NovelToon NovelToon
THE TAURUS

THE TAURUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Misteri
Popularitas:274
Nilai: 5
Nama Author: DOLPIN

Arka Khontacron adalah pemilik perkebunan anggur terbesar di Buleleng tepatnya di Bali. Arka memiliki saudara kembar laki-laki yaitu Phat Shrabeus kakak nya. Mereka tinggal di Seririt, Nama desanya, Desa Sagara. Desa mereka dalam beberapa bulan ini selalu banyak kasus orang-orang desa yang hilang, terutama wanita. Banyak masyarakat yang komplen ke polisi, tapi hasilnya juga sama. Tapi kasus itu mulai terbuka kembali pada malam itu akibat Arka menemukan mayat Pak Braun Ghum di dalam perkebunan miliknya. Pak Braun ialah pemilik peternakan domba di sebelah perkebunan anggur milik keluarga Khontacron dan juga Arka sering bermain bersama anaknya Sara Mhiomorin waktu kecil. Arka memanggil polisi untuk menyelediki kejadian tersebut, tapi bukannya mencari bukti. Polisi menyeret Arka sebagai tersangka, apakah bisa arka menemukan pelaku yang sebenarnya?
Ini ialah kisah cinta ringan dari Zodiak Taurus, bisakah dia bersabar menghadapi kejadian tersebut atau malah menjadi keras kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DOLPIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9. BENANG MERAH

Saat mendengar Bibi May bilang bahwa Phat juga ada bersama ayah, menunggu Arka pulang.

"Phat?"

"Iya, Tuan."

Entah mengapa,mendengar nama kakaknya membuat perasaan Arka kembali tidak nyaman.

"Baik Bi. Aku akan ke sana."

Arka masuk ke dalam rumah.

Suasana di dalam terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya.

Tidak ada percakapan dari para pelayan.

Tidak ada suara langkah kaki yang terburu-buru.

Hanya suara jam dinding yang terdengar jelas dari kejauhan.

Tik...tok..

Arka berjalan menuju ruang makan.

Sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, ia berhenti.

Dari balik pintu terdengar suara ayahnya.

"Arka sudah pulang?"

Bibi May yang berdiri beberapa langkah di belakangnya menjawab,

"Sudah, Tuan besar."

Hening sejenak.

Kemudian suara ayahnya terdengar lagi.

"Suruh dia masuk."

Arka menarik napas panjang.

Tangganya perlahan menggenggam gagang pintu.

Ia tidak tahu apa yang ingin dibicarakan ayahnya.

Namun setelah semua yang terjadi malam ini, Arka merasa pembicaraan tersebut tidak akan sederhana.

Ia membuka pintu.

Di dalam ruangan, ayahnya duduk di ujung meja.

Di sampingnya, Phat berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada.

Tatapan Phat langsung tertuju kepadanya.

Tidak ada senyum.

Tidak ada sapaan.

Hanya tatapan tajam yang sulit dibaca.

Ayah menunjukkan kursi di hadapannya.

"Duduk, Arka."

Arka berjalan mendekat.

"Baik."

Ayahnya tidak langsung menjawab.

Ia justru menatap putranya beberapa saat, seolah sedang memastikan sesuatu.

Phat menatap Arka.

Kali ini, ada sesuatu yang berbeda di wajah Phat.

Kecemasan.

Hanya sesaat.

Tetapi Arka melihatnya.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia mulai bertanya-tanya—

Apa sebenarnya yang disembunyikan oleh keluarganya.

Arka masih menatap Phat, lalu secara tiba-tiba ayahnya berbicara meninggi.

"Arka!"

Arka mengangkat wajahnya.

"A–ada apa, ayah?"

Ayahnya berdiri dari kursinya.

"Kau masih bertanya ada apa!?," "Apa kau sudah dengar bahwa polisi sudah menemukan bukti di tempat kejadian perkara!"

Arka terdiam.

"Apa maksud ayah?"

"Maksud ku!" bentak ayahnya. "Di kebun anggur milik kita! Tempat Pak Braun ditemukan tewas!"

"Tapi...bukankah polisi sudah memeriksa tempat itu kemarin malam?"

"Pemeriksaan awal bukan berarti mereka sudah menemukan semuanya!"

Ayahnya menatap tajam.

"Polisi kembali ke sana pagi tadi. Mereka menemukan sesuatu yang sebelumnya terlewat."

Jantung Arka berdetak lebih cepat.

“Apa yang mereka temukan?”

Ayahnya tidak langsung menjawab.

Phat yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan tiba-tiba melangkah mendekat.

“Masalahnya bukan hanya bukti itu.”

Arka menoleh kepadanya.

“Lalu apa?”

Phat berhenti tepat di depan meja.

“Polisi sudah mulai menghubungkan semuanya.”

“Menghubungkan apa?”

“Kematian Pak Braun. Orang-orang yang hilang. Dan orang-orang yang berada di sekitar kebun anggur.”

Arka mengerutkan kening.

“kenapa polisi tahu semua itu?”

Pertanyaan itu membuat suasana mendadak hening.

Phat menatap Arka dengan rahang mengeras.

Arka mengulang pertanyaannya.

“Kenapa polisi mengetahuinya, Kak?”

Phat tiba-tiba membentak.

“DARI SARA!”

Arka tersentak.

“Apa?”

“Polisi tahu dari Sara!”

Arka langsung berdiri.

“Jangan asal bicara.”

“Aku tidak sedang bercanda!”

Phat menunjuk Arka dengan wajah penuh amarah.

“Sara sudah memberikan informasi kepada polisi!”

Arka menggeleng.

“apa...maksudmu?”

“Itulah masalahnya! Kau terlalu banyak membela dia!”

“Aku tidak membelanya!”

“Lalu kenapa kau terus menemuinya?!”

“Karena dia melihat sesuatu yang mungkin berhubungan dengan kematian ayahnya!”

Phat terdiam sesaat.

Arka menatap kakaknya.

“Kalau polisi mendapatkan informasi dari Sara, apa yang dia katakan?”

Phat mengepalkan tangannya.

“Aku tidak tahu semuanya.”

“Kalau begitu jangan menuduhnya!”

“Aku tidak menuduh Sara!”

Phat mendekat.

“Aku mengatakan bahwa polisi mulai bergerak setelah mendapatkan kesaksian darinya.”

Arka semakin bingung.

“Kesaksian apa?”

Tidak ada jawaban.

Ayahnya akhirnya berbicara.

“Cukup!”

Kedua putranya terdiam.

Ayahnya menarik napas panjang.

“Ada hal lain yang harus kau ketahui.”

“Apa?”

“Pak Thom ditangkap polisi.”

Arka membeku.

“Pak Thom?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Polisi menganggap keterangannya tidak sesuai dengan beberapa bukti yang mereka temukan.”

Arka menatap ayahnya dengan tidak percaya.

“Tapi Pak Thom selalu bersama kita sejak awal.”

“Justru itu yang membuat polisi semakin curiga.”

Arka menggeleng perlahan.

“Ini gk mungkin.”

Ia menoleh kepada Phat.

“Kau tahu soal ini?”

Phat diam.

“Kak Phat.”

“Ya!"

“Sejak kapan?”

“Sejak sore tadi.”

Arka menatap kakaknya tajam.

“Dan kau tidak memberitahuku?”

“Ayah melarangku.”

Arka kembali menatap ayahnya.

“Ayah?”

Ayahnya tidak menjawab.

Arka berjalan menjauh dari meja.

Pikirannya semakin kacau.

Sara mengetahui sesuatu.

Polisi menemukan bukti baru.

Pak Thom ditangkap.

Dan sekarang keluarganya seolah-olah menyembunyikan sesuatu darinya.

Ia teringat kembali percakapannya dengan Sara beberapa saat lalu.

Jangan percaya siapa pun dari keluarga Khontacron.

Arka memejamkan mata.

Kalimat itu kini terdengar jauh lebih mengerikan.

Namun ada satu hal yang tidak bisa ia pahami.

Jika Sara memang memberikan informasi kepada polisi...

mengapa Sara tidak pernah mengatakan apa pun kepadanya?

Arka membuka matanya.

Ia menatap Phat.

“Kak.”

“Apa?”

“Kalau polisi benar-benar mendapat informasi dari Sara...”

Arka berhenti sejenak.

“...kenapa Pak Thom yang mereka tangkap?”

Phat tidak menjawab.

Untuk beberapa detik, tidak seorang pun di ruangan itu berbicara.

Dan diamnya Phat justru membuat Arka semakin curiga.

Mungkin ada sesuatu yang belum mereka katakan.

Sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.

Sesuatu yang mungkin menghubungkan—

Sara, Pak Thom, Pak Braun, dan keluarganya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!