Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.
Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kinar Bertanya 09.
Jam istirahat pertama adalah surga sekaligus neraka di SMA Wahidin.
Kantin penuh sesak, koridor bising oleh tawa yang dipaksakan, dan lapangan basket—seperti biasa—menjadi panggung utama bagi Dafa.
Namun, siang ini, pantulan bola oranye di lantai semen itu tidak sekencang biasanya. Pikiran Dafa melayang. Bayangan wajah Lilis yang berekspresi seperti ingin muntah sehabis jam olahraga tadi masih tercetak jelas di otaknya.
“Sialan, beneran dikira jamet gue,” umpat Dafa dalam hati, mendribel bola dengan malas sebelum melemparnya asal ke ring. Meleset.
"Dafa."
Sebuah suara yang sangat familier menghentikan langkah Dafa. Suara yang dua hari lalu hampir membuat jantungnya copot di koridor gelap.
Kinar Kirana berdiri di pinggir lapangan. Dia masih mengenakan seragam basket putrinya yang pas di tubuh, rambut panjangnya dikuncir kuda tinggi, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajah tegasnya.
Sebagai kapten basket putri, Kinar punya aura yang membuat orang segan.
Dafa menelan ludah, mendadak salah tingkah. "Eh, Kin. Nggak ikut scrimmage sama anak-anak?"
Kinar tidak langsung menjawab. Dia berjalan mendekat, sepasang matanya yang tajam menatap Dafa lurus-lurus.
Langkahnya tenang, tapi entah kenapa terasa mengintimidasi. Di tangan kirinya, ada sebotol minuman dingin yang belum dibuka.
"Gue mau nanya sesuatu. Langsung aja, ya," kata Kinar. Suaranya datar, tapi ada nada mendesak yang tidak bisa disembunyikan.
Dafa menangkap gelagat berbeda. Kinar yang biasanya cuek dan hanya bicara soal strategi tanding, hari ini terlihat... terusik. "Nanya apa? Serius amat mampir ke lapak cowok."
"Soal lo dan Lilis." Kinar melipat kedua tangannya di dada. "Anak-anak kelas sebelah heboh bilang lo berdua jadian dua hari lalu. Bener?"
Deg. Jantung Dafa berdegup dua kali lebih cepat. Ada kepuasan aneh yang menggelitik egonya—Kinar Kirana, cewek yang dia taksir setengah mati, sedang menanyakan status hubungannya dengan cewek lain. Ini tanda cemburu yang nyata, bukan? Tapi di sisi lain, Dafa merasa terjebak di dalam kebohongannya sendiri.
"Lo... denger dari siapa?" Dafa mencoba mengulur waktu, memutar-mutar bola basket di jarinya untuk menyembunyikan kegugupan.
"Nggak usah balik nanya, Daf. Tinggal jawab iya atau nggak," potong Kinar cepat. Ada kerutan tipis di antara kedua alisnya. "Gue cuma nggak suka ada rumor simpang siur yang bawa-bawa nama anak basket. Apalagi Lilis itu... ya, lo tahu sendiri, dia anak sorak yang sering seru-seruan sama anak futsal."
Dafa menghentikan putaran bolanya. Dia menatap Kinar, mencari celah di mata cewek itu.
Di sana, Dafa tidak melihat kebencian, melainkan rasa tidak rela yang terselubung.
Dafa tahu, kalau dia berbohong dan mengaku pacaran dengan Lilis demi gengsi, dia akan kehilangan kesempatannya dengan Kinar selama nya.
Dafa menghela napas panjang, bahunya merosot. Sifat sok kerennya menguap.
"Nggak, Kin. Semua itu salah paham," ucap Dafa jujur, suaranya merendah.
Kinar menaikkan sebelah alisnya. "Salah paham gimana? Anak-anak lihat lo narik tangan dia di koridor yang lampunya mati?"
"Gue mau nembak lo, Kinar!"
Kalimat itu lolos begitu saja dari mulut Dafa, membuat beberapa anak cowok di ujung lapangan sempat menoleh, sebelum Dafa memberi mereka tatapan tajam agar menjauh.
Dafa kembali menatap Kinar yang kini tampak sedikit terkejut.
Bibir Kinar agak terbuka, kehilangan kata-kata untuk beberapa detik.
"Gue udah siapin semuanya malam itu. Gue tahu lo sering lewat koridor buat naruh rompi latihan," lanjut Dafa, menahan malu yang luar biasa demi kejujuran. "Tapi koridornya gelap banget. Pas ada langkah kaki, gue panik, langsung gue tarik tangannya dan ngomong... ya, ngomong gitu. Pas lampu dinyalain, ternyata itu Lilis yang lagi nyari ikat rambutnya yang hilang. Gue salah tembak, Kin. Sumpah, demi apa pun, salah target."
Hening menjalar di antara mereka selama beberapa saat. Dafa bersiap untuk ditertawakan atau bahkan ditampar karena kecerobohannya.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Perlahan, sudut bibir Kinar terangkat. Senyum tipis yang jarang dia perlihatkan mendadak muncul, mengubah wajah judesnya menjadi berkali lipat lebih manis.
Kinar menunduk kecil, menyembunyikan tawa gelinya.
"Lo... bego banget, ya, Daf?" bisik Kinar, suaranya melunak drastis. Rasa tegang di badannya runtuh seketika. "Lagian ngapain pakai acara gelap-gelapan segala."
"Ya kan biar romantis..." Dafa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, wajahnya memerah. Tapi melihat Kinar tersenyum, rasanya seperti memenangkan trofi MVP. "Jadi, lo jangan percaya gosip itu, ya?"
Kinar mengangguk pelan, melempar botol minuman di tangannya yang langsung ditangkap Dafa dengan sigap. "Nih, buat lo. Jangan salah minum punya orang lagi."
Sementara itu, di lantai dua yang menghadap langsung ke arah lapangan basket, Lilis sedang bersandar di pembatas koridor. Tangannya memegang sekotak susu stroberi yang sedotannya sudah digigit hingga pipih.
Matanya terkunci pada dua figur di bawah sana, Dafa dan Kinar.
......................
...****************...
Tbc,