NovelToon NovelToon
Air Panas Untuk Selingkuhanmu

Air Panas Untuk Selingkuhanmu

Status: tamat
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Single Mom / Tamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Ranti merasa hidupnya sempurna. Suaminya, Sony, adalah pria idaman—penyayang, sukses, dan setia. Bahkan, Ranti begitu percaya pada Sony hingga tak pernah sekalipun menaruh curiga.

Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap. Kejadian tak terduga mengungkap kenyataan pahit. Ternyata menyimpan makna lain yang menyakitkan. Nama Raya, guru TK anak mereka.

Kekecewaan dan pengkhianatan mengguncang dunia Ranti. Kebohongan Sony selama ini tak hanya menghancurkan biduk rumah tangga mereka, tapi juga persahabatan Ranti dengan Raya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: TUDUHAN BUTA

Suasana koridor lantai dua Pengadilan Agama Jakarta Selatan pagi itu terasa amat dingin. Meskipun putusan perceraian secara prinsip telah diputus beberapa waktu lalu, pihak Sony melalui pengacaranya mengajukan memori perlawanan atas klausul eksekusi hak asuh Bima dan pembagian harta bersama. Pihak Sony mengeklaim adanya kekhilafan majelis hakim serta menuntut bagian atas aset perusahaan.

Ranti melangkah masuk ke dalam ruang sidang utama dengan langkah mantap. Ia mengenakan setelan blazer berwarna abu-abu charcoal yang dipadukan dengan kemeja putih sutra, memancarkan wibawa seorang pimpinan perusahaan yang tak tergoyahkan. Di sisinya, Pak Hendra berjalan membawa berkas-berkas tambahan.

Di kubu sebelah, Sony duduk di kursi tergugat dengan pakaian tahanan kepolisian berwarna oranye yang membalut tubuh tirusnya. Pergelangan tangannya diborgol, dan bekas luka di lehernya masih menyisa samar. Raut wajahnya dipenuhi rasa frustrasi, dendam, dan kemarahan yang tertahan.

Hakim Ketua Farhan Arisya memimpin persidangan di atas mimbar utama bersama dua hakim anggota. Tatapan Farhan tetap netral, tegas, dan sangat profesional, memancarkan wibawa seorang penegak hukum sejati.

Ketuk! Ketuk! Ketuk!

"Sidang lanjutan perkara gugatan perceraian dan sengketa hak asuh anak serta pembagian aset antara Ranti Anindita dan Sony Kurniawan dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," tegas Hakim Farhan, suaranya menggelegar tenang di dalam ruangan persidangan.

Farhan menatap ke arah kubu Penggugat. "Kepada Kuasa Hukum Penggugat, apakah ada saksi tambahan yang dihadirkan untuk memperkuat pembuktian terkait dalih pelanggaran komitmen pernikahan dan hak asuh?"

Pak Hendra berdiri dari kursinya. "Ada, Majelis Hakim yang Mulia. Kami menghadirkan dua orang saksi kunci. Saksi pertama adalah mantan staf keuangan perusahaan cangkang milik Tergugat, dan saksi kedua adalah penjaga keamanan kompleks perumahan yang menyaksikan langsung kedatangan Tergugat bersama pihak ketiga secara berulang kali."

Pintu ruang sidang terbuka. Saksi pertama melangkah masuk dan mengambil sumpah di bawah kitab suci. Dalam waktu tiga puluh menit, kesaksian yang diberikan membedah secara telanjang seluruh jejak perselingkuhan Sony bersama Raya, termasuk bukti transfer uang bulanan yang diambil secara ilegal dari kas Anindita Tekstil untuk membiayai apartemen mewahnya.

Sony yang duduk di kursi tergugat mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin menetes di pelipisnya saat mendengarkan runtutan fakta yang dipaparkan tanpa celah di depan majelis hakim.

"Berdasarkan seluruh bukti dokumen serta keterangan saksi di bawah sumpah," tutur Hakim Farhan seraya menatap lurus ke arah Sony, "Majelis Hakim menilai tidak ada alasan hukum yang sah untuk meninjau ulang penetapan hak asuh Bima Anindita kepada Penggugat, serta menolak seluruh tuntutan Tergugat atas harta gono-gini dari aset warisan Anindita Tekstil."

Ketuk! Ketuk! Ketuk!

Palu kayu mengetuk meja majelis hakim secara mutlak, menutup seluruh peluang Sony untuk merampas kembali harta dan hak asuh anak.

Usai persidangan ditutup dan ruang sidang mulai lengang, para petugas kepolisian mengawal Sony keluar secara perlahan. Namun, langkah petugas terhenti sejenak di selasar luar karena harus menyelesaikan penandatanganan berita acara dengan panitera.

Di saat yang sama, Farhan yang telah melepas toga hakimnya dan mengenakan kemeja batik lengan panjang berwarna cokelat elegan melangkah keluar dari pintu samping ruang majelis.

Farhan berjalan mendekati Ranti yang sedang merapikan dokumen bersama Pak Hendra di dekat barisan kursi pengunjung.

"Selamat siang, Ranti," sapa Farhan dengan suara bariton yang lembut dan hangat.

Ranti menoleh, menyunggingkan senyum tulus yang jernih. "Selamat siang, Farhan. Terima kasih untuk ketegasan jalannya persidangan tadi."

Pak Hendra yang memahami situasi segera berpamitan dengan sopan. "Bu Ranti, saya tunggu di mobil bawah untuk merapikan berkas eksekusi ya."

"Baik, Pak Hendra. Terima kasih banyak," sahut Ranti.

Kini tinggal Ranti dan Farhan yang berdiri di sudut selasar gedung pengadilan. Pendar mata Farhan menatap Ranti dengan penuh ketulusan dan kehangatan—sebuah tatapan yang amat berbeda dari ketegasan di atas mimbar tadi.

"Ranti," buka Farhan seraya meraba saku kemejanya. "Sebenarnya ada satu hal yang ingin kusampaikan di luar urusan persidangan ini."

Ranti menatap Farhan penasaran. "Ada apa, Farhan?"

Farhan tersenyum manis. "Kemarin malam aku bercerita kepada Ibuku... Ibu Rida. Aku bilang kalau aku bertemu kembali denganmu di pengadilan ini."

Mata Ranti berbinar haru. "Tante Rida? Bagaimana kabar beliau, Farhan?"

"Ibu sangat sehat, Ranti. Dan begitu mendengar namamu, Ibu langsung berkaca-kaca," kenang Farhan dengan suara penuh nostalgia. "Ibu bercerita kalau selama puluhan tahun ini, beliau selalu mencari kabar tentang Tante Kirana dan kamu. Ibu sangat merindukan keluarga kalian."

Farhan maju satu langkah, menatap Ranti dengan lembut.

"Ibu memintaku secara khusus untuk mengundangmu dan Bima makan malam di rumah kami nanti malam. Ibu ingin sekali bertemu denganmu, Ran. Apakah kamu ada waktu?"

Ranti meremas tali tas tangannya, matanya basah oleh keharuan yang luar biasa. Kenangan akan keramahan Tante Rida yang dulu sering memberinya kue bolu hangat sewaktu kecil kembali berputar manis di benaknya.

"Tentu saja, Farhan... Aku pasti datang," jawab Ranti dengan senyuman paling tulus yang terpancar dari wajah anggunnya. "Aku juga sangat merindukan Tante Rida."

"Terima kasih, Ranti. Nanti malam jam tujuh aku jemput kamu dan Bima di rumah ya," sahut Farhan dengan binar bahagia di matanya.

Di sudut selasar yang berjarak hanya sepuluh meter dari tempat Ranti dan Farhan berdiri, Sony yang dikawal ketat oleh dua orang petugas polisi menyaksikan seluruh interaksi tersebut dari balik bahu petugas.

Mata Sony menyipit tajam. Kedekatan Ranti dan Farhan—cara Farhan menatap Ranti dengan penuh kelembutan, serta senyuman manis Ranti yang tak pernah ia lihat selama lima tahun pernikahan mereka—membakar dada Sony dengan rasa cemburu dan dendam yang buta.

Logika Sony yang picik dan korup mendadak terbalik.

"Kurang ajar..." bisik Sony dengan gigi tergetar, jiwanya digerogoti oleh prasangka buruk yang keliru.

Di dalam pikiran Sony yang sudah terdistorsi, ia tidak mau mengakui kejahatan dan pengkhianatannya sendiri. Pria itu justru merangkai narasi palsu untuk menyelamatkan egonya yang hancur.

Jadi ini alasannya?! amuk Sony dalam hatinya. Ranti... ternyata kamu yang selama ini berselingkuh di belakangku! Kamu pakai hakim itu untuk menghancurkan aku di pengadilan! Kamu jebak aku dengan tuduhan perselingkuhan dan penggelapan supaya kamu bisa merebut semua harta gono-gini dan hak asuh Bima untuk pria itu!

Sony mengepalkan kedua tangannya yang terborgol hingga rantai besinya berdeting nyaring.

"Pak Sony! Ayo jalan!" tegur petugas polisi seraya menepuk bahunya kasar.

Sony terdorong melangkah maju, namun matanya tak lepas menatap Ranti dan Farhan yang masih berbincang hangat.

"Perempuan licik!" seru Sony tiba-tiba dengan suara parau yang lantang, memecah keheningan selasar pengadilan.

Ranti dan Farhan refleks menoleh ke arah sumber suara.

Sony menatap Ranti dengan tatapan penuh kebencian dan tuduhan buta. "Kamu tidak usah berlagak suci di depan media, Ranti! Aku tahu permainan murahanmu! Kamu tuduh aku selingkuh, kamu seret aku ke penjara, cuma buat menutupi hubungan gelapmu sama hakim itu, kan?!"

Beberapa pengunjung pengadilan dan wartawan yang masih berada di selasar langsung menoleh kaget, merekam dan berbisik-bisik.

Pak Hendra yang baru hendak turun tangga langsung berlari kembali ke atas, namun Farhan dengan sangat tenang dan dingin melangkah maju, berdiri pasang badan tepat di depan Ranti untuk melindunginya.

Farhan menatap Sony dengan pendar mata yang sangat tegas, berwibawa, dan tidak terintimidasi sedikit pun.

"Jaga mulut Anda, Saudara Tergugat," tegas Farhan dengan suara bariton yang menusuk. "Seluruh putusan hukum di Pengadilan Agama ini diambil berdasarkan bukti otentik, saksi tersumpah, dan fakta persidangan yang sah—bukan atas dasar opini atau prasangka tak berdasar. Jangan menambah ancaman pidana baru atas pencemaran nama baik di ruang publik."

"Alasan!" bentak Sony histeris, mencoba merangsek maju namun ditahan rapat oleh dua petugas polisi. "Kalian berdua sudah merencanakan ini dari awal! Kamu mau ambil harta dan anakku!"

Ranti melangkah keluar dari balik punggung Farhan. Ia tidak tampak takut atau panik. Ranti menatap Sony dengan pandangan dingin, penuh rasa iba atas kepicikan mantan suaminya tersebut.

"Sony," panggil Ranti dengan suara yang teramat tenang dan jernih.

Sony terhenti sejenak, memelototi Ranti.

"Kamu yang memilih selingkuh dengan Raya," tutur Ranti datar, kata-katanya menghantam tepat di pusat kesadaran Sony. "Kamu yang memilih mencuri uang perusahaan ibuku. Dan kamu sendiri yang menghancurkan rumah tanggamu dengan kebohonganmu."

Ranti jeda sejenak, merapikan kerah blazer-nya dengan keanggunan yang sempurna.

"Jangan salahkan orang lain atas kejahatan yang kamu ciptakan sendiri," lanjut Ranti menohok. "Bahkan sampai di titik ini pun, kamu masih terlalu pengecut untuk mengakui kesalahanmu sendiri."

Kata-kata Ranti bagaikan paku bumi yang mengunci mulut Sony. Pria itu mematung, wajahnya memerah padam antara malu, marah, dan keputusasaan yang teramat sangat.

"Petugas, bawa Tahanan kembali ke mobil," perintah Farhan tegas pada pengawal polisi.

"Siap, Pak Hakim!"

Petugas menarik tubuh Sony yang lemas dan meronta-ronta melintasi tangga turun. Suara jeritan tuduhan Sony makin lama makin mengecil hingga lenyap ditelan pintu bagian bawah gedung pengadilan.

Selasar kembali hening. Farhan membalikkan badannya, menatap Ranti dengan rasa cemas.

"Ranti, kamu tidak apa-apa?" tanya Farhan lembut. "Maaf atas tuduhan tidak mendasar dari mantan suamimu tadi."

Ranti menghembuskan napas panjang, lalu menyunggingkan senyum tipis yang hangat.

"Aku tidak apa-apa, Farhan," sahut Ranti tenang. "Dulu... kata-kata dan tuduhannya mungkin bisa membuatku menangis semalaman. Tapi sekarang, tuduhan orang yang sudah runtuh seperti dia tidak akan pernah bisa melukai jiwaku lagi."

Farhan menatap Ranti dengan rasa kagum yang tak terhingga. Wanita di hadapannya ini benar-benar telah menjelma menjadi sosok yang teramat kuat, bijaksana, dan merdeka dari belenggu masa lalunya.

"Terima kasih sudah berdiri di depanku tadi, Farhan," bisik Ranti tulus.

Farhan tersenyum manis, membetulkan posisi kacamata tipisnya. "Aku kan sudah pernah berjanji... aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi."

Kehangatan merayap di dada Ranti. Janji masa kecil yang pernah diucapkan anak laki-laki berkacamata tebal di bawah pohon kamboja itu kini terbukti nyata dan utuh.

"Sampai ketemu nanti malam jam tujuh ya, Farhan," ujar Ranti seraya berpamitan.

"Sampai ketemu nanti malam, Ranti. Salam untuk Bima," sahut Farhan dengan pendar mata yang dipenuhi harapan dan cinta yang jujur.

Ranti melangkah turun menuju mobil sedannya dengan hati yang lapang. Babak penderitaan persidangan dan tuduhan palsu Sony telah berakhir secara mutlak. Kini, sebuah malam yang hangat bersama kenangan masa lalu dan harapan masa depan yang indah telah menantinya di depan mata.

1
Lee Mba Young
pengacara Sony keren banget, walau Sony napi ttp bisa memenangkan sidang🤣.
pengacara ranti abal abal cm butuh duit Tok mkne keder mengjadapi pengacara Sony. mkne ranti kalah sidang.

pdhl Sony jelas selingkuh Dan korupsi tp masih bisa dpt hak asuh. 👍
NinLugas: ka baca karya baru aku kak, perlu pembaca kritis kyk KK
total 1 replies
Lee Mba Young
pling enak pelakor Raya gk dpt karma.
Lee Mba Young
Cerita pling aneh. pdhl Sony napi dpt hak asuh.
farhan Dan pengacara ranti memang memgalah agar farhan bebas mndekati ranti tanpa bima. 🤣.
pdhl jelas jelas Sony napi kan 🤣
Lee Mba Young
pengacara Sony best banget pdhl Sony selingkuh, zina korupsi tp dpt bebas Dan dpt hak asuh🤣 .
ranty pengacara ne goblok 🤣
farhan kayak nya gk mau bima, cm mau ranti mkne suruh ranti nyerah.
NinLugas: kalau g gila authornya ya ceritanya yg gila kak🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Lee Mba Young
Ini hukum pling aneh, pdhl korupsi kok bisa bebas bersyarat.
pengacara ranti yg kurang keren
sunaryati jarum
Fitnah jika diselidiki dan ada bukti akurat,maka fitnah akan kalah
sunaryati jarum
Sony Seharus kamu akui dan terima kenyataan,ini semua karena kesalahan kamu.
Lee Mba Young
di sini pengadilan yg gk banget bpk nya napi tp dpt hak asuh itu dah aneh.
trus sekarang bpk nya nikah dng selingkuh annya apa gk di Banting tu anak.

ranti punya kerjaan hidup mapan knp gk dpt hak asuh. pdhl anak di bawah umur itu dng ibunya 🤣.
NinLugas: nnti d jelaskan d episode berikutnya nya y kk 🤣
total 1 replies
Lee Mba Young
Kenapa Sony bisa dpt hak asuh anak kn dia narapidana. kok aneh.
hrse dng status napi Dan gk punya penghasilan gk dpt hak asuh kan.
bukan kah kemarin hak asuh resmi ke ibunya. kok mulek.
sunaryati jarum
Kacang lupa akan kulitnya ,itu kamu Soni dan keluargamu
sunaryati jarum
Kamu malah.tambah cari masalah
NinLugas: terimakasih y kk atas dukungannya, 😍
total 1 replies
sunaryati jarum
Ada temen semasa kecil yang memberi dukungan
sunaryati jarum
Semoga kedepannya tidak ada lagi pengkhianat Ranti
sunaryati jarum
Orang tua Raya , bagus.Tidak membela tapi menyalahkan
sunaryati jarum
Tujuan kamu memang ingin merebut posisi Ranti, sudah pas kamu langsung dapat karma instan
sunaryati jarum
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!