Alea hidup dalam realitas kemiskinan mulai dari tagihan listrik dan kontrakan yang menunggak memaksanya berjuang keras banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendri.
Di sisi lain, Arka Adiwangsa hidup dalam kemewahan namun dibayangi darah, pengkhianatan, dan rahasia gelap keluarganya.
Hingga pertemuan tak terduga di tepi jembatan malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Dua dunia yang bertolak belakang pun berbenturan: Alea perlahan terseret ke dalam pusaran bahaya dunia mafia, sementara logika absurd gadis itu tanpa sadar menundukkan sisi gelap di dalam diri Arka.
Ketika nyawa dan uang receh dipertaruhkan di meja yang sama, akankah sang pewaris takhta akhirnya luluh dan menaklukkan hati Alea? Atau justru mereka harus kembali melangkah di jalan masing-masing?
Kisah mereka lebih dari sekadar pertemuan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan. Penasaran? Langsung baca saja ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Lonceng kuningan di atas pintu masuk Kafe Sudut Temu bergemerincing nyaring. Bagi pelanggan, itu adalah melodi penyambutan yang estetis. Namun bagi Alea yang sudah berdiri selama empat jam non-stop dengan celemek cokelat berbau noda kopi, suara itu tak ubahnya alarm eksekusi mati.
"Selamat datang di Sudut Temu, ada yang bisa saya—"
Kalimat sapaan standar operasional yang dilontarkan Alea terputus di udara.
Senyum andalannya yang sukses membuat otot rahangnya kram, mendadak luntur.
Di ambang pintu, seorang pemuda jangkung berdiri dengan postur tegap yang memancarkan dominasi mutlak.
Ia mengenakan kemeja hitam berlengan panjang yang digulung hingga siku, dipadukan dengan celana bahan berwarna senada. Pakaian kasual yang menempel di tubuhnya itu mungkin terlihat sederhana, namun potongannya yang sempurna tanpa kerutan sedikit pun menjeritkan satu hal: Harga pakaian ini bisa untuk melunasi cicilan KPR rumah subsidi sepuluh tahun.
Itu Arka Adiwangsa. Sang Tuan Muda yang entah bagaimana bisa menemukan tempat kerja paruh waktunya mencari nafkah.
Kehadiran pemuda itu seketika membuat suhu kafe yang sudah ber-AC terasa anjlok sepuluh derajat. Beberapa pelanggan, yang mayoritas adalah mahasiswa pemburu Wi-Fi gratis, perlahan menundukkan kepala, mendadak merasa sangat sibuk dengan laptop mereka. Insting bertahan hidup mereka menyala tanpa alasan yang jelas.
Arka melangkah maju menuju meja kasir. Tatapannya yang sedingin palung laut mengunci tepat pada wajah Alea.
"Ngapain lo di sini?" desis Alea pelan, mencondongkan tubuhnya ke atas meja kasir sambil menatap waspada ke kiri dan kanan, takut bosnya yang super pelit melihat interaksi non-profesional ini.
"Jangan-jangan diam-diam lo masang cip pelacak di sepatu gue, ya?!"
Arka tidak langsung menjawab. Ia menatap lekat gadis di balik mesin kasir itu. Rambut Alea dicepol rapi, menyisakan beberapa helai yang jatuh membingkai wajah lelahnya. Gadis ini sama sekali tidak terlihat terintimidasi, justru terlihat sangat terganggu.
Di dunia Arka, mencari tahu sebuah informasi hanya butuh satu pesan singkat ke divisi intelijen klannya. Menemukan lokasi seorang pelayan kafe bahkan tak memakan waktu tiga menit.
Alih-alih menjelaskan, Arka mengangkat tangan kanannya. Ia meletakkan sebuah kotak berukuran sedang di atas meja kasir kayu tersebut. Kotak itu berwarna hitam matte, diikat dengan pita beludru merah gelap, dan memiliki logo emas timbul berhuruf kursif dari sebuah toko roti patisserie Michelin-star yang letaknya di pusat kota, tempat di mana untuk masuk saja pelanggannya harus masuk daftar tunggu selama dua bulan.
"Kompensasi," ucap Arka dengan suara baritonnya yang tenang.
"Untuk roti lo yang hancur di jembatan kemarin malam."
Alea mengerjap. Ia menatap kotak elegan itu, lalu menatap Arka bergantian. Dengan gerakan ragu, ditariknya ujung pita beludru itu. Begitu penutup kotak terbuka, aroma mentega murni berkualitas tinggi langsung menguar, bercampur dengan wangi cokelat truffle dan lapisan emas murni (edible gold) yang menempel di atas permukaan enam buah croissant berukuran sempurna.
Alea menahan napas. Matanya membulat sempurna, nyaris melompat keluar dari sarangnya. Otak kapitalisnya yang sedang lelah mendadak di-reboot paksa dan bekerja dalam kecepatan cahaya.
"Bos..." gumam Alea, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang sulit dideskripsikan.
"Ini croissant lapis emas murni, kan? Lo serius ngasih ginian buat gue?"
Arka mengangguk pelan, menyandarkan sebelah tangannya di meja kasir.
"Makanlah. Gue harap itu cukup untuk menghentikan omelan absurd lo kalau ketemu pelanggan rewel."
Rasionalitas manusia normal yang menerima hadiah semewah itu dari pria setampan Arka mungkin akan tersipu malu, berterima kasih dengan pipi merona, lalu memakannya perlahan dengan perasaan berbunga-bunga.
Namun, ini adalah Alea. Gadis itu tiba-tiba menutup kotak itu dengan sangat hati-hati.
Ia memeluk kotak hitam tersebut erat-erat di depan dadanya, menatap Arka dengan pandangan berkilat-kilat penuh ambisi bisnis.
"Lo salah besar jika ngarep gue makan nih roti?!" seru Alea nyaring, membuat beberapa pelanggan di ujung ruangan berjengit kaget.
"Nih roti sultan, Bos! gue tau banget harga satu biji croissant ini bisa buat bayar tagihan listrik gue dua bulan kedepan?! Jika emasnya gue krik pakai sendok terus gue kumpulin, bisa gue gadai ke Pegadaian! Terus sisa rotinya bakal gue ecer di sekolah esok pagi. Gue bakal kaya mendadak, jir!"
Arka membeku di tempat. Wajahnya yang selalu sedatar tembok beton kini menampilkan retakan kecil berupa keterkejutan yang sangat langka. Ia menatap gadis yang sedang memeluk kotak rotinya dengan mata berbinar-binar liar itu.
Selama hidupnya, ia telah memberikan hadiah bonus berupa mobil sport, saham perusahaan, hingga koper berisi jutaan dolar kepada anggota klannya.
Namun, belum pernah ada satu orang pun yang berencana mencari keuntungan dari hadiahnya.
Urat halus di pelipis Arka berdenyut perlahan. Ia mengangkat tangannya, memijat pangkal hidungnya dengan hela napas panjang yang sarat akan keputusasaan terhadap jalan pikiran Alea yang tak bisa diselamatkan.
"Terserah lo aja, deh," gumam Arka, akhirnya menyerah pada jalan pikiran Alea.
Arka kemudian mengeluarkan sebuah kartu hitam tak bernomor Black Card dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja. Bunyi ketukan plastik keras melawan kayu itu terdengar mematikan.
"Gue mau meja di sudut sana yang paling jauh dari keramaian, sampai shift-mu selesai,"
titah Arka dengan nada tak terbantahkan.
"Bawakan gue secangkir americano panas, pastikan cangkirnya steril, dan jangan biarkan ada satu pun manusia yang berani mendekat ke area gue. Argo waktu lo dimulai... sekarang."
Melihat kilau Black Card di atas mesin kasirnya, mentalitas pekerja keras Alea langsung meroket ke level maksimal. Ia menyelipkan kotak croissant aset masa depannya ke bawah meja, merapikan celemeknya, dan menatap Arka dengan senyum pelayanan pelanggan bintang lima yang kali ini seratus persen tulus dari lubuk hatinya.
"Siap laksanakan, Tuan Arka Yang Mulia! Area VIP segera disterilkan!" hormat Alea dengan semangat membara.
"Dan sekadar informasi, tarif jaga keamanan eksklusif harganya dua kali lipat dari harga tour guide sekolah tadi pagi ya. Dan selamat menikmati layanan kami Tuan Muda!"
Bersambung...
udh lah jngan suka mancing2 Alea yg bar2 ini, bisa kena bogem loh buru**nya nnt 😂😂😂