Serafina Olivia mencintai Ravin Haryaka Arthadipa sejak ia berusia 17 tahun. Pria yang setahun lebih tua darinya itu, merupakan anak dari rekan bisnis sang papa. Tumbuh dan besar di lingkungan yang sama, membuat Sera semakin menyukai Ravin. Hingga suatu hari, rencana perjodohan dua keluarga pun terdengar. Tanpa berpikir dua kali, Sera pun menerima perjodohan itu demi bisa hidup bersama pria pujaan hatinya. Bahagia hanya terasa di awal cerita. Semuanya berubah, saat rahasia hati Ravin terungkap. Pria itu tidak pernah mencintai Sera. Hatinya hanya untuk wanita lain. Di tengah lelah menanti cinta Ravin yang tak kunjung berlabuh padanya. Sera pun di hadapkan pada dua pilihan. Bertahan dalam ketidakpastian dan sakit hati. Atau pergi untuk membebaskan hati dengan cinta yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Ravin Tidak Pulang.
Sera menikmati makan malamnya dalam diam. Namun, ia tetap menyisakan bagian untuk sang suami. Siapa tau, pria itu akan pulang tengah malam nanti.
Masakan yang khusus ia buat untuk sang suami, kini terasa hambar. Ketika pria itu tidak bisa menepati janjinya.
Bukannya Sera tidak memiliki hati nurani, dan memikirkan diri sendiri.
Tidak.
Hanya saja, cara Ravin mengatakannya pada Sera, dan pria itu yang sama sekali tidak mau menjawab panggilannya. Membuat hati Sera bergemuruh kencang.
Benarkah ada masalah di proyek?
Atau, pria itu sekarang sedang bersama wanita lain?
Haruskah Sera tetap berpikiran baik pada pria itu?
“Setidaknya, kamu bisa menghubungi aku saat dalam perjalanan ke Bogor ‘kan, kak? Kenapa baru mengatakan sekarang?” Monolog Sera.
Dari belakang punggung gadis itu, Bi Sari menatap penuh rasa iba.
Ia yang tadi ikut bersemangat membantu Sera, kini merasa kasihan melihat gadis itu.
Tanpa sepengetahuan Sera, Bi Sari pun memotret gadis itu. Lalu mengirimnya pada mama Safina.
“Nyonya. Non Sera makan malam sendirian. Tuan Ravin belum pulang. Katanya, ada masalah di Bogor.”
Pesan bergambar itu pun terkirim pada mama Safina.
Bi Sari memang di pekerjakan oleh Ravin. Tetapi, dua minggu terakhir ini, mama Safina meminta bantun untuk mengawasi rumah tangga mereka.
Mama Safina pun memberikan upah yang setara dengan gaji yang di berikan oleh Ravin pada Bi Sari.
Dengan 1 syarat. Baik Sera maupun Ravin tidak boleh ada yang tau, kalau Bi Sari juga bekerja untuk mama Safina.
“Bi.” Panggil Sera.
Bi Sari dengan cepat menghampiri gadis itu.
“Ada apa, non?” Tanyanya dengan sopan.
“Ikut saya makan disini, bi.” Ajak Sera.
Bi Sari menggelengkan kepalanya. “Bibi makan di dalam saja, non.” Tolaknya merasa tidak enak hati.
“Tidak apa - apa, bi. Makan disini bersama saya. Makanannya juga masih banyak. Sisakan untuk kak Ravin sedikit saja. Belum tentu juga dia akan pulang.” Imbuh Sera lagi.
Bi Sari merasa sungkan. Namun, melihat wajah Sera yang sedang bersedih, wanita paruh baya itupun menurut.
“Bi. Menurut bibi, apa kak Ravin menyukai aku?” Tanya Sera saat mereka sedang makan.
“Kenapa non bertanya seperti itu? Bukannya kalian menikah karena saling mencintai? Bibi lihat, tuan perhatian sama non Sera.” Ucap Bi Sari.
Sera mencebik pelan.
“Kami menikah karena dijodohkan, bi. Memang aku yang mencintai kak Ravin sejak umur 17 tahun. Tetapi, dia tidak.”
Bi Sari terkejut mendengar cerita Sera. Pasalnya, ia sama sekali tidak tau tentang kisah asmara majikannya.
Selama satu bulan ini, hanya bekerja sesuai tugas dan tanggung jawabnya. Tidak pernah ikut campur urusan rumah tangga Ravin dan Sera.
“Mama tidak setuju, aku menikah sama kak Ravin. Karena tau dia tidak mencintai aku, bi. Tapi aku bersikeras. Aku yakin kak Ravin akan mencintai aku suatu hari nanti.” Imbuh Sera lagi.
Bi Sari masih terdiam. Pantas saja mama Safina memintanya untuk mengawasi Ravin dan Sera. Ternyata, kedua majikannya itu menikah karena perjodohan. Dan wanita paruh baya tidak setuju.
“Bi, apakah aku salah? Jika berpikiran buruk tentang suami sendiri?” Tanya Sera kemudian.
Bi Sari gelagapan.
“Kenapa bicara seperti itu, non?”
“Sebab, kak Ravin tidak pernah mencintai aku, bi.” Sera kemudian menceritakan kejadian di malam pertama mereka pada Bi Sari.
Wanita paruh baya itu menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Sungguh terkejut.
Saat Sera mengatakan kalau dirinya masih gadis hingga saat ini.
Padahal yang terlihat, Ravin begitu menyayangi Sera.
“Tapi kalian tidur di kamar yang sama, non.”
“Itu dia, Bi. Kenapa kak Ravin tahan tidak menyentuh aku selama satu bulan ini? Padahal setiap malam kami tidur bersama? Apa dia normal? Atau mungkin dia memiliki wanita lain? Bahkan sekarang, di hari jadi kami. Dia membatalkan janjinya untuk pulang lebih cepat.” Nada bicara Sera terdengar sangat menyedihkan.
“Bukannya ada masalah di Bogor, non?” Tanya Bi Sari.
“Entahlah, bi. Aku pun tidak tau.” Sera mengedikan bahunya.
.
.
.
Keesokan paginya.
Sera mendapati sisi sebelah kiri tempat tidurnya kosong. Bantalnya bahkan masih rapi. Tidak ada bekas kepala orang disana.
“Apa kak Ravin tidak pulang semalam?” Gumam gadis itu.
Ia bergegas turun dari atas ranjang. Memeriksa keberadaan sang suami di dalam ruang ganti dan kamar mandi, juga tidak ada.
Sera kemudian keluar dari kamarnya. Ia pergi ke dapur untuk memeriksa sesuatu.
“Bi, apa kak Ravin pulang semalam?” Tanya Sera pada Bi Sari yang sudah ada di dapur.
“Sepertinya tidak, non. Makanannya masih. Dan bibi juga tidak mendengar suara mobil.” Ucap bi Sari.
Kamar wanita paruh baya itu terletak di bagian belakang, dekat dengan garasi mobil. Jadi, jika ada yang datang, bi Sari pasti akan mendengarnya.
Bahu Sera seketika lemas. Ia pun kembali ke kamarnya dengan gontai.
Bi Sari merasa kasihan. Ia pun kembali mengirim pesan pada mama Safina.
“Nyonya. Tuan Ravin tidak pulang semalam.”
Mama Safina tak membalas pesannya. Bahkan, yang bi Sari kirim semalam pun belum di baca.
Kembali pada Sera yang kini sudah ada di kamarnya.
Gadis itu memeriksa ponselnya. Tidak ada satu kabar pun dari Ravin. Sera kemudian menghubungi pria itu.
Namun sayang, ponselnya tidak aktif.
“Semoga kamu baik - baik saja, kak.” Ucap Sera.
Ia menyimpan kembali ponselnya. Lalu bersiap untuk pergi ke kantor.
Sementara itu, Ravin kini berada di salah satu rumah sakit yang tak jauh dari gedung apartemen pria itu.
Ravin sama sekali tidak pergi ke Bogor, seperti yang ia katakan pada Sera.
Ia berdusta!
Kemarin sore, saat hendak pulang dari kantor. Rania menghubunginya dan mengatakan kalau dirinya terjatuh di apartemen saat sedang membersihkan ruang tamu.
Tanpa berpikir dua kali, Ravin pun segera menemui gadis itu. Dan benar saja, Ia mendapati Rania tergeletak di lantai apartemen.
Rania mengalami cedera pada tulang ekor dan lengan kanannya, akibat jauh terduduk di lantai.
“Vin, sebaiknya kamu pulang dulu. Istri kamu pasti khawatir sama kamu.” Ucap Rania saat Ravin menyuapkan bubur ayam padanya.
“Aku sudah mengatakan, kalau ada masalah di proyek Bogor. Sera pasti mengerti.” Ucap Ravin.
“Maafkan aku, ya. Karena aku, kamu tidak jadi merayakan satu bulan pernikahan kalian.” Rania merasa bersalah.
Ia sama sekali tidak merencanakan kecelakaan itu. Dirinya memang merasa cemburu saat Ravin mengatakan akan merayakan hari jadi pernikahan dengan Sera.
Karena itu, Rania memilih menyibukkan diri dengan membersihkan apartemen. Tapi sayangnya, saat sedang membersihkan lampu gantung ruang tamu, kaki gadis itu terpeleset di atas kursi. Sehingga menyebabkan dirinya jatuh terduduk di atas lantai.
“Bukan salah kamu. Lagi pula, ini baru hari jadi sebulan. Masih ada bulan - bulan berikutnya. Yang penting, kamu sehat dulu.” Ucap Ravin dengan tenang.
Ia akan membelikan hadiah untuk Sera nanti. Dan gadis itu sudah pasti akan menerimanya.