Demi menyelamatkan sang ayah dari siksaan maut seorang mafia kejam, Aisyah gadis bercadar, Hafizah bermata biru blasteran menyerahkan diri sebagai tawanan abadi. Syaratnya gila: pria berdarah dingin itu harus masuk Islam dan menikahinya.
Pernikahan tanpa cinta pun dimulai. Alih-alih menjadi ratu, hidup Aisyah berubah menjadi neraka ketika suaminya sengaja membawa wanita malam ke hadapannya setiap hari untuk menghancurkan mentalnya.
Di tengah ketakutan yang mencekam dan air mata yang tak pernah kering, Aisyah hanya bersandar pada sujud malamnya.
Mampukah kelembutan ayat-ayat suci meluluhkan hati seorang psikopat tanpa Tuhan, atau justru Aisyah yang akan hancur lebur di sarang iblis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Ancaman di Balik Pagar dan Badai yang Mendekat
Pagi hari yang cerah di istana perbukitan seketika berubah menjadi kelabu ketika sebuah insiden kecil mengguncang ketenangan lantai dasar.
Sesuai rutinitas hariannya, kepala pelayan istana melangkah keluar melalui pintu samping menuju halaman depan untuk mengambil paket logistik mingguan yang biasanya diletakkan di dekat pos pos jaga luar. Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat sebuah amplop tebal berwarna hitam legam tergantung di gagang gerbang utama dengan sebuah belati kecil yang menancap menyegel amplop tersebut.
Tanpa berani menyentuhnya sembarangan, kepala pelayan itu langsung melaporkan temuan tersebut kepada Vito, sang tangan kanan kepercayaan.
Di ruang kerja pribadi lantai dasar, Vito berdiri menatap tajam amplop hitam di atas mejanya. Dengan gerakan hati-hati, ia membuka amplop tersebut menggunakan sarung tangan khusus dan mengeluarkan selembar kertas tebal beraroma parfum wanita yang sangat tajam dan familier.
Di atas kertas itu, tertera sebuah pesan singkat namun penuh ancaman:
"Nikmati sisa waktu bahagianya, Kenzie. Singa yang tertidur tidak akan pernah bisa selamanya menjadi kucing yang jinak. Wanita berkedok hitam itu akan menjadi bayaran atas masa lalu yang engkau tinggalkan. Permainan baru saja dimulai. — V"
Rahang Vito mengeras hingga bergemeretak. Kepalan tangannya mencengkeram kertas ancaman itu hingga remuk. Wanita berinisial V itu benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya. Ia tidak hanya mengincar Kenzie, tetapi secara terang-terangan menargetkan keselamatan Aisyah.
"Sialan..." desis Vito pelan penuh amarah. Ia tahu betul siapa sosok di berinisial V tersebut Valeria, ratu sindikat internasional dari jalur Eropa yang dulu pernah memiliki hubungan bisnis sekaligus obsesi berbahaya dengan Kenzie.
Vito segera melangkah keluar dari ruang kerja, namun ia menghentikan langkahnya sejenak di dekat tangga lantai dua. Ia menarik napas dalam-dalam, menimbang risiko besar. Jika ia melaporkan ancaman ini sekarang, ketenangan batin Kenzie dan kebahagiaan Aisyah yang baru saja terbangun akan hancur seketika. Namun, jika ia menyembunyikannya, keselamatan mereka berdua berada di ujung tanduk.
Tidak. Boss harus tahu, batin Vito mantap. Ia tidak boleh mengambil risiko sebesar itu sendirian.
Sementara itu, di lantai atas, suasana di kamar utama masih diliputi kehangatan.
Kenzie Al-Ghazali sedang duduk di tepi ranjang sambil mengenakan jam tangan kulit hitam kesayangannya. Di hadapannya, Aisyah Humaira berdiri dengan anggun mengenakan abaya gamis berwarna navy tua, tengah merapikan khimar panjangnya sebelum memasang kain cadar hitam penutup wajahnya.
Meskipun di dalam kamar pribadi suaminya Aisyah bebas memperlihatkan wajah cantik dan rambut hitam legamnya, ia tetap mengenakan cadarnya setiap kali bersiap untuk beraktivitas di luar kamar atau ketika ada kemungkinan orang lain masuk.
Kenzie menatap istrinya lekat-lekat melalui pantulan cermin lemari. Ada rasa kagum yang tidak pernah surut di dalam dadanya setiap kali melihat kesalehan dan keteguhan prinsip sang istri.
"Aisyah," panggil Kenzie lembut.
Aisyah menghentikan gerakannya, lalu berbalik menatap suaminya dengan sepasang mata biru jernih di balik cadarnya. "Ya, Mas?"
Kenzie bangkit berdiri, melangkah mendekat lalu merapikan lipatan khimar istrinya dengan jemari hangatnya. "Hari ini aku harus turun ke kantor cabang sindikat di pusat kota untuk menyelesaikan beberapa dokumen pengalihan aset terakhir secara resmi. Aku mungkin akan pergi selama beberapa jam. Apakah kamu baik-baik saja jika tinggal di istana bersama para pelayan?"
Aisyah mengangguk patuh. "Insyaallah, Mas. Aku akan tetap di dalam istana, membaca Al-Qur'an dan merapikan kamar. Hati-hati di jalan, dan jangan terlalu lelah."
Kenzie tersenyum tipis, lalu mencetak kecupan lembut di kening istrinya yang tertutup kain khimar. "Aku akan secepat mungkin pulang. Pintumu dan penjagaan di sini akan diperketat oleh Vito."
Baru saja Kenzie menyelesaikan kalimatnya, ketukan pintu kamar terdengar cepat namun tegas dari luar.
Tok, tok, tok.
Kenzie mengernyitkan dahi. Jarang sekali ada yang berani mengetuk pintu kamar utamanya dengan nada mendesak seperti itu kecuali ada keadaan darurat yang sangat krusial.
"Masuk," titah Kenzie dengan suara baritonnya yang dingin.
Pintu terbuka perlahan, dan Vito melangkah masuk dengan ekspresi wajah yang sangat tegang. Begitu melihat Aisyah berdiri di samping Kenzie, Vito sempat menelan ludah ragu, namun sorot matanya menyiratkan urgensi tinggi.
Kenzie langsung menangkap gelagat tidak beres dari tangan kanannya itu. Ia melepaskan rangkulannya dari Aisyah, lalu melangkah maju beberapa langkah untuk menyambut Vito menjauhi sang istri.
"Ada apa, Vito? Kenapa muka tegang begitu?" tanya Kenzie dingin.
Vito menyerahkan selembar kertas hitam yang sudah dirapikan kembali di dalam map transparan kepada bosnya. "Maaf mengganggu pagi Anda, Boss. Tapi kita mendapatkan kiriman istimewa pagi ini di gerbang utama."
Kenzie menerima map tersebut, lalu membaca isi pesan ancaman dari Valeria. Seketika itu juga, suhu di dalam kamar utama seolah drop drastis. Manik mata hitam Kenzie membelalak tajam, memancarkan aura mengerikan seorang penguasa dunia hitam yang bangkit dari tidurnya. Pembuluh darah di pelipisnya berdenyut kencang.
Mendengar perubahan suasana yang drastis, Aisyah merasa ada sesuatu yang buruk sedang terjadi. Ia melangkah mendekat secara perlahan, menatap punggung suaminya dengan debar cemas.
"Mas..." panggil Aisyah lirih.
Kenzie segera melipat kertas tersebut dan memasukkannya ke dalam saku celananya. Ia berbalik, memaksakan sebuah senyuman kecil untuk menenangkan istrinya, meski sorot matanya tidak bisa menyembunyikan kemurkaan yang luar biasa besar.
"Tidak ada apa-apa, Sayang. Hanya urusan bisnis lama yang sedikit usil," ucap Kenzie berbohong demi melindungi Aisyah dari rasa takut. Ia kemudian menatap Vito tajam. "Tunggu aku di ruang kerja bawah. Aku turun sekarang."
"Baik, Boss," jawab Vito, lalu membungkuk hormat dan keluar kamar.
Kenzie kembali menatap Aisyah, memegang kedua bahu istrinya erat-erat. "Aisyah, dengarkan aku. Mulai hari ini, penjagaan di sekitar istana akan dilipatgandakan. Jangan pernah keluar dari gerbang utama atau sayap bangunan ini tanpa pengawalan ketat dariku atau Vito. Mengerti?"
Meskipun merasa ada rahasia besar yang disembunyikan suaminya, Aisyah melihat keseriusan mutlak di mata Kenzie. Ia mengangguk patuh di balik cadarnya. "Aku mengerti, Mas. Hati-hatilah di luar sana."
Kenzie mencium sekilas tangan istrinya, lalu melangkah keluar kamar dengan langkah tegap dan penuh amarah yang membara. Ia mengira masa lalunya telah terkubur mati bersama pertobatannya, namun Valeria ternyata memilih jalan kematiannya sendiri dengan berani mengusik ratu di dalam istananya. Perburuan baru pun resmi dimulai.