Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.
Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.
Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.
Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.
Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.
Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Merebut kembali
Di sinilah Airyn dan Kaelen berada, di dalam sel tahanan sementara pos penjagaan pesisir Tidebay.
Sekitar lima belas menit yang lalu, massa menyeret dan menyerahkan mereka kepada para penjaga. Tanpa banyak bicara, borgol besi berat langsung melingkari pergelangan tangan keduanya sebelum tubuh mereka dilemparkan ke balik jeruji dingin.
Airyn dan Kaelen sama sekali tidak bersuara, hanya bertukar tatapan tenang.
Tak lama kemudian, gema derap langkah tegap diiringi bunyi pergesekan zirah besi memecah heningnya koridor. Airyn mendongak, mendapati sosok pria berwajah tegas yang pernah ia lihat di dermaga minggu lalu, sang kapten pasukan.
Pria itu mengamati Airyn dan Kaelen bergantian, lalu melangkah menghampiri penanggung jawab pos penjagaan. Begitu kunci diputar, pintu besi sel terkuak lebar. Dua prajurit menarik kasar tubuh Airyn dan Kaelen keluar.
"Lord Grance ingin bertemu kalian. Kita berangkat sekarang," ujar sang kapten singkat tanpa basa-basi.
Mereka didorong paksa keluar gedung, diarahkan menuju sebuah kereta kuda bertutup milik militer. Keduanya dipaksa masuk, disusul sang kapten yang duduk pas di hadapan mereka dengan tatapan yang tak pernah lepas.
'Paman... berapa lama perjalanan menuju istana?' tanya Airyn melintas di saluran telepati.
'Memakan waktu setengah hari. Kita kemungkinan tiba saat hari mulai gelap,' balas Kaelen tenang di dalam batinnya.
Sang kapten terus memperhatikan pergerakan kecil mereka secara intens. Menyadari hal itu, Airyn buru-buru menunduk, sementara Kaelen memalingkan pandangannya ke luar jendela kereta.
"Kami sedikit haus, bisa beri kami sedikit air?" Kaelen mencoba membuka suara.
Namun, sang kapten hanya diam seribu bahasa, menatap lurus seolah Kaelen adalah patung.
"Aku rasa itu artinya tidak," bisik Airyn seraya menyipitkan mata. Ia heran bagaimana bisa ada seseorang yang sama sekali tak bergeming jika bukan atasannya yang memberi perintah.
Perjalanan yang panjang dan terguncang-guncang akhirnya membuat Airyn dan Kaelen tertidur lelap untuk memulihkan stamina.
Saat sang surya telah tenggelam sempurna digantikan pekatnya malam, kereta militer itu melambat di depan gerbang luar Istana Tidebay. Kaelen terbangun lebih dulu saat kereta itu berhenti.
"Bangun, Airyn," bisik Kaelen seraya mengguncang pelan bahu keponakannya.
"Turun!" perintah sang kapten tegas.
Airyn yang masih mengumpulkan kesadarannya dibantu Kaelen untuk melangkah turun dari kereta.
Saat melihat benteng gerbang itu untuk pertama kalinya setelah belasan tahun, Kaelen bergumam lirih, "Masih sama seperti yang kuingat..."
Sementara Airyn membelalak kaget. Gerbang batu raksasa berdiri kokoh menjulang di hadapan mereka. Di belakangnya, berdiri megah bangunan istana utama yang didominasi warna biru, rona yang persis sama dengan warna rambut aslinya. Dan di belakang balairung istana itu, mengalir deras air terjun raksasa yang gemuruhnya mengguncang udara. Air terjun yang persis sama dengan yang selalu hadir di dalam mimpi buruknya.
Usai melewati pos pemeriksaan gerbang utama, mereka dipaksa berjalan kaki beberapa ratus meter menyusuri pelataran batu menuju pintu depan istana. Para prajurit mengawal ketat dari atas punggung kuda.
"Dasar brengsek. Mereka enak-enakan naik kuda sementara kita dibiarkan berjalan kaki," gerutu Airyn pelan. Jika bukan karena latihan fisik bersama Kaelen setiap pagi, kakinya pasti sudah lemas terperosok.
Tiba di depan pintu utama yang menjulang, sang kapten melompat turun dari kudanya, lalu merenggut rantai borgol Airyn dan Kaelen untuk memaksa mereka mengekor.
Mereka menelusuri koridor megah yang dipenuhi ukiran biru dan pilar-pilar batu tinggi. Sang kapten membawa mereka menuju sebuah pintu ganda berukuran paling besar di ujung lorong. Pengawal pintu membukanya lebar-lebar.
Cklek...
Sensasi udara dingin dan silau lampu kristal menyambut mereka saat melangkah masuk ke Aula Utama. Manik mata Airyn menyesuaikan pandangannya, mendapati sebuah ruangan raksasa dengan karpet merah membentang menuju singgasana di atas tangga pualam.
Di atas kursi kebesaran itu, duduk seorang pria tua mengenakan mahkota emas, menyunggingkan senyum angkuh yang penuh kemenangan.
Wajah Kaelen mengeras seketika. "Grance..." gumamnya pelan dengan nada membunuh.
Sang kapten menyeret mereka hingga berhenti beberapa meter di depan tangga singgasana, lalu membungkuk hormat. "Saya telah membawa mereka, Yang Mulia."
"Bagus sekali, Kapten!" tawa Grance menggelegar congkak. Ia berdiri dari kursinya, melangkah turun menyusuri tangga marmer mendekati Kaelen.
"Wajah yang sangat familier... tapi kenapa kau tidak terlihat menua sama sekali? Hmm... Kaelen, kaukah itu?" tanya Grance seraya menempelkan ujung tongkat kebesarannya ke dagu Kaelen.
Kaelen menatapnya tajam tanpa rasa takut. "Lama tidak berjumpa. Kau terlihat makin tua dan keriput, Grance."
"Kau—!" Sang kapten menarik pedangnya, murka atas ketidaksopanan itu, tetapi Grance mengangkat tangan menahannya.
Dengan satu ayunan mendadak, Grance menghantamkan tongkat besinya tepat ke perut Kaelen!
Brak!
Kaelen terdorong ke belakang, terbatuk menahan perih. Grance kemudian beralih menatap gadis muda di samping Kaelen.
"Aku belum pernah melihatmu... siapa kau?" Grance mengamati wajah Airyn dengan teliti, hingga matanya terkunci pada manik emas milik gadis itu.
"Ah... Putri Liam, bukan? Warna mata aneh yang seharusnya sudah punah belasan tahun lalu."
Airyn menatap Grance dingin, tak memberikan reaksi sedikit pun.
"Apa yang kau tunggu, Kapten?" perintah Grance berbalik dingin. "Habisi mereka berdua dan lemparkan mayatnya ke dasar air terjun!"
Srettt!
Sang kapten mencabut pedangnya, menebas kencang ke arah leher Kaelen.
Trang!
Dengan refleks ksatria veteran, Kaelen menghindar miring. Bilah pedang tajam itu justru menghantam rantai besi di pergelangan tangannya hingga putus.
Kaelen memanfaatkan momentum, menghantamkan siku ke wajah sang kapten dan merebut pedang tersebut.
Dengan satu sabetan cepat, Kaelen memotong rantai borgol yang mengikat tangan Airyn.
"Penyusup! Penjaga, serang!" jerit Grance panik, suaranya menggema ke seluruh aula.
Brak! Tak-tak-tak!
Langkah kaki prajurit bergemuruh masuk dari berbagai penjuru lorong. Satu peleton pasukan bersenjata lengkap mengepung balairung. Sang kapten menyambar pedang cadangan dari prajuritnya, sementara Grance tertawa puas dari atas tangga singgasana.
"Kalian akan mati di tempat ini!" seru Grance penuh dendam.
"Kau yang akan berakhir malam ini, Grance!" balas Kaelen tegas. Ia menoleh cepat pada keponakannya.
"Airyn, lakukan sekarang!"
"Baik!"
Airyn langsung berlari kencang menuju deretan jendela kaca raksasa di dinding samping aula, jendela yang berhadapan langsung dengan tebing air terjun di luar istana.
Sementara itu, Kaelen pasang badan memutar pedangnya, menahan gempuran belasan prajurit pertama yang menyerbu.
Airyn tiba di depan jendela kaca tinggi. Ia mencoba membuka grendelnya, tetapi pasaknya berada terlalu tinggi di luar jangkauan jemarinya. Tanpa buang waktu, Airyn mencopot sebuah perisai pajangan baja tebal dari dinding batu di dekatnya.
Brak!
Airyn menghantamkan perisai itu sekuat tenaga ke permukaan kaca tebal tersebut!
Brak! Krak!
Tangan dan bahunya terasa remuk, tetapi Airyn tak berhenti. Ia terus memukulkan baja perisai itu hingga jaring-jaring retakan mulai menyebar di permukaan kaca.
Di tengah aula, Kaelen bertarung sengit. Tebasan pedangnya menangkis serangan prajurit bertubi-tubi, menciptakan ruang aman bagi Airyn.
PYAARRR!
Kaca raksasa itu akhirnya hancur berantakan. Hawa dingin dan gemuruh air terjun langsung menerobos masuk.
Airyn merapatkan jemarinya ke luar celah jendela, mengarahkan pancaran Aether-nya menuju aliran air terjun di luar. "Ayo... sedikit lagi!" bisiknya memfokuskan seluruh konsentrasi.
Dari luar tebing, aliran air terjun raksasa itu mendadak membengkok. Gelombang air merembes masuk menerobos celah jendela, mulai membasahi dan menggenangi lantai marmer aula.
"Sekarang, Paman!" jerit Airyn saat genangan air mulai setinggi mata kaki.
Kaelen melempar pedangnya ke lantai, lalu memutar tubuhnya menghadap genangan air tersebut. Pria itu menghentakkan kedua telapak tangannya ke depan, mengerahkan seluruh tenaga Aether dalam dirinya.
SWOOOSH! BUMM!
Air yang tadinya hanya rembesan kecil mendadak meledak meluap. Gelombang ombak raksasa merobohkan sisa bingkai jendela, menerobos masuk dan memenuhi seluruh aula istana dengan air setinggi pinggang orang dewasa.
Para prajurit menjerit panik saat tubuh berzirah berat mereka tersapu dan tenggelam oleh derasnya arus air di dalam ruangan.
"Sialan! Bagaimana bisa kau masih memiliki sihir gila itu?!" jerit Grance terbelalak tak percaya dari atas singgasana yang mulai terendam. "Serang mereka! Jangan biarkan mereka hidup!"
Sang kapten berusaha menerobos arus air, memimpin sisa prajurit untuk menerjang Kaelen.
Dengan senyum dingin, Kaelen menggerakkan jarinya, memutar arus air menjadi pusaran tajam yang menghempaskan barisan prajurit hingga terbentur pilar-pilar batu.
Melihat pasukannya kocar-kacir, wajah Grance memucat pasi. Pria tua itu buru-buru berbalik, mencoba menyelinap keluar melalui pintu rahasia di samping singgasananya menuju balkon luar.
"Kejar pengkhianat itu, Airyn!" seru Kaelen yang sedang menahan serangan sang kapten yang tak mau menyerah. "Aku yang tangani di sini!"
Airyn mengangguk tegas. Ia melompat menerjang arus air, berlari kencang mengejar langkah Grance yang melarikan diri menuju balkon atas istana.