Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.
Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.
Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.
Itu bukan cinta. Itu transaksi.
Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.
Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 SISA-SISA MASA LALU
Bara melingkarkan kedua lengan di tubuh Maya dan mendekapnya. Ia tak berkata apa-apa. Memang tak perlu.
Mereka tetap begitu, saling berpelukan, di perpustakaan, sementara sore berganti malam dan bara di perapian bergemeretak dalam remang.
"Kamu memang layak mendapatkan ini," kata Bara akhirnya, dengan suara serak. "Kamu layak mendapatkan segalanya. Dan aku akan menghabiskan sisa hidupku memastikan kamu memilikinya."
Maya mengangkat kepala dan menatap matanya. Sepasang mata kelabu yang dingin bagi dunia, tetapi yang baginya kian menjadi tempat terhangat yang pernah ia kenal.
"Aku tidak butuh sisa hidupmu," katanya. "Aku hanya butuh kamu di sini. Sekarang. Bersamaku."
"Aku di sini," jawab Bara.
Lalu ia menciumnya.
Ciuman itu berbeda dari yang sebelumnya. Bukan ciuman formalitas di pernikahan sipil. Bukan pula ciuman gemetar di perpustakaan, yang penuh pertanyaan. Ini ciuman yang penuh kepastian. Ciuman yang berkata ini nyata, ini milik kita, ini tak akan hancur.
Ketika mereka melepaskan diri, keduanya tersenyum.
"Kamu tahu?" kata Maya, jemarinya terjalin di rambut Bara. "Kurasa aku mulai jatuh cinta padamu."
Bara menyandarkan keningnya pada kening Maya.
"Untunglah," jawabnya. "Karena aku sudah lebih dulu. Sejak malam di jalan itu, saat kamu memandangku tanpa rasa takut. Atau mungkin sejak sebelumnya. Entahlah. Tapi ya. Aku mencintaimu, Maya Adiwangsa. Atau Prakoso. Terserah kamu mau menyebut dirimu apa. Aku mencintaimu."
Maya memejamkan mata dan membiarkan dirinya dicintai.
Keesokan harinya, Maya sedang di taman, berjemur sambil membaca katalog seniman lokal yang dicarikan Bara untuknya, ketika Marta muncul dengan raut cemas.
"Nyonya," katanya. "Ada tamu."
"Siapa?"
"Seorang wanita. Katanya namanya Vania. Nyonya mau menemuinya?"
Maya merasa darahnya membeku. Vania. Sahabatnya. Yang dulu menyebutnya "risiko". Yang meninggalkannya justru di saat ia paling membutuhkannya.
"Entahlah," jawabnya jujur. "Aku tidak tahu apakah aku ingin menemuinya."
"Saya bisa katakan Nyonya sedang tidak ada."
Maya ragu. Ia memandang ke arah mansion, ke jendela perpustakaan tempat Bara sedang bekerja. Lalu ia memandang katalog seniman itu, mimpi yang Bara hadiahkan padanya.
"Tidak," katanya, sambil bangkit. "Aku akan menemuinya. Di ruang tamu."
Marta mengangguk lalu menghilang.
Maya masuk ke mansion, naik ke kamarnya, dan menatap bayangannya di cermin. Pantulan itu bukan lagi anak manja yang telah kehilangan segalanya. Itu pantulan seorang perempuan. Perempuan yang telah bertahan. Perempuan yang telah membangun sesuatu yang baru dari puing-puing.
Ia menuruni tangga dengan kepala tegak.
* * *
Vania duduk di tepi sebuah sofa beledu, seakan takut menodainya. Ia mengenakan gaun mahal, sepatu bertumit tinggi, kuku tertata sempurna. Namun matanya, yang biasanya berbinar penuh percaya diri, kini meredup oleh sesuatu yang tampak seperti rasa bersalah.
"Maya," katanya, bangkit ketika Maya masuk. "Terima kasih sudah mau menemuiku."
"Duduklah," jawab Maya, tanpa menawarkan pipi untuk cium sapa yang biasa.
Mereka duduk berhadapan. Keheningan memanjang, canggung dan pekat.
"Aku datang untuk meminta maaf," kata Vania akhirnya. "Yang kulakukan... yang kukatakan padamu... tak termaafkan. Aku tahu itu."
Maya memandangnya tanpa ekspresi.
"Apa tepatnya yang kamu lakukan?"
Vania menunduk.
"Kamu meneleponku. Kamu meminta bantuanku. Dan aku bilang kamu adalah sebuah risiko. Seolah kamu ini investasi, bukan sahabat. Seolah tahun-tahun yang kita lewati bersama tak ada artinya. Aku pengecut. Orang yang jahat. Dan aku menyesal. Sungguh."
Maya terdiam sejenak. Ia mengingat telepon itu. Ia mengingat keheningan di ujung sana, alasan yang terdengar sopan, "maaf, aku sekarang tidak bisa". Ia mengingat dingin yang mencekam dadanya, rasa dibuang bagai barang tak berguna.
"Kenapa sekarang?" tanyanya. "Kenapa kamu datang sekarang, bukan dulu? Kenapa kamu tidak datang saat aku tidur di atas kasur di lantai? Kenapa kamu tidak datang saat ibuku sekarat karena stres? Kenapa kamu tidak datang saat aku hampir menikah dengan orang asing demi menyelamatkan ayahku?"
Vania membuka mulut, tetapi tak sepatah kata pun keluar.
"Kamu menonton konferensi persnya?" Maya melanjutkan. "Kamu melihat bagaimana aku dan suamiku keluar, bergandengan tangan, tersenyum ke arah kamera? Apakah itu yang membuatmu datang? Melihat bahwa aku bukan lagi 'risiko', bahwa aku sekarang Nyonya Prakoso, bahwa aku punya uang dan kuasa lagi?"
"Bukan," bisik Vania, matanya berlinang. "Bukan karena itu."
"Lalu kenapa?"
"Karena aku melihat cara dia memandangmu," kata Vania, dengan suara patah. "Di konferensi itu. Laki-laki itu, Bara Prakoso, memandangmu seolah kamulah satu-satunya orang di dunia ini. Dan aku... tak pernah ada yang memandangku seperti itu. Lalu aku sadar aku sudah kehilangan segalanya. Bukan kamu. Bukan kamu yang kehilangan aku. Akulah yang kehilangan kamu. Dan aku ingin... aku ingin tahu apakah masih tersisa sesuatu. Apakah kita masih bisa..."
"Bersahabat?" Maya menggeleng. "Aku tidak tahu, Vania. Aku tidak tahu. Kamu sangat menyakitiku. Kamu menyebutku 'risiko'. Seolah aku ini aset keuangan, bukan manusia. Itu tak mudah dilupakan."
"Aku tahu," jawab Vania, menyeka air matanya dengan punggung tangan. "Aku tahu. Dan aku tidak memintamu memaafkanku hari ini. Tidak pula besok. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku menyesal. Bahwa aku tak seharusnya melakukan itu. Bahwa andai aku bisa mengulang waktu..."
"Tapi kamu tidak bisa," potong Maya. "Tak ada yang bisa. Itulah yang menyakitkan. Waktu tak berputar mundur. Kata-kata tak bisa ditarik kembali. Aku sendirian, Vania. Benar-benar sendirian. Dan pada saat itu, orang-orang yang seharusnya ada di sisiku justru tak ada. Kamu tidak ada. Tak seorang pun dari kalian ada. Jadi sekarang... sekarang aku tidak tahu apakah aku menginginkan kalian ada."
Vania mengangguk, wajahnya kacau oleh derita.
"Aku mengerti."
Ia bangkit, sedikit terhuyung. Ia melangkah satu tapak ke arah pintu, tetapi Maya menahannya.
"Vania."
"Ya?"
Maya ikut bangkit. Ia berjalan ke arah Vania, perlahan, lalu menatap matanya.
"Aku belum memaafkanmu. Belum. Tapi... aku menghargai kamu sudah datang. Aku menghargai kamu sudah minta maaf. Itu lebih dari yang dilakukan orang-orang lain."
"Orang-orang lain?"
"Aku menelepon dua puluh orang, Vania. Dua puluh. Hanya kamu yang punya keberanian untuk mengatakannya langsung ke wajahku. Yang lain hanya beralasan. Kamu memang kejam, tapi kamu jujur. Dan itu... itu ada nilainya. Aku tidak tahu seberapa. Tapi ada nilainya."
Vania menyunggingkan senyum yang bergetar.
"Itu pun lebih dari yang pantas kudapat."
"Mungkin," jawab Maya. "Tapi itulah yang kamu punya."
Mereka saling menatap sejenak. Lalu Maya mengulurkan tangan. Vania menyambutnya. Itu bukan pelukan. Bukan pula pengampunan. Itu sebuah langkah pertama. Tak lebih. Tapi itu berarti sesuatu.
"Jaga dirimu, Vania."
"Kamu juga, Maya."
Vania keluar dari mansion dengan langkah tegak, bahu ditarik ke belakang dan kepala terangkat. Maya berdiri di ambang pintu, memandangnya menjauh, merasakan sesuatu yang tak ia tahu cara menamainya.
Itu bukan kebahagiaan.
Bukan pula kesedihan.
Itu... kedamaian.