NovelToon NovelToon
PELET LAKNAT 2

PELET LAKNAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:650
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.

Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.

Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.

PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LANGKAH YANH TERNODA

# PELET LAKNAT 2

## Bab 9: Langkah yang Ternoda

Keesokan harinya, matahari sudah bersinar hangat di ufuk timur. Sinar teriknya merambat perlahan melalui celah-celah jendela kamar Jaka, menciptakan bayangan garis-garis memanjang di atas ubin kamar yang dingin. Jaka masih terhanyut dalam mimpi panjangnya, mengabaikan pagi yang kian merambat naik.

Sementara itu, sang ibu sudah tak ada lagi di rumah. Sudah menjadi kebiasaan wanita renta itu untuk berangkat sejak subuh buta demi mengadu nasib berjualan sayuran di pasar. Dan anehnya, hingga melangkah keluar pintu rumah tadi, sang ibu belum menyadari bahwa cincin emas peninggalan almarhum suaminya sudah lenyap dari dalam lemari kayu tua itu.

Jam dinding tua berdetak konstan hingga jarumnya menunjukkan pukul sembilan. Jaka baru saja menggeliat pelan dan terbangun. Dengan mata merah yang masih menahan kantuk, ia menyeret langkahnya perlahan menuju kamar mandi. Namun, tepat saat melewati kamar sang ibu, langkahnya mendadak terhenti seketika. Jantungnya tersentak kaget, berdegup kencang secara tiba-tiba. Rasa bersalah yang menusuk itu ternyata masih tetap menghantui benaknya.

Setelah selesai bersih-bersih dan menyantap sarapan seadanya dengan terburu-buru, Jaka segera mengenakan jaketnya lalu memacu sepeda motornya menuju kawasan pasar. Tujuannya hanya satu: menjual cincin sang ibu serta membeli segala persyaratan pelet yang diminta Kiki.

Namun, betapa liciknya otak Jaka. Ia tak berani melangkah masuk ke area pasar sendirian. Jaka sadar betul, jika ia sendiri yang berkeliaran di sana, hal itu pasti akan memancing kecurigaan sang ibu yang sedang sibuk berjualan sayur. Karena itu, ia menyuruh orang lain untuk menjual cincin sekaligus membelikan seluruh barang persyaratan tersebut. Dengan mengiming-imingi imbalan upah sebesar lima puluh ribu rupiah, rencana licik Jaka pun berjalan mulus tanpa hambatan sedikit pun.

Tak butuh waktu lama, uang hasil penjualan cincin sang ibu kini resmi berpindah tangan. Lembaran uang tunai sebesar satu juta dua ratus ribu rupiah dan sebuah kantong kresek hitam berisi kemenyan serta bunga tujuh rupa mantap dipindahkan ke dalam genggamannya. Ternyata, orang yang disuruh oleh Jaka tak lain adalah Ayu, pacarnya Kiki.

"Makasih ya, Yu! Nih upahnya," seru Jaka seraya menyodorkan lembaran uang lima puluh ribu rupiah dengan tangan gemetar samar.

Ayu menerima uang itu, namun matanya menyipit curiga menatap Jaka. "Iya, sama-sama. Tapi... tadi itu cincin siapa, Kak?" tanya Ayu heran, alisnya bertaut penuh rasa penasaran.

"Itu cincin Ibu. Ibu suruh aku buat jual, katanya buat tambah modal dagang," sahut Jaka cepat, berbohong tanpa sedikit pun mengedipkan mata.

"Tapi... tadi di pasar—"

"Sudahlah, jangan banyak tanya! Aku lagi sibuk. Ya udah ya, Yu, makasih!" potong Jaka kasar. Tanpa menunggu respons Ayu lagi, Jaka langsung membalikkan badan dan bergegas pergi meninggalkan gadis itu yang masih berdiri terpaku curiga.

Sore itu, setelah seluruh persyaratan terkumpul rapi di dalam tas, Jaka kembali bergegas memacu sepeda motornya menuju rumah Kiki. Tangannya meremas erat stang motor, memutar gas makin dalam.

"Aku harus cepat sebelum semuanya terlambat!" gerutu Jaka di balik helmnya, napasnya terdengar memburu disulut keputusasaan.

Sesampainya di tempat tujuan, Kiki yang kala itu tengah duduk santai di teras rumah langsung berdiri begitu menyadari deru motor Jaka.

"Wah... wah...! Ada yang lagi bahagia nih!" seru Kiki dengan tawa sinisnya, bertepuk tangan pelan menyambut kedatangan sang sahabat.

Motor Jaka perlahan memasuki halaman rumah Kiki. Tanpa membuang waktu, ia mematikan mesin, menghentakkan standar dengan kasar, lalu melangkah lebar-lebar menghampiri Kiki dengan raut wajah berapi-api.

Tanpa ba-bi-bu, Jaka langsung membuka percakapan pada inti maksud kedatangannya.

"Ki! Semua persyaratan sudah siap nih, kita berangkat kapan?" tanya Jaka antusias. Matanya berbinar penuh hawa nafsu yang membakar, dahinya berkeringat tipis.

Kiki terkekeh pelan melihat nada terburu-buru itu sebelum membalas. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Jaka.

"Bagus! Cepat juga kamu dapat uang," sahut Kiki memuji, lalu menjeda kalimatnya sejenak. "Tapi aku mau tanya sekali lagi... kamu benar-benar sudah bulat sama rencana ini?" lanjut Kiki memastikan, mencondongkan tubuhnya ke depan.

Jaka menarik napas panjang dan dalam, mencoba menelan habis seluruh sisa keraguan yang sempat hinggap di dada. Ia mengepalkan kedua tangannya erat-erat di sisi tubuhnya.

"Iya, Ki! Aku sudah siap. Makanya aku datang menemui kamu," jelas Jaka tegas. Tak ada lagi nada ragu di suaranya, matanya menatap tajam tanpa berkedip.

"Bagus! Itu baru namanya laki-laki sejati. Harga diri itu jauh di atas segalanya, apalagi ini cuma direndahkan sama cewek!" sahut Kiki seraya menepuk keras bahu Jaka, sengaja mengompori ego temannya yang kian membara.

"Terus, kapan kita berangkatnya?" tanya Jaka makin tidak sabar, dadanya naik turun mengontrol napas.

Mendengar pertanyaan itu, Kiki malah tertawa terkekeh sembari menggeleng-gelengkan kepala.

"Sudah, santai saja dulu, nggak usah terburu-buru gitu! Dea sudah pasti jadi milikmu selamanya dan nggak mungkin berpaling lagi. Kamu sabar aja dulu," sahut Kiki seraya menepuk-nepuk bahu Jaka yang kaku dan tegang.

Mendengar jawaban Kiki, Jaka mendesah pelan lalu mengangguk-angguk pasrah. Ia sepenuhnya menyandarkan harapannya pada Kiki.

"Ya sudah, sebentar lagi kita berangkat, Jak! Nanti jam empat sore aja biar nggak terlalu siang. Kalau siang Mbahnya suka nggak ada, biasanya pergi ke ladang. Kalau gitu kamu tunggu di sini, aku mau mandi dulu dan siap-siap," ujar Kiki seraya bangkit dari duduknya. "Oh iya, satu lagi... kalau kamu mau minum atau bikin kopi, ambil saja di dapur. Kebetulan orang tuaku belum balik dari sawah, kamu layani diri sendiri aja ya."

"I-iya, Ki! Makasih," sahut Jaka sedikit terbata-bata. Tangannya mengusap tengkuknya yang terasa dingin. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia sudah sangat tidak sabar ingin segera menginjakkan kaki di tempat dukun itu dan mendapatkan Dea seutuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!