Shen Ruozi, mahasiswi kedokteran modern yang super judes dan matre, terlempar ke zaman kuno dan terpaksa tinggal di gua. Ogah hidup miskin, ia berniat menjadi juragan obat kaya raya memanfaatkan ilmu medis abad ke-21 miliknya.
Takdirnya berubah kocak saat ia menyelamatkan Long Tianxu, Jenderal Besar berwajah kaku seperti papan tripleks yang sekarat karena racun kronis. Bukannya tunduk pada wibawa sang Dewa Perang, Ruozi malah menjadikannya asisten magang tanpa gaji, buruh numbuk jamu, hingga investor paksaan untuk mendanai apotek barunya di ibu kota!
Menghadapi musuh politik kekaisaran dengan modal lencana emas Jenderal, tabib matre yang tidak pernah mau rugi ini siap mengguncang dunia medis kuno!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13: Tamu tak diundang di paviliun giok
Kehidupan sebagai orang kaya baru ternyata jauh lebih indah dari yang dibayangkan Ruozi. Dua jam pertamanya di kamar Paviliun Giok Langit dihabiskan dengan berendam di bak mandi batu giok berisi air hangat bertabur kelopak bunga mawar, dilanjutkan dengan berguling-guling tidak jelas di atas kasur bulu angsa yang empuknya seperti awan.
"Ah, mantap banget! Ini baru namanya hidup!" gumam Ruozi sambil mengunyah buah anggur dingin yang baru saja diantarkan oleh pelayan pribadinya. "Tinggal rebahan, makan enak, dandan cantik. Kalau si Mas Jenderal dingin itu tahu emasnya aku pakai foya-foya begini, kira-kira dia bakal jantungan gak ya? Bodo amat ah, yang penting gue bahagia."
TOK! TOK! TOK!
Ketukan keras di pintu kayu cendana kamarnya seketika membuyarkan lamunan indah Ruozi.
Ruozi berdecak sebal. Ia bangkit dari ranjang sambil membenarkan jubah sutra ungunya yang sedikit longgar. "Aduh, siapa lagi sih? Perasaan aku gak ada pesan layanan kamar tambahan deh," gerutunya sambil berjalan malas ke arah pintu.
Begitu pintu dibuka, kalimat omelan yang sudah siap di ujung lidah Ruozi mendadak tertelan kembali. Jantungnya serasa copot ke lantai.
Berdiri tegak di ambang pintu adalah seorang pria bertubuh tinggi tegap yang sangat familiar. Pria itu mengenakan jubah perang hitam legam dengan sulaman naga perak yang samar namun memancarkan aura kegagahan yang mematikan. Wajahnya yang luar biasa tampan tampak kaku dan dingin, sedingin es di puncak gunung. Sepasang mata elangnya menatap tajam langsung ke arah Ruozi.
"M-Mas Jenderal?!" pekik Ruozi spontan, matanya membelalak sempurna. "Kok... kok kamu bisa ada di sini?! Bukannya kamu lagi dinas militer di luar kota?!"
Long Tianxu atau yang selama ini dikenal Ruozi sebagai 'Mas Jenderal' tidak menjawab. Tanpa permisi, ia melangkah masuk ke dalam kamar VIP Ruozi dengan langkah lebar yang dominan, membuat suasana kamar yang tadinya hangat seketika berubah menjadi sedingin kutub utara.
Dua orang pengawal pribadi berpakaian besi hitam berjaga di depan pintu, langsung menutup pintu rapat-rapat, meninggalkan Ruozi berdua saja dengan sang jenderal besar.
"Gila ya, main masuk-masuk aja! Ini kamar aku sewa pakai emas kamu tahu!" semprot Ruozi sambil berkacak pinggang, berusaha menutupi rasa gugupnya melihat aura intimidasi pria di depannya.
Long Tianxu berbalik, menatap Ruozi dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan datar. "Shen Ruozi, kau benar-benar punya nyali yang besar. Baru beberapa jam menginjakkan kaki di ibu kota, kau sudah berhasil memicu keributan di toko kain, mengancam seorang Pangeran Kekaisaran, dan sekarang menyewa kamar paling mahal di kota dengan emas bermeterai militer. Kau ingin seluruh dunia tahu keberadaanmu, hm?" suara rendah Tianxu terdengar penuh penekanan yang berbahaya.
Ruozi mengerucutkan bibirnya, sama sekali tidak merasa bersalah. "Ya lagian kamu eh maksudnya si Pangeran Jubah Putih itu sok tahu banget! Masa emas pemberian Mas Jenderal dibilang barang haram? Ya aku belain hak aku lah! Lagian, kok kamu bisa langsung tahu kejadiannya?"
Long Tianxu menghela napas pendek, sebuah gestur yang sangat jarang ia tunjukkan di depan orang lain. Gadis desa ini benar-benar tidak punya rasa takut, atau mungkin terlampau polos hingga tidak sadar bahaya apa yang sedang mengintainya.
"Pangeran Yong xian bukan orang yang bisa kau remehkan, Ruozi," ujar Tianxu sambil melangkah mendekati balkon, melirik ke arah jalanan di bawah penginapan. "Dia sudah menaruh mata-matanya di sekeliling penginapan ini sejak kau check-in. Emas yang kuberikan padamu adalah senjata makan tuan jika kau tidak bisa menyembunyikannya dengan benar. Saat ini, identitasmu sedang dikorek habis oleh faksi miliknya."
Ruozi yang tadinya mau protes langsung terdiam. Bulu kuduknya meremang. "M-Maksudnya... Aku dimata-matain? Serius?! Wah, gak bener nih! Padahal aku baru mau menikmati fasilitas bintang lima!"
"Tempat ini sudah tidak aman untukmu," ucap Long Tianxu dingin sambil berbalik menghadap Ruozi. "Kemas barang-barangmu sekarang. Kau ikut aku."
"Hah?! Ikut ke mana?!" Ruozi langsung memeluk peti kayu emasnya erat-erat, menatap Tianxu dengan penuh curiga. "Jangan bilang kamu mau ngambil balik emas ini ya? Enggak boleh! Ini kan ongkos medis penyelamatan nyawa!"
Sudut bibir Long Tianxu berkedut samar, hampir membentuk senyuman tipis yang sangat langka, namun dengan cepat ia normalkan kembali. "Aku tidak butuh emas itu. Kau akan pindah ke kediaman pribadiku. Di sana, tidak ada satu pun mata-mata Yongxian yang berani mengusikmu. Cepat berkemas, aku tidak suka menunggu."
Ruozi melotot. Pindah ke rumah jenderal? Yang benar saja! Baru saja mau hidup bebas sebagai sosialita mandiri, sekarang malah harus bertamu di rumah cowok kulkas dua pintu ini?
"Bentar, bentar! Kamar ini kan udah aku bayar lunas buat sebulan, Mas! Rugi dong kalau ditinggal sekarang! Uang tipsnya aja gede banget!" protes Ruozi histeris, meratapi nasib liburan mewahnya yang terancam gagal total.
Long Tianxu tidak menggubris protes Ruozi. Ia hanya menatap kedua pengawalnya di depan pintu. "Bantu Nona Shen merapikan barangnya. Jika dia menolak, angkat saja beserta petinya."
"Siap, Jenderal!" jawab kedua pengawal itu kompak dengan suara menggelegar.
Ruozi langsung lemas. "Oke, oke! Aku beresin sendiri! Dasar Jenderal diktator, gak tahu apa kalau cewek butuh healing!" gerutu Ruozi sambil buru-buru memasukkan baju-baju sutranya ke dalam buntalan, sementara matanya melirik tajam ke arah Long Tianxu yang berdiri tegak seperti patung dewa perang di tengah ruangan.
Perjalanan hidup Ruozi di ibu kota tampaknya tidak akan berjalan mulus dan tenang seperti yang ia rencanakan.
Dengan wajah cemberut yang ditekuk habis-habisan, Ruozi terpaksa melangkah keluar dari Penginapan Awan Surgawi di bawah kawalan ketat Long Tianxu dan pasukannya.
Para tamu penginapan dan orang-orang di sepanjang jalan langsung menunduk hormat dengan tubuh gemetaran begitu melihat jubah naga perak sang jenderal besar.
Ruozi yang berjalan di sampingnya hanya bisa menghela napas panjang, meratapi nasibnya yang batal menjadi sosialita mandiri dan kini malah berarak di tengah kota layaknya tahanan kelas kakap.
Kereta kuda militer yang mereka tumpangi akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi raksasa yang dijaga oleh puluhan prajurit bersenjata lengkap.
Begitu gerbang terbuka, pemandangan di dalamnya sukses membuat rahang Ruozi hampir jatuh ke tanah karena takjub. Kediaman Long Tianxu ternyata jauh lebih luas dari perkiraan Ruozi, dengan bangunan utama yang kokoh, halaman luas tempat para prajurit berlatih pedang, serta taman minimalis yang meskipun tampak maskulin, tetap terlihat sangat tertata rapi dan elegan.
"Turun," perintah Long Tianxu pendek saat kereta berhenti sempurna di depan kediaman utama.
Ruozi mendengus sebal, melompat turun dari kereta sambil tetap mendekap erat peti kayu emasnya seolah benda itu adalah belahan jiwanya. Beberapa pelayan wanita paruh baya langsung datang mendekat, membungkuk hormat kepada sang jenderal sebelum menatap Ruozi dengan pandangan penuh rasa penasaran yang teramat sangat.
Long Tianxu melirik pelayan senior di depannya lalu memberikan instruksi dengan suara baritonnya yang tegas. "Bawa Nona Shen ke Paviliun Bambu Hitam di halaman belakang, pastikan semua kebutuhannya terpenuhi, dan tempatkan penjagaan ekstra di sekitar paviliunnya." Mendengar nama paviliun tersebut, para pelayan sempat tertegun sejenak karena tempat itu berada tepat di sebelah kediaman pribadi sang jenderal sendiri, namun mereka segera mengangguk patuh tanpa berani bertanya lebih lanjut.
Ruozi yang mendengar kata 'penjagaan ekstra' langsung menoleh dengan tatapan judes andalannya. "Eh bentar, Mas Jenderal! Ini maksudnya aku dilindungi apa malah dipenjara secara halus sih? Kok pakai ada penjaga segala di depan kamar aku nanti?" protes Ruozi sambil berkacak pinggang, tidak peduli dengan puluhan pasang mata prajurit yang menatapnya dengan pandangan ngeri karena berani memprotes sang Dewa Perang.
Long Tianxu tidak membalas protes itu dengan amarah, ia hanya memajukan langkahnya hingga jarak mereka terkikis, membuat Ruozi otomatis mendongak karena perbedaan tinggi badan mereka yang cukup kontras. "Selama kau berada di bawah atapku, aturanku yang berlaku, Ruozi," bisik Tianxu dengan nada rendah yang dingin namun entah mengapa membuat desaran aneh di dada gadis itu.
Sang jenderal kemudian berbalik pergi meninggalkan Ruozi yang masih melotot kesal, menandakan bahwa petualangan baru Ruozi di sarang sang naga pembunuh baru saja dimulai.