NovelToon NovelToon
Ternyata Bukan Aku

Ternyata Bukan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:13.9k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Misya dan Reyden menikah selama dua tahun. pernikahan yang mereka jalani karena perjodohan, tak ada masalah dalam rumah tangga mereka yang monoton itu.

namun menjelang pernikahan ke dua mereka, ternyata Misya baru tahu kalau Reyden belum menerima dan bisa mencintai dia bukan karena belum siap. tapi karena hatinya masih ada pada wanita masa lalunya yang akhirnya kembali.

apakah Reyden akan kembali kepada wanita di masa lalunya atau mungkin dia mulai menyadari cintanya kepada Misya?

ikuti terus kelanjutan kisah cinta mereka ya kak...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misya 8

Pukul 12.00 siang, matahari bersinar terik menyinari gedung-gedung pencakar langit di kawasan bisnis ibu kota. Di salah satu ruang kerja lantai atas yang mewah dan berpenyejuk udara, Reyden masih tampak sibuk memandangi layar laptopnya. Berkas-berkas kontrak dan laporan keuangan proyek berserakan rapi di atas meja kerjanya. Pria itu baru saja menyelesaikan conference call penting dengan salah satu klien internasionalnya.

Di tengah kesibukannya, tiba-tiba layar ponsel yang diletakkan di samping laptopnya menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan WhatsApp dari kontak bernama “Misya- istri saya" nama kontak yang baru dia ubah beberapa hari lalu.

Reyden menghentikan jemarinya yang sedang mengetik. Ia meraih ponsel tersebut, lalu membuka pesannya.

“Assalamu’alaikum, Mas Rey... Selamat siang! Jangan lupa makan siang ya. Jangan telat makannya, dan vitaminnya diminum setelah makan, ya. Semangat terus kerjanya, Mas! ❤️”

Membaca pesan singkat penuh perhatian itu, sudut bibir Reyden yang biasanya tergaris kaku tanpa ekspresi perlahan-lahan terangkat, membentuk seulas senyuman tipis yang begitu hangat. Sisa-sisa ketegangan dan bayang-bayang masa lalu yang sempat mengusik pikirannya akibat pertemuan siang nanti seolah lenyap seketika, tersapu oleh ketulusan sederhana dari wanita yang menunggunya di rumah.

Reyden mengetik balasan dengan ibu jarinya.

“Wa’alaikumussalam. Iya, Misya. Bekalnya sudah saya bawa dan vitaminnya tidak akan lupa keduanya saya makan. Kamu juga sudah makan siang?”

Tidak butuh waktu lama, balasan langsung masuk dari seberang sana.

“Sudah dong, Mas! Ini aku lagi mau makan sama Mbak Atin di rumah. Dihabiskan ya bekalnya, awas kalau sisa!”

Reyden terkekeh pelan, sebuah tawa kecil yang sangat langka dan hanya bisa ditarik oleh seorang Misya. Pria itu mengetik satu balasan terakhir.

“Pasti dihabiskan. Saya lanjut kerja dulu.”

Ponsel ia letakkan kembali di atas meja dengan hati-hati. Semangat kerjanya mendadak terisi penuh. Ia beranjak dari kursi kebesarannya, berjalan ke arah sofa tempat tas bekal bernuansa pastel pemberian Misya diletakkan. Membuka kantong depannya, ia mendapati botol vitamin kecil tersimpan rapi di sana. Reyden tersenyum kecil, merasa bahwa memiliki seseorang yang memerhatikan hal-hal kecil seperti ini adalah sebuah berkah terbesar dalam hidupnya yang selama ini berjalan kaku dan monoton.

Sementara itu, di lantai yang sama, tepat pukul 12.50 WIB, suasana di ruang rapat utama sudah mulai dipersiapkan. Anggara berdiri di samping Reyden yang sedang merapikan setelan jasnya.

"Pak Reyden, tim dari Nusantara Production House sudah berada di ruang tunggu eksekutif. Mereka siap masuk sepuluh menit lagi," lapor Anggara dengan nada profesional.

Reyden mengangguk tenang, memasang kembali topeng dingin dan wibawanya.

"Bagus. Panggil mereka masuk tepat pukul satu."

Tak lama berselang, pintu kaca ruang rapat terbuka. Aurelia Parlita Handoko melangkah masuk lebih dulu, didampingi oleh dua orang staf dari agensinya. Hari ini Aurelia mengenakan blazer putih tulang berpotongan modern dengan riasan wajah yang memancarkan aura wanita karier berkelas tinggi.

Begitu melihat Reyden berdiri menyambut di ujung meja rapat, senyuman tipis langsung terukir di bibir Aurelia. Pertemuan pertama mereka kembali setelah lima tahun berlalu, ada sesuatu yang berbeda diantara mereka. Hanya mereka saja yang tahu dan merasakannya.

"Selamat siang, Pak Reyden," sapa Aurelia dengan suara lembut namun tegas, menghentikan langkahnya tepat beberapa jengkal di hadapan pria itu kemudian mengulurkan tangannya.

"Selamat siang, Nona Aurelia. Silakan duduk," balas Reyden formal, kemudian membalas uluran tangan Aurelia singkat. Ia mempersilakan Aurelia dan timnya duduk di sisi seberang meja.

Rapat dimulai tepat waktu. Sebagai Creative Director, Aurelia mempresentasikan konsep iklan kampanye produk baru perusahaan Reyden dengan sangat brilian. Suaranya lugas, penuh percaya diri, dan setiap argumen yang ia sampaikan menunjukkan kapasitas intelektual yang tinggi, alasan utama mengapa di masa lalu ia begitu mendominasi dan memilih mengejar karier alih-alih berproses bersama Reyden dari nol.

Namun, alih-alih terpesona seperti masa lalu, Reyden mendengarkan presentasi itu dengan kepala dingin dan tatapan analitis yang tajam. Bagi Reyden, Aurelia sekarang tidak lebih dari sekadar mitra bisnis profesional.

"Demikian garis besar konsep visual dari kami, Pak Reyden," tutup Aurelia dengan senyuman penuh percaya diri, mengakhiri presentasinya sambil menatap lurus ke arah sang CEO.

"Bagaimana? Apakah ada bagian yang perlu disesuaikan dengan visi perusahaan Anda?"

Reyden terdiam sejenak, membuka lembaran dokumen di hadapannya sebelum mendongak menatap Aurelia tepat di manik matanya.

"Presentasinya sangat baik, komprehensif, dan langsung pada sasaran," puji Reyden datar.

"Namun, pada bagian timeline produksi di halaman empat, saya rasa durasi pengerjaannya terlalu longgar. Kami butuh percepatan dua minggu dari jadwal yang Anda tentukan tanpa mengurangi kualitas visualnya. Perusahaan kami tidak mentoleransi keterlambatan."

Aurelia sedikit tertegun. Ia mengira dengan kedekatan masa lalu mereka, Reyden akan sedikit melunak atau memberikan pujian yang lebih personal. Namun kenyataannya, pria di hadapannya ini jauh lebih keras, tegas, dan dingin dari yang ia ingat.

Aurelia tersenyum tipis, menyembunyikan rasa penasarannya yang besar.

"Dua minggu? Itu tantangan yang cukup ketat, Pak Reyden. Tapi, demi proyek besar ini, tim kami akan menyanggupinya."

"Bagus. Saya pegang komitmen Anda," sahut Reyden tanpa ragu. "Anggara, catat poin revisi tersebut."

"Baik, Pak," jawab Anggara sigap.

Setelah beberapa detail teknis dibahas tuntas selama hampir satu jam, rapat akhirnya ditutup. Tim agensi produksi bergegas membereskan berkas-berkas mereka dan pamit meninggalkan ruangan, menyisakan Reyden, Anggara, dan Aurelia yang masih duduk di tempatnya karena ada beberapa dokumen tambahan yang harus ditandatangani.

Saat Anggara sedang membereskan dokumen di sisi meja yang lain, Aurelia mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan, menatap Reyden lekat-lekat dengan senyuman tipis yang menyiratkan rasa penasaran.

"Apa saya perlu keluar, Pak Rey?' tanya Anggara.

"Tidak usah, Anggara. Kamu selesaikan saja pekerjaan kamu,"

"Apa ada yang ingin anda bicarakan dengan saya, Bu Aurelia?" tanya Reyden dingin.

Aurelia terdiam sejenak. Alisnya berkerut tipis, sementara tatapannya yang semula lekat berubah turun, terfokus pada jemari kiri Reyden yang bertumpu di atas meja. Di sana, melingkar sebuah cincin perak berdesain elegan, simbol suci pernikahan yang sama sekali tidak pernah ada di jari pria itu lima tahun lalu.

Anggara yang sedang merapikan berkas-berkas di sisi meja pun melirik sekilas, lalu kembali fokus pada pekerjaannya, memilih memberi ruang bagi pembicaraan privat antara atasannya dan sang Creative Director.

Aurelia menarik napas pelan. Senyuman tipis penuh percaya diri yang tadi menghiasi bibirnya kini memudar, digantikan oleh keraguan yang mendalam.

"Apa kabar, Rey? Sepertinya kamu sangat baik dan semakin tajam saja analisi kamu. Kamu banyak berubah menjadi lebih dewasa,"

"Cincin itu..." ucap Aurelia memulai, suaranya terdengar jauh lebih lembut dari sebelumnya, nyaris berbisik di tengah keheningan ruang rapat. Ia mengangkat wajahnya kembali, menatap manik mata hitam Reyden lurus-lurus.

Reyden melirik ke arah jemari yang tersemat cincin pernikahan. Reyden sama sekali tidak menunjukkan gestur salah tingkah. Pria itu menyandarkan punggungnya dengan tenang, melipat kedua tangan di depan dada, menjaga jarak profesional.

"Waktu berjalan, Nona Aurelia," jawab Reyden datar.

"Manusia berubah, dan hidup terus berlanjut. Sangat wajar jika ada hal-hal baru yang melekat pada diri saya setelah sekian lama. Dan saya memang sudah menikah,"

"Ah, iya. Selamat. Sudah berapa lama?" tanya Aurelia.

"Mau dua tahun," jawab Rey singkat.

"Sudah cukup lama ternyata. Selamat atas pernikahannya,"

"Terima kasih atas ucapan dan doa Anda, Nona Aurelia," balas Reyden tenang, suaranya tetap datar tanpa menyisakan ruang untuk nostalgia. Ia kemudian menoleh ke arah asisten pribadinya.

"Anggara, apakah dokumen tambahan dan hasil revisi sudah selesai ditandatangani dan dibereskan?"

Anggara segera merapikan lembaran kertas terakhir di tangannya dan memasukkannya ke dalam map kulit hitam.

"Sudah selesai, Pak Reyden. Semua berkas sudah lengkap."

"Bagus," ujar Reyden sambil bangkit dari kursi kerjanya. Ia merapikan jas yang melekat di tubuh tegapnya.

"Jika sudah tidak ada lagi yang perlu dibahas mengenai proyek ini, saya dan Anggara harus kembali ke ruang kerja. Masih ada beberapa laporan yang harus saya periksa."

1
Susan Paulina
Lanjut lagi Thor, ditunggu ya 👍
Ambu Rinddiany Thea
untung mertua s misya tidak seperti emaknya s abi hadeeeeh amsiong we lmn kitu mah ..🤭
Sri Angga
good job reyden.
ryuka
xiihhh gila ni cewe.. dia yg ninggalin dia yg ga terima pas udah ga di pikirin
Oma Gavin
ulet bulu gatel aurela ngga kapok juga sudah di cuekin sudah di bentak ngga di anggap kok masih saja menggatal
ryuka
haduhhh ada ulet keket gabtau diri muncul
ryuka
untung bapak ibu mertua nya baik ya misya
Oma Gavin
ulet bulu gatel mulai menggatal
Heni Setiyaningsih
/Heart/
Heni Setiyaningsih
bersyukur Misya punya mertua yg selalu menyayangi dan melindungi
nining cahyaningrum
bagus
Lembang Azam
bagus Rey sebelum trlambat, untung kamu cpt menyadarinya dan bergerak cp, klw enggak kamu yg tak ulek JD bergedel🤣
Oma Gavin
akhirnya reydhan tegas juga itu semua orang kenapa berkomplot musuhi misya dan bela aurelia
ryuka
diiihh dasar cewe cewe gila.. 🔥🔥🔥🔥🔥
nely_48
ku pegang kata² mu ya rey,,,
nely_48
hmmmm tunggu hukuman mu merlyn,, sok anggun sok merasa tinggi setinggi langit kau aurelia, gataunya cewe arogan n egois, pantas az bunda nya Rey lbh memilih menjodohkan dgn misya
Sri Angga
jgn cm dg kata tp buktikan
Ambu Rinddiany Thea
sok buktikan ters rey sm s misya kalo cinta kamu hanya buat ambu seorang eh salah , buat misya seorang maksdnya 🤭
Susan Paulina: Di tunggu Up selanjutnya Thor, tambah seruu 👍
total 1 replies
Ambu Rinddiany Thea
lanjuuut maak
Ambu Rinddiany Thea
kenapa sih ga apada terbuka aja 2 2 nya , s rey masih mendem soal s aurelia s misya masih mendem soal sepupu dajalna nu ngirim2 foto te bermerk , maenya ambu kudu turu gunung ie teh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!