecil khusus di dalam area sekte.
Dulu, aku bahkan tidak layak menatapmu dari jarak jauh, batin Dahu tenang seraya memesan makanan. Sekarang... kau bukan lagi siapa-siapa selain orang masa lalu yang kebetulan lewat.
Malam semakin larut.
Usai menyantap makan malam, Dahu kembali ke kamarnya dan langsung mengambil posisi bersila. Ia memejamkan mata, memandu aliran energi spiritual berputar menyusuri jalur meridiannya, lalu memusatkannya ke telapak tangan.
Kali ini, lapisan energi tipis itu terbentuk jauh lebih stabil dan tahan lama.
Namun ia belum puas. Ia mengulang proses itu puluhan kali hingga peluh membasahi keningnya.
Di ruang kesadarannya, si iblis mengamati dalam diam tanpa interupsi.
Beberapa jam kemudian, Dahu membuka matanya perlahan. “Besok pagi aku harus menghadapi ujian kedua.”
“Ujian tahap itu mungkin tidak sesederhana yang dipikirkan anak-anak manja di luar sana,” komentar si iblis.
“Justru karena itulah aku mempersiapkan diri sebaik mungkin.”
Dahu pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang untuk beristirahat.
Namun, jauh di balik gerbang hitam kesadarannya, sebuah rune kuno mendadak kembali berdenyut lembut. Si iblis yang merasakan getaran itu langsung bangkit, mendekati terali besi pembatas dan mengamati rantai-rantai penyegel.
“Raga anak ini... sebenarnya menyimpan raksasa apa di dalamnya...?” gumamnya penuh tanya.
Tak ada jawaban. Malam pun larut dalam keheningan.
Keesokan paginya, suara gong perunggu besar berdentang nyaring tiga kali berturut-turut.
GONG! GONG! GONG!
Seluruh calon murid serentak berhamburan keluar dan berkumpul di lapangan kedua.
Seorang penguji senior berbadan tegap mengenakan jubah biru berdiri gagah di atas panggung batu peninggian.
“Ujian kedua hari ini akan menguji kendali energi spiritual serta ketahanan mental kalian terhadap tekanan ekstrem!” teriak penguji itu menggelegar ke seluruh penjuru lapangan.
Di belakang sang penguji, terbentang sebuah tangga batu kuno berukuran masif yang menjulang tinggi menembus lereng bukit curam.
“Setiap peserta wajib menaiki anak tangga tersebut sambil mempertahankan sirkulasi energi spiritual di dalam tubuh! Semakin tinggi posisi kalian melangkah, lipatan tekanan gravitasi dan spiritual yang kalian hadapi akan semakin melipat ganda!”
Seketika, bisik-bisik kekhawatiran membahana di antara para peserta.
Wang Dahu mendongak, menatap undakan tangga batu yang tampak seolah menopang langit. Ia sadar ujian kali ini sama sekali bukan sekadar adu otot fisik.
Namun, sebelum penguji meniup peluit tanda mulai, mata seorang tetua di sisi panggung tiba-tiba menatap tajam ke arah barisan peserta, tepat menyorot sosok Wang Dahu.
“Pemuda dari Desa Cangmu itu... pastikan dia diawasi ketat dan menyelesaikan seluruh tingkatan tangga ujian sampai puncak,” bisik tetua tersebut kepada penguji di sampingnya.
Wang Dahu tidak menyadari bahwa dirinya tengah menjadi pusat perhatian khusus. Ia hanya menarik napas panjang, menenangkan debar di dadanya, dan bersiap menyambut ujian sesungguhnya.