NovelToon NovelToon
The Character!! Kembali Menjadi Figuran

The Character!! Kembali Menjadi Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menjadi NPC
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author: dopamine girl's

Revano, seorang penulis, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Vian-tokoh yang ia ciptakan sendiri.
Sialnya, tubuh itu rapuh, keluarganya berantakan, dan hidupnya jauh berbeda dengan apa yang ia tulis.

Revano mencoba memperbaiki semuanya. Namun semakin lama ia hidup sebagai Vian, semakin banyak rahasia yang terkuak.
Hingga perlahan, satu kebenaran menghantamnya:

Vian bukan sekadar karakter.
Dan mungkin... ia bahkan tidak benar-benar memasuki raga Vian.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dopamine girl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2

Mini Love Garden adalah novel pertama Revano yang menggali rumitnya hubungan keluarga melalui kisah sederhana namun sarat makna. Cerita ini mengikuti perjalanan seorang gadis bernama Ashilla, yang tumbuh di keluarga yang seharusnya menjadi tempat paling aman-namun justru menjadi sumber luka terdalam sepanjang hidupnya.

Ashilla merupakan putri dari adik Diana, ibu Vian. Pernikahan kedua orang tuanya runtuh ketika ia berusia dua belas tahun, menciptakan kekosongan besar yang tak mampu ditanggung seorang anak. Perceraian itu bukan sekadar perpisahan dua orang dewasa, melainkan robekan yang menghancurkan dunia Ashilla. Dan seperti banyak keluarga yang retak, mereka mencari sosok untuk disalahkan-dan Ashilla adalah pilihan termudah.

Setelah perceraian, hidup Ashilla berubah drastis. Ia tinggal bersama ibunya yang perlahan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Trauma masa lalu, tekanan ekonomi, rasa kecewa, serta ketidakstabilan mental membuat sang ibu menjadi sosok yang asing. Bukannya menjadi tempat perlindungan, ia menjadikan Ashilla sebagai tempat melampiaskan amarah, ketakutan, dan frustrasi yang tidak pernah ia selesaikan. Ashilla tumbuh dalam rumah yang penuh teriakan, kesunyian panjang, dan ancaman yang ia telan seorang diri.

Namun puncak dari seluruh penderitaan itu datang ketika ibunya, Stela, memilih pergi bersama pasangan barunya. Tanpa penjelasan, tanpa pamit yang layak, dan tanpa sedikit pun belas kasih, Ashilla dibuang. Ia ditinggalkan di jalanan-tanpa tujuan, tanpa uang, dan tanpa siapa pun yang bisa ia panggil keluarga. Hari-hari berikutnya menjadi kabur dalam kabut lapar, rasa takut, dan dingin yang menusuk tulang. Ia bertahan hidup bersama para gelandang, tidur di emperan toko, dan berharap setiap malam ada seseorang yang akan menemukannya.

Harapan itu akhirnya datang.

Beberapa bulan kemudian, Ashilla ditemukan oleh Diana dalam keadaan mengenaskan. Pakaiannya lusuh, rambutnya kusut, tubuhnya kotor, dan kakinya tak beralas apa pun. Namun meski ia tampak begitu berubah, Diana langsung mengenalinya: ponakannya sendiri. Saat ditanya di mana ibunya, Ashilla hanya menggeleng, tak sanggup menjawab. Ketakutan itu terlalu dalam.

Diana segera menyelidiki keberadaan adiknya, Stela, dengan bantuan Rangga. Namun hasilnya nihil. Yang mereka temukan hanya kabar mengejutkan bahwa Stela dan mantan suaminya telah resmi bercerai hampir setengah bulan sebelumnya. Tidak ada jejak ke mana Stela pergi-seolah ia sengaja menghilangkan diri dari dunia.

Merasa iba dan tidak sanggup membiarkan Ashilla kembali tersesat, Diana membuat keputusan penting dalam hidupnya: ia mengadopsi Ashilla, memasukkannya ke dalam keluarga Dharmawangsa sebagai anaknya sendiri. Ashilla disambut hangat oleh semua anggota keluarga, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasakan rasa aman yang nyata.

Awalnya, Ashilla masih menyimpan luka dan kekecewaan terhadap kedua orang tuanya. Namun perlahan, rasa itu tergantikan oleh rasa syukur. Di rumah baru ini, apa pun yang ia butuhkan selalu terpenuhi-bukan karena dimanjakan, tetapi karena ia dicintai. Setiap perhatian kecil, setiap pelukan, setiap meja makan yang penuh tawa membuat Ashilla merasa ia akhirnya menemukan tempat di mana dunia tidak lagi ingin melukainya.

Dan bagi Ashilla, keluarga Dharmawangsa bukan sekadar rumah baru-mereka adalah kesempatan kedua untuk merasakan hidup yang seharusnya ia miliki sejak awal.

Sedangkan karakter Vian sendiri merupakan batu loncatan yang tanpa sadar dimanfaatkan Ashilla untuk menyandang posisi sebagai bungsu di keluarga itu.

Vian Dharmawangsa adalah anak bungsu asli keluarga tersebut. Ia terlahir dengan kondisi fisik yang lemah, mudah sakit, serta memikul penyakit bawaan yang sejak lahir tidak pernah benar-benar dimengerti. Revano-dalam penulisan awalnya-tidak menjelaskan penyakit itu secara spesifik, hanya menyinggung bahwa penyakit tersebut langka dan belum memiliki penjelasan medis yang pasti. Namun keterbatasan fisik itu sudah cukup membuat Vian tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya berbeda, tidak normal, dan menjadi beban bagi orang-orang di sekitarnya.

Dalam cerita, Vian sering menolak ajakan untuk pulang. Ia selalu beralasan bahwa kesehatannya belum stabil, atau bahwa jadwal pengobatannya terlalu padat. Tapi alasan utamanya jauh lebih gelap daripada itu: overthinking yang tak pernah berhenti. Ia benar-benar percaya bahwa keluarga Dharmawangsa malu memiliki anak sepertinya. Ia meyakini bahwa tubuhnya yang lemah hanyalah sumber kekhawatiran, dan bahwa keberadaannya tidak membawa kebahagiaan apa pun.

Overthinking itu bukan sekadar pikiran lewat-melainkan keyakinan yang tumbuh seperti akar liar. Membelenggu. Mencekik. Menghancurkan perlahan-lahan dari dalam.

Keputusasaan itu semakin dalam ketika kedua orang tuanya memutuskan untuk mengirimnya ke luar negeri demi pengobatan yang lebih baik. Bagi Diana dan Rangga, keputusan itu adalah bentuk cinta, rasa takut kehilangan, dan usaha terakhir untuk menyelamatkan putra mereka. Namun bagi Alvian, keputusan itu justru menjadi bukti bahwa ia dibuang dengan alasan yang halus. Ia memaknai pengiriman itu sebagai tanda bahwa orang tuanya malu. Bahwa mereka lega saat ia pergi. Bahwa rumah bukan lagi tempatnya.

Di sinilah kesalahan terbesar keluarga itu muncul: mereka hanya memaklumi penolakannya untuk pulang. Mereka menerima alasannya tanpa pernah menyelami apa yang sebenarnya terjadi di batin Vian. Setiap penolakan dianggap sebagai tanda bahwa ia butuh waktu. Tidak ada yang menyadari bahwa waktu justru memperlebar jurang yang ia gali sendiri. Tidak ada yang mencurigai bahwa di balik kalimat "aku baik-baik saja" tersimpan ketakutan dan kebencian pada diri sendiri yang semakin menjadi-jadi.

Sementara itu, Vian berjuang sendirian. Ia menolak kunjungan, menolak panggilan, menolak perhatian-karena baginya, semua itu hanyalah formalitas. Ia percaya dirinya hanyalah beban yang lebih baik dijauhkan. Ia hidup dalam ruangan sunyi yang ia sebut pengobatan, tapi sebenarnya adalah sangkar tempat pikirannya membusuk perlahan-lahan.

Dan ketika tekanan batin itu mencapai puncaknya, Alvian mengambil keputusan paling tragis dalam hidupnya. Ia memilih mengakhiri segalanya. Bukan karena ia ingin meninggalkan dunia... tetapi karena ia yakin dunia sudah lama meninggalkannya.

Keluarganya baru menyadari semuanya ketika semuanya sudah terlambat.

Kematian Alvian menjadi titik balik terbesar dalam novel ini:

Akhir cerita ditutup dengan kebahagiaan Ashilla yang akhirnya terpenuhi sepenuhnya. Namun kebahagiaan itu bukan datang dari perjalanan yang indah-melainkan dari rasa bersalah yang membekas dalam keluarga Dharmawangsa setelah kehilangan Vian.

Setelah kematian Vian, keluarga itu memusatkan seluruh perhatian, kasih sayang, dan keseharian mereka pada Ashilla.

Dan TAMAT

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!