NovelToon NovelToon
Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: Nyimas zaharah

Ini kisah seorang wanita introvert serta brokenhome, dalam segala hal tidak ada yang berjalan lancar baginya. Seorang wanita yang workaholic, soal percintaan jangan tanyakan. Sudah dapat dipastikan hancur juga sama seperti keluarga nya, Ia hanya dapat bertahan hidup untuk dirinya sendiri dengan cara menonton drama Korea kesukaannya, belanja di toko online, membeli makanan dan lain-lain.

Mei 1999 seorang wanita bernama Mahika Avisa Zalana, sejak lulus sekolah ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Jangan tanyakan alasannya, sudah dipastikan karna ia ingin bekerja dan tidak mau merepotkan keluarganya. Kalau ditanya kenapa tidak kuliah padahal keluarganya mampu bahkan sangat mampu untuk membiayai pendidikannya. Hanya saja ia terlanjur "Malas" yang berkaitan dengan keluarga nya lagi. Bukan berarti dia membenci keluarganya tapi ia ingin hidup tenang tanpa mengingat harus membayar hutang (tidak cuma-cuma) pendidikan yang ia pinjam pada keluarga nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyimas zaharah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

04. Hotel

...بسم الله الرحمن الرحيم...

***

Berjalan di sepanjang pesisir pantai tanpa arah tujuan, masih terdengar suara ombak laut serta angin pantai yang menyapu telinga Mahika.

Sorot mata yang kosong berjalan mengitari sekeliling nya, melihat cahaya di atas langit malam yang gelap. Mahika kembali duduk di tepi pantai, melihat ke arah laut. Kakinya terbalur pasir pantai nan indah, ia tetap ingin bunuh diri di tempat yang indah ini.

Mahika hanya tersenyum menatap ke bawah, menyembunyikan wajahnya dibalik lututnya yang menekuk. Memeluk dirinya erat, menangisi dirinya yang tampak sangat menyedihkan.

Setelah beberapa menit Mahika menangis, ia memeriksa tasnya. Ponselnya terus saja berbunyi, sebuah nama yang tak lain adalah Dana.

Mahika mengangkat telpon dari Dana, Ia juga ingin memberitahu bahwa ia ingin berhenti.

"Mahika?? Hallo?? Mahika?? Kamu dengar aku gak?? Mahika?? " ucap Dana memanggil dari seberang ponsel.

"Ya.. "

"Kamu dimana? Seharian di hubungi gak bisa ? Besok masuk kan?? Ada orang penting yang akan menginap di hotel kita, aku harap kamu masuk"

"Iya" ucapnya singkat lalu mematikan sambungan telepon dari Dana.

Sepertinya Mahika mengundur rencananya, ia tak mungkin meninggalkan pekerjaannya secara mendadak. Ia harus menyelesaikan nya terlebih dahulu, lalu pergi. Mahika bangun dan membersihkan sisa pasir yang melekat di bajunya, berjalan menuju jalan lebar untuk mencari taksi atau bus yang akan mengantarkannya kembali ke rumah.

"Bulan depan aku akan kembali, tunggu aku.. " ujar Mahika.

***

Pagi ini sedikit mendung namun Mahika sudah sibuk merapihkan meja resepsionis, hari ini beberapa atlit nasional beserta official nya akan berlibur di kota ini dan akan menginap di hotel tempat ia bekerja.

Mahika duduk di mejanya dengan tenang, melihat layar monitor komputer di depannya. Bertugas sendirian, rekan kerjanya tidak masuk dikarenakan sakit. Mahika harus fokus dan tetap mengecek semua data-data costumer hotel yang ia tinggalkan kemarin.

"Avisaa. "Dana yang baru saja datang bersandar pada dinding meja resepsionis

" Hm.. "

"Lo udah sarapan belum ?"

Mahika hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Dana yang masih fokus padanya Mahika menatap layar monitor begitu fokus.

"udah sarapan belom?"

Mahika berjalan meninggalkan Dana yang masih berdiri di tempatnya, ia berjalan menuju restauran hotel. Tentu saja ia belum sarapan pagi ini, mengisi tenaga dengan karbohidrat untuk melewati hari-hari yang melelahkan baginya.

la duduk di sudut restauran dengan pemandangan kolam ikan, mencari ketenangan sejenak sebelum seluruh aktifitas padatnya di mulai pukul 08.30 pagi. Menikmati roti dan segelas kopi di atas meja, mendengarkan musik melalui earphone yang terpasang di ponselnya

Lagu tulus menjadi pembuka hari Mahika, menarik nafasnya sangat dalam. Tatapan sendu Mahika memandang kolam ikan yang airnya terus mengalir, menikmati kesendiriannya tanpa menyadari ada orang-orang yang terus memandangi dirinya.

Sekelompok karyawan yang juga sarapan sedang melihat Mahika, mereka menatap Mahika hanya duduk sendirian

"Lihat si Mahika, duduk sendirian lagi"

"Iya gak mau bergaul dengan karyawan lain"

"sombong banget jadi orang, sementang dekat dengan manager"

"ya, sombong banget. Kalau disapa cuma senyum doang"

"tau gak? semalam dia libur dadakan dan manager cuma diam aja gak di tindak gitu biasanya kita-kita kalau mau libur harus izin dari lama dulu. Dih Mahika malah asik-asiknya libur dadakan, enak banget jadi Mahika. Kesayangan manager"

"Kalau tidak tau apa-apa, jangan suka ngomongin orang lain, kalian disini sama-sama kerja. Jangan suka ngomongin orang, Mahika juga baru pertama kali ambil liburan setelah 1,5 tahun disini bekerja. Kalian setiap bulan pasti ada saja yang ngajukan liburan, beda dengan Mahika" sahut Dana yang mendengar obrolan para karyawannya tentang Mahika.

Mereka langsung terdiam begitu melihat Dana yang memberi mereka peringatan kecil,Dana hanya melihat para karyawannya diam menundukkan wajah mereka.

"dan kalian tahu, saya menganggap seluruh Karyawan sama rata tanpa terkecuali Tidak ada saya beda-bedakan dan tidak ada perlakuan khusus pada Mahika" ucap Dana kembali meninggalkan area restaurant

Sudah sering Dana mendengar bisikan-bisikan kecil yang menjelekkan Mahika, namun Mahika hanya diam tanpa membalas ucapan mereka. Hingga akhirnya Dana yang sedang mengecek area restauran tidak sengaja mendengar obrolan para karyawannya.

***

"di mananya ?? kamar berapa?? udah di lobby aja, turun kebawah, gua sibuk" Seorang pria yang berdiri di depan pintu lobby hotel, menggunakan seragam loreng serta sepatu PDL,  sedang berbicara melalui telepon genggam nya.

"sebentar"

Lalu menutup sambungan telepon, Fian saat ini sedang berada di lobi hotel,untuk bertemu dengan rekannya yang merupakan seorang atlit nasional kebanggaan Indonesia.

"maaf, permisi, ada yang perlu saya bantu ??" suara yang tidak asing bagi telinga Fian, Fian menoleh ke arah sumber suara berasal.

Seseorang yang ditemuinya kemarin di pantai, Mahika sedikit kaget bahwa pria yang ada di hadapannya adalah teman pria yang menolongnya.

"ah kakak duyuung"

"eh-"

Mahika terkejut atas sapaan Fian pertama kali, terlebih lagi melihat Fian yang menggunakan seragam kerjanya. Dirinya ternyata masih saja di anggap putri duyung akibat kejadian di pantai semalam, membuat Mahika sedikit malu.

"eh maaf kak, wah kakak kerja disini ternyata"

"Iya ada yang perlu dibantu ?"

"Ini mau ketemu temen, sebentar aja kok kak"

"ok kalau perlu bantuan mohon diberi tahu ya"

"siap kakak putri duyung"

"Jangan panggil saya begitu.."

"jadinya panggil apa ? saya gak tau nama kakak putri duyung"

"Huufftt.. " menarik nafasnya dalam-dalam "saya Mahika, tertera di nametag saya" ucap Mahika yang masih berdiri di tempatnya

"oke baiklah kak putri duyung Mahika" cengir Fian padanya yang penuh percaya diri.

Mahika menutup matanya sejenak mencoba bersabar pada pria aneh di depannya ini. Fian hanya diam melihat Mahika yang mencoba bersabar karna dirinya, ia selalu suka menjahili atau sekedar mengejek kecil untuk mendekatkan diri pada orang baru yang tampak pendiam,

"mohon maaf jika butuh bantuan segera ke resepsionis. Terimakasih " meninggalkan Fian yang masih sibuk menunggu temannya.

***

"BAANGG!!" Fian yang langsung masuk ke ruangan Mahija tanpa mengetuk dahulu, semua mata tertuju pada Fian yang berdiri di ambang pintu.

Seketika terpaku menjadi patung manusia, melihat ruangan ada beberapa atasan selain abangnya sendiri. Mahija menatap Fian dengan tajam seperti akan memangsanya setelah ini.

"astaga naga, bodoh banget gue Ini bukan rumah, tapi kantor " merutuki kebodohannya lalu Fian mengambil sikap sempurna. Menutup pintu kembali, mengetuk pintu, lalu membukanya kembali.

"Lapor, Letda. Fian, izin menghadap"

Seisi ruangan kembali hening, kembali ke aktifitasnya masing-masing. Fian segera mendekat ke meja Mahija, saat ini ia hanya pasrah apa yang akan di lakukan abangnya ini. Mahija hanya mengangguk, melihat Fian yang tampaknya khawatir tentang bagaimana ia akan menghukum adiknya ini, ia hari ini tampak tidak ingin berdebat dengan Fian.

"Ndan... izin, tadi saya melihat kakak putri duyung" ucap Fian tanpa melihat kondisi ruangan yang kini kembali terfokus kepada Mahija dan Fian.

"APA ??? PUTRI DUYUUNG!! " sahut Lettu Singgit yang mendengar obrolan Fian dan Mahija.

"Siap, sa-"

"Putri duyung dimana Ian..?? " tanya Lettu. Singgit yang terlanjur percaya pada ucapan Fian yang masih fokus pada Mahija yang beranjak dari meja kerjanya.

"besok saja, saya mau balik ke barak. Saya tidak enak badan" memotong ucapan Fian dan Singgit, Mahija berjalan keluar dari ruangannya.

"Abang sakit ?, bang demam ? batuk pilek? Covid? Flu burung? Atau apa??" retetan pertanyaan dari Fian menyerbu Mahija yang berjalan meninggalkannya di belakang dirinya.

"Tolong Fian, kasih laporan ke pleton saya suruh Wadanton menghadap ke barak langsung ya"

"SIAP"

"Dan kamu lari 20 putaran di lapangan landasan pacu dengan memakai parasut yang mengembang, lari berlawanan dengan mata angin. PAHAM!! "

"SIAP PAHAM! "

Fian tampak lesu mendengar hukuman dari abangnya yang juga sebagai atasannya,  memakai parasut dan berlari berlawanan dengan mata angin sangat lah berat.  Terlebih lagi angin hari ini cukup kencang, kakinya tetap berjalan menuju landasan pacu pesawat yang panas pada siang hari ini.

Panjang landasan pacu pesawat ditambah dengan parasut yang mengembang dan harus lari berlawanan arah mata angin,  memikirkan nya saja sangat berat apalagi dilakukan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!