NovelToon NovelToon
Menikahi Perwira yang Salah, Ternyata Dia Tuan Muda Konglomerat

Menikahi Perwira yang Salah, Ternyata Dia Tuan Muda Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Menyembunyikan Identitas / Menikahi tentara
Popularitas:331
Nilai: 5
Nama Author: Laras Cinta

**Kirana Ayu Prawira**, putri keluarga pengusaha ternama Surabaya yang cantik dan berbakat, dijebak oleh kakak tirinya, **Melati**, di satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Ia terbangun dalam keadaan sudah terikat pernikahan dengan **Bagas** — seorang perwira miskin yang selama ini ia pandang sebelah mata — sementara Melati diam-diam merebut tunangannya, **Rangga**, sang "tuan muda" keluarga konglomerat **Adiningrat**.

Belum sempat bangkit dari malu, keluarganya bangkrut dan namanya hancur berkeping-keping. Dan ketika Kirana menyadari dirinya mengandung anak kembar, tak ada lagi jalan pulang. Dengan harga diri yang tersisa, ia mengejar Bagas hingga ke kota kecil tempatnya bertugas, memintanya bertanggung jawab.

Yang tak pernah Kirana duga — pria dingin berpangkat rendah yang ia remehkan itu justru memujanya diam-diam. Dan ia menyimpan satu rahasia yang akan mengguncang dua keluarga: **Bagas adalah anak yang tertukar sejak lahir, pewaris sejati konglomerat Adiningrat yang dibesarkan di sebuah desa.** Sementara Rangga, pria yang diperebutkan Melati, sama sekali bukan darah daging keluarga itu.

Saat kebenaran perlahan terungkap, Bagas bertekad merebut kembali segala yang seharusnya menjadi haknya. Demi istri dan anak-anaknya, ia rela berjuang mati-matian meniti puncak — dari perwira desa menjadi tuan muda yang disegani. Tapi Melati tak pernah sudi mengalah, Rangga menyimpan sisi gelap yang mengerikan, dan seorang pria dari masa lalu Kirana datang membawa dendam...

_Akankah "salah nikah" ini justru menjadi jodoh yang ditakdirkan? Dan ketika sang perwira miskin akhirnya berdiri sebagai tuan muda sejati — siapa yang akan menyesal seumur hidup karena pernah memandangnya rendah?_

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25: Penyelidikan Dimulai

"Saya tidak pernah menulis atau mengizinkan unggahan ini."

Kirana mengucapkan kalimat itu untuk ketiga kalinya, kali ini di depan petugas administrasi kesatuan.

Ia duduk di ruang tamu dinas bersama Bu Marni. Pintu terbuka, dan seorang staf perempuan mencatat setiap jawaban. Bagas berdiri di luar garis pembatas bersama Gunawan, tidak ikut menjawab atas namanya.

"Apakah Letda Bagas memaksa Ibu datang ke KUA?" tanya petugas.

"Tidak. Petugas KUA bertanya langsung kepada saya dan saya menyatakan datang atas kemauan sendiri."

"Apakah Ibu ingin kembali dengannya?"

Kirana menatap lembar pernyataan. "Saya ingin menempuh rujuk setelah seluruh syarat diperiksa. Kami menundanya hari ini karena unggahan palsu itu membuat persetujuan saya tampak seperti hasil paksaan."

Petugas menulis, lalu memutar lembar tersebut agar Kirana dapat membaca.

Kirana memperbaiki dua kata sebelum menandatangani. Bu Marni juga memberi keterangan bahwa kunci kamar wisma dibuka olehnya karena kekhawatiran medis, pintu dibiarkan terbuka, dan Bagas tidak pernah memaksa masuk atau tinggal berdua di dalam.

"Salinan pernyataan akan diberikan kepada Ibu," kata petugas. "Pemeriksaan ini hanya untuk meluruskan fakta administrasi."

Di luar ruangan, Bramantyo menunggu dengan kedua tangan di belakang punggung.

"Penilaianmu masih ditahan sementara," katanya kepada Bagas. "Bukan karena saya percaya unggahan itu. Panitia harus mencatat klarifikasi sebelum membuka kembali berkas."

"Berapa lama?"

"Tergantung seberapa cepat sumber materi bisa dibedakan dari orang yang namanya dipakai."

"Kalau tidak ditemukan?"

Bramantyo tidak memperhalus jawaban. "Panitia bisa tetap menilai berdasarkan klarifikasi dan hasil pemeriksaan. Tetapi catatan konflik berulang akan menjadi beban. Kamu kuat di lapangan, Bagas. Nilai bahasa dan analisismu belum aman. Jangan memberi pesaing alasan untuk menang tanpa ujian."

Kirana melihat jari Bagas menegang di sisi tubuh.

"Apakah pengaduan lama pernah membuatnya kehilangan kesempatan?" tanyanya.

Bramantyo memandang Bagas sebelum menjawab. "Namanya pernah dipertimbangkan untuk pelatihan persiapan singkat di Jakarta. Saya tidak meneruskan rekomendasi karena saat itu urusan keluarganya belum jelas. Bukan hukuman resmi, tapi akibatnya tetap nyata."

Bagas baru mendengar keputusan itu secara terang-terangan. Selama ini ia mengira nilainya memang belum cukup.

"Kenapa Pak tidak memberi tahu saya?"

"Karena saat itu kamu memilih diam dan menerima semua dugaan. Saya tidak bisa memperjuangkan orang yang tidak mau memberi fakta untuk membela dirinya sendiri."

Kalimat itu keras, tetapi tepat. Bagas menoleh kepada Kirana. Perempuan itu juga pernah mencoba membela diri di gerbang, sementara ia justru meminta bukti sebelum memberi kepercayaan.

"Kali ini saya tidak akan diam," katanya.

Bagas melihat Kirana keluar membawa salinan pernyataan. Dulu ia menerima teguran karena pengaduan lama dan memilih diam agar masalah tidak membesar. Ia mengira kesempatan yang tertutup adalah harga dari pernikahan singkat yang gagal.

Sekarang pola yang sama datang lagi tepat ketika namanya masuk daftar awal.

Itu bukan nasib buruk. Seseorang memang sedang mengarahkan serangan.

"Saya ingin memeriksa rekaman KUA dan jalur dokumen lama secara resmi," kata Bagas.

"Ajukan daftar kebutuhan. Jangan bertindak di luar izin, sekalipun kamu yakin tahu pelakunya."

"Siap."

Bramantyo menatap Kirana. "Terima kasih sudah datang memberi keterangan sendiri."

"Nama saya yang dipakai, Pak. Saya juga berkepentingan menghentikannya."

"Bagus. Pertahankan semua salinan. Jangan berdebat lewat media sosial."

Kirana mengangguk.

Sore itu Gunawan membagi penyelidikan menjadi tiga jalur. Pertama, surel lama dan daftar penerima. Kedua, akun baru serta nomor yang menyebarkan tautan. Ketiga, rekaman kamera KUA untuk mencari kendaraan atau orang yang mengambil foto.

Unggahan dibuat pukul 08.42, sebelas menit setelah Kirana dan Bagas masuk ke kantor KUA. Tautan pertama diteruskan ke grup keluarga pukul 08.51. Foto sudah dipotong dan data asalnya dihapus, tetapi posisi pengambil gambar dapat diperkirakan dari tiang lampu serta bayangan pohon.

"Kalau kamera pintu merekam sisi seberang jalan, kita mungkin melihat siapa yang berdiri di sana," kata Kirana.

"Atau kendaraan yang menunggu," tambah Gunawan. "Petugas KUA sudah mengamankan rekamannya. Saya perlu surat untuk mengambil salinan."

Bagas memasukkan kebutuhan itu ke daftar izin. "Jaga salinan asli tetap di kantor. Kita hanya menerima duplikat resmi."

"Supaya nanti tidak dituduh mengedit?"

"Benar."

"Saya akan menghubungi admin grup dan petugas KUA," katanya. "Mas Bagas urus izin tertulis. Mbak Kirana susun daftar siapa saja yang pernah memegang dokumen dan contoh tulisan Mbak."

"Jangan hubungi Melati dulu," ujar Kirana.

"Kenapa?"

"Kalau dia pelakunya, dia akan membersihkan jejak. Kalau bukan, kita tetap tidak pantas menuduh tanpa bukti."

Gunawan mengangguk. "Berarti kita cari saksi sebelum tersangka."

"Cari fakta," koreksi Bagas.

"Iya, Mas. Fakta yang kebetulan terus berjalan ke rumah orang yang sama."

Malamnya, Kirana kembali ke wisma dan menyusun daftar sampai Bu Marni mematikan lampu depan. Ia menulis nama kantor lama Prawira, petugas keluarga, kurir, serta akun yang pernah dipakai Melati untuk mengurus undangan dan dokumen.

Ia tidak memasukkan sertifikat rumah warisan, cincin giok, atau surat Mbah Kartono. Benda-benda itu tidak berkaitan dengan pengaduan dan tetap menjadi jalan keluar yang hanya diketahui dirinya serta Ratna.

Keesokan paginya, Bagas datang dengan sepeda motor tua pinjaman. Mereka perlu mengambil salinan alamat lama dari kantor layanan kota, lalu melihat sebuah rumah sewa kecil yang ditemukan Gunawan.

Wisma sudah mengizinkan Kirana tinggal lebih lama karena kondisi kehamilan, tetapi kamar itu tetap hunian sementara. Rumah yang akan dilihat hanya memiliki dua ruang, dapur sempit, dan halaman belakang selebar jemuran. Sewanya tidak murah bagi gaji Bagas, tetapi masih bisa dijangkau bila ia mengurangi pengeluaran lain.

Kirana belum berjanji akan menempatinya. Bagas juga tidak menyebut rumah itu sebagai milik mereka sebelum ia melihat dan menyetujuinya. Mereka hanya sepakat memeriksa lokasi, jarak ke klinik, keamanan pintu, serta akses kendaraan umum.

"Kendaraan dinas tidak boleh dipakai untuk urusan pribadi," kata Bagas saat Kirana menatap motor itu.

"Aku tidak protes. Aku hanya bertanya apakah benda ini masih punya rem."

"Punya."

"Dua-duanya?"

Bagas menendang standar. "Naik atau kita jalan kaki."

Kirana duduk menyamping dengan kedua kaki di satu sisi. Bagas meminta helm tambahan dikencangkan dua kali, lalu menjalankan motor perlahan.

Jalan awal cukup halus. Namun setelah keluar dari kawasan wisma, permukaan aspal berubah penuh tambalan. Roda menghantam lubang kecil dan tubuh Kirana terdorong ke depan.

Tangannya refleks memeluk pinggang Bagas.

Punggung laki-laki itu langsung menegang.

"Pelan," kata Kirana.

"Aku sudah pelan."

Motor melewati tambalan kedua. Kirana kembali merapat agar tidak tergelincir. Ujung telinga Bagas memerah, tetapi kali ini bukan rasa hangat yang memenuhi pikirannya.

Ia teringat dua bentuk kecil pada layar USG dan peringatan dokter agar Kirana tidak kelelahan atau menempuh perjalanan yang tidak perlu.

Bagas menepi di bawah pohon dan mematikan mesin.

"Turun."

"Kenapa?"

"Jalannya makin buruk di depan."

"Rumah sewanya masih jauh?"

"Dua puluh menit. Kita tunggu minibus."

"Motor ini bisa jalan."

"Bisa. Kamu tidak."

Kirana menyipit. "Aku juga bisa jalan."

Bagas berjongkok sedikit agar ia dapat turun tanpa melompat. Setelah kedua kaki Kirana menyentuh tanah, ia memeriksa wajahnya.

"Pusing? Mual? Sakit?"

"Tidak ada. Hanya kaget waktu kena lubang."

Bagas mengembuskan napas, lalu mendorong motor ke bahu jalan. Ia bahkan tidak mencoba berunding.

"Dengan dua anak kita di perutmu, motor bobrok ini terakhir kali kamu naiki."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!