NovelToon NovelToon
DIA LELAKI YANG BERBAHAYA, TAPI AKU MENCINTAINYA

DIA LELAKI YANG BERBAHAYA, TAPI AKU MENCINTAINYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:526
Nilai: 5
Nama Author: Jefika Isabell

Isabella Laurent adalah definisi sempurna dari kecantikan yang mampu mencuri perhatian siapa pun. Wanita berdarah Spanyol itu memiliki tinggi 169 sentimeter, wajah menawan, tatapan mata yang memikat, serta pesona elegan yang membuat banyak pria berusaha mendapatkan hatinya. Namun, di balik kecantikannya, Isabella bukanlah wanita lemah yang mudah tunduk pada keinginan orang lain. Ia memiliki harga diri, keberanian, dan prinsip yang tidak akan pernah ia korbankan demi seorang pria.

Sayangnya, takdir mempertemukannya dengan seseorang yang seharusnya tidak pernah memasuki kehidupannya.

Dominic Lorenzo Imanuel.

Seorang pria yang namanya cukup untuk membuat para pengusaha besar kehilangan keberanian. Ia bukan sekadar pria kaya raya dengan kekuasaan tanpa batas, melainkan seorang mafia berbahaya yang mengendalikan dunia gelap dengan tangan dingin. Kejam kepada musuh, tidak mengenal belas kasihan, dan selalu mendapatkan apa y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PEREMPUAN YANG KUSEBUT IBU

Aku menatap foto yang baru saja dikirimkan Victoria.

Seorang perempuan berdiri di depan rumah sakit sambil menggendong bayi. Wajahnya terlihat jelas, meskipun foto tersebut sudah menguning dimakan waktu.

Aku memperbesar gambar itu.

Perempuan itu bukan Elena.

Bukan pula Clara.

Ada sesuatu yang sangat kukenal dari wajahnya. Bentuk matanya, senyumnya, bahkan tahi lalat kecil di dekat bibirnya.

Aku pernah melihat wajah itu sebelumnya.

Di sebuah foto lama yang tersimpan dalam album keluarga Richard.

“Dominic...” panggilku pelan.

Ia mengambil ponsel dari tanganku.

“Apa ini?”

“Victoria mengatakan bahwa perempuan dalam foto ini adalah ibu kandungku.”

Dominic memperhatikan gambar tersebut cukup lama.

Kemudian ia menoleh kepada Marco.

“Cari identitas perempuan ini.”

Marco mengangguk dan segera meninggalkan ruangan.

Aku masih terpaku pada layar ponsel.

“Selama ini aku memanggil Elena dengan sebutan Ibu. Aku tumbuh bersamanya, mendengar ceritanya, bahkan menganggapnya sebagai satu-satunya orang yang benar-benar mengenalku.”

Dominic menggenggam tanganku.

“Kasih sayang tidak selalu ditentukan oleh hubungan darah.”

Aku menatapnya.

“Tapi mengapa dia tidak pernah mengatakan yang sebenarnya?”

Dominic tidak menjawab.

Dan entah mengapa, aku merasa jawaban yang akan kutemukan nanti justru akan lebih menyakitkan daripada semua kebohongan sebelumnya.

Sore harinya, Marco kembali membawa sebuah map berwarna cokelat.

“Tuan, kami berhasil menemukan identitas perempuan dalam foto.”

Dominic membuka map tersebut.

Aku berdiri di sampingnya.

Di halaman pertama terdapat sebuah nama.

MARIANA ADISTI.

Aku mengerutkan kening.

“Siapa dia?”

Marco menjelaskan bahwa Mariana pernah bekerja sebagai perawat di rumah sakit tempat aku dilahirkan. Namun, dua puluh lima tahun lalu, perempuan itu menghilang setelah terjadi kebakaran kecil di ruang arsip.

“Apakah dia masih hidup?” tanyaku.

Marco mengangguk.

“Kami menemukan alamat terakhirnya di sebuah desa sekitar dua jam dari sini.”

Dominic langsung mengambil kunci mobil.

“Kita berangkat sekarang.”

Aku menatapnya.

“Bagaimana jika dia tidak mau bertemu denganku?”

Dominic menghampiri dan membetulkan rambutku yang sedikit berantakan.

“Setidaknya kau sudah mencoba menemukan kebenaran.”

Perjalanan terasa panjang.

Aku duduk di samping Dominic sambil memandangi pemandangan dari jendela mobil.

Pikiranku dipenuhi pertanyaan.

Apakah Mariana benar-benar ibu kandungku?

Mengapa Elena membesarkanku jika aku bukan anaknya?

Dan mengapa Richard begitu keras menjaga rahasia ini?

Ketika mobil berhenti di depan sebuah rumah sederhana, jantungku langsung berdegup kencang.

Marco turun lebih dulu dan mengetuk pintu.

Tidak lama kemudian, seorang perempuan paruh baya muncul.

Rambutnya mulai memutih. Wajahnya terlihat lelah, tetapi matanya masih memiliki sorot yang tajam.

“Siapa yang kalian cari?”

Aku melangkah maju.

“Apakah Anda Mariana Adisti?”

Perempuan itu langsung terdiam.

Matanya berpindah dari wajahku ke Dominic.

Kemudian ia menatapku lagi.

“Isabella?”

Aku terkejut.

“Anda mengenal saya?”

Mariana menutup mulutnya.

Air mata mulai mengalir di pipinya.

“Ya Tuhan... akhirnya kau datang juga.”

Aku mendekatinya dengan langkah gemetar.

“Apakah Anda ibu kandung saya?”

Mariana tidak langsung menjawab.

Ia hanya membuka pintu lebih lebar.

“Masuklah, Nak. Ada sesuatu yang harus kau ketahui.”

Di dalam rumah, Mariana mengambil sebuah kotak kayu dari lemari.

Ia meletakkannya di atas meja dan membuka tutupnya.

Di dalam terdapat beberapa foto bayi, gelang rumah sakit, dan selembar surat.

Mariana mengambil salah satu foto.

Foto itu memperlihatkan dirinya sedang menggendong seorang bayi perempuan.

“Ini kau, Isabella.”

Aku mengambil foto tersebut dengan tangan gemetar.

“Jadi, benar?”

Mariana mengangguk.

“Aku melahirkanmu dua puluh lima tahun lalu. Tetapi aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk membesarkanmu.”

Aku menahan tangis.

“Kenapa?”

Mariana duduk perlahan.

“Karena aku bekerja untuk keluarga Imanuel. Saat mengetahui bahwa aku mengandung anak Adrian, Clara sangat marah. Namun, beberapa bulan kemudian, dia justru memintaku menyembunyikan kelahiranmu.”

Dominic langsung mengerutkan kening.

“Kenapa Clara melakukan itu?”

Mariana menatapnya.

“Karena Clara mengetahui bahwa Adrian telah melakukan sesuatu yang sangat mengerikan.”

“Apa?”

Mariana menghela napas.

“Adrian tidak pernah mencintai Clara. Dia menikahinya hanya demi mendapatkan kekuasaan keluarga. Hubungan mereka dipenuhi kebohongan.”

Aku menatap Mariana.

“Lalu Elena?”

“Dia adalah sahabat Clara. Ketika aku melahirkanmu, Elena bersedia membesarkanmu agar Adrian tidak mengetahui keberadaanmu.”

Aku menggeleng pelan.

“Jadi Elena bukan ibu kandungku, tetapi dia membesarkanku karena ingin melindungiku?”

Mariana mengangguk.

“Dia menyayangimu seperti anaknya sendiri.”

Air mataku akhirnya jatuh.

Selama ini aku mencari alasan mengapa Elena meninggalkanku.

Ternyata perempuan yang kupanggil Ibu selama ini telah menyelamatkanku dengan mengorbankan kebahagiaannya sendiri.

Namun, masih ada satu pertanyaan.

“Siapa ayah kandungku?”

Mariana terdiam.

Dominic ikut menatapnya.

“Bukankah Adrian?” tanyanya.

Mariana menggeleng.

“Bukan.”

Aku menahan napas.

“Lalu siapa?”

Mariana mengambil sebuah foto lain.

Foto seorang pria muda berdiri di sampingnya.

Aku terkejut.

Wajah pria itu sangat kukenal.

Richard Laurent.

Aku tidak mampu berkata-kata.

Richard?

Pria yang selama ini kuanggap sebagai ayah angkatku ternyata mungkin adalah ayah biologisku?

Mariana mengangguk pelan.

“Richard adalah ayah kandungmu, Isabella.”

Aku menutup mulut.

“Tidak mungkin...”

“Dia mencintaiku sebelum menikahi Elena. Namun, hubungan kami dirahasiakan karena keluarga Laurent tidak pernah menyetujui pernikahan kami.”

Dominic berdiri dengan wajah tegang.

“Jadi, semua dokumen yang menyebut Adrian sebagai ayah Isabella adalah palsu?”

Mariana mengangguk.

“Adrian sengaja menyebarkan kebohongan itu untuk menguasai warisan keluarga Laurent.”

Aku menatap foto Richard.

Tiba-tiba semua perkataan terakhirnya kembali terngiang.

Jangan percaya kepada Adrian.

Kini aku mengerti mengapa ia begitu takut mengungkapkan kebenaran.

Namun, ada sesuatu yang belum selesai.

“Bagaimana dengan Victoria?”

Mariana terdiam cukup lama.

“Victoria bukan saudara kembarmu.”

Aku membeku.

“Lalu siapa dia?”

Mariana menatapku dengan wajah serius.

“Dia adalah anak Clara dan Adrian.”

Dominic langsung terkejut.

“Apa?”

Mariana mengangguk.

“Victoria sebenarnya memiliki hubungan darah dengan keluarga Imanuel. Sedangkan kau adalah anak Richard dan aku.”

Aku menoleh kepada Dominic.

Berarti selama ini Victoria bukan saudara kandungku.

Tetapi mengapa dia begitu menginginkan kehidupanku?

Mariana menjawab seolah mengetahui pertanyaan dalam pikiranku.

“Karena Victoria percaya bahwa semua yang menjadi milikmu seharusnya menjadi miliknya.”

Sebelum kami meninggalkan rumah Mariana, perempuan itu memberikan sebuah amplop.

“Ini surat dari Richard. Dia menitipkannya kepadaku beberapa bulan lalu.”

Aku membukanya.

Isabella,

Jika surat ini sampai kepadamu, berarti aku sudah tidak bisa lagi melindungimu.

Ada satu hal yang harus kau ketahui. Aku tidak pernah menyesali keputusan untuk membesarkanmu. Meskipun kau bukan anak yang kulahirkan bersama Elena, aku selalu menganggapmu sebagai putriku.

Aku berhenti membaca.

Air mataku menetes di atas kertas.

Namun, ada seseorang yang harus kau waspadai. Dia bukan Adrian. Dia bukan Victoria.

Aku melanjutkan.

Orang itu adalah Dominic.

Aku langsung mengangkat wajah.

Dominic sedang berdiri beberapa meter dariku.

Aku kembali membaca.

Dia tidak mengetahui bahwa selama ini dirinya telah digunakan untuk menjaga rahasia terbesar keluarga Laurent. Clara pernah membuat sebuah kesepakatan dengan Elena. Kesepakatan itu melibatkan masa depanmu dan Dominic.

Surat itu berakhir dengan satu kalimat.

Jangan biarkan Dominic menemukan akta asli pernikahan Clara.

Aku menurunkan surat tersebut.

“Dominic...”

Ia menatapku.

“Ada apa?”

Aku tidak langsung menjawab.

Sebelum sempat menjelaskan, ponsel Dominic berbunyi.

Marco menelepon.

“Tuan, kami menemukan sesuatu di mansion.”

“Apa?”

“Adrian mengirimkan sebuah paket. Di dalamnya ada dokumen lama dan foto Clara.”

Dominic mengerutkan kening.

“Dokumen apa?”

Marco terdiam sesaat.

Kemudian menjawab dengan suara berat.

“Akta pernikahan Clara Imanuel. Dan nama pria yang tercantum sebagai suaminya bukanlah ayah Anda, Tuan.”

Dominic membeku.

Aku menatapnya.

Marco melanjutkan.

“Nama pria itu adalah Richard Laurent.”

Aku merasa seluruh dunia berhenti berputar.

Jika Richard adalah suami Clara sebelum menikahi Elena, lalu bagaimana mungkin ia juga menjadi ayah kandungku?

Dan apa sebenarnya hubungan Richard dengan Mariana?

Dominic perlahan mengambil ponselnya.

“Marco, kirimkan fotonya sekarang.”

Beberapa detik kemudian, sebuah foto dokumen masuk.

Dominic membukanya.

Namun, sebelum ia sempat membaca seluruh isinya, sebuah pesan lain muncul di layar.

Pengirimnya adalah Adrian.

“Kalian sudah menemukan ibumu, Isabella. Sekarang saatnya mengetahui siapa yang sebenarnya membunuh Richard.”

Aku menatap pesan tersebut dengan napas tertahan.

Lalu sebuah foto menyusul.

Foto Richard sedang terbaring di lantai ruang kerja mansion pada malam penembakan.

Di belakang tubuhnya berdiri seseorang.

Seseorang yang mengenakan kemeja hitam.

Seseorang yang wajahnya sangat kukenal.

Dominic.

Aku perlahan mengangkat wajah.

Dominic sedang menatap foto yang sama.

“Apa ini?” bisikku.

Ia menggeleng.

“Isabella, aku tidak pernah menembak Richard.”

Namun, di sudut foto terdapat tanggal dan waktu yang tercetak jelas.

Dan yang membuatku semakin ketakutan adalah tulisan merah di bagian bawahnya.

REKAMAN CCTV ASLI. PEMBUNUH RICHARD ADA DI DEPAN MATAMU.

Aku mundur satu langkah.

Untuk pertama kalinya, aku tidak tahu apakah harus mempercayai pria yang selama ini melindungiku.

Atau justru menjauh darinya.

BERSAMBUNG...

1
Mia Camelia
lanjut thor😊
A.A.Pusung
Sedang membaca....
Zendyaa4
bagus kak,semangat teus.. .💪
jangan lupa mampir kakk..🤭
RSS: ko ada bhsa inggrisnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!