Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Transaksi Pertama
Sementara itu...
Suasana di sudut teduh dekat dinding kuil tua Pasar Kecamatan Sungai Besi semakin padat menjelang tengah hari. Derap langkah ratusan orang yang berlalu-lalang menghasilkan getaran kecil di atas tanah berbatu.
Suara tawar-menawar harga, teriakan para pedagang, dan bau khas pasar tradisional berputar-putar di udara, menciptakan sebuah atmosfer ekonomi rakyat yang begitu hidup dan dinamis.
Lin Wanru berdiri tegap di samping bentangan kain usang tempat ia memajang barang dagangannya. Di sebelahnya, Nyonya Lin duduk di atas batu kecil dengan tangan yang masih sedikit gemetar, menatap cemas ke arah lautan manusia yang hilir mudik tanpa ada satupun yang melirik ke arah lapak mereka.
Sudah hampir satu jam mereka menggelar barang dagangan, namun pembeli pertama tak kunjung datang. Sebagian besar orang yang berlalu-lalang mengira jamur tiram dan tanaman herbal liar yang mereka bawa hanyalah rumput sisa atau jamur beracun yang dipetik sembarangan oleh anak-anak desa.
"Wan-er... lihatlah, matahari sudah hampir tepat di atas kepala," bisik Nyonya Lin dengan nada cemas, seraya menarik pelan ujung baju putrinya. "Banyak orang lewat, tapi tidak ada satupun yang berhenti. Apakah... apakah barang kita tidak layak jual?"
Wanru tidak langsung menjawab. Ia menoleh menatap ibunya, lalu menyunggingkan seulas senyuman tipis yang menenangkan untuk mengikis keraguan di wajah wanita paruh baya itu.
"Ibu, bersabarlah sebentar lagi," ucap Wanru dengan suara tenang dan penuh percaya diri. "Dalam dunia perdagangan, pembeli pertama selalu membutuhkan waktu untuk mengamati. Orang-orang kaya dan para tabib kecil tidak akan langsung percaya pada lapak baru sebelum mereka melihat sendiri kualitas barangnya. Kita hanya perlu menunggu orang yang tepat."
Sebagai seorang eksekutif puncak yang memahami psikologi konsumen dan perilaku pasar, Wanru tahu persis bahwa produk berkualitas tinggi tidak akan pernah kehilangan nilainya, asalkan berada di tangan yang tepat.
Tepat saat matahari mencapai puncak hingga memancarkan terik hangat yang mulai membuat peluh bercucuran di dahi, kerumunan pejalan kaki di depan lapak mereka sedikit terbelah.
Seorang pria paruh baya bertubuh agak bungkuk, mengenakan jubah kain abu-abu khas seorang tabib keliling, tampak berjalan lambat sambil membawa keranjang bambu kecil di punggungnya. Matanya yang tajam mengawasi setiap lapak di pinggir jalan, seolah sedang mencari sesuatu yang spesifik.
Saat pria paruh baya itu melintas tepat di depan sudut kuil tua, langkah kakinya mendadak terhenti.
Penciumannya menangkap aroma harum khas yang sangat ia kenal, aroma manis bersahaja dari akar tanaman obat. Ia menolehkan kepalanya ke bawah, dan pandangannya langsung terpaku pada susunan akar manis (Licorice) dan ikatan tanaman pegagan yang ditata bersih di atas kain usang lapak Wanru.
Tabib paruh baya itu berjongkok perlahan. Ia mengambil sepotong akar manis, merabanya dengan ujung jari, lalu mendekatkannya ke hidungnya untuk menghirup aromanya.
"Hmm... serat kayunya padat, bersih, dan aromanya masih sangat segar. Ini dipetik dari kedalaman hutan pegunungan selatan, bukan tanaman budidaya pinggir jalan," gumam sang tabib, sementara matanya berbinar takjub.
Nyonya Lin yang melihat ada calon pembeli langsung menegang, ia tidak tahu harus berkata apa. Sebaliknya, Lin Wanru menyambut kesempatan itu dengan kepala dingin dan senyuman profesional yang ramah.
"Pandangan Tuan sangat jeli," ucap Wanru dengan suara yang jelas dan sopan. "Akar manis dan pegagan yang Tuan pegang itu baru dipetik pagi ini dari zona transisi Hutan Hantu. Kami membersihkannya dengan air bersih dan memastikan tidak ada akar yang patah agar kandungan khasiatnya tetap utuh seratus persen."
Tabib itu mendongak dan menatap gadis remaja di hadapannya dengan kening yang sedikit berkerut heran. Ia tidak menyangka seorang gadis desa berpakaian compang-camping bisa berbicara mengenai kualitas obat herbal dengan nada bicara yang begitu berwibawa dan profesional.
"Oh? Gadis kecil, berani sekali kau masuk ke Hutan Hantu demi mencari tanaman ini? Tempat itu terkenal berbahaya," tanya sang tabib menyelidik.
"Bahaya atau tidak, itu bergantung pada cara seseorang memperlakukan alam, Tuan," jawab Wanru tanpa ragu sedikit pun. "Bagi orang awam, hutan itu adalah sumber malapetaka. Tapi bagi orang yang memahami botani, itu adalah apotek alam yang paling jujur. Tuan adalah seorang tabib, Anda pasti tahu persis berapa nilai pasar untuk akar manis segar dengan kualitas murni seperti ini di apotek kota."
Mendengar jawaban cerdas dan penuh argumen logis dari gadis remaja tersebut, sang tabib paruh baya tertawa kecil. Ada rasa kagum yang tersirat di balik sorot matanya.
Sebagai seorang tabib yang sering dikecoh oleh para pedagang grosir nakal yang mencampur obat berkualitas buruk dengan rumput biasa, ia sangat menghargai kejujuran dan kualitas produk yang terpampang nyata di hadapannya.
"Baiklah, anak muda. Kau tidak hanya pandai bicara, tapi barangmu memang berkualitas," kata sang tabib sambil meletakkan kembali potongan akar manis itu. "Berapa harga yang kau minta untuk seluruh akar manis dan ikatan pegagan ini?"
Wanru tidak langsung menyebutkan harga sembarangan. Di dalam kepalanya, kalkulasi ekonomi pasar langsung berputar cepat. Ia tahu ia butuh uang tunai segera, tapi ia juga tidak boleh menjualnya terlalu murah hingga merugikan diri sendiri.
"Untuk tiga ikat pegagan segar dan seluruh potongan akar manis ini... aku melepasnya seharga tiga puluh keping tembaga," jawab Wanru mantap.
Nyonya Lin di sampingnya nyaris melompat kaget mendengar angka tersebut. Tiga puluh keping tembaga adalah jumlah yang sangat besar bagi keluarga miskin seperti mereka, hampir setara dengan upah mencuci pakaian selama dua minggu penuh!
Wanita paruh baya itu khawatir harga tersebut terlalu mahal dan membuat sang tabib lari ketakutan. Namun, di luar dugaan Nyonya Lin, tabib paruh baya itu sama sekali tidak menawar. Ia justru mengangguk-angguk puas.
"Harga yang sangat masuk akal untuk kualitas obat murni seperti ini," puji sang tabib. Ia merogoh kantong kain di balik jubahnya, lalu mengeluarkan sekantong kecil kepingan uang tembaga dan menghitungnya sejumlah tiga puluh keping, dan menyerahkannya langsung kepada Wanru.
Wanru menerima kepingan uang tembaga itu dengan kedua tangannya, dan merasakan berat logam dingin di telapak tangannya, bukti nyata pertama dari keberhasilan strategi bisnisnya di era kuno.
"Terima kasih banyak, Tuan Tabib. Semoga obat ini bisa menyembuhkan banyak pasien Anda," ucap Wanru membungkuk hormat.
Sang tabib mengangguk tersenyum, sambil memasukkan seluruh barang belanjaannya ke dalam keranjang bambu, lalu bangkit dan berlalu meninggalkan sudut kuil.
Keberhasilan transaksi pertama itu bagaikan percikan api yang menyulut tumpukan jerami kering.
Beberapa ibu rumah tangga kelas menengah dan pembeli lain yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan, melihat seorang tabib profesional membeli obat di lapak kecil itu, langsung berdatangan menghampiri sudut kuil tua dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Eh, apa benar tanaman itu bagus untuk mengobati peradangan perut?" tanya seorang ibu paruh baya berbusana rapi, sambil menunjuk ke arah jamur tiram liar yang tersisa.
Wanru tidak menyia-nyiakan momentum emas ini. Ia langsung beralih ke mode pemasaran aktif dan menjelaskan dengan antusias namun tetap elegan mengenai manfaat jamur tiram liar yang kaya protein nabati, lezat diolah menjadi sup hangat, dan sangat baik untuk memulihkan stamina tubuh yang kelelahan.
"Silakan dicoba, Bibi! Jamur ini dipetik segar pagi ini. Rasanya manis alami dan sangat empuk saat dimasak!" tawar Wanru ramah.
Dalam waktu kurang dari dua puluh menit, kerumunan kecil terbentuk di depan lapak mereka. Ibu-ibu rumah tangga dan koki restoran kecil berebut membeli jamur tiram dan jamur shiitake liar yang dibawa Wanru.
Cring... Cring... suara kepingan tembaga terus bertambah dan berpindah ke tangan Wanru seiring berjalannya waktu.
Nyonya Lin duduk terpaku, menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana seluruh barang dagangan mereka yang tadinya dianggap remeh kini ludes terjual tanpa sisa dalam waktu singkat.
Air mata kelegaan pun menetes di pipi wanita paruh baya itu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia memegang tumpukan uang tunai hasil jerih payah mereka sendiri.
"Wan-er... kita... kita berhasil..." bisik Nyonya Lin terisak haru, seraya memeluk lengan putrinya. "Kita punya uang..."
Wanru tersenyum puas, lalu menghitung sekilas total pendapatan di tangannya. Totalnya mencapai hampir delapan puluh keping tembaga, sebuah modal awal yang sangat fantastis untuk memulai babak baru kehidupan mereka.
"Ibu, jangan menangis dulu. Ini baru permulaan," kata Wanru sambil merapikan kain usang bekas lapak mereka dan memasukkan kantong uang tembaga ke dalam lipatan bajunya dengan aman. "Dengan uang ini, kita bisa melunasi sebagian utang Paman Dehai, atau bahkan membeli beras dan daging untuk Bao-er."
Namun, di saat angin kemenangan dan kelegaan itu baru saja berhembus, insting tajam Lin Wan tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang sangat janggal di udara.
Kebisingan suara pasar di kejauhan mendadak tercemar oleh suara keributan kecil dan jeritan panik dari arah gerbang utara pasar. Beberapa orang pejalan kaki berlari menghindari tengah jalan, dan tampak ketakutan melihat sekelompok orang berbadan tegap menerobos masuk ke dalam keramaian.
Wanru menghentikan gerakannya. Ia menegakkan tubuhnya, dan memindai kerumunan orang di seberang lapangan pasar dengan tatapan tajam penuh kewaspadaan.
Dan di antara lautan manusia yang berlalu-lalang itu, matanya menangkap sesosok tubuh gempal berwajah beringas yang sangat ia kenal, berjalan didampingi dua preman pasar bertubuh tegap.
Yang membuat jantung Wanru seolah berhenti berdetak seketika adalah sosok kecil yang diseret di antara mereka, seorang bocah delapan tahun berkaos usang yang menangis histeris dengan air mata membasahi pipinya.
"Bao-er...!"
Bersambung...