Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.
Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.
Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.
Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.
Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stella Lingga 01.
Suara alarm dari ponsel di atas nakas sudah berbunyi untuk kelima kalinya, tetapi Stella masih meringkuk di balik selimut tebalnya. Ketika matanya melirik jam dinding yang menunjukkan angka 06.40, kesadarannya langsung tersentak.
"Mampus! Gerbang dikunci sepuluh menit lagi!" teriak Stella histrionik, langsung melompat dari tempat tidur hingga kakinya tersangkut ujung sprei.
Gadis 17 tahun itu bergerak secepat badai. Mandi kilat lima menit—yang lebih mirip seperti sekadar membasahi muka dan menyikat gigi—lalu memakai seragam putih abu-abunya dengan asal. Dasi sekolahnya masih menggantung longgar di leher, rambut panjangnya yang agak bergelombang hanya diikat cepol berantakan dengan jepitan badai berwarna merah muda.
Sambil menyambar tas ranselnya yang setengah terbuka, Stella berlari menuruni tangga rumahnya melompati dua anak tangga sekaligus.
"Stella! Sarapan dulu, ini Bunda buatkan roti!" seru ibunya dari arah dapur.
"Nggak sempat, Bun! Stella pinjam motor Ayah ya, naik ojek online kelamaan nunggunya!" sahut Stella tanpa mengerem langkahnya. Dia menyambar kunci motor di dekat TV, mencium tangan ibunya secepat kilat, dan langsung melesat ke garasi. Di atas motor, sepanjang jalan pikiran Stella hanya satu: bagaimana caranya lolos dari Pak Bambang, guru piket paling killer se-SMA Pancasila.
Langkah Stella mendadak gontai saat melihat gerbang besi sekolah sudah tertutup rapat.
Benar saja, Pak Bambang berdiri di sana dengan melipat tangan di dada, lengkap dengan tatapan matanya yang setajam elang.
Setelah melalui drama memohon yang dramatis—termasuk akting pura-pura pusing yang gagal total—Stella akhirnya diizinkan masuk dengan satu syarat mutlak.
"Lari sepuluh kali putaran di lapangan utama. Sekarang, Stella!" perintah Pak Bambang tegas.
Stella mendesah panjang, namun matanya tiba-tiba berbinar saat menoleh ke arah lapangan utama.
Di sana, tim futsal sekolah sedang mengadakan latihan pagi. Dan di tengah-tengah lapangan, ada Gibran. Cowok idola sekolah, kapten tim futsal yang ketampanannya selalu berhasil membuat fungsi otak Stella bergeser.
Melihat kesempatan dalam kesempitan, insting petakilan Stella langsung aktif. Sambil mulai berlari pelan mengelilingi lapangan, dia sengaja mengatur rutenya agar lebih dekat dengan area latihan futsal.
Pada putaran ketiga, napas Stella mulai terengah-engah, tetapi matanya tetap fokus mencari perhatian Gibran. Saat bola futsal bergulir ke arah pinggir lapangan, Stella dengan sengaja mempercepat langkahnya, berpura-pura tidak melihat bola, lalu menyenggolnya sedikit hingga dia kehilangan keseimbangan.
"Aduh! Aduuuh, kaki gue!" Stella memekik dengan nada yang dibuat-buat, terdengar sangat teatrikal. Dia menjatuhkan diri ke rumput pinggir lapangan, memegangi pergelangan kakinya sambil meringis, matanya melirik genit ke arah Gibran yang kebetulan berjalan mendekat untuk mengambil bola. "Aduh, Gibran... kayaknya kaki gue terkilir deh. Sakit banget, aduh..."
Gibran berhenti tepat di depan Stella. Cowok itu bertolak pinggang, tubuhnya yang tegap basah oleh keringat, memancarkan aura atletis yang membuat jantung Stella berdegup dua kali lebih cepat. Stella sudah bersiap menyunggingkan senyum termanisnya, berharap Gibran akan mengulurkan tangan atau minimal bertanya dengan nada khawatir.
Namun, Gibran hanya menatap Stella datar. Tidak ada riak emosi sama sekali di wajah tampannya. Gibran cuek bebek. Dia hanya menunduk, mengambil bola futsal di dekat kaki Stella, lalu memutarnya di ujung jari.
"Kalau mau akting, belajar dulu sama anak teater. Masih kelihatan banget bohongnya," ucap Gibran dingin, tanpa minat.
Sebelum Stella sempat membalas, Gibran sudah berbalik badan dan berteriak ke arah teman-temannya, "Woi, lanjut latihannya!" Dia berlari kembali ke tengah lapangan tanpa menoleh lagi, meninggalkan Stella yang masih terduduk di tanah dengan mulut menganga tak percaya.
"Sialan, cuek banget sih jadi cowok!" gerutu Stella kesal, langsung bangkit berdiri tanpa ada tanda-tengah kesakitan lagi di kakinya. Wajahnya memerah, separuh karena lelah berlari, separuh lagi karena malu setengah mati.
Setelah menyelesaikan hukuman yang melelahkan, Stella berjalan gontai menuju kelasnya, Sembilan A. Dia membuka pintu kelas yang untungnya belum ada guru, lalu langsung menenggelamkan wajahnya di atas meja, meratapi harga dirinya yang baru saja jatuh bebas di pinggir lapangan.
Di sudut paling belakang kelas, suasana sangat kontras dengan kehebohan yang biasa dibawa Stella. Di sana, duduk seorang cowok bernama Lingga.
Lingga adalah murid yang jarang bersuara. Dia selalu mengenakan jaket hoodie hitam di dalam kelas, duduk menyendiri, dan hampir tidak pernah bergabung dalam obrolan kelompok. Kehadirannya seperti kabut—ada, tapi sulit dijangkau. Sifat misteriusnya sering kali membuat orang lain enggan mendekat karena auranya yang tidak bisa ditebak.
Dari sudut gelap itu, Lingga memperhatikan Stella sejak gadis itu masuk ke kelas dengan rambut berantakan dan napas memburu. Lingga telah menyaksikan seluruh kejadian di lapangan tadi dari jendela koridor sebelum masuk kelas. Dia melihat bagaimana Stella dengan konyolnya menjatuhkan diri demi mencari perhatian Gibran, dan bagaimana Gibran mengabaikannya begitu saja.
Melihat Stella yang sekarang sedang mengacak-acak rambutnya sendiri di meja karena frustrasi, Lingga hanya geleng-geleng kepala. Sudut bibirnya terangkat sangat tipis, membentuk senyuman sinis yang nyaris tak kentara. Bagi Lingga, tingkah laku Stella adalah sebuah misteri lain—bagaimana bisa seseorang mengorbankan harga dirinya demi cowok yang jelas-jelas tidak peduli?
Lingga kembali menundukkan kepala, memainkan pulpen di jemarinya dengan ritme yang monoton. Matanya menatap kosong ke luar jendela, kembali tenggelam dalam dunianya yang sunyi dan penuh rahasia, sementara Stella di depan sana masih sibuk mengomeli angin.
Dua kutub yang berbeda kini berada di ruang yang sama, dan sekolah ini baru saja memulai drama musim seminya.
......................
...****************...
Tbc,