Hanis memiliki empat orang anak Yang masih kecil, namun suaminya sedang menganggur. Demi anak anaknya bisa makan dan bersekolah maka Hanis rela menjadi ibu pengganti. Ia menyewakan rahimnya pada Sean, seorang pria kaya yang istrinya divonis mandul. Namun, keajaiban terjadi, saat Hanis sudah positif mengandung anak Sean, sang istri sah juga dinyatakan hamil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Izin
“Hanis,” Sean memanggil tiba-tiba, memecah keheningan di dalam kabin.
“Ya?” Hanis menoleh dan mendapati raut wajah Sean sudah berubah sedikit lebih lunak.
“Kalau kita buat manual, nggak ada yang bisa larang. Nggak ada aturan legal atau ilegal,” ucap Sean berhati-hati. “Asalkan ada izin dari suamimu dan kamu bersedia.”
Hanis terdiam. Berusaha mencerna perkataan Shane.
“Atau kita ke rumahmu dulu? Ketemu suamimu? Sekalian kalau kamu mau nengok anak-anak,” tawar Sean.
“Ya… boleh,” jawab Hanis setelah mendengar anak-anaknya disebut. Tentu ia rindu.
“Kamu arahkan jalannya ya.”
Sejujurnya Hanis juga tidak tahu jalan. Ia bahkan belum pernah melewati jalan ini sebelumnya, jalan layang yang begitu tinggi, menampilkan keindahan kota dari atas.
“Aku… aku nggak tau jalan… Tapi aku hafal alamatnya,” jawab Hanis jujur.
“Oke, kamu ketik alamatnya disini. Kita pakai GPS.” Sean mengambil ponselnya dari storage pocket dan menyerahkannya pada Hanis.
Dengan tuntunan peta digital, mobil yang mereka tumpangi akhirnya berbelok ke area pemukiman tempat rumah kontrakan keluarga Hanis berada.
“Jalannya kecil. Kita parkir disini aja,” ucap Hanis, khawatir Sean akan memaksa masuk ke dalam gang sempit tanpa ada lahan untuk putar balik.
“Oh… ya udah. Berhenti sini ya?”
“Iya. Disini aja.”
Sean memarkirkan mobilnya di lahan kosong dan turun, bersama Hanis di sampingnya.
“Rumahnya yang mana?” tanya Sean hati-hati.
“Masih masuk ke belakang sana,” jawab Hanis, mempercepat langkahnya. Berjalan mendahului untuk mengarahkan jalan.
Mereka melewati gang sempit, berbelok, masuk ke gang yang lebih kecil dan berhenti di sebuah rumah berdinding kayu yang sudah reyot di beberapa bagian.
“Ini rumahnya,” kata Hanis lirih. Tangannya terulur membuka pengunci besi di bagian dalam bawah pintu yang setengah atasnya terbuka.
“Mas Rino… Anak-anak,” panggil Hanis.
Sean mengekor di belakangnya, ragu-ragu saat hendak melepas sepatunya. “Permisi…”
“Masuk aja, jangan dilepas sepatunya. Kotor banget ini,” ujar Hanis, mencegah Sean menanggalkan alas kaki.
Akhirnya Sean melangkah masuk, meski sungkan juga masuk ke rumah orang menggunakan sepatu walaupun lantai di bawahnya masih semen plester.
Dari arah belakang Rino keluar sambil menggendong Icha yang sepertinya barusan dimandikan.
“Icha!” Hanis langsung menghambur, memeluk tubuh mungil putrinya, membawa ke gendongan. “Icha rewel nggak, Mas?”
“Nggak, aman kok. Anak manis dia,” jawab Rino. Sedetik kemudian raut wajahnya berubah karena melihat Sean. “Oh, Pak Sean… Silahkan duduk.”
Sean dipersilahkan duduk di sebuah kursi plastik. Sementara Rino dan Hanis yang menggendong Icha duduk bersebelahan di bangku kayu panjang tanpa sandaran.
“Jadi begini, tujuan saya datang kesini minta izin kepada Bapak sebagai suami Hanis,” buka Sean. “Jadi, saya dan Hanis sudah konsultasi ke dokter. Masalahnya, dokter menolak melakukan proses inseminasi buatan jika bukan pada pasangan suami istri sah.”
Wajah Rino berubah seketika. Memancarkan kekecewaan. “Yaah… berarti ini batal? Kasihan Seno, dia sudah semangat sekali mau sekolah.”
Hanis menunduk, memandangi wajah putrinya yang sedang tertidur.
“Bisa tidak batal. Tapi, saya minta izin dulu ke kamu sebagai suaminya Hanis. Izin buat melakukan proses manual…”
“Proses manual?” ulang Rino bingung.
“Mas!” Hanis menyenggol lengan, Rino. Kesal karena suaminya yang sudah punya empat anak kandung begitu saja tidak paham.
“Ooh… maaf, maaf… Ya, saya paham,” ucap Rino kikuk.
“Saya yang minta maaf. Bukan maksud saya mau kurang ajar, tapi dokter menolak,” ujar Sean, benar-benar tak enak hati pada Rino.
“Tidak apa-apa,” potong Rino. “Yang penting perjanjiannya tetap jadi.”
Hanis mendongak, menatap wajah suaminya heran. Ia kira, Rino akan marah atau tersinggung. Rino yang tidak keberatan dan langsung setuju benar-benar diluar dugaannya.
“Mas?” panggil Hanis memastikan.
“Nggak apa-apa, Nis. Ini demi anak-anak,” bisik Rino, membuat Hanis akhirnya ikut mengangguk.
“Ya sudah, Mas…”
...****************...