NovelToon NovelToon
Vonis Hati Sang Hakim

Vonis Hati Sang Hakim

Status: tamat
Genre:Mafia / Beda Usia / Dark Romance / Tamat
Popularitas:70
Nilai: 5
Nama Author: Mary Mendes

Hakim Agung Damon Bradfort dikenal dingin, tak bisa disuap, dan tak punya satu pun alasan untuk mempercayai siapa pun. Selama lima tahun ia membongkar jaring hukum yang melindungi Cosa Nostra, tanpa seorang pun di Roma tahu darah siapa yang mengalir di nadinya.

Felipa Bianchi, 25 tahun, mahasiswi hukum yang menanggung adik kecilnya dan ayah yang kejam, butuh uang dan jalan keluar. Tawaran itu datang dari tempat yang paling ia takuti: magang di Mahkamah Agung, dengan satu syarat tak tertulis. Ia harus mengawasi sang hakim.

Hari pertamanya berakhir dengan bentakan dan tumpukan fotokopi. Namun sang hakim yang menyebalkan itu ternyata adil, teliti, dan sesekali menjadi satu-satunya orang yang melihat bahwa Felipa tidak baik-baik saja. Semakin dekat Felipa dengan pria yang seharusnya ia khianati, semakin sulit ia membedakan tugas dari perasaan.

Ketika kebenaran terbongkar, Damon harus memilih: hukum yang selama ini ia pegang, atau perempuan yang tak bisa lagi ia lepaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 - Menyerah

Damon

Aku tak melepaskan tangan Felipa bahkan saat kami sampai di mobil. Jemariku tetap terjalin dengan jemarinya sementara aku memutari bagian depan kendaraan, dan baru kulepas ketika harus membuka pintu untuk masuk. Dia duduk di kursi penumpang, merapikan tas di pangkuannya, dan aku memanfaatkan beberapa detik itu untuk memandanginya tanpa dia sadari.

Aku masuk ke mobil dan menutup pintu, memisahkan kami dari hiruk-pikuk jalan. Keheningan yang menyelimuti kabin terasa aneh, sarat hal-hal yang tampaknya tak ingin dikatakan salah satu dari kami. Kumasukkan kunci ke starter, tapi sebelum menyalakan mesin, aku menatap lurus ke depan beberapa detik, mencoba meyakinkan diriku bahwa aku sepenuhnya mampu mengantarnya pulang tanpa menjadikan tumpangan sederhana ini satu lagi kesalahanku belakangan ini.

Masalahnya, malam ini aku tak meminum setetes alkohol pun. Aku tak bisa melimpahkan tindakanku pada keputusan impulsif akibat minuman, tak bisa pula berdalih sedang mabuk untuk membenarkan apa yang hendak kulakukan. Aku benar-benar sadar, tahu betul setiap pikiranku, dan terutama alasan mengapa aku tak sanggup menjalankan mobil ini.

Kebenarannya sederhana, meski harga diriku sudah berusaha keras menyembunyikannya bahkan dari diriku sendiri: aku tak bisa melupakan Felipa. Dan, sekalipun tak nyaman mengakuinya, aku pun tak mau jauh darinya.

Beberapa hari ini aku berusaha meyakinkan diri bahwa yang terbaik adalah menjaga hubungan tetap murni profesional. Dia peserta magangku, aku hakim yang bertanggung jawab mengawasinya, dan keterlibatan apa pun di antara kami berpotensi mengubah rutinitasku yang tertata menjadi masalah yang tak bisa kuselesaikan dengan sebuah putusan. Aku sudah cukup lama membangun hidup di mana emosi tak mencampuri keputusanku, sehingga mengenali bahaya membiarkan perempuan seperti Felipa menembus tembok yang kupertahankan utuh bertahun-tahun.

Meski begitu, cukup dia duduk di sampingku, dan semua pembenaran itu kehilangan daya.

Wangi lembut yang dia pakai memenuhi mobil, menyelimuti ruang ini dengan kehadiran yang tak butuh kata-kata. Kupalingkan wajah diam-diam, tapi akhirnya aku memandangnya terlalu lama. Felipa menghadapkan matanya ke jendela, rambutnya membingkai wajah, dan bibir itu, yang kucoba lupakan sejak hari pertama dia menciumku.

Tak berhasil. Tak satu pun yang kulakukan berhasil.

Aku menarik napas dalam, mematikan mesin bahkan sebelum keluar dari petak parkir, dan berbalik padanya.

"Felipa."

Dia menoleh ke arahku, dan matanya bertemu mataku di balik kacamatanya. Ada pertanyaan diam di ekspresinya, seolah menunggu aku menjelaskan mengapa kami masih diam di sini.

Aku sama sekali tak berminat memperpanjang siksaan itu.

"Aku tidak bisa melupakan ciuman itu."

Kata-kata itu keluar sebelum nalarku sempat menemukan cara mencegahnya. Kulihat keterkejutan muncul di matanya, begitu jelas sampai sesaat aku nyaris menyesal bicara seterus terang itu. Felipa membuka bibirnya sedikit, tapi tak menjawab. Pipinya bersemu merah muda, dan tanda canggung kecil itu membangkitkan keinginan nyaris tak tertahankan untuk menciumnya lagi.

Seharusnya aku berhenti sampai di sini. Seharusnya kunyalakan mobil, kuantar dia pulang, dan kuanggap pengakuan itu tak pernah terjadi. Itu keputusan paling waras, satu-satunya yang cocok dengan pria yang seumur hidup berusaha kujadikan diriku.

Tapi aku lelah bersikap waras jika menyangkut dia.

"Damon..." gumam Felipa, dan namaku di suaranya menghancurkan sisa kendaliku yang sedikit.

Aku condong ke arahnya, memberinya waktu untuk menjauh, untuk menghentikanku, atau sekadar berkata dia tak menginginkannya. Dia tetap di tempatnya, mata terpaku pada mataku, dan jarak di antara kami lenyap saat aku menemukan bibirnya.

Ciuman itu mulai dengan mendesak, sarat semua yang kutahan sejak terakhir kali dia sedekat ini. Kupegang wajahnya dengan satu tangan dan kutarik dia mendekat, merasakan jemarinya mencengkeram kemejaku saat dia membalas. Tak ada keraguan dalam balasannya, dan kenyataan itu membuat jantungku berdegup dengan kekuatan yang kuanggap sungguh konyol untuk pria seusiaku.

Kuperdalam ciuman itu, menjelajahi bibirnya dengan intensitas yang tak cocok dengan citra pengendalian diri yang dikenal semua orang. Felipa mengikuti gerakanku, dan cara dia merapat padaku membuatku lupa, untuk beberapa saat, semua alasan mengapa aku harus menjaga jarak. Tanganku meluncur ke tengkuknya, membelai rambutnya sementara tanganku yang lain tetap di wajahnya, seakan aku perlu memastikan dia sungguh ada di sini dan tak akan menjauh detik berikutnya.

Aku tak tahu berapa lama kami begitu. Aku kehilangan hitungan menit, kehilangan bunyi jalan yang jauh, bahkan kehilangan kesadaran akan tempat kami berada. Aku baru kembali merasakan dunia di sekitar kami ketika udara mulai habis dan aku terpaksa melepas ciuman.

Aku tetap dekat dengannya, dahiku nyaris menempel di dahinya, bernapas dengan susah payah. Jemariku masih bertumpu di wajahnya, dan aku butuh beberapa detik untuk mengumpulkan sedikit ketenangan sebelum membuka mata.

Felipa sedang menatapku.

Bibirnya terbuka sedikit, pipinya memerah, dan napasnya sama kacaunya dengan napasku. Namun bukan itu yang merebut perhatianku. Melainkan matanya. Ada emosi lain di sana, sesuatu yang tak bisa langsung kukenali, tapi membuatku diam tak bergerak, seakan gerakan sekecil apa pun bisa merusak momen itu.

Yang mengejutkanku, Felipa tersenyum, dan ada sesuatu pada gerak itu yang melucuti pertahananku sepenuhnya. Dia kembali menciumku, kutarik tubuhnya ke tubuhku tanpa berkata apa-apa, dia duduk dengan kedua tangan bertumpu di bahuku, dan menempatkan dirinya di atas pahaku.

Tanganku menemukan pinggangnya secara naluriah, menahannya rapat padaku, sementara aku mencari tatapannya. Bibirku turun menyusuri rahangnya, kukecup kulit lembutnya, gaunnya tersingkap, Felipa menggoyangkan pinggul di atas ereksiku. Dengan jemari gemetar dia melonggarkan simpul dasiku. Tangan kiriku menyelinap ke balik gaunnya, kusentuh kewanitaannya, menyibak celana dalamnya sedikit, dia basah, jemariku bermain di klitorisnya, Felipa memejamkan mata dan sedikit mendongakkan kepala, kumasuki memeknya dengan dua jari, dia mengerang di dalam mulutku. Tangannya turun dari leherku ke ikat pinggang dan dengan cepat dia membukanya, kubebaskan batangku, Felipa mengocokku, fokus memberiku kenikmatan, tapi aku hanya akan menemukan ketenangan saat terbenam di dalam dirinya.

Kutarik gaunnya ke atas hingga kainnya menggumpal di pinggang, kusisihkan celana dalam renda hitamnya, dan kugesekkan diriku di kewanitaannya, menyebarkan cairannya. Kutarik rambutnya dengan sedikit kasar, memaksanya menatapku, dan saat itulah aku masuk ke dalam dirinya. Felipa mengerang, tubuh kami menyatu, memek hangatnya menyambutku, sementara kugigit bibirnya. Dia melempar kepala ke belakang, bergoyang, tangan kiriku naik meremas payudaranya. Pemandangan terindah, aku tak bisa mengendalikan diri. Kucengkeram pinggangnya, menyetubuhinya seperti orang putus asa, aku menginginkan lebih darinya, Felipa mengerang makin keras, kuciumi dia untuk membungkamnya. Memeknya menjepitku di setiap hentakan yang makin kasar. Satu jeritan menggema dari tenggorokannya, di bawah denyut memeknya.

"Ah, Damon..."

Aku terus menghunjam dan menyatukan tubuh kami, sampai aku klimaks seperti orang gila jauh di dalam memeknya yang sempit. Tubuhnya luruh di atas tubuhku, lemas dan berkeringat. Felipa memerah dan, dengan mata terpejam, menyisiri rambutku dengan jemarinya, penuh kelembutan...

Dan menghirup wangiku.

"Tetaplah bersamaku...," pintaku tanpa malu sedikit pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!