NovelToon NovelToon
Bangkitnya Putri Terbuang

Bangkitnya Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Ruang Ajaib
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Seorang wanita ahli pengobatan dan racun tiba-tiba memasuki tubuh seorang gadis lemah bernama Feng Wu. Terbangun di tempat asing, ia sempat mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun, tempat dan kehidupan baru yang dihadapinya ternyata benar-benar nyata.

Jika Feng Wu sebelumnya dikenal sebagai gadis bodoh dan lemah yang selalu diremehkan, maka kedatangan jiwa baru akan mengubah segalanya.

Mulai sekarang, Feng Wu bukan lagi gadis yang mudah ditindas.

Karena sudah masuk ke tubuh Feng Wu, maka wanita itu akan menuntut balas atas perlakuan buruk pada pemilik tubuh asli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Berita tentang kemenangan luar biasa di perbatasan Utara, di mana ribuan pasukan musuh dikalahkan tanpa satu pun prajurit gugur menyebar bagai angin ke seluruh penjuru kekaisaran, hingga akhirnya sampai ke telinga Kaisar Qinchuan di ibukota. Sang Kaisar yang awalnya cemas akan keselamatan perbatasan, kini penuh kekaguman. Ia tahu betul betapa tangguh dan berbahayanya Suku Utara namun Jenderal Wen berhasil mengalahkan mereka dengan begitu cemerlang.

Dengan segera, utusan kekaisaran bergegas membawa perintah resmi ke benteng perbatasan.

Utusan tersebut membaca perintah resmi dihadapan para jendral.

"Kepada Jenderal Besar Wen, pelindung perbatasan yang setia. Atas jasa besar dan kemenangan luar biasa yang telah kau raih, Kekaisaran memanggilmu kembali ke Ibukota. Kaisar sendiri ingin memberikan penghargaan dan hadiah tertinggi atas pengabdianmu. Segera kembali tanpa penundaan."

Jenderal Wen menerima surat itu dengan hormat, namun di dalam hatinya ada perasaan campur aduk. Kembali ke ibukota... tempat yang penuh kenangan pahit sekaligus manis. Namun ia tahu, ia tidak bisa menolak perintah Kaisar.

Jendral Wen hendak berbicara dengan Feng Wu, dia ragu apakah sang cucu ingin pergi bersamanya atau ingin menatap di perbatasan.

"Kakek tidak akan memaksamu Wu'er, semua terserah padamu. Jika kau ingin menetap disini, tidak masalah". Ujar Jendral Wen.

"Sudah saatnya aku kembali kakek, biarkan aku menemani kakek pergi" Kata Feng Wu.

Sebelum berangkat ke Ibukota, Feng Wu bekerja keras siang dan malam demi memastikan perbatasan Utara tetap aman. Ia mengundang Jenderal Xu ke ruang kerjanya, lalu mengeluarkan peta wilayah yang telah ia tandai dengan berbagai simbol dan catatan rinci.

"Jenderal Xu, ini adalah strategi pertahanan yang kubuat khusus untuk medan perbatasan Utara," ucap Feng Wu tegas sambil menunjuk titik-titik penting di peta. "Di sini, di lembah sempit tadi, kita perkuat jebakan permanen. Di bukit tinggi ini, pasukan pengintai harus selalu berjaga. Dan di jalur rahasia ini... musuh sering menyusup diam-diam, jadi pasukan kecil harus berjaga di sana setiap hari."

Bukan hanya strategi, Feng Wu juga menggambar rancangan senjata baru yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya. Sebuah tabung besar dari logam kuat, dengan mekanisme yang mampu melepaskan proyektil berat dengan kekuatan dahsyat ke jarak jauh.

"Ini namanya meriam," jelasnya. "Dengan senjata ini, walau pasukan musuh datang dalam jumlah besar, kita bisa menghancurkan mereka sebelum mereka sempat mendekat ke benteng. Aku sudah menuliskan cara pembuatannya dan cara menggunakannya secara rinci di sini."

Jenderal Xu memegang kertas gambar itu dengan tangan gemetar. Ia tidak pernah membayangkan ada senjata sedahsyat itu. Dan strategi pertahanan yang disusun Feng Wu begitu cerdas, begitu menyeluruh, seakan ia sudah bertempur di medan ini puluhan tahun.

"Nona Feng Wu..." ucap Jenderal Xu dengan penuh kekaguman. "Dengan strategi dan senjata ini, aku berani menjamin perbatasan Utara takkan pernah jatuh, walau seribu pasukan musuh datang sekalipun."

Feng Wu tersenyum tipis. "Aku menjamin perbatasan Utara akan tetap aman terkendali, Jenderal. Percayalah pada rencana ini dan pada dirimu sendiri."

Hari keberangkatan pun tiba. Jenderal Wen telah menyerahkan seluruh tanggung jawab benteng dan pasukan perbatasan kepada bawahannya yaitu Jenderal Xu pria yang paling dipercayainya, tangguh, setia, dan kini memegang kunci pertahanan yang disusun oleh Feng Wu.

Sebelum naik ke kereta kuda yang akan membawa mereka ke ibukota, Feng Wu mendekati kakeknya dengan wajah serius.

"Kakek, sebelum kita berangkat... ada satu hal yang aku minta," ucapnya lembut namun tegas. "Saat di ibukota, tolong jangan melibatkan aku ke dalam lingkaran istana. Jangan memperkenalkan aku kepada para Pangeran, Bangsawan, atau siapa pun dari kalangan istana. Cucu tidak ingin terlibat dengan mereka."

Jenderal Wen menatap cucunya lekat-lekat, lalu mengangguk pelan dengan tatapan penuh pengertian sekaligus penyesalan yang lama tersembunyi.

"Kakek mengerti, Wu'er..." ucapnya pelan. "Yang terpenting, kakek akan selalu menjagamu sekuat tenaga"

Ia menggenggam tangan cucunya erat-erat, matanya menyala dengan tekad yang kuat.

"Untuk perjodohan, kakek tidak akan tergesa-gesa. Tidak akan ada perjodohan. Tidak akan ada yang memaksamu menikah dengan siapa pun. Kau bebas menentukan jalan hidupmu sendiri. Hanya kau yang berhak memilih siapa yang akan berdiri di sisimu, jika memang ada orang yang pantas untukmu."

Feng Wu tersenyum tulus, hangat dan penuh syukur. "Terima kasih, Kakek. Aku hanya butuh waktu dan ingin membuktikan diri dulu, sebelum berpikir tentang hal lain."

"Kakek bangga padamu, Wu'er. Lebih dari yang bisa Kakek ucapkan."

Kereta kuda bergerak perlahan menjauhi benteng perbatasan. Di belakang mereka, ada para prajurit berdiri berbaris rapi di sepanjang jalan memberi hormat terakhir kepada Jenderal Wen dan kepada Feng Wu. Bukan sekadar hormat kepada keluarga bangsawan, melainkan hormat kepada seseorang yang telah menyelamatkan nyawa mereka dan menjamin keamanan perbatasan.

Di dalam kereta, Jenderal Wen menatap ke luar jendela, melihat pemandangan yang perlahan berubah dari padang rumput kering menjadi ladang-ladang hijau dan desa-desa yang mulai tampak.

"Kita kembali, Wu'er..." gumamnya pelan. "Kembali ke tempat yang dulu merenggut kebahagiaan Ibumu. Tapi kali ini... kau bukan lagi gadis yang lemah dan tak berdaya. Kau kembali dengan kekuatanmu sendiri."

Feng Wu menatap ke depan, matanya tenang namun tajam. Di kejauhan, siluet menara dan gerbang besar ibukota Qinchuan mulai terlihat samar. Kota itu, tempat di mana Selir Yu, Menteri Feng, dan semua orang yang pernah menyakitinya kini tinggal dengan tenang, mengira dia sudah tiada.

"Tunggu aku..." batinnya.

"Aku kembali. Bukan untuk memohon belas kasihan. Bukan untuk menjadi putri yang dikucilkan. Aku kembali untuk mengambil apa yang menjadi hakku dan untuk membuat mereka semua tahu, bahwa pembawa malapetaka yang mereka takuti selama ini... ternyata adalah kebangkitan yang akan mengguncang seluruh Qinchuan"

Kereta kuda itu melaju terus, menuju gerbang ibukota yang megah. Dan di dalamnya, seorang wanita yang namanya kelak akan tercatat dalam sejarah, bukan sebagai putri yang dibuang, melainkan sebagai wanita yang mengubah takdirnya sendiri.

1
jenny
jangan² pria selingkuhan selir Yu nih yang menebarkan racun atas usulan selir Yu
Dian Utami
feng Wu terlalu egois thor dan bertindak sesuka hati, giliran di perhatikan dia kesel
ummu syafanah
lanjut thor
jenny
semoga wen qi tersadar dan gak perlu marah² ke su meng
Nonik Anda Swl
Thank you Thor, next please 🙏🌹
Nonik Anda Swl
next please🙏Thor, thank you 🌹
jenny
permainan segera dimulai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!