Status calon nyonya Kim yang sudah diketahui seantero kota, seharusnya tinggal menunggu pengesahan sebentar lagi, ketika tiba-tiba terjadi perubahan kandidat.
Bagaimana tidak? Tuan Muda Kim - Alexander Kim, yang sebentar lagi akan menikah, malah terjebak satu malam dengan wanita asing yang berakhir final.
Harga yang sangat mahal yang harus dibayar Alexander, sebagai seorang pria, anak, pengusaha dan calon politikus. Benar-benar mahal dan berat, tapi dia tetap membayar karena tidak ingin menjadi Ayah yang gagal.
Tapi bahkan setelah semua harga mahal itu, Alexander yang sudah berkorban banyak masih harus stress menghadapi Soraya -- wanita malam itu, yang hidup tanpa beban.
•
“Kenapa berpisah dengan tunanganmu? Kenapa tidak kalian saja yang merawat anak kita!?” ujar Soraya, yang sukses membuat Alexander sakit kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isaidno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19.
Jadilah sesuai isi pesan Hana, kini wanita itu sedang menunggu Alexander karena dia datang lebih awal.
Lebamnya yang sebenarnya sedang bertambah parah berhasil ditutupi dengan makeup. Rambutnya yang dipotong sendiri semalam berkibar diterpa hembusan angin. Mata Hana menatap tanpa harapan ke arah laut. Pikirannya selalu kembali pada kejadian kemarin antara dirinya dan Jethro.
Jika bisa, sebenarnya dia tidak ingin bertemu siapa pun hari ini, apalagi Alexander.
Dia sendiri tidak mengerti alasannya, tetapi dia benar-benar tidak ingin bertemu siapa pun.
Namun, jika tidak begini, Hana tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Jethro. Di bawah tekanan ayahnya, dia dibuat menyetujui persyaratan agar Jethro dibebaskan.
Beruntungnya, itu bukan sekadar janji palsu karena Jethro benar-benar dilepaskan.
Pria yang lebih muda itu terus-menerus meneleponnya saat ini, membuat Hana terpaksa mendiamkan ponselnya. Bagaimanapun juga, dia tahu bahwa dia tidak boleh mendekati Jethro lagi, atau mantan bodyguard-nya itu akan kembali berada dalam masalah.
Kini dia hanya bisa melanjutkan hidup setelah pengalaman yang sebenarnya selalu terbayang-bayang itu.
“Hana.”
“Hanaa....”
Hana sedikit terperanjat mendengar nada bariton dari orang yang kini sudah berada di depannya.
Entah bagaimana, dia justru dengan canggung menyambut Alexander sampai ikut berdiri, sesuatu yang sebenarnya bukan kebiasaannya.
Namun, hal itu jelas tidak diperhatikan Alexander. Pria itu bahkan tidak tahu merek cokelat kesukaan Hana setelah dua tahun bersama.
“Alexander, ka-kamu sudah tiba...”
Alexander mengangguk canggung.
Dua orang dengan kesalahan masing-masing mencoba berbicara sesopan mungkin di bagian luar restoran yang menghadap ke laut, dengan konsep tebing.
Area luar di lantai dua restoran ini sengaja di-booking Alexander khusus untuk mereka berdua saja. Berjaga-jaga kalau Hana histeris atau berteriak meluapkan kekecewaannya, yang bisa dilihat orang lain.
Alexander menatap Hana yang mengenakan dress hijau muda bermotif bunga-bunga serta rambut barunya.
Wanita di depannya ini selalu sangat cantik dan baik, membuatnya semakin merasa bersalah.
“Maaf baru kembali.”
Hana mengangguk.
Dia juga memperhatikan Alexander dengan saksama dan menemukan ada yang salah dengan pria itu.
Namun, entah karena kejadian dengan Jethro kemarin, Hana tidak bisa berpura-pura seperti perintah ayahnya untuk bersikap biasa saja di depan Alexander.
Dia tidak bisa sok keras, sok marah, merajuk, ataupun bermanja-manja pada Alexander saat ini.
“Apa kabar?” Hana mencoba membuka percakapan dengan pertanyaan paling sederhana, yang juga dijawab Alexander seadanya.
Kecanggungan berlangsung terus selama beberapa saat, sampai akhirnya Alexander berhenti mengetuk-ngetukkan jarinya di meja, tanda bahwa dia sudah selesai berpikir.
“Hana, jika bisa, maafkan aku. Tapi aku memiliki sesuatu yang penting untuk dikatakan.”
Saat mendengar ini, sebelah alis Hana terangkat.
Seperti ada bisikan yang mengatakan bahwa ini akan menjadi sebuah permintaan maaf yang buruk.
Sempat terjadi tarik-ulur kata di antara mereka sebelum akhirnya Hana menebak.
“Katakan saja! Apa itu berhubungan dengan pernikahan kita? Kenapa? Apa akhirnya kita batal menikah?”
Alexander mengangkat wajahnya cepat dengan mata membulat sempurna karena kaget.
Hana yang melihat itu merasakan sembilu di hatinya, tetapi, ya... dia tidak kaget.
Senyum sinis terbit di wajahnya. Bagaimanapun, tidak mudah untuk mundur dari hubungannya dengan Alexander.
Mungkin secara teknis mereka baru menjalin hubungan selama dua tahun, tetapi jauh sebelum itu, dia telah menyukai kakak sahabatnya tersebut.
Dan ya, sayangnya kini mereka tidak berhasil. Maka sekarang, Hana sudah setuju untuk mundur juga.
Namun, begitu, dia tetap memilih untuk bertanya.
“Katakan! Kenapa kita akhirnya berakhir seperti ini?”
Alexander meneguk salivanya pahit, tetapi memilih menatap mata Hana secara langsung.
Dia akan menyakiti wanita ini, jadi setidaknya dia tidak ingin menjadi brengsek dengan menghindar.
“Ini kecelakaan saat di negara Thavara sebulan yang lalu. Waktu itu aku... a-aku mabuk dan... meniduri wanita lain. Dan sekarang wanita itu hamil.”
DEG.
Tetap saja, itu pedih bukan main hingga Hana harus mengepalkan tangannya.
Namun, kepalan tangan itu dengan cepat melemah ketika dia ingat bahwa dirinya juga baru saja melakukan kesalahan yang sama.
Pada akhirnya, Hana menjadi orang pertama yang menghindari tatapan mata mereka.
Di saat itu juga, getaran panggilan masuk dari Jethro kembali terdengar, yang hanya bisa dimatikan Hana.
Membandingkan hal ini, Hana merasa Alexander lebih baik darinya.
Setidaknya pria itu menghadapi kesalahannya, sementara dirinya bahkan tidak mampu mengangkat telepon Jethro, padahal dialah yang pertama membuat pria itu jatuh ke tempat tidur.
Kini Jethro habis dipukuli dan kehilangan pekerjaannya, sementara Hana hanya bisa bersembunyi.
Dia merasa bersalah di tengah rasa sakitnya sendiri.
“Baiklah.”
“Baiklah?”
Hana menarik senyum tipis.
“Mau bagaimana lagi? Semua sudah terjadi. Mungkin saja kita memang tidak berjodoh.”
Semudah itu?
Alexander sampai menjatuhkan rahangnya karena tidak percaya dengan reaksi Hana.
Awalnya dia mengira Hana mungkin sedang menyangkal atau berada dalam mode penyangkalan. Namun, seiring percakapan berlangsung, Alexander menemukan bahwa Hana memang serius dan stabil dengan ucapannya.
“Terima kasih. Terima kasih banyak, Hana. Aku berutang padamu.”
Hana tersenyum meski senyum itu tidak sampai ke matanya.
Tidak ingin menerima tundukan Alexander yang berulang-ulang kepadanya karena mereka sama-sama bersalah, Hana akhirnya memilih mengakhiri pertemuan mereka.
“Mari bertemu di lain waktu jika perlu. Aku akan berbicara dahulu dengan orang tuaku.”
Mendengar Hana bahkan bersedia berbicara kepada orang tuanya dengan baik, Alexander serasa ingin memberikan hektare-hektare tanah sebagai kompensasi atas luka hati Hana.
“Terima kasih, Hana.”
“Terima kasih juga, Alexander.”
Hana pergi lebih dahulu dan Alexander membiarkannya seperti itu.
Dia tidak mencoba pergi di waktu yang bersamaan, berjaga-jaga kalau Hana mungkin memerlukan waktu untuk menjauh darinya.
•
•
Di lantai bawah, di area parkiran, Hana melangkah dengan gontai. Namun, perasaannya telah kehilangan gejolak.
Rasanya dia masih sanggup membawa mobil sekarang.
“NONA!”
Hana yang baru saja memegang handle pintu tertegun mendengar suara Jethro.
Awalnya dia mengira dirinya berhalusinasi. Jadi, dia tidak melihat ke kanan maupun ke kiri dan langsung masuk.
Hingga pada panggilan kedua, Hana tahu bahwa dia tidak salah dengar.
“Hana Lii!”