NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Sang Yakuza

Pengantin Pengganti Sang Yakuza

Status: tamat
Genre:Mafia / Balas Dendam / Pengantin Pengganti Konglomerat / Beda Usia / Dark Romance / Tamat
Popularitas:11
Nilai: 5
Nama Author: Mary Mendes

Demi menyelamatkan kembarannya dari pernikahan dengan pemimpin Yakuza yang paling ditakuti, Stella Rossi nekat menyamar menjadi Luna dan berjalan ke altar.

Takeo Akira, Kumicho berdarah dingin, memilih Luna karena mengira perempuan lembut itu paling mudah dikendalikan. Pernikahan ini hanyalah langkah pertama dari balas dendamnya pada keluarga Lombardi, dan begitu pewarisnya lahir, istrinya tak lagi berguna.

Tapi malam pertama membongkar penyamaran itu. Dan perempuan yang terbaring di ranjangnya sama sekali bukan bidak penurut yang dia bayangkan.

Satu dikurung dalam gelap. Satu bersumpah tak akan pernah menunduk.

Antara dendam yang membara dan debar yang tak mau padam, siapa yang sebenarnya sedang memerangkap siapa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 - Rencana

Takeo

Kupandangi kota lewat jendela ruang kerja sementara pikiranku tersusun bagai papan catur. Di bawah sana, hidup berjalan seperti biasa. Orang-orang berjalan tanpa membayangkan bahwa di balik senyum diplomatis dan aliansi yang tampak kokoh, perang senyap sudah dimulai.

Stella sedang di mal bersama keluarganya.

Kualihkan perhatian ke ponsel. Isamu pasti sedang mengurus pengiriman pertama anak buah Fasal. Aku memercayai kemampuannya. Sejak sangat muda, adikku belajar menjalankan perintah tanpa ragu. Meski begitu, ada perbedaan di antara kami yang tak mungkin diabaikan.

Isamu masih punya perasaan.

Hatinya baik.

Aku tidak.

Dia impulsif kalau menyangkut orang yang dia sayangi. Cukup satu tatapan pada Luna, dan aku bisa melihat perubahan pada sikapnya. Bagi pria lain itu tersamar, tapi tidak bagiku. Aku sudah cukup lama mengenal Isamu untuk menangkap tanda kelemahan sekecil apa pun.

Kalau dia sungguh terlibat dengan Luna, dia tak akan sanggup memisahkan hasrat dari perasaan.

Dan perasaan selalu menagih harga.

Pria yang jatuh cinta mulai ragu. Pria yang ragu menempatkan semua orang di sekitarnya dalam bahaya. Itulah sebabnya aku tak pernah membiarkan hatiku yang memutuskan untukku. Emosi membuat pemimpin mana pun rentan, dan kerentanan adalah kemewahan yang tak boleh kumiliki.

Kupejamkan mata sesaat.

Anak buah Fasal terus berdatangan sedikit demi sedikit, berbaur dengan rutinitas bagai bayang-bayang. Semuanya berjalan persis seperti yang kubayangkan. Tak ada yang curiga. Selagi musuh-musuhku mengira aku sibuk memperkuat ikatan keluarga, aku mengamati setiap keping menempati tempatnya.

Kesabaran selalu senjata terbesarku.

Keluarga Lombardi mengira pendekatan ini berarti damai. Mereka kira satu pernikahan cukup untuk mengakhiri permusuhan lama. Mereka tak sadar bahwa bagiku pernikahan tak pernah lebih dari kesepakatan. Aliansi hanya ada selama bermanfaat.

Mafia Arab Saudi juga menjalankan perannya. Setiap komitmen yang disepakati memperkuat jaringan kepentingan yang tumbuh jauh dari mata-mata penasaran. Sedikit demi sedikit, semuanya menyatu.

Bahkan Bratva-nya Maxim pun tak akan sanggup menghentikan yang akan datang.

Mereka akan dibayar dengan kejutan dan dibasmi.

Aku diam, menatap bayanganku sendiri di kaca.

Balas dendam bukan dorongan hati.

Itu utang.

Dan aku selalu membayar utangku.

Saat waktunya tiba, semua orang akan mengerti kenapa aku menunggu begitu lama. Setiap pilihanku, setiap kata yang tak kuucapkan, dan setiap langkah yang kuperhitungkan menuntun pada tujuan yang sama.

Dan Enrico Lombardi.

Pria yang berani melintas di jalanku.

Dia masih mengira bisa melindungi keluarganya. Mengira dia mengendalikan permainan.

Tapi dia sedang memandang papan yang salah.

Senyum dingin muncul di bibirku.

Tak lama lagi, semua topeng akan jatuh. Dan saat itu terjadi, tak seorang pun bisa bilang tak ada pertanda.

Aku hanya cukup sabar menunggu waktu yang tepat.

Saat Isamu kembali, aku sengaja membuatnya tetap sibuk. Kuberi laporan, kuminta dia mendampingi rapat, meninjau dokumen, dan mengawasi sendiri setiap detail yang masih butuh persetujuannya. Pekerjaan yang cukup sehingga dia tak punya semenit pun luang.

Aku bukan orang naif.

Aku mengenal adikku lebih baik daripada dirinya sendiri.

Kalau dia punya kesempatan bertemu Luna lagi, dia akan mencarinya. Dan makin lama dia bersamanya, makin besar peluang terbentuk ikatan yang tak kuinginkan. Isamu boleh mengira dia mengendalikan emosinya, tapi aku tahu cara mengenali pria yang mulai memandang seorang perempuan secara berbeda.

Dia belum menyadarinya.

Aku sudah.

Besok perempuan-perempuan Italia itu pulang. Akhirnya.

Rumah akan kembali sunyi seperti biasa. Tak ada tawa menggema di lorong-lorong, tak ada energi kacau yang menjengkelkan, tak ada gangguan yang tak perlu.

Segalanya akan kembali ke tempatnya.

Stella juga akan kembali jadi urusanku semata.

Aku mengawasinya setiap saat. Setiap senyum untuk kakaknya, setiap pelukan panjang pada sepupu-sepupunya.

Dia merindukan kehidupan lamanya.

Tapi kehidupan itu berakhir sejak cincin terpasang di jarinya.

Ponselku bergetar di meja.

Pesan dari Isamu.

"Semua berjalan sesuai harapan."

Kuizinkan diriku tersenyum kecil.

Itu persis yang kuharapkan darinya.

Kuhapus pesan itu dan berjalan ke jendela raksasa ruang kerja. Lampu-lampu kota mulai menguasai pemandangan saat malam turun perlahan di atas Tokyo.

Tinggal sedikit lagi.

Sangat sedikit.

Setiap keping menemukan tempatnya di papan. Aliansi dikonsolidasikan, musuh tetap percaya diri, dan tujuan sebenarnya tetap tersembunyi di balik senyum ramah.

Begitulah yang kusuka.

Perang yang paling efisien tidak dimulai dengan tembakan.

Perang dimulai dengan keheningan.

Dan keheningan... selalu menjadi sekutu terbesarku.

Aku pulang larut, sengaja.

Kuseret jam-jam dalam rapat yang bisa selesai jauh lebih cepat. Kulakukan satu telepon lagi, kuperiksa dokumen yang sebenarnya sudah disetujui, dan kuikuti pengiriman terakhir anak buah Fasal. Alasan apa pun bisa dipakai. Aku tak mau pulang cepat.

Aku butuh keheningan.

Aku butuh jarak.

Besok keluarganya pergi. Satu hari lagi dan semuanya kembali normal. Isamu akan jauh dari Luna. Stella kembali jadi istriku semata. Rencana akan berjalan persis seperti yang digariskan.

Aku masuk rumah tanpa suara. Lorong-lorong tenggelam dalam remang. Bahkan para pegawai tampak paham malam ini tak boleh ada yang melintas di jalanku.

Aku menaiki tangga dengan langkah pelan.

Kubuka pintu kamar.

Aku langsung berhenti.

Stella duduk di kursi malas, menghadap balkon. Cahaya bulan yang redup menggambar kontur wajahnya. Dia bahkan tak langsung menyadari kedatanganku.

Dia tenggelam dalam pikirannya.

Belum pernah kulihat dia seperti ini.

Perempuan yang menantangku tanpa menunduk... kini tampak kecil.

Rentan.

Rapuh dengan cara yang tak pernah dia izinkan siapa pun lihat.

Kututup pintu di belakangku.

"Sudah malam."

Dia mengangkat mata perlahan, seperti baru kembali dari tempat yang sangat jauh. Sesaat, dia hanya menatapku.

Lalu dia berdiri.

Berjalan ke arahku pelan-pelan.

Saat berhenti di depanku, suaranya begitu pelan hingga nyaris hilang dalam hening.

"Aku menunggumu."

Dadaku menyempit dengan cara yang menjengkelkan.

Kutahan tatapannya beberapa detik, mencari tanda manipulasi.

Tak kutemukan.

Hanya lelah.

Dia mengulurkan tangan ragu dan memegang lengan jasku, seakan takut aku akan berbalik dan pergi.

"Kukira kau tidak akan pulang hari ini."

Aku menarik napas dalam.

"Aku selalu pulang."

Dia menunduk.

"Aku tahu..."

Hening kembali menyelimuti kami.

Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, Stella tidak berdebat. Tidak menantangku. Tidak membangun tembok di antara kami.

Dia hanya berdiri di sana.

Menunggu.

Dan, sebesar apa pun aku benci mengakuinya, pemandangan perempuan itu menungguku hingga larut malam jauh lebih berbahaya daripada musuh mana pun yang pernah kuhadapi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!