Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, Wang Dahu hanyalah seorang pecundang—pemuda bertubuh gemuk yang tak mampu berkultivasi, dihina orang lain, bahkan dipermalukan oleh wanita yang dicintainya.
Ketika semua harapannya hancur, ia mendatangi Danau Pengabul Keinginan, tempat terlarang yang konon menyimpan rahasia mengerikan. Di sana, ia membuat perjanjian dengan iblis kuno demi memperoleh kekuatan.
Namun, sesuatu yang mustahil terjadi.
Alih-alih kehilangan tubuh dan jiwanya, Wang Dahu justru menyerap kekuatan sang iblis!
Kini, rahasia yang terkubur selama ribuan tahun mulai terbangun. Seorang lelaki yang dahulu diinjak-injak perlahan melangkah menuju puncak dunia kultivasi.
Tetapi, jika iblis kuno pun ketakutan terhadap tubuhnya, sebenarnya siapa Wang Dahu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 — Cinta Terlarang Sang Dewi
Malam menyelimuti Desa Cangmu.
Di sebuah rumah sederhana di pinggir desa, Wang Dahu telah terlelap setelah perjalanan panjangnya. Tubuhnya masih menyimpan bekas luka pertarungan, tetapi napasnya kini teratur. Di dalam tubuhnya, energi spiritual dari Ranah Pengumpulan Qi perlahan mengalir.
Di luar rumah, Wang Shun duduk seorang diri di bawah pohon tua.
Di tangannya terdapat sebuah liontin giok putih berbentuk bunga teratai. Benda itu sudah menemaninya selama bertahun-tahun, menjadi satu-satunya peninggalan wanita yang pernah dicintainya.
Jari-jarinya mengusap permukaan liontin itu dengan lembut.
"Dahu sudah menjadi kultivator..."
Senyum bangga muncul di wajahnya, tetapi perlahan berubah menjadi kesedihan.
"Dulu, aku juga pernah bermimpi menapaki jalan keabadian. Aku ingin menjadi kuat agar bisa melindungi orang yang kucintai."
Ia menunduk, menatap kedua tangannya yang mulai keriput.
"Pada akhirnya, aku bahkan tidak mampu melindungi diriku sendiri."
Angin malam berembus.
Ingatan yang telah lama dikuburnya kembali terbuka, membawa Wang Shun ke masa ketika ia masih muda, ketika dantiannya belum hancur dan dunia masih terasa penuh harapan.
Masa ketika ia bertemu seorang wanita yang seharusnya tidak pernah menjadi bagian dari kehidupannya.
Seorang Dewi dari Dunia Atas.
Bertahun-tahun silam, Wang Shun hanyalah kultivator biasa yang hidup di dunia fana.
Bakatnya tidak istimewa. Ia bukan keturunan keluarga besar, tidak memiliki guru terkenal, dan tidak pernah memperoleh warisan kuno.
Ia hanya seorang pemuda yang bekerja keras demi meningkatkan kultivasinya.
Saat itu, ia berada di Ranah Pembukaan Meridian tingkat akhir. Dibandingkan para jenius dari keluarga besar, pencapaiannya tergolong biasa saja.
Namun, Wang Shun tidak pernah menyerah.
Suatu hari, ketika melewati pegunungan terpencil, ia mendengar suara ledakan dari balik lembah.
Rasa penasaran membawanya mendekat.
Di sana, ia menemukan seorang wanita berjubah putih terbaring di antara bebatuan. Rambut hitamnya terurai, wajahnya pucat, dan darah mengalir dari sudut bibirnya.
Meskipun terluka parah, kecantikannya tetap membuat Wang Shun terpaku.
Ia belum pernah melihat wanita secantik itu.
Namun, hal yang paling mengejutkannya adalah tekanan spiritual samar yang terpancar dari tubuh wanita tersebut.
Tekanan itu jauh melampaui pemahamannya.
Wang Shun segera menyadari bahwa wanita ini bukan kultivator biasa.
Ia sempat ragu untuk mendekat. Siapa yang tahu masalah apa yang mungkin ditimbulkan jika ia mencampuri urusan seorang ahli?
Namun, ketika melihat napas wanita itu semakin lemah, ia akhirnya mengambil keputusan.
Ia mengangkat wanita tersebut dan membawanya ke sebuah gua tersembunyi.
Selama beberapa hari berikutnya, Wang Shun menggunakan seluruh sumber daya yang dimilikinya untuk membantu menyembuhkan luka wanita itu.
Ia bahkan menjual sebagian kecil harta miliknya demi membeli obat.
Ketika wanita tersebut akhirnya membuka mata, hal pertama yang dilihatnya adalah seorang pemuda berpakaian sederhana yang sedang merebus ramuan.
"Di mana aku?"
Wang Shun menoleh.
"Kau sudah sadar?"
Wanita itu segera bangkit, tetapi luka-lukanya membuat tubuhnya kembali terjatuh.
"Jangan bergerak. Lukanya belum pulih."
Wanita itu menatapnya dengan curiga.
"Siapa kau?"
"Namaku Wang Shun. Aku menemukanmu di lembah."
"Kenapa kau menyelamatkanku?"
Wang Shun menggaruk kepalanya.
"Karena kau terluka. Apa aku harus membiarkanmu mati?"
Wanita itu terdiam.
Sepanjang hidupnya, ia terbiasa menerima penghormatan, sanjungan, dan perhatian dari orang-orang yang ingin mendapatkan sesuatu darinya.
Namun, pemuda di hadapannya bahkan tidak bertanya tentang identitasnya.
Ia hanya menolongnya karena merasa seseorang yang terluka harus ditolong.
"Siapa namamu?" tanya Wang Shun.
Wanita itu terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Yun Xiyao."
Nama itu kelak akan mengguncang Dunia Atas.
Namun, saat itu Wang Shun tidak mengetahui siapa dirinya.
Ia hanya mengangguk.
"Baiklah, Nona Yun. Istirahatlah. Aku akan menyiapkan makanan."
Yun Xiyao memandang punggung pemuda itu dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
Untuk pertama kalinya, ia merasa penasaran terhadap seorang manusia biasa.
Yun Xiyao tidak langsung meninggalkan lembah setelah pulih.
Lukanya memang telah membaik, tetapi ia masih perlu memulihkan kekuatannya. Karena itu, ia memutuskan tinggal sementara di dekat Wang Shun.
Awalnya, hubungan mereka hanya sebatas dua orang yang kebetulan bertemu.
Namun, hari demi hari berlalu.
Wang Shun mengajarinya cara menjalani kehidupan sederhana. Mereka mencari makanan, berjalan melewati pegunungan, dan sesekali berlatih bersama.
Yun Xiyao yang terbiasa hidup di tengah kemewahan Dunia Atas mulai mengenal kebahagiaan yang berbeda.
Tidak ada pelayan yang melayaninya.
Tidak ada dewa yang berlomba memberikan hadiah.
Tidak ada orang yang memujanya demi mendapatkan kedudukan.
Hanya ada seorang pemuda yang terkadang ceroboh, keras kepala, tetapi selalu memperlakukannya dengan tulus.
Suatu malam, mereka duduk di tepi sungai.
Yun Xiyao memandang pantulan bulan di permukaan air.
"Wang Shun, apakah kau tidak pernah merasa hidupmu terlalu sulit?"
Wang Shun tertawa kecil.
"Tentu saja pernah."
"Lalu, mengapa kau tetap berusaha?"
Ia terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Karena kalau aku menyerah hanya karena hidup ini sulit, aku tidak akan pernah tahu apakah hari esok bisa lebih baik."
Yun Xiyao menoleh kepadanya.
"Bagaimana jika kau telah berusaha seumur hidup, tetapi tetap tidak mendapatkan apa yang kau inginkan?"
Wang Shun tersenyum pahit.
"Setidaknya aku tidak perlu menyesal karena tidak pernah mencoba."
Jawaban sederhana itu membuat hati Yun Xiyao bergetar.
Ia telah hidup sangat lama di antara makhluk-makhluk kuat yang menganggap kekuasaan sebagai segalanya.
Namun, pemuda ini mengajarinya bahwa hidup juga memiliki arti di luar kekuatan.
Tanpa disadari, perasaan di antara mereka tumbuh semakin dalam.
Yun Xiyao akhirnya mengungkapkan identitasnya.
Ia bukan kultivator biasa.
Ia berasal dari Dunia Atas dan merupakan seorang Dewi yang dipuja oleh banyak makhluk ilahi.
Kecantikan serta bakatnya telah membuat banyak dewa muda dan penguasa kuno menginginkannya sebagai pasangan.
Namun, ia menolak semuanya.
Wang Shun terkejut ketika mendengar pengakuan tersebut.
Untuk sesaat, ia merasa jarak di antara mereka begitu besar hingga mustahil dijembatani.
"Aku hanyalah kultivator biasa," katanya lirih. "Aku bahkan tidak tahu apakah aku bisa mencapai ranah yang lebih tinggi."
Yun Xiyao menggenggam tangannya.
"Aku tidak pernah meminta seorang penguasa untuk berada di sisiku."
Ia menatap mata Wang Shun.
"Aku hanya menginginkan orang yang kucintai."
Sejak saat itu, mereka tidak lagi menyembunyikan perasaan masing-masing.
Mereka menikah tanpa kemewahan, tanpa upacara megah, dan tanpa menyaksikan para dewa memberi restu.
Bagi Yun Xiyao, itu adalah hari paling membahagiakan dalam hidupnya.
Namun, kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama.
Kabar tentang hubungan Yun Xiyao dengan seorang kultivator fana akhirnya mencapai Dunia Atas.
Berita itu mengguncang banyak keluarga ilahi.
Bagi mereka, Yun Xiyao bukan wanita biasa yang bebas memilih pasangan. Kedudukannya terlalu tinggi, bakatnya terlalu langka, dan masa depannya dianggap terlalu berharga untuk diserahkan kepada manusia fana.
Beberapa dewa bahkan telah lama menganggapnya sebagai pasangan yang pantas bagi pewaris mereka.
Bagaimana mungkin seorang Dewi yang diperebutkan banyak penguasa justru memilih kultivator lemah?
Mereka menganggap hubungan itu sebagai penghinaan.
Tidak lama kemudian, sejumlah utusan Dunia Atas turun ke dunia fana.
Mereka datang ketika Wang Shun sedang berlatih di luar tempat tinggalnya.
Tekanan mengerikan menyelimuti wilayah itu.
Wang Shun segera merasakan bahaya, tetapi sebelum sempat bereaksi, seorang pria berjubah emas muncul di hadapannya.
"Jadi, kaulah manusia yang telah mencuri hati Dewi Xiyao?"
Wang Shun mengerutkan kening.
"Apa maksudmu?"
Pria berjubah emas tertawa dingin.
"Manusia rendah sepertimu tidak pantas berdiri di sisinya."
Wang Shun mencoba melawan, tetapi perbedaan kekuatan mereka terlalu besar.
Satu serangan saja membuatnya berlutut.
Pria itu mengangkat tangan, kemudian menghantamkan telapak tangannya ke perut Wang Shun.
DUARR!
Dantian Wang Shun hancur.
Energi spiritual yang telah ia kumpulkan selama bertahun-tahun tercerai-berai. Meridian yang pernah ia buka kehilangan aliran energinya, sementara rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh.
Ia jatuh ke tanah, batuk darah.
"Mulai hari ini, kau bukan lagi seorang kultivator," kata pria berjubah emas. "Anggaplah ini hukuman karena berani menyentuh seseorang yang tidak sebanding denganmu."
Namun, itu belum cukup.
Para utusan tersebut berniat menghabisinya agar hubungan terlarang itu benar-benar berakhir.
Tepat ketika serangan berikutnya hendak dilancarkan, cahaya putih membelah langit.
Yun Xiyao muncul.
Wajahnya pucat, tetapi matanya dipenuhi kemarahan.
"Berhenti!"
Para utusan segera menundukkan kepala.
"Dewi Xiyao..."
Yun Xiyao berdiri di hadapan Wang Shun, melindungi suaminya dengan tubuhnya sendiri.
"Siapa yang mengizinkan kalian menyentuhnya?"
Pria berjubah emas mengerutkan kening.
"Dewi, manusia ini telah mencemarkan kehormatan Anda. Kami hanya menjalankan keputusan para penguasa."
"Keputusan para penguasa?"
Aura Yun Xiyao meledak.
Udara bergetar, dan cahaya putih menyelimuti seluruh lembah.
"Apakah kalian pikir aku membutuhkan kalian untuk menentukan siapa yang boleh kucintai?"
Tidak seorang pun berani menjawab.
Namun, jumlah lawannya terlalu banyak. Yun Xiyao juga tidak bisa melawan seluruh kekuatan Dunia Atas tanpa menanggung akibat yang mengerikan.
Ia akhirnya berlutut.
Pemandangan itu membuat Wang Shun tertegun.
Dewi yang selama ini tidak pernah menundukkan kepala kepada siapa pun kini berlutut demi dirinya.
"Aku bersedia menerima hukuman kalian," kata Yun Xiyao. "Kalian boleh mengambil kedudukanku. Kalian boleh membawaku kembali ke Dunia Atas. Tetapi aku memohon satu hal."
Air mata mengalir di wajahnya.
"Jangan bunuh suamiku."
Wang Shun berusaha bangkit.
"Xiyao, jangan! Kau tidak perlu memohon kepada mereka!"
Namun, tubuhnya yang kehilangan dantian tidak lagi mampu menopangnya.
Yun Xiyao menoleh kepadanya.
Tatapan mereka bertemu.
Di mata wanita itu, Wang Shun melihat kesedihan yang tidak akan pernah mampu ia lupakan.
Pada akhirnya, para utusan mengabulkan permintaannya dengan satu syarat.
Wang Shun harus dibiarkan hidup, tetapi tidak boleh lagi menapaki jalan kultivasi. Yun Xiyao juga harus kembali ke Dunia Atas dan tidak boleh menghubungi suaminya.
Sebelum pergi, Yun Xiyao memeluk Wang Shun untuk terakhir kalinya.
"Wang Shun, maafkan aku..."
Wang Shun menggenggam tangannya erat-erat.
"Aku tidak pernah menyesal mencintaimu."
Yun Xiyao menangis.
"Ada sesuatu yang harus kau ketahui. Aku sedang mengandung anak kita."
Wang Shun membeku.
Kebahagiaan dan kesedihan menghantamnya bersamaan.
"Anak kita..."
Wang shun mengangguk.
"Aku akan berusaha memastikan dia hidup dengan baik. Jika suatu hari dia tumbuh dewasa, aku tidak akan membiarkan siapa pun mengetahui asal-usulnya sebelum dia cukup kuat."
Yun Xiyao melepaskan sebuah liontin giok putih ke tangan Wang Shun.
"Jagalah ini. Selama benda ini masih ada, ingatlah bahwa aku tidak pernah menyesali hari ketika memilihmu."
Cahaya putih menyelimuti tubuh Yun Xiyao.
Sesaat kemudian, ia menghilang dari hadapan Wang Shun.
Meninggalkan seorang pria yang kehilangan kekuatannya, istrinya, dan sebagian besar harapan hidupnya dalam satu hari.
Wang Shun membuka mata.
Ia kembali duduk di bawah pohon tua di Desa Cangmu.
Air mata telah membasahi wajahnya tanpa ia sadari.
Bertahun-tahun telah berlalu sejak hari itu.
Ia membesarkan Wang Dahu seorang diri, menyembunyikan masa lalunya, dan berpura-pura menjadi petani biasa.
Ia tidak pernah menceritakan kebenaran karena takut para dewa akan menemukan anak mereka.
Wang Dahu adalah satu-satunya keluarga yang masih dimilikinya.
Dan kini, anak itu telah memulai perjalanan menuju dunia kultivasi.
Wang Shun menatap liontin giok putih di tangannya.
"Xiyao, aku sudah melakukan yang terbaik untuk membesarkannya."
Suaranya bergetar.
"Dia sudah menjadi kultivator. Mungkin suatu hari nanti, dia akan jauh lebih kuat daripada ayahnya."
Tiba-tiba, liontin itu bergetar.
Cahaya putih samar muncul di permukaannya.
Wang Shun langsung berdiri.
"Apa...?"
Liontin tersebut tidak pernah bereaksi selama bertahun-tahun. Namun, malam ini, cahaya di dalamnya semakin terang, seolah merasakan keberadaan seseorang yang jauh di luar dunia fana.
Pada saat yang sama, di dalam sebuah istana megah yang melayang di antara lautan awan keemasan, seorang wanita berjubah putih perlahan membuka matanya.
Wajahnya masih secantik dahulu.
Di belakangnya, hamparan istana membentang tanpa ujung, sementara para pelayan dan penjaga berdiri dengan kepala tertunduk.
Ia adalah Yun Xiyao, Dewi yang dahulu dipuja dan diperebutkan oleh banyak dewa.
Namun, tatapannya saat ini tertuju pada sebuah titik jauh di bawah langit.
Ia merasakan getaran samar dari ikatan darah yang selama ini terpisah darinya.
Bibirnya bergetar.
"Mustahil..."
Sebuah gambaran samar muncul dalam benaknya: seorang pemuda yang berdiri dengan kepalan tangan terkunci, menatap dunia dengan mata penuh tekad.
Air mata mengalir di pipi Yun Xiyao.
"Anakku..."
Namun, sebelum ia sempat menenangkan perasaannya, suara dingin terdengar dari balik pintu istana.
"Dewi Xiyao, apakah Anda kembali memikirkan manusia fana itu?"
Wajah Yun Xiyao seketika berubah.
Seorang pria berjubah emas melangkah masuk. Auranya sangat kuat, dan di dadanya terdapat lambang keluarga ilahi yang pernah menghancurkan kehidupan Wang Shun.
Pria itu menatap Yun Xiyao dengan dingin.
"Sudah bertahun-tahun berlalu. Mengapa Anda masih tidak bisa melupakan masa lalu?"
Yun Xiyao tidak menjawab.
Pria itu melanjutkan, "Kami telah membiarkan manusia itu hidup. Seharusnya Anda sudah melupakan semuanya."
Tangan Yun Xiyao mengepal di balik lengan bajunya.
Ia teringat Wang Shun yang berlutut dengan dantian hancur, tetapi masih berusaha tersenyum agar dirinya tidak bersedih.
Ia teringat perpisahan mereka.
Dan ia teringat anak yang harus dilahirkannya tanpa seorang ayah di sisinya.
Akhirnya, Yun Xiyao mengangkat wajahnya.
Tatapannya kembali dingin seperti seorang Dewi yang tidak bisa disentuh siapa pun.
"Urusanku bukan urusanmu."
Pria berjubah emas itu menyipitkan mata, tetapi tidak berani melanjutkan perdebatan.
Setelah pria itu pergi, Yun Xiyao kembali memandang ke arah dunia fana.
Air mata kembali jatuh.
"Wang Shun..."
Ia mengulurkan tangan, seolah ingin menyentuh seseorang yang berada sangat jauh.
Namun, ketika bibirnya bergerak sekali lagi, kata-kata yang keluar justru membuat suasana istana seakan membeku.
"Wang Shun..."
Di luar istana, awan keemasan mendadak bergolak.
Dan jauh di Desa Cangmu, liontin giok putih di tangan Wang Shun tiba-tiba retak.
Krek!