Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.
#cintabutuhperjuangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KETIKA SINCLAIR BERTINDAK
Maxime Sinclair bukanlah pria yang terbiasa menghadapi keadaan tanpa kendali. Sebagai pewaris keluarga Sinclair, ia tumbuh dengan pemahaman bahwa kekuasaan bukan sekadar tentang kekayaan, melainkan kemampuan untuk menggerakkan banyak hal tanpa harus selalu memperlihatkan kekuatan yang dimilikinya.
Keluarga Sinclair merupakan salah satu dinasti bisnis paling berpengaruh.
Kekuasaan mereka tersebar di berbagai sektor, mulai dari keuangan, properti, teknologi, industri perhotelan, hingga hiburan. Nama Sinclair memiliki pengaruh besar di balik layar maupun di hadapan publik. Mereka memiliki jaringan perusahaan produksi, rumah produksi film, agensi manajemen artis, serta kepemilikan saham di sejumlah perusahaan hiburan ternama. Tidak banyak orang mengetahui seberapa luas jaringan keluarga tersebut. Namun, mereka yang bergerak di dunia bisnis memahami bahwa keputusan keluarga Sinclair dapat memengaruhi arah sebuah perusahaan, bahkan industri tertentu.
Maxime adalah representasi paling sempurna dari kekuatan keluarga itu. Ia memiliki kecerdasan bisnis, ketegasan dalam mengambil keputusan, dan kemampuan membaca situasi yang membuatnya disegani oleh para pengusaha. Sikapnya dingin, tutur katanya seperlunya, dan ia tidak pernah merasa perlu meninggikan suara untuk membuat orang lain memahami posisinya. Baginya, wibawa seorang pemimpin tidak dibangun melalui ancaman, melainkan melalui keputusan yang tidak mudah digoyahkan.
Di balik sikapnya yang tegas, Maxime juga memiliki sisi yang jarang diperlihatkan kepada orang lain. Ia terbiasa menyelesaikan persoalan dengan cepat, terutama ketika menyangkut orang-orang yang dianggapnya penting. Dan saat ini, salah satu orang yang paling banyak memenuhi pikirannya adalah Elma.
Daniel masih berdiri di hadapan meja kerja Maxime sambil memegang tablet berisi jadwal kegiatan keluarga Sinclair.
"Ada satu hal lagi, Tuan," ujar Daniel.
Maxime mengangkat pandangannya.
"Besok malam keluarga Sinclair akan mengadakan pesta ulang tahun pernikahan Tuan Alexander dan Nyonya Viviene. Saya sudah memeriksa jadwal Nyonya Elma. Sepertinya beliau belum tentu bisa menghadiri acara tersebut jika seluruh pekerjaannya belum selesai."
Raut wajah Maxime berubah tipis. "Kenapa?"
"Kasus Evelyn Laurent masih membutuhkan banyak perhatian. Besok Nyonya Elma dijadwalkan bertemu dengan pihak Vellora Management. Setelah itu, beliau masih harus menyelesaikan dua perkara lainnya."
Maxime terdiam beberapa saat, ia teringat percakapannya dengan Elma. Istrinya sudah menyetujui tawaran untuk menghadiri pesta ulang tahun pernikahan orang tuanya bersama-sama. Bahkan, Maxime sendiri yang mengajaknya pergi. Ia tidak berniat membiarkan janji sederhana itu kembali terabaikan hanya karena pekerjaan. Moment itu adalah moment penting yang telah lama di nantikannya.
"Daniel." Panggilnya kemudian.
"Ya, Tuan."
"Ambil alih urusan kasus Evelyn."
Daniel tampak sedikit terkejut. "Maksud Anda, Tuan?"
"Hubungi tim hukum kita. Pelajari seluruh dokumen perkara tersebut, termasuk kontrak kerja sama antara Evelyn dan Vellora Management."
"Apakah Anda ingin firma hukum kita mengambil alih penanganan kasusnya?"
Maxime mengangguk. "Temukan penyelesaian yang tepat. Periksa seluruh kewajiban kedua belah pihak, termasuk perhitungan tuntutan ganti rugi yang diajukan agensi. Jika ada tuntutan yang tidak memiliki dasar, jangan biarkan mereka mempertahankannya."
"Baik, Tuan."
"Saya ingin perkara itu selesai tanpa menimbulkan persoalan baru bagi Elma. Jangan sampai dia merasa pekerjaannya diambil alih begitu saja. Semua harus dilakukan secara profesional dan melalui prosedur yang benar."
Daniel mencatat instruksi tersebut. "Bagaimana dengan pihak Vellora Management?"
Tatapan Maxime berubah lebih serius. "Buat mereka memahami bahwa mereka sedang berhadapan dengan persoalan hukum, bukan kesempatan untuk memeras seseorang melalui tuntutan yang tidak masuk akal."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Berikan mereka pilihan penyelesaian yang masuk akal berdasarkan isi kontrak. Jika mereka tidak memiliki dasar untuk mempertahankan tuntutannya, dorong agar mereka mencabut tuntutan tersebut. Saya ingin masalah ini berakhir."
"Dimengerti, Tuan."
Maxime kembali menyandarkan punggungnya pada kursi. Ia tidak sedang berusaha menyelamatkan Evelyn karena memiliki hubungan khusus dengannya. Bahkan, ia tidak terlalu tertarik dengan persoalan pribadi kakak iparnya tersebut. Satu-satunya alasan ia turun tangan adalah Elma, ia tahu betapa keras istrinya bekerja. Elma memiliki ambisi, tanggung jawab, dan standar profesional yang tinggi. Maxime menghargai semua itu. Ia tidak ingin menjadi suami yang membatasi karier istrinya hanya karena ingin mendapatkan lebih banyak perhatian. Namun, ia juga tidak ingin Elma terus-menerus mengorbankan waktu dan kesehatannya untuk menyelesaikan persoalan orang lain.
"Daniel, satu hal lagi."
"Silakan, Tuan."
"Pastikan jadwal Elma tidak terganggu. Aku ingin dia bisa menyelesaikan pekerjaannya yang lain tanpa harus menghabiskan seluruh waktunya untuk kasus Evelyn."
"Baik. Saya akan mengaturnya dengan tim hukum."
Maxime melirik jam tangannya. "Dan siapkan kendaraan untuk besok malam."
"Untuk menghadiri pesta ulang tahun pernikahan Tuan Alexander dan Nyonya Viviene?" Tanya Daniel memastikan.
"Ya." Sahut Maxime.
Daniel mengangguk.
Setelah asistennya pergi, Maxime mengambil ponselnya. Ia membuka percakapan dengan Elma yang sejak tadi belum mendapatkan balasan. Ada keinginan untuk menelepon istrinya, tetapi ia mengurungkan niat tersebut. Maxime tahu Elma tidak menyukai seseorang yang terlalu sering mencampuri pekerjaannya. Ia hanya mengetik sebuah pesan.
Maxime: Jangan lupa besok malam. Kita sudah berjanji menghadiri pesta bersama.
Maxime meletakkan ponselnya kembali. Bagi Maxime Sinclair, menyelesaikan sebuah persoalan bisnis bukanlah sesuatu yang sulit. Ia memiliki sumber daya, jaringan, dan orang-orang terbaik untuk menangani berbagai urusan. Namun, ada satu hal yang mulai ia pelajari: membuat Elma menyediakan waktu untuk dirinya tidak bisa dilakukan hanya dengan sebuah perintah. Ia harus memastikan bahwa perempuan itu memiliki alasan untuk ingin menghabiskan waktu bersamanya. Dan kali ini, Maxime tidak berniat membiarkan janji mereka kembali terlewatkan.
☆