NovelToon NovelToon
Istriku Meminjamkanku, Aku Malah Jatuh Cinta pada Sahabatnya

Istriku Meminjamkanku, Aku Malah Jatuh Cinta pada Sahabatnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rangga Aditama

Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.

Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.

Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…

Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14: Hamil? Tes DNA Dulu

Di depan, Anindya sudah menunggu sambil mengulurkan tangan kepada suaminya.

Arya menyambut tangan itu tanpa berpikir panjang.

Baru setelah Lamborghini meninggalkan Mal Cakrawala, ia menyadari jemari mereka masih bertaut di atas konsol tengah. Anindya jelas menyadarinya juga, tetapi memilih menatap jalan dengan senyum tipis.

Mereka tiba di Vila menjelang sore.

Seorang asisten baru saja membawa minuman ketika ponsel Anindya berdering. Nomor tidak dikenal muncul di layar.

"Halo?"

Suara Karina langsung terdengar keras. "Nin, kasih teleponnya ke Arya. Nomorku diblokir lagi."

Senyum Anindya hilang. Ia menyalakan pengeras suara, lalu meletakkan ponsel di meja agar Arya dapat mendengar tanpa perlu mengambilnya.

"Kalau Mas Arya ingin bicara, dia akan bicara," jawab Anindya.

"Ini urusan keluarga gue. Jangan ikut campur."

"Kamu menelepon suamiku melalui ponselku. Itu sudah menjadi urusanku."

Karina terdiam sejenak, lalu suaranya berubah manis. "Mas, Papa datang lusa. Operasinya harus segera dijadwalkan di RS Mitra Medika. Biayanya sekitar Rp 200 juta."

Arya duduk di sofa. "Lalu?"

"Lalu kamu urus seperti biasa. Cari dokter, bayar deposit, jemput Papa dan Mama."

"Tidak."

"Mas, jangan kekanak-kanakan. Kamu marah kepadaku, bukan kepada orang tuaku."

"Mereka bukan mertuaku lagi. Kamu juga bukan istriku. Hubungi BPJS, rumah sakit, atau keluarga kalian sendiri."

"Papa sakit kanker!"

"Aku ikut prihatin. Tapi sakitnya tidak mengembalikan hubungan hukum kita dan tidak membuat tagihannya menjadi tanggung jawabku."

Anindya duduk di samping Arya. Bahu mereka bersentuhan.

Karina menarik napas tajam. "Jadi setelah diberi mobil dan uang oleh Anindya, kamu melupakan semua jasa keluargaku?"

"Jasa apa? Orang tuaku berutang hampir seratus juta untuk pernikahan kita. Keluargamu menerima semuanya, lalu tiga tahun tidak pernah mau datang melihat mereka."

"Itu beda urusan."

"Benar. Karena itu urusan operasi ayahmu juga urusan berbeda dariku."

Di seberang, terdengar bisikan Sherly yang menyuruh Karina mengeluarkan kartu terakhir.

Karina terdiam cukup lama.

"Mas," katanya akhirnya, "aku hamil."

Ruangan mendadak sunyi.

Tangan Anindya yang berada di atas sofa menegang. Arya tidak bergerak, tetapi matanya menjadi lebih dingin.

"Berapa lama?"

"Hampir dua bulan."

Waktunya mungkin sesuai dengan masa ketika Arya dan Karina masih menikah. Mungkin.

Namun Arya mengingat semua malam ketika Karina pulang menjelang pagi, semua alasan perjalanan bersama teman yang tidak pernah bisa diperiksa, dan wajahnya yang pucat saat Sherly menyinggung kepastian ayah anak itu.

"Anak ini milikmu," lanjut Karina cepat. "Jadi berhenti keras kepala. Kita rujuk, kamu rawat aku, dan kamu bantu operasi Papa."

"Tidak."

"Kamu nggak dengar? Aku mengandung anakmu!"

"Aku dengar kamu hamil. Itu belum membuktikan anaknya milikku."

Karina meledak. "Kurang ajar! Kamu menuduhku selingkuh?"

"Aku menetapkan aturan sederhana." Suara Arya tetap rendah. "Setelah anak lahir, kita lakukan tes DNA melalui fasilitas medis yang sah. Kalau hasilnya membuktikan aku ayah biologisnya, aku akan memenuhi tanggung jawab kepada anak itu."

"Dan kita rujuk."

"Tidak."

"Mas!"

"Anak tidak bisa memilih orang tuanya. Kalau dia darah dagingku, aku tidak akan menelantarkannya. Tapi mengakui anak dan menikah lagi denganmu adalah dua hal berbeda. Rujuk tidak akan terjadi, bahkan kalau hasil DNA cocok."

Karina terengah di seberang. "Kamu kejam."

"Yang kejam adalah memakai anak yang belum lahir untuk memaksa pernikahan."

Sherly terdengar merebut ponsel. "Arya, lo jangan sok suci. Karina sedang hamil. Stres bisa membahayakan kandungan. Kalau terjadi apa-apa, lo tanggung jawab."

"Bawa dia ke dokter kandungan, bukan ke mantan suaminya."

"Lo harus percaya anak itu punya lo!"

"Kalau kalian yakin, tes DNA seharusnya tidak menakutkan."

Tidak ada jawaban.

Keheningan mereka menjadi jawaban tersendiri.

Arya melanjutkan, "Untuk operasi Pak Suryanto, saya tidak membayar. Untuk kehamilan Karina, simpan semua rekam medis. Setelah kelahiran, pengujian dilakukan resmi. Jangan hubungi kami lagi sebelum ada urusan nyata."

Ia mengangguk kepada Anindya.

Anindya memutus panggilan dan memblokir nomor itu.

Tangannya masih dingin.

Arya memperhatikannya. "Kamu takut?"

"Sedikit."

"Karena anak itu mungkin milikku?"

Anindya menunduk. "Aku nggak punya hak melarangmu bertanggung jawab."

"Aku tidak bilang kamu melarang."

"Kalau benar anakmu, kamu pasti akan berada dalam hidup Karina lagi. Meskipun cuma untuk urusan anak."

Arya memahami kecemasan itu. Ia mengambil gelas air, lalu menyerahkannya kepada Anindya.

"Tesnya belum ada. Jangan menghukum diri dengan hasil yang belum terbukti."

Anindya memegang gelas dengan kedua tangan. "Kalau terbukti?"

"Aku mengurus anaknya, bukan kembali kepada ibunya."

"Kalau kamu perlu membawa anak itu ke sini?"

Arya menatapnya.

Anindya menarik napas dan mengangkat wajah. "Kalau anak itu benar darah dagingmu dan tidak ada yang merawatnya dengan baik, kita bisa mengurusnya bersama. Anak itu nggak bersalah."

Jawaban itu membuat Arya kehilangan kata-kata.

Anindya berhak marah. Ia bisa menganggap kehamilan itu ancaman bagi wasiat, reputasi, dan rumah tangganya. Namun pikiran pertamanya justru keselamatan seorang anak yang bahkan belum lahir.

"Kenapa kamu bisa memikirkan sejauh itu?"

"Karena aku menikah dengan Mas Arya, bukan cuma dengan bagian hidupmu yang mudah."

Arya menatap tangan Anindya yang masih menggenggam gelas. Perlahan ia menutup tangannya di atas jemari dingin itu.

"Belum tentu anak itu milikku."

"Aku tahu."

"Dan apa pun hasilnya, aku tidak akan rujuk."

"Aku tahu."

Anindya ragu sejenak sebelum melanjutkan. "Ada sesuatu yang harus kukatakan. Waktu masih berteman dengan Karina, aku beberapa kali mendengar dia membicarakan laki-laki lain. Ada pesan yang buru-buru dia hapus dan perjalanan yang ceritanya berubah-ubah. Aku tidak pernah punya bukti cukup untuk menuduhnya."

Rahang Arya mengeras. "Kenapa kamu tidak bilang dari dulu?"

"Karena saat itu kalian masih menikah dan aku punya perasaan kepadamu." Anindya menatapnya lurus. "Apa pun yang kukatakan bisa terlihat seperti usaha merusak rumah tangga kalian. Aku memilih diam. Mungkin itu pengecut, tapi aku tidak mau menggunakan gosip untuk mendapatkanmu."

Arya menarik tangannya, bukan karena marah, melainkan untuk mengusap wajah. "Sekarang kamu yakin tes itu perlu?"

"Iya. Bukan untuk menghukum Karina. Untuk melindungi Mas Arya dan anak itu dari kebohongan yang bisa bertahan bertahun-tahun."

Arya mengangguk pelan. Informasi itu menyakitkan, tetapi cara Anindya menyampaikannya tanpa menambah-nambahi membuatnya percaya.

"Tes DNA tetap dilakukan," putusnya.

Di apartemen, Karina merebut kembali ponsel dari Sherly.

"Dia minta tes DNA," katanya dengan wajah pucat.

Sherly menggigit kuku. "Lo jangan setuju. Bilang itu penghinaan. Buat orang tuanya menekan dia."

"Kalau dia tetap memaksa?"

Sherly tidak segera menjawab.

Karina melihat pantulan dirinya di layar ponsel yang gelap. Untuk pertama kalinya, kehamilan yang ia anggap tali penyelamat berubah menjadi hitungan waktu menuju sebuah pemeriksaan yang tidak bisa dibohongi.

Di Vila Kusuma, tangan Arya masih menutup jemari Anindya.

Aturannya sudah jelas.

Anak yang tidak bersalah akan dilindungi.

Kebohongan orang dewasa akan diuji oleh DNA.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!